
"Lo ngomongin apa barusan sama si Rifki?"
Baru saja Citra membuka pintu ruangan Alvina, ia sudah di suguhkan oleh pertanyaan Alvina.
"Gak ngomongin apa-apa kok" elak Citra.
"Gak usah bohong sama gue" tekan Alvina.
Citra menghela nafas nya saat Alvina terus mendesak nya untuk berkata jujur kepada nya.
Inilah kelemahan Citra, ia tidak pandai berbohong kepada Alvina. Saat ia berbohong mak Alvina selalu tau jika ia tengah berbohong.
"Jujur aja, lo tadi ngomong apa?" Tanya Alvina lagi.
"Tadi gue nanya sama Rifki, dia sayang apa enggak sama lo" jawab Citra.
"Terus?" Tanya Alvina lagi.
"Ya terus gue kasih saran sama dia.. biar dia gak terlalu deket sama cewek lain" jawab Citra.
"Oh" ujar Alvina.
"Udah deh.. mending ngemil yuk" ajak Citra sambil mengambil keripik yang tadi di bawa oleh nya.
Mereka pun memakan keripik nya sambil mengobrol.
-•°•°•°•°•°•°•-
Keesokan hari nya, Citra mengabari Alvina jika ia tidak bisa datang ke rumah sakit karena ada acara di rumah nya.
Alvina juga tak mempermasalah kan nya, ia memaklumi jika Citra tidak bisa terus menemani nya di rumah sakit.
Setelah bosan berada di ruangan nya sendirian, Alvina memutuskan untuk pergi ke taman rumah sakit.
Kerena ia belum di perbolehkan untuk berjalan terlalu jauh, ia memutus kan untuk menggunakan kursi roda. Bekas operasi nya juga belum terlalu kering dan jika ia terlalu banyak bergerak maka perut nya akan terasa sakit.
Saat ia sampai di taman, ia menghampiri bunga yang kini tengah mekar di tengah taman.
__ADS_1
Saat asyik memperhatikan bunga-bunga yang bermekaran, ia di kejutkan dengan sebatang coklat yang di sodorkan seseorang pada diri nya.
Alvina melirik coklat tersebut, kemudian pandangan nya naik ke arah orang yang memberikan nya coklat.
"Gue gak suka coklat kalo lo lupa" ucap Alvina sambil membuang muka saat melihat orang yang memberikan nya coklat yang ternyata adalah Rifki dengan masih memakai seragam sekolah.
"Gak di makan juga gak papa kok, asal kamu terima aja nih coklat" ujar Rifki sambil kembali menyodorkan coklat tadi.
Tak kunjung mengambil coklat di tangan Rifki, akhirnya Rifki mengambil satu tangan Alvina dan meletakkan coklat tersebut di tangan Alvina.
"Lo simpen aja" ucap Rifki.
Alvina meletakkan coklat dari Rifki di pangkuan nya, kemudian tangan nya bergerak berniat untuk mendorong kursi roda yang di tumpangi nya sendiri.
Rifki yang melihat Alvina kesulitan menjalankan kursi roda nya dengan sigap membantu Alvina dengan mendorong kursi roda yang di tumpangi oleh Alvina.
Alvina hanya diam membiarkan Rifki mendorong kursi roda nya, karena memang ia kesulitan untuk mendorong kursi roda nya sendiri
"Mau kemana lagi?" Tanya Rifki.
"Balik ke ruangan gue aja" jawab Alvina.
Sesampai nya mereka di ruangan Alvina, Alvina mencoba untuk bangun dan naik ke atas brangkar.
Namun apalah daya, ia tak bisa berdiri di karenakan perut nya kembali sakit, mungkin karena tadi ia terlalu lama duduk.
Hampir saja ia terjatuh karena tidak bisa menahan tubuh nya sendiri. Jika saja tidak ada Rifki, mungkin kini ia sudah terjatuh.
Dengan sigap Rifki yang sedang berada di belakang tubuh Alvina segera menahan tubuh Alvina saat ia melihat Alvina yang akan terjatuh.
"Kalo gak kuat buat berdiri jangan di paksain. Kan bisa minta tolong, kalo barusan gak ada orang di sini gimana? Ntar jatoh lagi" peringat Rifki.
Saat Rifki akan mengangkat tubuh Alvina ke atas brangkar, Alvina menepis tangan Rifki yang masih menopang tubuh nya.
"Gak usah sok perhatian" tekan Alvina.
"Siapa yang sok perhatian sih? Aku tuh khawatir kamu kenapa-napa. Kalo kamu jatoh ntar kondisi kamu malah makin parah lagi" ujar Rifki.
__ADS_1
Rifki kembali mencoba mengangkat tubuh Alvina walaupun sang pemilik tubuh berontak minta di turun kan.
Akibat terlalu banyak bergerak, Alvina akhirnya merasakan bekas jahitan nya terasa nyeri.
Alvina meringis sambil memegang perut nya yang terasa sakit.
Rifki yang melihat Alvina yang berada di gendongan nya meringis sambil memegang perut nya segera meletakkan nya di atas brangkar.
"Ada yang sakit ya? Sebentar ya aku panggil dokter dulu" ujar Rifki panik.
"Lo teken aja tombol itu" suruh Alvina menunjuk tombol berwarna merah yang berada di sisi brangkar nya sambil menahan sakit di perut nya.
Rifki menuruti apa kata Alvina, ia mencoba menekan tombol nya.
Tak berselang lama, pintu ruangan Alvina terbuka dengan tergesa-gesa. Saat pintu nya terbuka, munculah dokter Fajar dengan satu perawat di belakang nya.
"Ada apa?" Tanya dokter Fajar sambil menghampiri Alvina.
"Sakit dok" jawab Alvina sambil memejamkan mata nya.
"Sebentar ya saya periksa dulu, tangannya awas-in dulu dong" pinta dokter Fajar sambil menarik tangan Alvina dari perutnya.
Alvina menarik tangan nya dari perut nya sendiri, ia merasa tangan nya sedikit basah.
"Astaghfirullah.. ini kenapa bisa berdarah gini sih?" Tanya dokter Fajar saat melihat baju pasien yang di kenakan Alvina yang sebelum nya berwarna biru muda telah berubah warna menjadi merah di bagian perut nya.
Rifki yang melihat hal itu pun membelalakkan mata nya, kemudian ia keluar dari ruangan Alvina, enggan melihat Alvina yang sedang di tangani oleh dokter Fajar.
Hampir setengah jam Rifki menunggu di depan ruangan Alvina, namun pintu ruangan tersebut belum juga di buka dari dalam membuat ia khawatir.
Sepuluh menit kemudian, akhirnya pintu yang sedari tadi tertutup rapat kini telah dibuka dari dalam dan menampilkan dokter Fajar yang kini menatap nya.
"Gimana keadaan Alvina dok? Dia baik-baik aja kan?" Tanya Rifki pada dokter Fajar.
.
.
__ADS_1
.
Dukung terus karya aku dengan cara like, komen, and Vote. Kalo suka sama ceritanya tolong sumbangkan poin dengan berbentuk hadiah ya🙃😊