Cewek Dingin & Cowok Playboy

Cewek Dingin & Cowok Playboy
Ingin sendiri


__ADS_3

Alvina menoleh ke arah Rifki dan menatap Rifki dengan tajam.


Rifki segera berdiri saat melihat tatapan tajam dari Alvina.


"Iya iya, aku pergi sekarang" ujar Rifki kemudian berjalan mundur meninggalkan tempat tersebut.


Alvina pun kembali pada posisi ternyaman nya, yaitu menyandarkan kepala nya pada sandaran kursi sambil memejamkan mata nya.


"Gimana?" Tanya Citra saat Rifki sudah kembali ke tempat ia memarkir kan motor nya.


"Dia mau sendiri dulu" jawab Rifki lesu.


"Maksud nya dia mutusin lo?, Ohhh kasian banget" ujar Citra dengan tampang prihatin nya.


"Lo do'ain Alvina mutusin gue?" Kesal Rifki.


"Lah bukan nya tadi lo sendiri yang ngomong" ujar Citra bingung.


"Maksud gue itu.. Alvina lagi gak mau di ganggu, dia lagi mau sendiri di sana" greget Rifki.


"Oh" ucap Citra singkat.


"Cuman oh doang?" Tanya Rifki.


"Ya terus gue harus bilang apa?" Citra menjawab dengan sebuah pertanyaan.


"Ya gak tau juga sih" jawab Rifki sambil menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal.


Kemudian hanya hening yang menyelimuti mereka.


"Lo mau pulang sama gue apa mau pesen taksi?" Tanya Rifki.


"Gue pesen taksi aja, kalo lo mau pulang, pulang aja sono" jawab Citra.


"Ya udah kalo gitu, gue pulang ya" ucap Rifki sambil memakai helm milik nya dan menaiki motor nya.


"Iya" jawab Citra.


Setelah mendengar Jawabannya Citra, Rifki segera melaju kan motor nya meninggalkan danau.

__ADS_1


Setelah kepergian Rifki, Citra segera berjalan dengan helm di tangan nya menuju tempat Alvina berada.


"Alvina.." sapa Citra.


Alvina yang sedang memejamkan mata nya segera membuka mata nya dan menoleh ke arah sumber suara.


"Boleh ikut duduk?" Tanya Citra saat sapaan nya tidak kunjung si jawab oleh sang empu.


Tanpa menunggu jawaban dari Alvina, Citra langsung duduk di sebelah Alvina, tempat di mana tadi Rifki duduk.


"Ngapain minta ijin kalo ujung-ujung nya langsung duduk" sindir Alvina sambil kembali ke posisi semula.


Citra hanya cengengesan saat mendengar sindiran Alvina yang di tujukan pada nya.


"Rifki ngomong apa aja?" Tanya Citra.


"Gak ada" jawab Alvina tanpa mengubah posisi nya.


"Gak ada, gak ada. Kalo dia tapi gak ngomong apa-apa terus kenapa muka si Rifki kayak baju belum di setrika?" Ujar Citra.


"Dah lah biarin aja, gue ke sini tuh mau nenangin diri, bukan nya malah dengerin lo ngoceh" ucap Alvina mulai kesal.


"Mending lo pulang aja sana, ntar di cariin ortu lo lagi" ucap Alvina mengusir.


"Ngusir nih?" Tanya Citra mencibir.


"Kalo iya emang nya kenapa?" Balas Alvina.


"Ck" Citra hanya berdecak kesal.


"Emang nya kenapa sih kalo gue di sini?" Tanya Citra.


"Gue lagi pengen sendiri aja, gue gak mau di ganggu sama mulut lo yang gak bisa di rem itu" ucap Alvina.


Pedes emang, tapi ya begitulah mereka jika berbicara.


"Dasar kulkas, ya udah lah gue pulang aja" ujar Citra sambil beranjak dari duduk nya.


"Hmm" Alvina hanya menjawab dengan sebuah deheman singkat.

__ADS_1


"Tapi besok lo sekolah kan?" Tanya Citra sebelum benar-benar beranjak.


"Gak" jawab Alvina.


"Kenapa?" Tanya Citra.


"Mulai besok gue mau ngurusin sesuatu" jawab Alvina.


"Ke rumah sakit?"


"Iya"


"Sama dokter Fajar?"


Alvina mengangguk kan kepala nya sebagai jawaban.


"Hah.. ya udah deh kalo gitu, semangat ya. Jangan mikir negatif mulu, lo pasti bisa sembuh kok" ujar Citra sambil tersenyum.


Alvina membalas ucapan Citra dengan sebuah senyuman.


kemudian Citra benar-benar pergi meninggalkan Alvina di tepi danau.


Setelah kepergian Citra, kini Alvina hanya melamun, sebenar nya ia ingin mengutarakan isi hati nya, namun ia tidak mau jika ada orang yang mengetahui isi hati nya.


Kemudian ia tampak mengedar kan pandangan nya ke sekeliling nya untuk mencari sesuatu.


Setelah menemukan apa yang ia cari, Alvina segera mengambil nya.


Sebuah batu berukuran sedang, sekarang sudah ada pada genggaman tangan nya siap untuk di lempar.


Alvina mengarah kan batu yang ia genggam ke arah danau yang agak gelap karena sinar matahari yang akan masuk terhalang oleh sebuah pohon besar.


Alvina melemparkan batu dengan pelan tepat pada sasaran, air yang tadi nya tenang menjadi agak bergelombang.


Tak lama setelah ia melempar batu, ada sebuah gelombang yang tampak menghampirinya di tepi danau.


"Hai Bia, udah lama gak ketemu" sapa Alvina saat apa yang di tunggu nya datang menghampiri nya di tepi danau.


Alvina juga beranjak dari duduknya dan menghampiri apa yang ia panggil Bia kemudian duduk di sebelah nya.

__ADS_1


__ADS_2