Cewek Dingin & Cowok Playboy

Cewek Dingin & Cowok Playboy
Sadar


__ADS_3

"Janji" balas Rifki sambil menautkan jati kelingkingnya dengan jari kelingking milik Ara.


"Jadi gini.. tadi kan di jalan tuh gue ada di belakang Alvina, nah pas di pertengahan Alvina kayak ngedorong gue gitu, tapi kayaknya sih dia gak sengaja ngedorong gue. Terus gue jatoh kan, nah pas gue mau jatoh gue megang tangan Alvina karena refleks, jadi deh kita berdua jatoh" jelas Ara yang jelas-jelas adalah sebuah kebohongan.


Rifki tampak memejamkan matanya mencoba menahan emosi karena percaya pada apa yang di bicarakan oleh Ara padanya.


.


.


Sedangkan di ruangan Alvina, kini semua orang juga tengah membicarakan tentang kejadian yang terjadi pada Alvina dan Ara, menurut apa yang mereka lihat langsung.


Setelah mengobrol kan kejadian yang terjati tadi di jurang, akhirnya mereka memutuskan untuk menemui Rifki yang sedang di ruangan Ara.


Dan Citra meminta seorang suster untuk menjaga Alvina selama ia dan yang lain pergi menemui Rifki.


Kini mereka sudah ada di depan pintu ruangan Ara, mereka langsung masuk ke dalam ruangan tersebut tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


Angga menarik tangan Rifki keluar dengan ekspresi datarnya.


Ara hanya menatap mereka dengan tatapan bingungnya.


Angga membawa Rifki pergi menuju taman rumah sakit dan di ikuti oleh Citra, Boy dan Riko.


Sesampainya mereka di taman, mereka langsung memarahi Rifki yang tidak menolong Alvina yang lebih parah dan malah menolong Ara yang jelas-jelas tidak memiliki luka yang parah.


"Harusnya lo itu nolongin Alvina bukan nya malah nolongin Ara. Lo kan bisa liat sendiri gimana kondisi Alvina pas lo nyampe di dasar jurang" ucap Boy.


"Kalo gue nolongin Alvina, kalian semua belum tentu mau nolongin Ara. Kenapa? Karena gue tau kalo kalian semua itu gak suka sama Ara" balas Rifki tak terima.


"Kita juga punya otak Ki, kita gak mungkin ninggalin Ara di tengah hutan gitu aja" jawab Riko.


"Kenapa sih kalian selalu belain Alvina, padahal sekarang yang salah itu Alvina bukan Ara!" Ucap Rifki.


"Heh, Alvina itu sahabat gue, jadi wajar dong kalo gue belain dia. Lagian juga dari mana lo bisa tau kalo yang salah itu Alvina sedangkan lo ada di depan Alvina dan gak liat kebenarannya apa" ucap Citra.


"Lo bener bener keterlaluan Ki" lirih Citra kemudian pergi meninggalkan mereka semua dengan menggeleng kan kepalanya.


Rifki hanya menatap Citra yang pergi menuju ruangan Alvina.


'Bugh'


Masih dengan menatap punggung sahabat pacarnya, Rifki mendapatkan Bogeman mentah dari Angga yang sedari tadi hanya diam.


Rifki memegangi pipinya yang terasa sakit sambil menatap Angga yang juga tengah menatapnya dengan tajam.

__ADS_1


"Lo itu cowok, harusnya lo peka sama perasaan cewek. Buat apa selama ini lo berjuang buat dapetin hati Alvina kalo ujung-ujungnya malah lo sakitin. Lo juga harusnya sadar sama perasaan Ara sama lo itu bukan sekedar sayang sama sahabat, tapi sayang sebagai lawan jenis" ujar Angga.


"Gue tau Ara suka sama gue, tapi gue gak bisa ninggalin dia" jawab Rifki.


"Kenapa? Karena lo juga punya perasaan sama dia?" Tanya Angga.


"Emang ya, dimana-mana cowok playboy itu bakal tetep jadi cowok playboy walaupun dia udah punya pacar. Gue gak nyangka, gue bisa sahabatan sama orang gobl*k kayak lo" lanjut Angga.


Setelah mengatakan itu, Angga pergi meninggalkan Rifki yang mematung mendengar kalimat terakhir yang keluar dari mulut Angga yang sebelum nya belum pernah ia dengar.


Boy dan Riko juga tak kalah terkejutnya dengan Rifki, namun mereka memilih untuk ikut pergi meninggalkan Rifki.


.


.


.


Sedangkan di sisi lain, Citra kini tengah berjalan menuju ruangan Alvina.


Sesampainya ia di depan ruangan Alvina, ia di kejutkan dengan seorang dokter yang keluar dari ruangan tersebut.


Dokter itu tersenyum pada Citra yang kini tengah menatap nya dengan penasaran.


"Ada apa dok?" Tanya Citra.


"Jadi Alvina sudah sadar dok?" Tanya Citra memastikan.


Dokter itu mengangguk sebagai jawaban, lalu pamit untuk mengecek kondisi pasien yang lain.


Usai kepergian dokter, Citra segera masuk ke dalam ruangan Alvina dengan senyuman lebarnya.


Di lihatnya Alvina yang kini tengah memperhatikan suster yang tengah mengganti infusan nya .


"Alvina.. syukurlah lo udah sadar" ucap Citra sambil berjalan mendekati Alvina.


Alvina seketika menoleh kearah Citra lalu tersenyum pada sahabat nya itu.


Suster yang sudah menyelesaikan tugas nya segera pergi keluar dari ruangan Alvina .


"Ada yang sakit gak? Pasti ada dong ya" tanya Citra dan langsung menjawabnya sendiri.


Alvina geleng-geleng kepala di buat nya saat melihat kelakuan sahabat nya.


"Gue laper" ucap Alvina.

__ADS_1


"Bubur kacang ijo kan? Bentar gue beliin dulu" ucap Citra kemudian pergi untuk membeli makanan yang selalu di makan oleh Alvina saat sakit seperti sekarang.


"Lo emang sahabat gue yang paling pengertian Cit" ujar Alvina.


Beberapa saat kemudian Citra datang dengan membawa bubur milik Alvina.


"Gue suapin ya, lo jangan bangun" ucap Citra sambil menyiapkan makanan.


Alvina menurut, ia hanya berbaring dan menerima suapan demi suapan dari Citra.


"Ceklek"


Pintu terbuka dan munculah Angga dan dua curut di belakang nya.


"Udah sadar Na?" Tanya Boy.


"Pertanyaan konyol, dimana-mana kalo orang nya udah buka mata itu tanda nya dia udah sadar. Apalagi ini yang udah bisa makan bubur kacang, mana ampir abis lagi" beritahu Riko.


"Ganggu suasana aja lo, gue kan niat nya mau basa basi" kesal Boy.


Yang lain hanya geleng-geleng melihat tingkah kedua nya yang selalu ada pertengkaran.


Usai Alvina menghabiskan makan nya, semuanya akhirnya mengobrol dengan di selingi dengan candaan dari Boy ataupun Riko.


Saat tengah asik mengobrol, mereka di kejutkan dengan pintu yang tiba-tiba terbuka tanpa ada ketukan ataupun salam dari sang tamu.


Alvina membuang muka saat pandangannya bertemu dengan Rifki. Ya orang yang masuk ke ruangan Alvina adalah Rifki dan Ara.


"Ngapain kalian kesini?" Tanya Citra ketus.


Tanpa menghiraukan pertanyaan Citra, Ara dan Rifki masuk dan menghampiri Alvina.


"Alvina.." panggil Ara lirih.


"Lo..." Ucapan Citra terhenti saat merasakan ada sebuah tangan yang menggenggam tangan dengan erat seolah berkata bahwa ia tidak boleh meneruskan ucapan nya.


"Alvina, gue minta maaf soal kejadian tadi. Ya walaupun gue gak salah sih, tapi kan kita harus saling maafin" ucap Ara sambil menatap Alvina dengan senyuman .


.


.


.


.

__ADS_1


.


Dukung terus karya aku dengan cara like, komen, and Vote. Kalo suka sama cerita nya tolong sumbangkan poin dengan berbentuk hadiah ya🙃😊


__ADS_2