Cewek Dingin & Cowok Playboy

Cewek Dingin & Cowok Playboy
Keadaan Alvina


__ADS_3

"Gimana keadaan Alvina dok?" Tanya Citra.


"Kamu tenang aja, operasi nya berhasil. Dia sudah melewati masa kritis nya. Mungkin beberapa jam ke depan Alvina akan segera sadar" jawab Dokter Fajar.


"Hah.." Citra menghembuskan nafas lega.


"Syukurlah kalo gitu" ucap Citra.


"Oh iya, nanti saat Alvina sudah di boleh kan pulang, dia harus banyak istirahat ya" ujar Fajar.


"Iya dok" jawab Citra.


"Hmm.. apa saya boleh melihat Alvina di ruangan nya?" Tanya Citra berharap.


"Boleh, tapi setelah Alvina di pindah kan ke ruang rawat" jawab Fajar.


"Sebentar lagi juga di pindah kan" lanjut nya.


"Oh gitu ya dok, ya udah kalo gitu saya permisi keluar ya dok" pamit Citra.


Dokter Fajar tersenyum sambil mengangguk untuk menanggapi Citra.


Citra kemudian keluar dari ruangan Dokter Fajar dengan senyuman yang tak luntur.


"Alhamdulillah, sekarang Alvina gak perlu beli obat lagi deh" gumam Citra sambil berjalan menuju ruang operasi.


Sesampai nya Citra di depan pintu, saat itu juga dua orang perawat keluar dengan mendorong brangkar yang di atas nya terdapat Alvina yang masih memejamkan mata nya.


"Ini mau kemana sus?" Tanya Citra heran.


"Pasien akan kami pindahkan ke ruang rawat inap" jawab salah satu perawat tersebut.


Citra hanya mengangguk kan kepala nya pertanda mengerti.


Kemudian ia berjalan mengikuti perawat yang membawa Alvina pada sebuah ruangan VIP.


"Loh kok ke ruangan VIP sih Sus?" Tanya Citra bingung.


Seingat nya Alvina tidak memiliki banyak uang untuk membayar ruangan VIP.


"Saya juga tidak tahu, tapi dokter Fajar menyuruh kami untuk membawa pasien ini ke ruangan VIP."


"Oh gitu ya, ya udah lah ntar gue tanyain aja sama Alvina langsung" gumam Citra.


.


.


.


Sudah satu jam lebih Citra menunggu Alvina sadar, namun Alvina masih belum menunjuk kan tanda-tanda bahwa ia akan segera sadar.


Sampai akhirnya ia yang kelelahan menunggu Alvina pun tertidur dengan posisi duduk di sebelah Alvina yang terbaring sambil memejamkan mata nya.


Tak lama setelah Citra tertidur, jari-jari Alvina tampak bergerak, dengan perlahan Alvina membuka mata nya dan mengerjap-ngerjap untuk menyesuaikan cahaya yang masuk.


Mata nya menelusuri seluruh ruangan yang di dominasi oleh warna putih, kemudian pandangan nya jatuh pada sahabat satu-satunya yang tengah tertidur dengan posisi duduk.

__ADS_1


Walaupun kepala nya terasa pening, namun ia mencoba mengangkat tangan nya dan menggenggam tangan Citra sambil sesekali mengelus nya.


"Makasih udah mau jadi sahabat gue" gumam Alvina tersenyum.


Citra yang merasa terganggu saat ada tangan lain yang mengusap-usap tangan nya segera membuka mata nya.


Dan betapa bahagia nya ia ketika melihat Alvina tengah tersenyum sambil menatap ke arah nya.


"Alvina.. lo udah sadar?" Citra melontarkan pertanyaan yang menurut Alvina sangat konyol.


Ingin sekali ia berkata kasar, namun apalah daya, ia masih merasa tubuhnya lemas.


Ia hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Tunggu bentar ya, gue panggil dokter dulu" ucap Citra sambil berlari keluar ruangan.


Akibat terlalu senang karena melihat Alvina sudah sadar, Citra sampai lupa bahwa di sebelah brangkar Alvina ada tombol yang bisa tethubung langsung dengan dokter.


Alvina hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah laku Citra.


Beberapa saat kemudian, Citra datang dengan di ikuti oleh dokter Fajar di belakang nya.


"Apakah ada keluhan?" Tanya Dokter Fajar.


"Hanya pening dikit sama perut saya juga sedikit sakit" jawab Alvina.


"Itu hal yang wajar pasca operasi, nanti juga akan berangsur-angsur membaik" ujar Dokter Fajar sambil memeriksa Alvina.


Citra hanya diam sambil melihat Alvina yang sedang di periksa.


"Jangan banyak gerak dulu, apalagi nyoba buat duduk, nanti luka bekas operasi nya terbuka lagi" peringat Dokter Fajar.


"Nanti akan ada perawat yang mengantarkan makanan sama obat nya, setelah makan kamu harus minum obat supaya cepat sembuh" ucap Dokter Fajar ketika selesai memeriksa Alvina.


Alvina hanya mengangguk menanggapi ucapan Dokter yang selama ini menangani nya.


"Ya udah, kalo gitu saya keluar dulu" pamit dokter Fajar.


Usai kepergian dokter Fajar, kini Citra berjalan menghampiri Alvina yang terbaring lemah.


"Gue mau nanya boleh gak?" Tanya Citra.


"Biasa nya juga langsung nanya-nanya" jawab Alvina.


Citra cengengesan saat mendengar jawaban Alvina yang memang itu fakta nya.


"Ini lo kok bisa di ruangan VIP gini sih?" Tanya Citra.


"Dokter Fajar yang ngasih" jawab Alvina.


"Ngasih-ngasih, emang nya nih rumah sakit punya dia apa" celetuk Citra.


"Ya bukan lah, kata nya sih hadiah karena udah bisa ngumpulin duit buat operasi" balas Alvina.


Citra hanya ber-oh ria saat mendengar balasan Alvina.


Tok.. Tok.. Tok..

__ADS_1


Citra dan Alvina yang tengah asyik mengobrol segera menoleh ke arah pintu yang di ketuk.


"Masuk!" Ujar Citra mempersilahkan.


Tampak pintu terbuka secara perlahan, kmudain munculah seorang perawat yang membawa nampan yang berisi bubur, air putih, dan juga obat untuk Alvina.


"Ini makanan sama obat nya, jangan lupa di makan. Abis itu langsung minum obatnya ya, tapi minum nya jangan di satu-in, minum nya bertahap aja" ucap perawat tersebut.


"Iya Sus, makasih udah di anterin" ujar Alvina.


Perawat tersebut hanya tersenyum kemudian pamit undur diri.


"Biar gue suap-in" ujar Citra sambil mengambil mangkok yang berisikan bubur khas rumah sakit.


"Ih.. gak selera gue liat nya" ucap Alvina.


"Gak boleh gitu, lo tetep harus makan" peringat Citra.


"Buka mulut nya. Aaa.." lanjut nya.


Dengan malas, Alvina membuka mulut nya.


Saat satu sendok berisi kan bubur masuk ke dalam mulut nya, Alvina segera memakan nya walaupun ogah-ogahan.


Citra tersenyum saat melihat ekspresi Alvina yang menurut nya lucu.


"Udah ya" ucap Alvina saat perut nya mulai terasa mual.


Beginilah efek nya jika Alvina memakan masakan rumah sakit. Mual!.


"Ini baru setengahnya loh" ujar Citra.


"Gue mual kalo terus maksa buat makan tuh bubur yang gak ada rasa nya" ujar Alvina.


"Ya udah, lo minum dulu nih" pasrah Citra lalu menyodorkan gelas berisi air putih yang terdapat sedotan nya agar memudahkan Alvina untuk minum.


Alvina segera meminum air yang di sodor kan oleh Citra.


"Oh iya Vi, tadi Rifki nelpon gue" ucap Citra memberi tau setelah menyimpan kembali gelas pada tempat nya.


"Ngapain nelpon lo?" Tanya Alvina.


"Nyariin lo, katanya nomor lo gak aktif, terus dia juga nyariin lo ke rumah sama cafe tapi gak ada" jawab Citra.


"Biarin aja, biar kapok" celetuk Alvina.


"Mana obatnya?" Tanya Citra.


"Nih" Citra menyodorkan obat satu persatu sesuai saran perawat yang mengantar kan makanan tadi.


.


.


.


.

__ADS_1


Dukung terus karya aku dengan cara like, komen, and Vote. Kalo suka sama ceritanya tolong sumbangkan poin dengan berbentuk hadiah ya🙃😊


__ADS_2