
Alvina menghela nafas panjang dan beranjak dari duduknya.
"Dah lah biarin aja, mungkin emang lagi kena musibah" gumamnya menenangkan diri.
Alvina kemudian mengambil ponsel, dompet dan juga kunci motor nya berniat untuk mencari makanan di luar.
Alvina melakukan motor nya menuju sebuah cafe yang tidak terlalu ramai pengunjung.
Saat sudah sampai di cafe yang menurut nya cocok untuk dirinya, Alvina memarkirkan motornya dan turun untuk masuk ke dalam cafe.
Namun langkah nya terhenti di pintu masuk, saat ia orang yang sedari tadi di tunggu oleh nya sedang duduk dengan seorang gadis dan nampak sedang bercanda gurau.
Siapa lagi kalau bukan Rifki yang sedang bersama Arabella.
Alvina membalikkan badannya menuju motor nya di parkiran sambil merogoh sakunya untuk mengambil ponsel.
Ia mencari kontak Rifki dan segera menelpon nya.
Panggilan pertama tidak di angkat, panggilan kedua masih belum di angkat.
Dan saat ia melakukan panggilan untuk yang ketiga kalinya, Rifki baru mengangkat nya.
"Halo by, ada apa?" Tanya Rifki.
"Lagi di mana?" Tanya Alvina dengan nada biasa.
"Lagi di rumah, emangnya kenapa?" Jawab Rifki sekaligus bertanya.
Tanpa menjawab pertanyaan dari Rifki, Alvina langsung memutuskan sambungan telepon secara sepihak.
Moodnya seketika hancur, saat orang yang sudah membuat ia bisa membuka hati telah membohongi nya.
Ia kemudian mengendarai motor nya menuju cafe tempat ia bekerja, sudah lama rasanya ia tidak bekerja di sana. Hal itu karena ia selalu tidak di ijinkan untuk bekerja oleh Rifki.
Dan sekarang, ia merasa ingin kembali bekerja. Apalagi mengingat sekarang sedang liburan semester, jadi ia tak perlu membagi waktu antara belajar dan bekerja.
Saat ia sudah masuk ke dalam cafe, ia di sambut hangat oleh karyawan dan pengunjung yang memang mengenalinya sebagai pelayan cafe tersebut.
"Kemana aja lo, udah lama gak kesini. Lupa sama kita?" Tanya salah satu karyawan yang akrab dengan nya. Namanya Tasya.
"Lo tau lah Tas kemaren kan ujian, jadi gue harus belajar dong buat persiapan" jawab Alvina.
"Lo mau kerja lagi?" Tanya Tasya lagi.
__ADS_1
Alvina yang mendengar pertanyaan Tasya hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum sebagai jawaban.
"Mbak Indah nya ada kan?" Tanya Alvina memastikan.
Indah merupakan pemilik cafe tempat Alvina bekerja.
"Ada kok di ruangan nya" jawab Tasya.
"Kalo gitu gue ke mbak Indah dulu ya" pamit Alvina.
"Iya, gue juga mau lanjutin kerja" jawab Tasya.
Alvina kemudian melangkahkan kakinya menuju sebuah ruangan yang si tempati oleh mbak indah.
Setelah berbincang-bincang dan meminta ijin untuk kembali bekerja di cafe, Alvina segera bergegas mengganti bajunya dengan seragam karyawan karena sudah mengantongi izin dari pemilik cafe.
Jari ini Alvina bekerja dari siang hingga jam delapan malam. Tapi besok ia harus bekerja dari jam tujuh tiga puluh hingga jam setengah sembilan malam, Karena ia sendiri yang meminta.
-•°•°•°•°•°•°•-
"Alvina jam kerja kamu udah habis, pulang gih" ucap atasan Alvina menyuruh nya pulang.
"Iya bentar, tanggung ini" jawab Alvina sambil mengambil piring bekas yang ada di meja para pelanggan.
Setelah menyimpan piring kotor pada tempat yang tersedia di dapur, Alvina pergi ke toilet wanita untuk mengganti bajunya.
.
.
.
Setelah sampai si rumah, Alvina langsung bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh nya yang terasa lengket karena keringat.
Lima belas menit kemudian, Alvina sudah memakai pakaian nya dan perfi ke dapur untuk makan malam.
Saat ia sedang melahap makanan yang si bawa nya dari cafe, ia melihat ponselnya yang sedari tadi tidak ia buka berbunyi.
Saat ia melihat siapa yang melakukan panggilan telepon kepadanya, terpampang nama Rifki di sana, ia segera mengangkat nya, namun ia tak berbicara sepatah kata pun.
"Sayang" panggil aku Rifki.
Alvina hanya diam tak menyahuti.
__ADS_1
"Halo, ini Alvina kan" ujar Rifki saat ia tak mendapatkan sahutan dari Alvina.
"Hmm" Alvina hanya menjawab dengan sebuah deheman dan melanjutkan makan malam nya.
"Kamu kenapa sih, marah ya karena tadi gak jadi ke rumah kamu?" Tanya Rifki.
"Gak" jawab Alvina dingin.
"Tuh pasti kamu marah kan?, Jawab nya aja dingin gitu" ujar Rifki.
Alvina hanya diam membiarkan Dicki berceloteh, setelah makanan nya habis ia segera pergi menuju wastafel dan mencuci piring bekas nya makan tanpa membawa ponselnya.
Sedangkan Rifki yang merasa ada suara gemericik air dari seberang sana, hanya menghela nafas panjang.
"Yakin nih gue pasti dia lagi ngambek gara-gara tadi gue gak jadi ke rumah dia. Padahal kan tadi gue udah bilang kalo mau nemenin Ara yang lagi dapat musibah" gumam Rifki pada dirinyalah sendiri.
"Alvina pacarnya Rifki!" Teriak Rifki saat suara gemericik sudah berhenti.
"Hmm" lagi-lagi Alvina hanya menjawab dengan deheman.
"Ngambek? Tanya Rifki.
"Gak" jawab Alvina sambil berjalan menuju kamarnya.
"Terus itu kenapa ngomong nya jadi dingin gitu?" Tanya Rifki.
"Lagi pengen aja" jawab Alvina.
"Udah dulu ya, aku ngantuk, mau tidur" sela Alvina.
"Lah kok malah tidur sih, aku masih kangen" ucap Rifki tak terima.
"Lagian kalo kamu tidur terus aku sendiri dong" lanjut nya.
"Kan ada sahabat kamu di rumah kan" ujar Alvina.
"Ihh kok gitu sih, aku mau nya kamu" ucap Rifki memelas.
Tanpa menghiraukan celotehan Rifki di telepon, Alvina langsung naik ke atas ranjang nya dan merebahkan tubuh nya sambil menarik selimut supaya menutupi tubuh nya hingga sebatas dada.
Kemudian ia memejamkan mata nya dan pergi menuju alam mimpi dengan telepon yang masih tersambung.
Sedangkan di tempat lain, tepatnya di kamar Rifki, ia sedang menggerutu karena ia mendengar suara dengkuran halus dari seberang telepon yang masih tersambung dengan Alvina.
__ADS_1
"Alvina kenapa sih, di tanya marah apa engga?, Jawabnya enggak. Tapi sekarang malah ninggalin tidur, padahal kan biasanya kalo di telpon suka gak mau di matiin, bilangnya masih kangen" Rifki terus menggerutu hingga kantuk mulai menyerangnya.
Sehingga ia pun akhirnya memutuskan untuk tidur mengikuti Alvina ke alam mimpi.