Cewek Dingin & Cowok Playboy

Cewek Dingin & Cowok Playboy
Bersiaplah untuk kehilangan


__ADS_3

Pagi telah menyapa, sang surya telah sempurna menampakkan dirinya.


Alvina sudah bersiap dengan seragam pelayan cafe, berniat untuk pergi bekerja. Setelah sarapan pagi, ia kemudian berangkat menggunakan motor nya membelah jalan raya.


Sesampainya ia di cafe, Alvina segera bergegas mengelap meja yang sekiranya agak kotor.


Dan setelahnya melanjutkan pekerjaan apa saja yang sekiranya bisa ia lakukan. Seperti mencuci piring, melayani pelanggan, dan menjadi kasir saat penjaga kasir sedang sarapan ataupun ke toilet.


Sedangkan di rumah keluarga Anggara, kini semuanya nampak sedang sarapan bersama dengan sesekali mengobrol.


Selesai sarapan, Rifki segera bergegas menuju kamarnya untuk mengambil kunci motor nya dan juga dompet.


Saat menuruni tangga, langkahnya berhenti sejenak saat mendengar Ara yang bertanya kepada nya.


"Rifki mau ke mana? Gue boleh ikut gak?" Tanya Ara saat ia melihat Rifki menuruni tangga dengan pakaian rapi.


"Gue mau ketemu Alvina bentar, lo gak boleh ikut. Janji gak bakal lama, kalo udah selesai kita pergi jalan-jalan deh" jawab Rifki menghampiri Ara yang kini tengah cemberut setelah mendengar jawaban Rifki.


"Gak bakal lama kok Ra" bujuk Rifki.


"Janji?" Tanya Ara mengulurkan jari kelingking nya ke arah Rifki.


Tanpa pikir panjang, Rifki segera menautkan jari kelingkingnya dan jari kelingking Ara sambil berucap. "Janji!" Ucapnya pasti.


"Ya udah kalo gitu, tapi kalo udah balik, lo harus bawa gue jalan-jalan" putus Ara.


"Iya" balas Rifki.


Setelah berpamitan kepada semau yang ada di rumah, Rifki segera bergegas pergi menuju rumah Alvina.


Saat di perjalanan, ia tak sengaja melihat sebuah toko bunga. Ia kemudian menepikan motor nya di bahu jalan.


Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya Rifki memutuskan untuk turun dan membeli sebuah buket bunga untuk Alvina sebagai permintaan maaf dari nya.


Saat memasuki toko bunga tersebut, sontak saja ia menjadi pusat perhatian pengunjung toko karena ia memiliki tampang yang sangat sempurna.


"Selamat pagi kak, ada yang bisa saya bantu" sapa pegawai toko tersebut saat ia melihat Rifki terlihat kebingungan di depan deretan buket bunga yang berjajar rapi.


Rifki menoleh ke arah sumber suara dan tersenyum ke arah pegawai tersebut.


"Boleh bantu nyari buket yang cocok buat pasangan gak kak?, Tapi ukurannya yang besar" Tanya Rifki meminta bantuan.


"Emangnya baut apa kak?" Pegawai tersebut menjawab dengan sebuah pertanyaan.

__ADS_1


"Buat permintaan maaf sih kak, soalnya pacar saya lagi ngambek gara-gara kemaren gak jadi main" Rifki malah curhat.


Sontak saja pengunjung perempuan yang mendengar ucapan Rifki seketika menoleh ke arah Rifki.


Mereka berpikir, Rifki begitu romantis karena ingin membeli buket sebagai permintaan maaf karena tidak jadi main.


"Ihh andai cowok gue kayak gitu, pasti gue gak bakal berpaling dari dia" ucap salah satu pengunjung memulai aktivitas ghibah meng ghibah.


"Iya bener banget, apalagi dia ganteng, badannya juga bagus,plus romantis lagi" tambah yang lainnya.


"Beruntung banget ya yang jadi pacar dia" lanjut nya.


Rifki yang tidak sengaja mendengar bisikan-bisikan di sekelilingnya, hanya menganggapnya sebagai angin lalu.


Setelah mendapatkan sebuah buket bunga yang indah, Rifki segera membayar nya dan pergi dari sana menuju rumah Alvina.


Lima belas menit kemudian, Rifki sudah sampai di rumah Alvina. Namun anehnya, ia melihat rumah yang sangat sepi seperti tidak ada orang di dalam nya.


Rifki berjalan mendekati pintu, dan mengetuk pintu rumah Alvina seperti biasa.


Setelah beberapa lama tidak ada yang membukakan pintu, Rifki pun berfikir, kemana Alvina pergi.


"Apa dia kerja di cafe lagi ya" gumam nya menebak.


Setelah beberapa saat berpikir, ia memutuskan untuk pergi ke cafe tempat Alvina bekerja.


Tanpa pikir panjang, Rifki langsung saja masuk sambil membawa buket bunga yang tadi ia beli.


"Alvina" panggil Rifki.


Alvina yang kebetulan sedang berjalan ke arah dapur seketika menoleh ke arah suara yang memanggil nya.


Saat ia menoleh, ia melihat Rifki tengah tersenyum ke arahnya dengan sebuah buket di tangan nya sambil berjalan menghampiri Alvina.


"Ngapain sih pake ke sini segala" ujar Alvina saat Rifki sudah ada di hadapannya.


"Kenapa emangnya? Gak boleh ya?" Tanya Rifki.


"Malu tau, di liatin orang" jawab Alvina.


"Aku mau ngasih ini buat kamu" ucap Rifki menyodorkan buket bunga yang di bawa nya.


"Buat apa sih pake bawa-bawa buket segala?" Tanya Alvina.

__ADS_1


"Udah nih terima aja, sebagai permintaan maaf karena kemaren gak jadi main ke rumah kamu" jawab Rifki sambil meraih tangan Alvina dan meletakkan buket pada telapak tangan Alvina.


Alvina hanya menatap buket di tangan nya dengan datar tanpa mengatakan sepatah kata pun.


"Gue gak butuh bunga, tapi gue butuh kejujuran" ucap Alvina tiba-tiba sambil meletakkan buket ke tangan Rifki. Bahkan ia juga mengubah panggilan dari aku kamu, kini kembali menjadi lo gue.


"Maksudnya?" Tanya Rifki tak mengerti.


"Sekarang lo jawab jujur, lo kemaren kemana?" Tanya Alvina dingin.


"Aku kan udah bilang, kemaren aku di rumah nemenin Ara yang lagi sedih" jawab Rifki mencoba untuk tetap santai walaupun sebenarnya hatinya kini sedikit was-was.


Alvina menyunggingkan senyumnya ke arah Rifki, kemudian membuang muka dan berjalan ke arah dapur.


"Mending lo pergi aja kalo gak mau jujur, gue juga lagi kerja, dan gue bukan bos yang bisa seenaknya" ucap Alvina sebelum benar-benar pergi dari hadapan Rifki.


Rifki yang mendengar ucapan Alvina seketika meraup wajah nya kasar kemudian menghela nafas panjang.


"Apa mungkin kemaren dia tau pas gue lagi di cafe sama Ara. Tapi kan Ara cuman sahabat gue, harusnya Alvina ngerti dong kalo gue sama Ara gak ada hubungan" gumam Rifki sambil menatap buket si tangannya.


Ia menatap punggung Alvina yang ada di dapur dan menatap ke buket yang di bawa nya. Kemudian ia mencari sesuatu yang bisa menampung buketnya.


Saat menemukan tong sampah, ia langsung menghampirinya dan memasukkan buket bunga berukuran besar ke dalam tong sampah dan pergi keluar cafe.


"Itu pacar lo bukan sih?" Tanya salah satu pekerja cafe pada Alvina saat melihat interaksi Alvina dan Rifki barusan.


"Iya" jawab Alvina.


"Terus kenapa tadi lo gak nerima buket dari dia, padahal kalo di lihat-lihat, buket nya kayaknya dari toko yang lumayan terkenal deh. Pasti mahal itu harga nya" ucap Tasya yang tak sengaja mendengar obrolan mereka.


"Gue lagi ngambek sama dia" jawab Alvina.


"Gara-gara apa?" Tanya Bimo, orang pertama yang bertanya pada Alvina.


"Dia kemaren mau maen ke rumah gue, tapi gak jadi. Terus pas gue mau makan siang di cafe, gue liat dia lagi makan sama cewek lain" jawab Alvina sambil meneruskan pekerjaan nya.


.


.


.


Di sebuah kamar, tampak seorang gadis yang duduk di hadapan cermin menatap dirinya sendiri.

__ADS_1


"Gue pasti bisa rebut Rifki dari cewek itu, secara kan gue lebih segalanya dari dia" ucapnya tersenyum manis.


"Permainan akan di mulai, bersiaplah untuk kehilangan" lanjut nya sambil menatap poto seorang gadis yang ia ambil diam-diam.


__ADS_2