
"Serah lo deh" pasrah Alvina.
"Terserah?, berarti boleh dong kalo gue nyium lo" ujar Rifki kesenengan.
"Bukan gitu konsep nya Bambang" kesal Alvina.
"Udah lah capek gue ngomong sama lo, pasti adaaa aja jawaban nya" ucap Alvina sambil bangkit dari tempat duduk nya.
"Lah malah pergi dia" gumam Rifki, sambil ekor mata nya mengikuti punggung Alvina yang berlalu pergi.
"Gak papa deh sekarang kita makan dulu, gak papa bekas Alvina juga" lanjut nya dan memasukkan sendok yang berisi kan somay ke dalam mulut nya.
Sementara di tempat lain, tampak Alvina sedang berjalan menuju toilet sambil meng-gerutu.
Ia masih kesal kepada Rifki yang dengan santai nya memakan somay dengan sendok bekas dirinya.
"Dasar Rifki, apaan tadi coba ngomong mau di suap-in dari mulut gue langsung. Ngebayangin nya aja gue ogah, apa lagi kalo beneran di lakuin, bisa mati berdiri gue" gerutunya.
"Aduh udah deh Alvina gak usah di pikirin omongan si Rifki mah, dia emang udah gak waras" lanjut nya.
"Napa lo?, dari tadi gue perhatiin nge-dumel mulu" tanya Citra yang entah sejak kapan sudah ada di belakang Alvina.
"Itu si Rifki, orang lagi enak-enakan makan malah di ambil sama dia, mana makan nya dari sendok bekas gue lagi" adu Alvina.
"What?... Serius si Rifki makan dari sendok bekas lo?" tanya Citra.
"Iya... emangnya kenapa?" jawab Alvina sambil bertanya.
"Sendok itu kan awalnya dari bibir lo, kalo Rifki nyuap dari sendok yang bekas lo otomatis kan bibir nya si Rifki ketemu sama bekas bibir lo, itu tuh berarti ciuman gak langsung" jelas Citra.
"Mikirnya kejauhan. Lagian mana ada ciuman gak langsung, palingan juga otak lo yang ngeres" elak Alvina sembari berlalu begitu saja dari hadapan Citra.
"Si anjrit, orang ngasih tau malah di tinggal, emang udah hobi nya kali ya ninggalin orang yang lagi ngomong sama dia" gerutu Citra.
-•°•°•°•°•°•°•-
Bel pulang sekolah telah berbunyi nyaring du setiap sudut sekolah.
Alvina segera berdiri dari duduknya dengan menyampirkan tas nya di pundak.
Saat ia baru saja berjalan satu langkah, pergelangan tangan nya lebih dulu di cekal oleh Rifki.
"Lo mau pulang langsung Na?" tanya Rifki.
"Iya emang nya kenapa?"
"Kita makan dulu yuk, gue yang traktir deh" ajak Rifki.
"Makan apa?"
"Terserah lo aja mau makan apa"
"Mie ayam kayak nya enak"
__ADS_1
"Ya udah ayo"
"Tapi belinya di tempat langganan gue ya"
"Iya boleh"
"Serius boleh?, ntar lo sakit perut lagi kalo makan di sana"
"Cie perhatian ama pacar nya" goda Rifki.
"Dih, ntar kalo lo sakit perut gue yang repot" elak Alvina.
"Ngelak aja teros Na" protes Rifki.
"Siapa yang ngelak?" tanya Alvina.
"Lo" jawab Rifki
"Kapan?" tanya Alvina lagi.
"Barusan"
"Itu tuh bukan ngelak tapi gue gak mau repot-repot ngurus anak orang"
"Siapa yang anak orang?"
"Ya lo lah, siapa lagi"
"Iya deh terserah ayang Alvina"
"Udah deh kalo kita debat mulu di kelas mending kita makan, gue udah laper nih"
"Emang mau makan mie ayam nya dimana?" tanya Rifki.
"Pinggir jalan" jawab Alvina.
"Ouh, gak papa deh yang penting bisa makan berdua sama lo"
"Terserah lo mau ngomong paan, yang penting jadi gak nih makan nya"
"Ya jadi lah massa enggak" jawab Rifki.
"Ya udah ayo, cacing di perut gue udah pada demo nih" ajak Alvina.
"Ayo"
-•°•°•°•°•°•°•-
"Mie ayam nya dua porsi sama es teh anget nya dua ya mang" teriak Rifki saat sudah berada di tempat mie ayam yang sudah di rekomendasi kan oleh Alvina tadi.
"Lo kalo ngomong yang bener ogheb, mana ada es teh anget, es tuh di mana-mana dingin. Kalo mau yang anget bilang nya teh anget" protes Alvina membenarkan ucapan Rifki
"Ya kan nyari variasi baru" balas Rifki.
__ADS_1
"Lagian si mamang nya pasti ngerti kok, iya kan mang?" lanjut nya.
"Sippp" jawab penjual mie ayam yang di panggil mamang oleh Rifki barusan.
"Serah lo deh, cape gue ngomong sama lo" gumam Alvina.
Rifki yang mendengar gumaman Alvina yang memang sengaja volume suara nya di keras kan oleh Alvina hanya cengengesan tidak jelas.
Setelah menunggu beberapa saat, mie ayam yang di pesan oleh Rifki pun akhir nya sudah ada di hadapan mereka berdua.
Rifki tampak menoleh ke arah Alvina yang sudah mulai me-makan mie ayam yang sudah di beri bumbu.
"Pedes gk Na?" tanya Rifki
"Enggak" jawab Alvina.
"Ah enggak pedes lo mah bikin gue sakit perut" gerutu Rifki.
"Ya suruh siapa nanya sama gue Bambang" kesal Alvina.
"Lagian mie ayam nya kan di bumbu-in sama lo sendiri, masa lo gak bisa nakar bumbu yang sesuai sama selera lo sendiri sih" omel Alvina.
"Iya iya, gak usah ngomel juga kali Na" jawab Rifki.
"Lo sendiri yang mancing-mancing emosi gue" balas Alvina tak mau kalah.
"Iya sorry" pinta Rifki.
"Lanjutin aja makan nya gak usah peduli-in si Rifki yang selalu bikin darah lo naik teros" lanjut nya.
"Hmm."
Alvina hanya menjawab dengan deheman di karena kan mulut nya yang sudah penuh oleh mie ayam yang baru saja di suap kan oleh nya.
Di saat suasana hening yang menyelimuti kedua nya, tampak seorang wanita asing yang lumayan cantik menghampiri meja yang di duduki oleh Alvina dan Rifki.
Lebih tepat nya sih menghampiri Rifki.
"Hai boleh ikut gabung duduk di sini gak?" tanya si wanita yang tampak berdiri di hadapan Rifki tanpa melirik ke arah Alvina.
"Boleh, ini kan tempat umum jadi bebas-bebas aja kalo ada yang mau duduk di sini" jawab Rifki.
Si wanita yang mendengar jawaban Rifki hanya menampilkan senyuman masam nya. Lalu duduk di sebelah Rifki.
"Itu di depan saya kan masih ada kursi nya, kenapa harus mepet sama saya mbak?" tanya Rifki.
"Gak tau nih, hawa nya aku itu pengen nempel mulu sama kamu" jawab di wanita.
"Oh iya, kita belom kenalan ya. Kenalin nama aku Almeira biasa di panggil Ira, tapi kalo kamu mau manggil aku sama panggilan Sayang juga gak papa sih" lanjut si wanita yang bernama Almeira.
"Oh yah aku masih muda kok, jadi jangan manggil mbak ya, kesan nya jadi saya lebih tua gitu" lanjut nya lagi.
"Umur nya sih masih muda, tapi muka nya udah kayak Tante-tante girang" gumam Alvina yang tidak di dengar oleh Almeira tapi masih bisa di dengar oleh Rifki.
__ADS_1
Rifki yang mendengar gumaman Alvina mencoba untuk menahan tawa nya agar tidak pecah.