Cewek Dingin & Cowok Playboy

Cewek Dingin & Cowok Playboy
Danau


__ADS_3

Alvina melajukan motor nya dengan kecepatan tinggi, tak ada tempat yang ingin ia datangi.


Saat ini ia hanya ingin menenangkan diri, saat melewati sebuah jembatan, ia seketika teringat akan suatu tempat.


Akhir nya ia melajukan motor nya menuju sebuah danau yang sering ia datangi dulu. Danau tersebut selau bisa membuat hati nya terasa tenang.


Setelah beberapa menit, Alvina memberhentikan motor nya di tepi danau yang terlihat tenang namun keruh.


"Udah lama juga gak ke sini" ucapnya sambil melepas kan helm yang di gunakan nya dan turun dari atas motor nya.


Alvina kemudian menghampiri kursi panjang yang terbuat dari kayu di sisi danau.


Alvina hanya diam termenung sambil menatap danau di depan nya.


Sedangkan di tepi jalan, kini Rifki dan Citra tengah terdiam mengira-ngira Alvina pergi ke mana.


"Lo tau tempat yang sering di kunjungi Alvina gak?" Tanya Rifki pada Citra yang duduk di jok belakang.


"Lo kan pacar nya, harus nya lo itu tau Alvina pergi ke mana aja" bukannya menjawab, Citra malah mengomel.


"Alvina biasa nya gak kemana-mana, palingan juga ke cafe buat kerja" jawab Rifki kesal.


"Tapi kan tadi kita udah nyari Alvina ke cafe tempat Alvina kerja, tapi gak ada" ujar Citra.


"Makanya gue nanya sama lo, Alvina biasa nya kalo nenangin diri suka pergi kemana?" Ucap Rifki greget.


"Mana gue tau"jawab Citra mengangkat kedua bahu nya.


"Eh tapi tunggu-tunggu, gue kayak nya tau di mana Alvina sekarang" lanjut Citra.


"Serius?, di mana?" Rifki bertanya dengan semangat.


"Danau buaya" jawab Citra.


Rifki seketika mengernyit kan dahi nya saat mendengar Citra menyebut kan Danau buaya, sepertinya ia pernah mendengar nama tempat itu deh.

__ADS_1


"Oh.. iya iya gue inget sekarang" celetuk Rifki sambil menghidupkan mesin motor nya dan melajunkan motornya menuju danau yang sempat ia kunjungi dengan Alvina.


"Rifki pelan-pelan bawa motor nya, kalo mau mati mati aja jangan ngajak-ngajak gue!!" Citra berteriak saat Rifki melajukan motor nya dengan kecepatan di atas rata-rata.


"Lo diem aja kalo mau ikut gue, gue pengen cepet-cepet nyampe" balas Rifki tak kalah berteriak.


Akhir nya Citra hanya bisa berpegangan pada jaket yang di pakai Rifki sambil memejamkan mata nya dengan erat.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhir nya Rifki dan Citra sampai di tempat tujuan.


Rifki sengaja memarkir kan motor nya agak jauh dari danau supaya Alvina tidak menyadari keberadaan nya.


"Lo tunggu di sini aja" pinta Rifki pada Citra saat ia turun dari motor sambil membuka helm nya.


"Gue mau ikut" tolak Citra sambil meletakkan helm nya di atas jok motor Rifki.


"Ini masalah gue sama Alvina, jadi lo gak perlu ikut, gue mau nyelesain masalah yang udah gue buat sendiri" ucap Rifki.


Dengan berat hati, akhirnya Citra setuju untuk tetap berada di dekat motor Rifki.


Rifki berjalan dengan sangat pelan, sehingga Alvina tidak menyadari kedatangan nya.


Rifki segera duduk si sampai Alvina tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Alvina yang merasakan pergerakan di kursi yang di duduki nya, segera membuka mata nya dan menoleh ke sisi kanan nya.


"Ngapain di sini?" Tanya Albina saat melihat Rifki yang duduk di sisi nya.


"Tadi kamu dari rumah aku ya?" Rifki balas bertanya.


Alvina hanya memutar bola matanya malas saat Rifki malah balik bertanya.


"Sorry.. aku gak bermaksud bikin kamu sakit hati" ucap Rifki meminta maaf.


"Di maafin gak nih?" Tanya Rifki.

__ADS_1


Alvina diam tak menyahuti Rifki, ia terlalu malas untuk maladeni Rifki.


"Kamu mau apa?, biar aku kasih. Mau jalan-jalan?, Coklat? Bunga? Atau apa?. Bilang aja, tapi kalo udah di kasih, kamu maafin aku ya" ujar Rifki mencoba membujuk.


"Gak butuh" tolak Alvina singkat.


Rifki memutar otak nya untuk berfikir, apa yang bisa ia lakukan untuk membujuk Albina supaya memaafkan nya.


Kemudian otak nya menemukan sesuatu yang menurut nya bisa meluluhkan Alvina. Sebuah penjelasan, pikir nya.


"Tadi tuh Ara lagi curhat tentang bokap nya, dia juga tadi nangis. Terus gue nyoba buat nenangin dia dengan cara mengelus-elus punggung dia. Eh dia malah nyender di bahu aku, aku tadi nya mau nolak, tapi aku kasian sama dia. Tapi kamu tenang aja, pas kamu dateng tadi, Ara baru nyender di bahu aku" Rifki menjelaskan tanpa di minta.


Alvina menoleh ke arah Rifki yang sedang menatap nya.


"Aku mau sendiri dulu, pulang aja sana" ucap Alvina.


"Ngusir nih?" Tanya Rifki.


Alvina mengangguk sambil memejam kan mata nya dan menengadah menatap langit.


"Kalo aku gak mau pergi gimana?" Tanya Rifki.


"Aku gak mau ngomong lagi sama kamu" jawab Alvina tanpa merubah posisi nya.


"Loh loh loh, kok gitu sih. Aku mau tetep di sini, tapi aku gak mau di diemin sama kamu" ujar Rifki.


"Pergi atau..." Belum sempat Alvina melanjut kan ucapan nya, Rifki lebih dulu memotong nya.


"Iya iya iya, aki pergi tapi kamu hak boleh diemin aku ya" potong Rifki.


"Hmm" Alvina hanya berdehem membalas ucapan Rifki.


"Kamu juga jangan lama-lama di sini, udara di sini tuh dingin. Ntar kamu sakit lagi" peringat Rifki.


Alvina menoleh ke arah Rifki dan menatap Rifki dengan tajam.

__ADS_1


__ADS_2