Cewek Dingin & Cowok Playboy

Cewek Dingin & Cowok Playboy
Gak jadi main


__ADS_3

Setelah beberapa saat melamun sambil memegang kalung, ponsel Alvina berdering pertanda ada pesan yang masuk.


Alvina berjalan menuju ranjang, sebelum mendudukkan dirinya di atas ranjang, ia terlebih dahulu menyimpan paper bag di lantai sisi ranjang.


Ia merebahkan tubuhnya dan mengambil ponselnya yang berada di atas nakas samping ranjang.


Rifki


"Udah si buka belum hadiahnya?"


Alvina membuka pesan yang ternyata dari Rifki.


^^^Alvina^^^


..."Udah, makasih ya"...


Rifki


"Sama-sama, gimana? Suka gak?"


^^^Alvina^^^


^^^"Suka, kalungnya cantik"^^^


Setelah Alvina mengirimkan balasan pesan Rifki, tak lama ponselnya berdering.


Ternyata itu adalah panggilan dari Rifki yang melalukan Vidio call.


Alvina langsung mengangkat panggilan tersebut, dan tampaklah wajah sang kekasih yang memenuhi layar ponsel tengah tersenyum manis.


"Sayang" panggil Rifki.


"Hmm" alvina menjawab dengan deheman sambil memakan cemilan yang tadi sempat ia ambil.


"Jangan makan mulu" ucap Rifki.


"Emangnya kenapa kalo aku makan terus?" Tanya Alvina sambil melanjutkan acara ngemil nya.


"Ntar gendut loh" jawab Rifki.


"Terus kenapa kalo aku gendut?" Tanya Alvina lagi.


"Ntar baju kamu pada gak muat lagi" jawab Rifki.


"Gak bakal lah, tiap hari juga aku selalu makan banyak, tapi badan aku tetep aja segede gini" ujar Alvina.


"Iya juga sih" ucap Rifki membenarkan.


Setelah ucapan Rifki tadi, kini hanya ada suara Alvina yang sedang mengunyah keripik nya.


"Yank" seri Rifki.


"Apa?" Ujar Alvina.


"Kangen, jadi pengen tidur sama kamu lagi, kayak pas si rumah sakit" ucap Rifki tiba-tiba.


"Aku yang gak mau" tolak Alvina.

__ADS_1


"Kenapa gak mau?" Tanya Rifki heran.


"Takut di *****-***** sama kamu" jawab Alvina sambil tergelak.


"Dasar" ujar Rifki sambil tersenyum.


Obrolan lewat video call terus berlangsung hingga hampir tengah malam. Itu pun berhenti karena handphone Alvina kehabisan baterai.


Setelah sambungan terputus, mereka langsung tidur karena mengingat besok masih harus sekolah.


-•°•°•°•°•°•°•-


Pagi hari telah menyapa, matahari mulai menampakkan dirinya.


Sinarnya menerobos melalui sela-sela jendela yang masih tertutup gorden.


Waktu sangat cepat berlalu, tak terasa hubungan Alvina dan Rifki sudah menginjak usia lima bulan.


Seorang gadis yang ada di balik selimut mengerjapkan mata nya untuk menyesuaikan cahaya yang menerpa wajah nya.


"Ughh" Alvina menggeliat di bawah selimut yang menggulung seluruh badan nya.


"Udah pagi ternyata" ucap nya ketika melihat sinar matahari yang menembus gorden.


Alvina kemudian mengambil ponsel yang masih menggantung pada charger dengan lampu notifikasi yang kedap-kedip menandakan bahwa ada pesan yang masuk.


"Siapa aih pagi-pagi udang nge-chat" gerutu Alvina, namun tak urung ia tetap membuka ponsel nya.


Saat ia membuka aplikasi berlogo telepon warna hijau, seketika senyuman terbit di bibirnya.


Siapa lagi kalau bukan sang kekasih yang mengirimkan pesan singkat yang isinya hanya sekedar ucapan selamat pagi.


Tanpa menunggu lama saat ia sedang mengetik sesuatu untuk membalas pesan Rifki, Rifki sudah lebih dulu menelpon nya.


"Pagii" sapa Rifki saat panggilan telepon nya tersambung.


"Juga" balas Alvina dengan suara sedikit serak khas bangun tidur dan memejamkan mata nya.


"Baru bangun hmm?" Tanya Rifki saat mendengar suara Alvina yang sedikit serak.


"He'em" jawab Alvina.


"Jalan yuk, kita menikmati awal liburan semester" ajak Rifki.


"Ogah ah, mau tidur aja di rumah" tolak Alvina.


"Ayok dong yank, aku mau ngabisin waktu seharian sama kamu" bujuk Rifki.


"Gak mau sayang" kekeuh Alvina.


"Ya udah deh kalo gitu, aku boleh main ke rumah gak?" Ujar Rifki.


"Boleh, tapi jangan sekarang" jawab Alvina.


"Kenapa emangnya?" Tanya Rifki.


"Belom mandi, bau" jawab Alvina.

__ADS_1


"Gimana kalo aku ke sana jam sembilan" usul Rifki.


"Iya" setuju Alvina.


"Ya udah kalo gitu. Kamu mandi gih, terus dandan yang cantik buat nyambut aku" suruh Rifki.


"Ngapain pake dandan segala, aku gak pake make up aja kamu udah ngejar-ngejar, gimana kalo aku pake make up, bisa mati berdiri entar kamu nya" ucap Alvina bergidik.


Rifki di seberang sana terkikik saat mendengar ucapan Alvina.


"Ya udah lah, sana mandi bau nya nyampe ke sini loh" suruh Rifki.


"Matiin kalo di suruh mandi" ujar Alvina.


"Ya udah, sampai jumpa jam sembilan nanti. Muach" pamit Rifki dengan memberikan kecupan jarak jauh.


Alvina hanya tersenyum mendengar itu, dan langsung beranjak dari tempat ternyaman nya untuk mandi setelah Rifki mematikan sambungan telepon nya.


.


.


.


Jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh pagi, Alvina sudah sedari tadi menunggu kedatangan Rifki, namun yang di tunggu nya tak kunjung datang, bahkan tidak membalas pesan yang ia kirimkan lima menit yang lalu.


Biasanya Rifki akan cepat merespon pesan dari nya karena nada dering pesan dari Alvina yang memiliki suara yang berbeda dari yang lain.


Hingga jam sebelas siang, Rifki masih belum menampakkan batang hidung nya.


Saat ia mencoba untuk menelpon Rifki, panggilan nya selalu di angkat oleh seorang perempuan yang bernada suara seperti mbah Google.


Hingga panggilan yang entah ke berapa, akhirnya bisa tersambung.


Setelah menunggu beberapa saat, Rifki mengangkat panggilan telepon dari nya. Namun Rifki berucap sesuatu yang membuat Alvina kecewa.


"Gue lagi nemenin Ara di rumah, dia baru aja kena musibah. Jadi gue gak bisa ke rumah kamu. Sorry" ucap Rifki. Kemudian..


Tutt.


Panggilan terputus secara sepihak oleh Rifki tanpa menunggu jawaban dari Alvina.


"Huh" Alvina menghembuskan nafas nya kasar.


"Fia gak sebaik yang lo kira Rifki Anggara, dia udah nyoba ngebuat sahabat lo celaka" desis Alvina memijit pangkal hidung nya.


Flashback On


*Alvina seemakin mengeratkan pelintiran nya pada tangan lawan yang bernama Denis.


"Siapa yang nyuruh lo?" tanya Alvina dingin.


karena sudah tidak kuat menahan rasa sakit dan panas akibat pelintiran Alvina pada tangan nya, akhirnya Denis memilih untuk jujur.


"Dia Arabella" jawab Denis sedikit berteriak karena merasa pelintiran di tangan nya semakin kuat.


Alvina yang mendengar sahabat dari pacar nya yang ada di balik terjadinya kecelakaan Angga, Citra dan juga dirinya, seketika meraup wajah nya kasar dan melepaskan pelintiran nya.

__ADS_1


"Lo boleh pergi" usir Alvina.


Flashback off


__ADS_2