
"Riko serius si Boy bawel" tanya Sasa pada Riko.
"Iya, kadang gue juga ampe kewalahan kalo ngomong sama dia. Gue ngomong tiga kata di jawab seribu kata sama dia" jawab Riko.
Tak...
Sentilan maut di layangkan oleh Boy dan mendarat dengan sempurna di atas kening Riko yang baru saja selesai menjawab pertanyaan Sasa.
"Lo kalo ngomong jangan di lebih-lebihin, ntar yang ada gue malah di kira cowok jadi-jadian sama mereka karena bawelnya sama kayak cewek."
Boy berucap sambil mendelik ke arah Riko yang hanya memamerkan deretan gigi nya yang putih tanpa rasa bersalah sedikit pun padanya.
"Eh kita kan gak kepikiran kalo si Boy cowok jadi-jadian, tapi si Boy malah ngomong kayak gitu tadi. Jangan-jangan si Boy emang beneran cowok jadi-jadian" ucap salah satu teman sekelas nya yang bernama Toni.
Boy yang mendengar ucapan Toni seketika membulat kan mata nya ke arah sang empu.
"Enak aja ngatain gue cowok jadi-jadian, sembarangan aja kalo ngomong" kesal Boy memajukan bibir nya beberapa senti.
"Kan kalo cowok tuh identik nya cool lah ini malah kayak cewek, BAWEL" ujar Toni.
"Gak papa kali bawel yang penting ganteng. Dari pada lo, mana badan udah kayak gentong muka juga gak ganteng abis itu idup pula" balas Boy.
Toni yang tidak terima dirinya di jelek-jelek kan oleh Boy merasa dongkol.
"Yeh muka kaya Justin Bieber gini juga" ucap Toni menyugar rambut nya dengan kepedean tingkat dewa.
"Serasa pengen muntah gue denger nya" ujar Boy pura-pura memasang wajah seperti ingin muntah.
"Justin Bieber kagak Justin meleber iya" gumam Alvina dengan santai nya berjalan ke sisi lapangan karena sudah merasa kepanasan.
Sontak semua orang yang mendengar gumaman Alvina menjadi tertawa terbahak-bahak, bahkan pak Andi sang guru pun malah ikut-ikutan tertawa mendengar gumaman Alvina.
Tapi tidak dengan Toni yang wajah nya terlihat dongkol karena tidak ada satu orang pun yang membela nya.
"Sudah-sudah dari pada saling ngejek, mending ganti baju atau beli minuman. Kalian pasti haus kan?."
Akhirnya setelah pak Andi selesai dengan tawa nya , pak Andi menengahi acara saling ejek tersebut supaya tidak terus berlangsung dan memakan waktu.
"Ah... bapak mah gak asik ah, orang lagi seru-serunya juga malah di lerai" salah satu murid yang baru menghentikan tawanya mendesah kecewa.
"Udah udah, gak baik ngejek orang lain" ucap pak Andi.
"Tapi bapak juga ikut ketawa kan?" tanya Rifki.
__ADS_1
Mendengar pertanyaan dari Rifki, pak Andi hanya memamerkan deretan gigi nya.
Pak Andi memang terkenal asik saat di ajak bicara, makanya banyak yang sangat bersemangat saat mengikuti pelajaran olahraga ini.
"Sebentar lagi kan pelajaran bapak mau abis, nah jadi sekarang kalian bebas mau ngapain aja terserah. Kalo mau ganti baju silahkan, masih mau man basket silahkan, kalo mau ke kantin juga boleh" ujar pak Andi.
Ucapan pak Andi barusan mampu membuat semua murid bersorak gembira.
Gimana gak seneng coba, di saat kelas lain masih berkutat pada pulpen dan buku, sementara mereka sudah boleh ke kantin.
"Bapak mau ke ruangan bapak dulu ya, jangan sampe ada yang nge-ganggu kelas lain yang masih belajar apa lagi kalo ada guru nya. Ntar malah bapak yang kena amukan kepala sekolah" peringat pak Andi sebelum meninggal kan lapangan.
"SIAP KOMANDAN!" jawab semua murid dengan kompak sambil memberi kan hormat.
Pak Andi yang melihat itu hanya tersenyum sambil menggeleng-geleng kan kepala nya dan berlalu pergi.
Alvina yang tidak berniat untuk pergi ke kantin hanya duduk selonjoran di sisi lapangan sambil memperhatikan beberapa orang yang masih asik memainkan bola.
"Gue mau ke kantin bentar, lo mau pesen apa biar gue beliin" ujar Rifki yang melihat Alvina seperti tidak ada niatan untuk ke kantin.
"Minuman rasa mangga aja yang dingin" jawab Alvina tanpa menoleh ke arah Rifki. Karena ia bisa mengenali pemilik suara yang sedang berbicara pada nya tanpa melihat siapa orang nya.
"Ya udah tunggu di sini ya, jangan kemana-mana" pinta Rifki yang di balas anggukan kepala oleh Alvina.
Tak berselang lama, akhirnya Rifki kembali menghampiri Alvina di tempat tadi dengan menenteng jus mangga dan somay di tangan nya.
"Nih" ucap nya menyodorkan apa yang di bawa nya dari kantin.
"Napa jadi ada somay nya, perasaan tadi gue gak mesen somay deh" tanya Alvina heran saat melihat satu porsi somay yang ikut di sodorkan oleh Rifki.
"Udah lo terima aja. Gue yang inisiatif buat beliin somay" jawab Rifki seadanya.
"Ouh ya udah kalo gitu, thanks ya" ujar Alvina mengambil somay di tangan Rifki.
"Iya sama-sama" jawab Rifki.
Setelah membuka bungkusan somay, Alvina langsung melahap somay tersebut.
Rifki yang melihat Alvina yang sangat menikmati makanan nya itu hanya bisa memandang Alvina dari samping.
Alvina yang merasa dirinya sedang di perhatikan segera menoleh ke arah Rifki. Dan benar saja, Rifki sedang memperhatikan nya.
"Napa lo liat-liat?" tanya Alvina.
__ADS_1
"Lo gak ada niatan buat nawarin gue makan gitu?" Rifki balik bertanya.
"Gak" jawab Alvina kembali memasukkan satu sendok somay ke dalam mulutnya.
"Ih benar-benar ya, gue juga mau Alvina" ujar Rifki.
"Suruh siapa beli nya cuma satu" balas Alvina.
"Gue beli satu karena gue pengen di suapin sama lo" jawab Rifki.
"Dih gak boleh, ini kan punya gue, gue juga lagi laper banget ini" ujar Albina.
"Dikit aja" ucap Rifki memelas.
"Ga" jawab Alvina.
"Pelit lo" sinis Rifki dan merebut paksa sendok yang ada di tangan Alvina.
"Ihh gak boleh" kesal Alvina mencoba mengambil kembali sendok nya.
"Siniin somay nya" pinta Rifki.
"Ck" Alvina hanya berdecak sebal sambil memberikan somay di tangan nya hingga berpindah alih ke tangan Rifki.
"Tapi sendok nya jangan yang itu" peringat Alvina.
"Kenapa?" tanya Rifki.
"Itu bekas gue" jawab Albina mencoba merebut sendok.
"Emang nya kenapa kalo bekas lo?" tanya Rifki lagi.
"Jijik" jawab Alvina singkat.
"Gue gak jijik sama sekali, bahkan kalo gue di suapin langsung dari mulut lo gue mau kok, seneng malah" ujar Rifki memberikan senyuman menggoda nya.
Alvina yang mendengar ucapan Rifki seketika membulatkan mata nya ke arah Rifki.
"Gila lo" umpat nya.
"Itung-itung latihan buat nanti pas malam pertama, jadinya kan gak kaku karena udah terbiasa gitu" jawab Rifki santai.
"Serah lo deh" pasrah Alvina.
__ADS_1
"Terserah?, berarti boleh dong kalo gue nyium lo" ujar Rifki kesenengan.