Cewek Dingin & Cowok Playboy

Cewek Dingin & Cowok Playboy
Ara menemui Alvina


__ADS_3

"Alvina, gue minta maaf soal kejadian tadi. Ya walaupun gue gak salah sih, tapi kan kita harus saling maafin" ucap Ara sambil menatap Alvina dengan senyuman .


Alvina mengangkat satu sudut bibir nya sehingga membentuk sebuah senyuman smrik.


'Apa lagi nih yang di rencanain ama nek lampir?' batin Alvina.


Karena Alvina tak juga membalas ucapan maaf dari Ara, membuat Rifki menjadi kesal pada Alvina.


"Alvina.. lo harus maafin Ara, karena gimana pun di sini lo yang salah" tekan Rifki.


Alvina seketika menoleh kearah Rifki. Di liriknya Ara dengan ekor matanya yang kini tengah tersenyum miring seolah mengejek nya.


"Gue bakal maafin dia kalo dia minta maaf secara benar!" Ucap Alvina.


"Lo pikir Ara minta maaf sama lo itu gak bener?" Tanya Rifki.


"Gue pikir lo itu cewek yang beda dari yang lain, lo gak egois kayak cewek lain. Ternyata gue salah, lo lebih munafik, lebih egois dan lebih segala-galanya" ucap Rifki.


Alvina tersenyum miring tanpa mengubah posisi nya yang kini tengah terbaring.


"Terserah lo mau ngatain gue apa. Tapi yang jelas gue di sini sebagai korban bukan sebagai tersangka. Dia yang udah ngedorong gue, apa salahnya kalo gue mau keadilan dan nge-bawa dia supaya ikut jatoh sama gue" jelas Alvina.


Rifki terdiam, ia sadar ia sudah keterlaluan hinga mengatakan bahwa Alvina munafik.


Saat pikiran nya sedang berkecamuk, tiba-tiba Ara menangis sambil memegang tangan nya.


"Hiks.. Hiks.. Hiks.. L-Lo li-liat sendiri kan Ki, Al-Alvina malah nuduh gue" ucap Ara di sela isak tangis nya.


Melihat sahabat nya menangis, membuat Rifki tak bisa berfikir jernih.


"Lo jangan ngarang cerita, harus nya lo nerima permintaan maaf dari Ara bukan nya malah nuduh dia yang gak mungkin nge-lakuin itu semua!" Rifki menaikan satu oktaf nada suara nya.


"Udah nge-bacot nya? Kalo udah, keluar dari ruangan gue! Gue gak butuh bacotan lo berdua, yang ada pusing gue denger nya" ujar Alvina.


Mendengar ucapan Alvina, Rifki akhirnya diam. Ia kemudian menarik tangan Ara untuk keluar dari ruangan tersebut, sesuai dengan apa yang di katakan oleh Alvina.


"Na" Citra memanggil Alvina sambil berjalan mendekati nya.


Alvina tak menjawab, ia hanya memejamkan matanya untuk menenangkan hatinya dan pikiran nya yang sedang kalut.


Citra memilih keluar untuk memberikan Alvina ruang untuk menenangkan diri. Begitupun dengan yang lainnya yang juga ikut keluar dari ruangan Alvina.


-•°•°•°•°•°•°•-


Satu minggu telah berlalu.


Sudah dari dua hari yang lalu Alvina di ijinkan pulang oleh pihak rumah sakit, karena memang Alvina adalah pasien yang sangat cepat dalam hal penyembuhan.


Dan kini, Alvina sudah berada di rumah nya di temani oleh Citra yang sengaja menginap hanya untuk menjaga dan membantu Alvina selama Alvina belum di bolehkan banyak gerak.


Sementara Ara, sehari setelah masuk rumah sakit, ia langsung di ijinkan pulang karena memang ia tidak mengalami luka parah seperti Alvina.

__ADS_1


"Alvina! Gue berangkat sekolah dulu ya" pamit Citra.


"Iya" jawab Alvina sambil mendudukkan tubuh nya di atas ranjang dengan perlahan.


"Sarapan nya udah siap, mau gue bawain ke sini gak?" Tanya Citra.


"Gak usah, gue kan masih bisa jalan" tolak Alvina.


"ok kalo gitu gue berangkat" ujar Citra yang kemudian pergi ke sekolah.


.


.


.


Sesampainya Citra di gerbang sekolah, ternyata ia sudah di tunggu oleh Rifki yang berdiri sendirian di depan gerbang.


"Akhirnya lo dateng juga" ucap Rifki menghampiri Citra.


"Mau ngapain lo?" Tanya Citra ketus.


"Gue mau nanya soal kejadian waktu itu" jawab Rifki.


"Kalo lo mau tau soal kejadian nya, lo minta aja videonya sama Boy" ujar Citra kemudian pergi meninggalkan Rifki.


Rifki yang melihat Citra meninggalkan nya, segera berlari menyusul Citra.


Citra tak menjawab, ia hanya terus berjalan tanpa menghiraukan Rifki yang terus mengoceh.


Karena tak kunjung mendapatkan jawaban dari Citra, Rifki memutuskan untuk menemui Boy yang sedang duduk bersama Riko dan Angga.


"Boy" panggil Rifki sambil duduk di sebelah Riko.


Boy tak menjawab ia hanya melirik Rifki sebentar dan kembali memalingkan wajahnya seakan enggan menatap Rifki.


Rifki menghela nafas berat saat tak mendapatkan respon dari sahabat nya itu.


"Boy.. kata Citra lo punya video pas kejadian di jurang, gue minta dong" ucap Rifki.


Boy tak menjawab, ia hanya merogoh saku celana nya dan mengeluarkan ponsel nya.


Ia mengotak-atik ponselnya tersebut dan memasukkan nya kembali ke dalam saku celananya setelah selesai.


Tak lama kemudian, ponsel milik Rifki berbunyi. Ia segera membuka ponsel nya dan melihat ada pesan yang berisikan sebuah video dari Boy.


"Makasih Boy, lo emang sahabat gue yang paling baik" ucap Rifki yang kemudian pergi duduk di bangku nya sendiri.


Ia tampak membuka kembali ponsel nya yang sempat di matikan tadi, ia memutar video itu dan memperhatikan nya dengan seksama.


Rahang nya mengeras saat melihat adegan di mana Ara tengah mendorong Alvina hingga terjatuh.

__ADS_1


"Lo udah keterlaluan Arabella!" Geram Rifki sambil menggenggam ponsel nya dengan erat untuk menyalurkan amarah nya. Layar ponselnya bahkan sampai pecah akibat tekanan yang terlalu kuat.


Citra yang sedari tadi memperhatikan Rifki hanya tersenyum sinis melihat apa yang dilakukan oleh Rifki.


"Sekarang lo tau gimana busuknya sahabat yang selalu lo bela itu" gumam Citra.


Triiing..


Suara bel pertanda pelajaran pertama akan segera di mulai.


Semua murid menghentikan aktivitas nya dan duduk di bangku nya masing-masing menunggu seseorang guru masuk ke dalam kelas nya.


-•°•°•°•°•°•°•-


"ARA!!" Teriak Rifki saat ia sampai di rumah dengan masih menggunakan seragam sekolah nya.


Ara segera menghampiri Rifki dengan berlari dari lantai dua dimana kamar nya berada.


"Ada apa sih Ki? Pake teriak-teriak segala" tanya Ara.


Rifki menghampiri Ara dan langsung mencengkram erat pergelangan tangan Ara hingga Ara meringis kesakitan.


"Rifki sakit!" Rintih Ara.


"Lo kenapa boongin gue?" Tanya Rifki.


"Bo-bohongin apa sih Ki, gue kan gak pernah bohongin lo" elak Ara.


"Gue udah tau semuanya! Lo sengaja kan bikin gue marahin Alvina?" Bentak Rifki.


Mendengan ucapan Rifki, seketika membuat Ara merasa was-was takut ketahuan. Apalagi kini tangan nya masih berada pada cengkraman Rifki yang semakin kuat.


Otak nya berpikir keras untuk mencari sebuah alasan untuk mengelak tuduhan Rifki yang memang itulah kebenaran nya.


Hingga otak nya menemukan sederet kalimat yang mungkin bisa mempengaruhi Rifki.


"oh gue tau, pasti Alvina kan yang udah bilang sama lo dan memutar balikan fakta? Gue sahabat lo loh Ki, masa lo lebih percaya sama omongan Alvina yang jelas-jelas adalah kebohongan" ujar Ara.


.


.


.


.


.


.


Dukung terus karya aku dengan cara like, komen, and Vote. Kalo suka sama cerita nya tolong sumbangkan poin dengan berbentuk hadiah ya🙃😊

__ADS_1


__ADS_2