
"Ya udah ayok" jawab Alvina.
Alvina segera berdiri dari duduknya dan melengos pergi tanpa memperdulikan Rifki yang melihat sekitar dengan was-was.
Rifki yang melihat Alvina yang berjalan tanpa memperdulikan keberadaan nya, segera mengejar Alvina yang sudah jauh dengan diiringi dengan gerutuan di sepanjang jalan.
"Tunguin woy" teriak Rifki.
"Lelet"balas Alvina dengan terik juga.
Rifki segera mengejar Alvina yang berdiri di dekat motor nya.
Alvina langsung menaiki motornya sambil memakai helm. Begitu pula dengan Rifki ia tidak mau terus berlama-lama di sungai buaya seperti ini.
Di perjalanan seperti biasa Alvina mengendarai motor nya dengan kecepatan tinggi, tapi kali ini Rifki dapat mengimbangi kecepatan Alvina.
"Na di depan ada restoran tuh kita mampir dulu yuk gue laper!!" ucap Rifki berteriak karena takut Alvina tidak mendengar nya.
"Ogah kalo di restoran, lo ikutin gue aja" balas Alvina dengan berteriak juga.
Rifki yang mendengar ucapan Alvina, mengurangi sedikit kecepatan motor nya. Karena ia tidak tahu Alvina akan membawanya kemana lagi.
Rifki hanya berharap ia tidak dibawa ke sungai yang terdapat buaya nya lagi oleh Alvina.
Motor yang dikendarai oleh Alvina berhenti tepat didepan gerobak penjual bakso.
"Bakso lagi bakso lagi, gak bosen apa makan bakso mulu" gerutu Rifki ketika ia melihat Alvina memberhentikan motor nya didepan gerobak bakso.
"Gak usah protes" tekan Alvina.
"Mang bakso mercon nya satu sama es teh nya juga satu ya" teriak Alvina.
"Siap neng" ujar penjual bakso.
"Lo mau pesen apa?" tanya Alvina.
"Samain aja" jawab Rifki.
"Yakin?, mercon loh" tanya Alvina lagi.
"Iya Na yakin kok" jawab Rifki.
"Ya udah, mang pesenan barusan jadi dua dua ya" teriak Alvina kepada penjual bakso.
"Oke ditunggu ya neng" jawab penjual bakso tersebut.
"Lo sering kesini?" tanya Rifki.
Bingung juga ia mencari topik pembicaraan yang pas.
"Lumayan" jawab Alvina.
Setelah pembicaraan singkat tersebut, Rifki tidak mengeluarkan satu kata pun. Sampai akhirnya pesanan mereka datang.
__ADS_1
"Ini neng pesenan nya" ujar penjual bakso yang bernama mang Ujang itu sambil menyimpan pesanan Alvina dan Rifki.
"Makasih ya mang" ucap Alvina.
"Iya neng" jawab mang Ujang sembari berlalu meninggalkan Alvina dan Rifki.
"Nih punya lo" ujar Alvina.
"Ini bakso apa sambelnya doang?, kok baksonya gak ada" ujar Rifki kebingungan.
"Namanya juga bakso mercon, lo pinggirin dulu cabe nya" jawab Alvina.
Rifki segera mengambil sendok dan menyisihkan cabe ke sisi-sisi mangkuk.
Tapi sebelum ia menyiapkan bakso tersebut kedalam mulutnya ia bergidik ngeri.
"Ini pedes pasti ya" ujar nya.
"Ya iyalah" jawab Alvina dengan mulut yang penuh oleh bakso mercon pesanannya.
Rifki yang melihat Alvina memakan bakso nya tanpa mengeluh pedas mencoba untuk memasukkan bakso nya ke dalam mulut. 'masa iya kalah sama Alvina, kan malu' batinnya.
"Gila pedes banget tapi enak" ucap nya setelah menghabiskan bakso yang ada di mulutnya.
"Yakin bisa ngabisin nya?" tanya Alvina meragukan.
"Bisa lo liat aja ntar" jawab Rifki.
"Lo yang lelet" jawab Alvina.
Rifki mencoba menghabiskan bakso nya, tapi tidak bisa. Ia sudah menyerah karena terlalu pedes menurutnya
"Huhh, gue nyerah gak kuat gue, pedesnya pake banget" ujar Rifki sambil mengelap keringat yang mulai keluar didahinya dengan punggung tangannya.
Karena tidak kuat akan pedas dari baksonya ia meneguk es teh milik Alvina karena miliknya sudah habis tak bersisa.
"Woy itu minuman gue" kesal Alvina.
"Pedes Na, mang es teh nya dua lagi ya"
"Pedes sih pedes tapi gak usah minum minuman orang juga kali" sinis Alvina sembari melanjutkan makannya yang tertunda.
"Lo kok santai aja sih?" heran Rifki, karena ia melihat Alvina tetap santai memakan bakso tanpa heboh seperti nya.
"Dah biasa" jawab Alvina.
Setelah es teh yang dipesan oleh Rifki datang ia segera meneguknya hingga tinggal setengah.
"Na kok perut gue berasa diaduk-aduk ya" ucap Rifki meringis sambil memegangi perutnya yang semakin lama semakin terasa tidak karuan.
"Sakit perut lo?" tanya Alvina.
"Kayaknya iya deh, pulang yuk perut gue tambah sakit nih" ujar Rifki.
__ADS_1
Alvina yang melihat wajah Rifki yang mulai pucat pun menjadi khawatir. Karena bagaimanapun ia yang menyebabkan Rifki menjadi seperti sekarang ini.
"Ya udah gue anterin lo balik ke rumah" ujar Alvina.
"Gak usah kita ke rumah lo aja" tolak Rifki.
"Ya udah kalo gitu yuk" ajak Alvina.
"Lo masih kuat bawa motor kan" tanya Alvina.
"Kuat kok" jawab Rifki bangkit dari duduknya dengan memegang perutnya yang terasa sakit.
"Lo yakin, kalo emang gak kuat biar gue bonceng" tawar Alvina.
"Gak usah gue masih kuat kok" tolak Rifki.
"Ya udah deh, Lo jalan duluan gue ikutin dari belakang" ujar Alvina.
Rifki yang merasa perutnya semakin sakit segera menaiki motornya dan melajukan nya dengan kecepatan sedang.
Seperti ucapan nya tadi, Alvina mengikuti motor yang dikendarai oleh Rifki dari belakang.
Setelah 20 menit perjalanan, akhirnya Rifki dan Alvina sampai di rumah Alvina.
Alvina langsung turun dari atas motor nya dan membuka kunci agar Rifki bisa masuk. Rifki yang sudah tidak tahan lagi berlari terbirit-birit ke dalam rumah. Namun saat ia sudah masuk ia malah kebingungan sendiri.
"Toilet nya di sana" ucap Alvina yang mengerti kebingungan Rifki sambil menunjukkan letak toilet.
Tanpa berpikir panjang Rifki segera masuk ke dalam toilet yang ditunjukkan oleh Alvina. Setelah dirasa cukup Rifki keluar dari toilet dan melangkah menuju sofa.
Tapi saat ia hampir sampai, ia merasa perutnya kembali mules. Rifki pun segera kembali ke dalam toilet.
Alvina yang melihat itu geleng-geleng kepala dibuat nya. Lalu ia melangkah menuju dapur untuk memanaskan air.
Setelah agak lama akhirnya Rifki keluar dari toilet dengan lemas.
"Sialan tuh bakso, bisa-bisanya dia bikin gue sakit perut gini" gerutu Rifki.
Alvina yang tadinya berada di dapur segera menghampiri Rifki yang sedang duduk di sofa dengan membawa obat dan air hangat.
"Nih minum obat biar sembuh, air angetnya abisin" titah Alvina.
"Cie perhatian nih ye" ujar Rifki terkekeh.
"Ck, ntar gue yang dimarahin sama tante Sarah. Lagian lo juga sakit perut gara-gara gue, tapi lo juga salah sih" ujar Alvina.
"Ya udah mana obatnya" ucap Rifki menyodorkan tangan nya kearah Alvina.
Alvina langsung memberikan obat yang berada di tangannya ke tangan Rifki. Ia juga memberikan gelas yang berisi air hangat kepada Rifki.
Setelah meminum obat yang diberikan Alvina, perut Rifki yang tadinya mules berangsur-angsur membaik.
"Na gue udah mendingan, tapi gue gak mau pulang ke rumah, mau nginep di sini boleh ya" ujar Rifki dan mendapatkan pelototan dari Alvina.
__ADS_1