
"Hmm" Alvina menjawab sambil mengangguk-angguk kan kepala nya.
"Kita belum kenalan secara resmi. Aku Arabella, kalo kamu?" Tanya orang tersebut yang ternyata adalah Ara, ia bertanya sambil mengulurkan tangan nya.
Alvina hanya melirik tangan Ara yang terulur menunggu balasan dari nya kemudian memalingkan wajah nya menghadap kaca jendela bis.
"Gue kira kita gak perlu kenalan deh, lo juga keliatan nya udah tau siapa gue" ucap Alvina tanpa menatap Ara yang kini tersenyum sinis dan menarik kembali tangan nya.
"Kayak nya lo udah tau niat gue ya?" Tanya Ara.
Alvina yang mendengar pertanyaan itu hanya tersenyum sambil berkata, "gue gak tau niat Lo."
"Udah deh gak usah pura-pura be*o, gue mau lo jauh-in Rifki" ucap Ara.
"Dia pacar gue, lo gak berhak buat nyuruh gue buat nge-jauhin pacar gue sendiri" balas Alvina.
"Gue kira kalian udah putus. Soal nya kan si Rifki suka curhat sama gue kalo hubungan kalian itu lagi di gantung. Gue saranin sih.. lo mending putusin aja si Rifki, biar gue bisa bebas buat ngedeketin dia" ucap Ara santai.
Alvina menoleh kearah Ara dengan tatapan sinis.
"Gue heran deh sama lo, sebenernya harga diri lo itu di mana sih?" ujar Alvina.
Ara yang mendengar sederet kalimat yang di lontar kan oleh Alvina seketika menoleh ke arah Alvina dengan marah.
"Lo pikir gue gak punya harga diri gitu?" tanya Ara sinis.
Alvina tak menjawab, ia hanya melirik sebentar ke arah Ara kemudian kembali melihat jalanan dari balik jendela bus.
"Pokoknya gue gak mau tau, mulai sekarang lo harus jauh-in Rifki!" ucap Ara.
"Gimana kalo kita lomba aja?" tawar Alvina.
"Lomba?" tanya Ara.
"iya.. Kita lomba dapetin Rifki, kalo misal nya pas camping lo bisa ngebuat Rifki mutusin gue, itu berarti lo menang, dan gue gak bakal deketin Rifki. Tapi.. Kalo Rifki malah nge-jauhin lo, gue yang menang" jawab Alvina.
Ara terdiam memikirkan penawaran dari Alvina, tak lama kemudian ia mengangguk sambil menyeringai.
"Gue setuju" ucap Ara semangat.
Alvina hanya mengangguk menangapi ucapan Ara. Alvina kemudian memposisikan tubuh nya senyaman mungkin untuk tidur.
Sekarang sudah ada sederet rencana yang bersarang di dalam pikiran Ara.
__ADS_1
Beberapa jam kemudian semua bus yang membawa semua murid sudah sampai di area puncak yang ada di Bandung.
Alvina juga sudah dari setengah jam yang lalu bangun dari tidur nya.
Berbeda dengan Ara yang masih tertidur lelap di sebelah nya.
Setelah bus berhenti di kaki puncak, semua murid di minta untuk turun dan berkumpul oleh pembina Camping.
Pembina yang terdiri dari guru-guru tersebut menjelaskan apa saja yang harus di lakukan dan tidak boleh di lakukan selama acara camping berlangsung.
Usai menjelaskan semua nya dan memastikan semua nya paham, para pembina kemudian membimbing murid-murid untuk berjalan menuju puncak.
Selama perjalanan, banyak sekali orang yang mengeluh. Ada yang bicara capek lah, ada yang bilang jauh lah, bahkan ada juga yang minta di gendong oleh para laki-laki.
Contoh nya adalah Ara yang dengan tidak tau malunya meminta Rifki untuk menggendong nya.
"Rifki... Gue capek, gendong dong Ki" pinta Ara sambil merentangkan kedua tangan nya ke arah Rifki.
"Katanya kuat, baru jalan beberapa meter aja udah minta gendong" sindir Rifki.
"Tapi kan capek Rifki" rengek Ara.
"Sabar.. bentar lagi juga sampe" ucap Rifki.
Sekitar dua puluh menit kemudian, akhir nya mereka sampai di tempat yang akan di jadikan perkemahan oleh mereka.
Tempat tersebut di kelilingi oleh pepohonan yang rindang dan sungai yang mengalir di sebelah barat dengan bebatuan besar yang ada di sisi sungai tersebut. Di sana juga ada kamar mandi yang khusus untuk orang yang sedang berkemah di sana.
"Wihh pemandangan nya bagus banget"
"Sumpah ini keren banget."
"Bakalan betah ini kalau tempat nya sebagus ini"
Begitulah kira-kira ucapan para murid yang memandangi pemandangan di sekitar nya.
Rasa lelah karena telah berjalan kaki selama setengah jam lamanya, kini rasa lelah itu hilang entah kemana dan tergantikan dengan rasa kagum akan pemandangan yang ada.
Setelah beristirahat beberapa menit, semuanya di minta untuk berkumpul untuk membagi tenda dan menentukan dengan siapa kita tidur.
Satu tenda di tempati oleh tiga sampai empat orang. Dan anak laki-laki tidak di ijinkan untuk tidur satu tenda dengan perempuan.
Alvina, Citra, dan Ara kebagian satu tenda. Rifki, Angga, dan Riko juga satu tenda. Sedangkan Boy satu tenda dengan teman laki-laki nya yang lain.
__ADS_1
"Kenapa sih pake di pisah-pisah segala? Gue juga mau tidur sama kalian" gerutu Boy.
"Udah lah bro, lo terima aja keputusan pembina" ucap Riko sambil menepuk-nepuk pundak Boy dengan keras.
Boy melirik Riko dengan tatapan tajam nya saat merasakan tepukan pada pundak nya terasa sakit.
Riko hanya tersenyum lebar dengan tampang tak berdosa nya saat Boy menunjukan tatapan permusuhan pada nya.
Dengan sekuat tenaga, Boy mengejar Riko yang telah berlari menghindar amukan Boy.
Semua orang hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah kedua nya, ada juga yang tertawa melihat aksi kejar-kejaran antara Boy dan Riko.
-•°•°•°•°•°•°•-
Setelah semua tenda sudah berdiri dengan sempurna dan barang-barang semuanya juga sudah masuk ke dalam tenda masing-masing, semua nya istirahat usai membersihkan diri secara bergantian.
Jam setengah delapan malam, semuanya berkumpul di tengah-tengah lapangan camping untuk sekedar bersantai dan bernyayi-nyanyi bersama.
Semua nya tampak heboh menyuruh pasangan mereka untuk bermain gitar sambil bernyanyi di tengah kerumunan.
Namun tidak dengan Alvina yang hanya memperhatikan mereka dengan tatapan datar andalan nya.
Ara yang melihat Alvina hanya menatap Rifki segera beranjak mendekati Rifki yang duduk di depan Alvina.
"Rifki.. lo juga nyanyi dong" pinta Ara.
Rifki hanya tersenyum dan berucap, "ogah ah, suara gue jelek kalo di suruh nyanyi."
"Ayo dong Ki.. sekali ini aja" Ara merengek sambil menarik-narik ujung baju yang di kenakan oleh Rifki.
Rifki menghela nafas pasrah dan beranjak dari duduknya menuju tengah kerumunan yang di ikuti oleh Ara di belakang nya.
Sesampai nya mereka di tengah-tengah, Rifki langsung duduk dan mengambil gitar milik teman nya.
Ara yang kebetulan duduk menghadap ke arah Alvina menyunggingkan senyuman sinis seolah berkata "gue udah bisa nyuruh-nyuruh Rifki, lo sendiri gimana? Kalah start sama gue."
Alvina yang memperhatikan ekspresi Ara yang tengah merendahkan nya hanya bisa membuang muka sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Lo gak papa Na?" Tanya Citra yang duduk di sebelahnya.
"Santai aja kali" jawab Alvina.
-•°•°•°•°•°•°•-
__ADS_1