
Alvina yang mendengar ucapan orang tersebut seketika merasa jika ia pernah mendengar suara tersebut. Ia mendongakkan kepalanya menatap sumber suara, ia terkejut saat melihat orang yang dikenal nya sedang dengan senyuman.
"Loh kalian!" ucap Alvina terkejut dengan nampan yang masih setia ia pegang.
"Kenapa?" tanya Rifki.
Ya tamu yang meminta pelayanan khusus dari Alvina adalah Sarah, Rifki, dan yang lain nya.
Rifki juga asalnya tidak tahu apa-apa, tapi saat sudah sampai di depan cafe dan melihat papan yang ada di depan cafe tersebut bertuliskan Asmara, ia baru mengerti kenapa Sarah mengajak nya untuk makan diluar.
"Ko tamunya kalian sih, gue kira siapa" gumam Alvina.
"Emangnya kenapa kalo bukan kita?" tanya Angga.
"Gak papa sih" jawab Alvina.
"Mending duduk sini gabung dari pada berdiri di situ mulu" ujar Sarah.
"Tapi kan aku harus kerja tan" tolak Alvina mencari alasan.
"Pokoknya gak ada tapi-tapi-an, tante udah minta izin sama atasan kamu tadi, jadi kamu harus gabung sama kita" tegas Sarah.
Alvina yang mendengar ucapan Sarah yang meminta nya untuk bergabung, hanya menghembuskan nafas pasrah.
Sebenarnya ia tidak mau satu meja dengan Rifki, tapi melihat Sarah yang sangat antusias menunggu jawaban dari nya, akhirnya iapun menganggukkan kepalanya.
"Ya udah kalo gitu ngapain masih berdiri di situ?" tanya Rifki.
Alvina segera melangkahkan kakinya menuju meja yang ada di hadapan semua orang.
Alvina meletakkan minuman yang ia bawa ke atas meja tersebut. Setelah meletakkan minuman, Alvina ikut duduk di sebelah Sarah yang berhadapan langsung dengan Rifki.
Setelah semua nya memesan makanan yang ingin mereka makan, semuanya kembali melanjutkan perbincangan yang sempat tertunda.
Saat makanan disajikan oleh pelayan lain, bunyi dering ponsel membuat semua orang yang ada di sana mengalihkan pandangan nya ke arah ponsel yang sedang berdering.
"Aduh ganggu aja, orang lagi asyik-asyiknya ngobrol malah nge-ganggu" gerutu Sarah.
Ya ponsel yang berdering itu adalah ponsel Sarah. Bukan nya buru-buru diangkat malah malah meng-gerutu. Dasar.
Setelah puas meng-gerutu sana-sini, akhirnya Sarah mengangkat panggilan tersebut.
"Halo" ucap Sarah memulai pembicaraan.
"......"
"Ouh baiklah saya segera ke sana"
"......"
"Ya tentu saja"
__ADS_1
"......"
"Iya iya bay"
Tuutt.
Sarah mematikan panggilan suara setelah pembicaraan singkat nya selesai.
"Ada apa ma?" tanya Rifki.
"Ini kayaknya mama gak bisa ikut makan deh, soalnya temen mama ada yang lagi sakit dan gak ada yang nemenin" jawab Sarah.
"Oh ya udah gak papa" ujar Rifki.
"Alvina gak papa kan tante tinggal sendirian?" tanya Sarah melirik Alvina yang tidak banyak bicara.
"Ya elah tan, kita kan ada Alvina gak sendirian kali" ujar Riko.
"Maksudnya perempuan sendiri Riko" balas Sarah.
Sarah kembali mengalihkan pandangan nya kearah Alvina yang belum menyahut.
"Gimana?" tanya nya.
Alvina yang mendapat pertanyaan dari Sarah hanya mengangguk kan kepalanya.
"Gak papa kok tan" jawab Alvina.
"Kita gak separah itu kali tan" kali ini Boy yang menyahut sambil memutar bola matanya jengah.
〰️〰️〰️〰️〰️〰️
Setelah kepergian Sarah, mereka segera melanjutkan makannya yang sempat tertunda.
Seringkali Angga melihat Rifki yang sedang mencuri-curi pandang kearah Alvina yang sedang fokus pada makanan nya.
Pada akhirnya Angga tidak tahan untuk tidak menggoda sahabat playboy nya itu.
"Aduh yang curi-curi pandang, gimana rasanya di cuekin sama cewek, enak?"
"Sesek oy sesek" jawab Rifki.
"Oksigen oksigen" teriak Riko pura-pura panik.
Boy yang mendengar pembicaraan antara tiga sahabat nya itupun seketika tersedak.
'Uhukk uhukk'
"minum bro" ujar Angga menyodorkan minuman kearah Boy yang masih ter-batuk-batuk.
Setelah selesai minum, tawa Boy seketika pecah.
__ADS_1
'Hahaha...'
Semua orang yang ada di sana hanya menatap nya dengan pandangan yang berbeda-beda, ada yang heran, ada yang bingung, ada juga yang ikut tertawa menertawakan sikap Boy.
"Kenapa lo ketawa?" tanya Rifki.
"Sesek oy sesek" jawab Boy menirukan gaya bicara Rifki saat menjawab pertanyaan dari Angga, berniat menyindir.
Rifki yang mendengar itu hanya mendengus sebal sambil kembali melanjutkan makannya.
"Aduh Vi kayaknya lo harus nerima si Rifki deh, kasian tuh anak. Biasanya kan dia yang nolak sekarang malah dia yang ditolak" ucap Riko.
Alvina yang mendengar itu menghentikan kegiatan nya sejenak dan menatap mereka bergantian lalu kembali melanjutkan makannya.
"Itu sih urusan gue yah, lo pada jangan ikut campur urusan gue" jawab Alvina.
"Si anjirr malah gak bisa di ajak kompromi si Alvina" kesal Angga.
"Kalo mau gue bisa diajak kompromi, duit dulu bro" ujar Alvina.
"Eh dasar mata duitan" kesal Boy.
"Noh si Boy aja tau kalo gue mata duitan, ngapain lo mau sama gue?" tanya Alvina mengalihkan pandangan nya ke arah Rifki.
"ya karena gue juga kagak tau" jawab Rifki.
Alvina yang mendengar jawaban konyol yang dilontarkan Rifki hanya memutar bola matanya malas kemudian melakukan aktivitas makan nya yang tertunda.
"Eh ngomong-ngomong gue mau nanya sesuatu sama lo Rifki, tapi lo harus jawab dengan sejujur-jujurnya" ucap Angga.
"Paan" jawab Rifki.
"Lo janji dulu harus jawab jujur"
"Paan dulu"
"Pokoknya lo janji dulu baru gue nanya"
"Ck, iya iya"
"lo sebenernya udah jatuh cinta belom sih sama si Alvina?" tanya Angga.
Alvina yang mendengar pertanyaan Angga kepada Rifki menghentikan suapan nya dan bersiap mendengarkan jawaban Rifki.
Sedangkan Rifki tampak terdiam dan berfikir.
"Gue liat-liat nih ya, cara lo memperlakukan Alvina itu beda sama lo memperlakukan cewek lain. Contohnya waktu Alvina hilang pas camping, saat itu lo keliatan bener-bener panik banget gitu, padahal biasanya lo selalu cuek aja sama cewek lain pas cewek itu dalam bahaya sekalipun itu didepan mata lo sendiri" lanjut Angga berpendapat dan mendapat anggukan dari ketiga temannya.
Semuanya tampak memperhatikan Rifki yang masih diam , mereka sama-sama sudah tidak sabar untuk mendengar jawaban apa yang akan dilontarkan oleh Rifki dari mulutnya.
Jempol jempol jempolnya mohon disumbangin dong, lagi butuh jempol nih buat nambah semangat nulis nya ☹️
__ADS_1