
"Aduh...Alvina sebenernya kemana sih?" Tanya Rifki pada dirinya sendiri sambil mengacak-acak rambutnya di depan rumah Alvina.
Seharian ini, Rifki terus saja menyusuri jalanan untuk mencari Alvina sambil sesekali mencoba menghubunginya lewat telepon, namun selalu saja tidak aktif.
Bahkan ia sudah bolak-balik ke rumah dan Cafe sebanyak sepuluh balik untuk mengecek keberadaan Alvina.
Matahari mulai bersembunyi, langit yang tadinya berwarna biru kini telah berubah menjadi jingga.
Merasa perjuangannya untuk mencari Alvina sia-sia, Rifki akhirnya memutuskan untuk pulang, setidaknya di rumah ia akan mengobrol dengan Ara dan menceritakan apa yang terjadi hari ini.
Mungkin Ara dapat mengalihkan kekhawatiran nya terhadap Alvina.
Dua puluh menit kemudian, Rifki telah sampai di rumah, nya dan kini ia sedang berjalan menuju kamar yang ditempati oleh Ara.
Tok.. Tok.. Tok..
Rifki mengetuk pintu kamar Ara dengan pelan, dengan sesekali memanggil nama Ara.
Tak berselang lama, tampak pintu terbuka lebar dan memperlihatkan Ara yang sepertinya baru selesai mandi. Terlihat dari rambutnya yang masih basah dan wajah nya belum menggunakan make up.
"Ada apa dih Ki?, ganggu orang aja" tanya Ara saat pintu sudah terbuka lebar.
"Gue lagi galau nih" jawab Rifki.
"Ya terus hubungannya sama gue apa?" Tanya Ara mengernyitkan dahinya heran.
"Gue mau curhat" jawab Rifki sambil menyenderkan kepalanya pada ujung pintu.
"Tumbenan lo mau curhat sama gue?" Tanya Ara.
Rifki hanya cengengesan sambil menggesek-gesekkan pipinya pada sisi pintu.
"Ya udah bentar, gue dandan dulu abis itu kita ke taman belakang. Ngobrol nya di taman aja biar enak" ujar Ara memberi saran.
Rifki menganggukkan kepalanya pertanda setuju.
"Kalo gitu gue tunggu di taman aja ya" ucap Rifki.
"Iya" jawab Ara.
Rifki kemudian melangkah meninggalkan kamar Ara menuju taman belakang rumah. Ia menunggu sambil memainkan ponselnya dan sesekali mencoba menghubungi Alvina, berharap nomor Alvina segera aktif kembali.
Tak lama, Ara kemudian datang mendekati Rifki dan langsung duduk di sebelah Rifki.
"Mau curhat apa?" Tanya Ara.
"Udah selesai?" Tanya Rifki sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku celana nya.
__ADS_1
"Udah" jawab Ara.
"Mau curhat apaan sih emang?" Tanya Ara penasaran.
"Lo tau gak, hari ini tuh.. Bla bla bla bla bla..."
Rifki menceritakan semua yang terjadi pada hari ini, dari Rifki berangkat dari rumah sampai ia kembali pulang ke rumah.
Rifki menceritakan semuanya tanpa ada yang di tutup-tutupi.
-•°•°•°•°•°•°•-
Pagi hari telah datang, matahari sudah terbit walaupun hanya sekedar mengintip dari balik gedung-gedung yang menjulang tinggi.
Alvina tampak mengerjapkan matanya, ia melihat Citra yang masih tertidur pulas di atas sofa yang ada di rungan VIP tempat Alvina di rawat.
"Dia gak pulang semalem?" Tanya Alvina pada dirinya sendiri.
Alvina kemudian mengambil kunci rumahnya yang kebetulan ada di sampingnya, dan melemparkannya ke arah Citra.
Kunci yang di lemparkan oleh Alvina tepat mengenai dahi Citra.
Merasa ada yang menimpa dahinya dengan keras, Citra menggeliatkan tubuhnya sambil mencoba membuka matanya yang masih enggan terbuka.
Saat matanya terbuka dengan sempurna, ia melihat Alvina yang sedang menatapnya.
"Ada apa sih Na? Mau minum? Apa mau ke kamar mandi?" Citra melontarkan pertanyaan kepada Alvina.
"Sekolah lah" jawab Citra sambil mencoba merebahkan kembali tubuhnya yang sempat terduduk.
"Ya udah pulang sono, ntar telat lagi ke sekolahnya" suruh Alvina.
"Bentar lagi aja" balas Citra.
"Lo gak liat ini udah jam berapa?" Tanya Alvina.
"Emangnya jam berapa?" Citra menjawab dengan sebuah pertanyaan.
"Udah setengah enam" jawab Alvina.
"Ouh.." ucap Citra santai.
"Hah!.." teriak Citra terkejut.
Citra langsung berdiri saking kagetnya, ia kemudian mengacak-acak sofa tempat ia tidur tadi seolah mencari sesuatu.
"Nyari paan sih?" Tanya Alvina.
__ADS_1
"Hp gue mana?" Citra menjawab dengan sebuah pertanyaan.
"Itu hp punya lo kan?" Ujar Alvina menunjuk handphone yang tergeletak di lantai sisi sofa.
"Ah iya" ucap Citra sambil mengambil handphone nya.
"Gue pulang dulu ya, mau sekolah. Ntar kalo udah pulang gue langsung ke sini" pamit Citra.
"Gak usah, lo pulang dulu aja ke rumah. Baru ke sini, jangan lupa bawa makanan yang banyak" ujar Alvina.
"Gak pokok nya kalo gue pulang, gue langsung ke sini. Lo tenang aja, ntar gue bawain makanan buat lo" balas Citra tak mau kalah.
"Ya udah deh, terserah lo aja, yang penting gue gak ngerepotin lo" pasrah Alvina.
"Gue sama sekali gak merasa lo ngerepotin kok" ujar Citra.
"Udah ya gue mau pulang dulu, kalo terus-terusan ngobrol, bisa-bisa gue di jemur lagi sama ketos" pamit Citra.
Alvina mengangguk mengiyakan.
Setelah mendapatkan anggukan dari Alvina, Citra segera keluar
-•°•°•°•°•°•°•-
"Citra.." Rifki berteriak memanggil Citra saat Citra baru saja sampai di gerbang sekolah.
Citra yang baru turun dari taksi yang di tumpangi nya segera menoleh ke arah Rifki yang berjalan menghampirinya.
"Apaan sih teriak-teriak?" Tanya Citra.
"Kemaren kenapa gak sekolah?" Tanya Rifki.
"Suka-suka gue dong, mau gue sekolah apa enggak juga gak bakal ngaruh sama kehidupan lo ka" jawab Citra ketus.
"Dah kayak polisi aja nanya-nanya" lanjut Citra.
Setelah berkata demikian, Citra langsung bergegas pergi meninggalkan Rifki yang mematung mendengar ucapan Citra.
"Semenjak Alvina gak ada kabar, kok Citra jadi berubah gitu sih. Jadi judes gitu" gumam Rifki.
Usai bergumam, Rifki segera berjalan menuju kelasnya karena sebentar lagi bel masuk akan berbunyi.
-•°•°•°•°•°•°•-
.
.
__ADS_1
Dukung terus karya aku dengan cara like, komen, and Vote. Kalo suka sama ceritanya tolong sumbangkan poin dengan berbentuk hadiah ya🙃😊
Untuk beberapa hari ke depan, mungkin author gak bisa update di karenakan kuota author sedang habis. Ini aja author lagi nge-Wife sama tetangga 😁😁