
Usai acara nyanyi-nyanyi gak jelas, semua orang masuk ke dalam tenda mereka.
Alvina dan Citra langsung merebahkan tubuh nya di atas karpet tipis yang menghalangi punggung dari tanah.
Tak beberapa lama datang Ara yang menatap Alvina dengan tatapan tak suka.
Dengan penuh keterpaksaan Ara membaringkan tubuh nya di sebelah Alvina.
"Sumpah ini gak nyaman banget buat punggung gue yang selalu perawatan" gerutu Ara karena kini punggung nya terasa sakit akibat kerikil kecil yang bersembunyi di balik karpet tipis.
"Kenapa tadi gak sekalian bawa kasur aja dari rumah" ucap Citra yang merasa jengah.
"Ya kali gue bawa kasur" ucap Ara.
Citra tak membalas, ia hanya memejamkan mata nya menyusul Alvina yang sudah sedari tadi tidur.
Ara juga hanya bisa mengikuti apa yang dilakukan oleh Citra fan Alvina, yaitu berbaring dengan tenang dan tertidur.
-•°•°•°•°•°•°•-
Pagi menyapa, sinar matahari menerobos masuk melalui sela-sela dedaunan dan sinarnya jatuh menimpa tenda-tenda yang berdiri di tengah puncak.
Sudah ada yang bangun dan berjalan santai menikmati udara sejuk pegunungan, salah satunya Alvina yang tengah berjalan di bibir sungai dengan di temani kicauan burung yang beterbangan di atas kepala nya.
Sedang asyik berjalan-jalan, ada sebuah suara yang memanggil nama nya.
"Alvina!" Teriak seorang pria sambil berlari menghampiri Alvina.
Mendengar suara yang memanggil namanya, Alvina menoleh dan mendapati seorang pria berdiri di depan nya dengan nafas tak beraturan.
"Ngapain?" Tanya Alvina datar.
"Nyusul kamu lah, dari tadi aku panggil-panggil tapi gak nyaut" jawab pria tersebut yang ternyata adalah Rifki.
Dengan acuh, Alvina kembali berjalan menjauhi Rifki.
Rifki yang melihat Alvina berjalan segera mengikuti Alvina.
Sepanjang perjalanan Rifki terus mengoceh, namun Alvina hanya menanggapi nya dengan anggukan atau gelengan kepala.
__ADS_1
Setelah merasa cukup letih, Alvina memutus kan untuk kembali ke tenda dan membersihkan diri.
Begitupun dengan Rifki yang pergi menuju tenda nya.
Sesampai nya Alvina di tenda, ia di sambut oleh Citra yang menghampiri nya dengan tergesa-gesa.
"Lo dari mana aja sih Na, gak tau apa gue panik nyariin lo di sini?" omel Citra.
"Ngapain pake panik segala?" Tanya Alvina acuh sambil mengambil handuk dan satu style pakaian.
"Gimana gak panik coba, orang pas gue bangun lo udah gak ada di samping gue" jawab Citra.
"Gue juga ikut mandi ah" ucap Citra.
.
.
.
Usai semua orang membersihkan diri dan sarapan bersama, semuanya di minta untuk berkumpul di tengah-tengah lapangan olah para pembina acara.
Acara ini akan di mulai dengan membersihkan area Camping, lalu bermain air di sungai yang ada di sana. Sekitar jam satu siang, acara akan di lanjutkan dengan mencari jejak yang dilakukan per-regu.
Ada yang semangat membersihkan area camping, dan ada juga yang dengan malas-malasan mengikuti instruksi dari pembina.
Seperti Alvina, Citra, Riko dan Angga yang semangat mengumpul kan dedaunan kering yang jatuh. Dan seperti Ara, Boy dan Rifki yang malas-malasan memunguti daun kering dengan jari jempol dan telunjuk seolah jijik memegang daun pepohonan yang terjatuh di atas tanah.
Riko yang melihat Boy malas-malasan membersihkan area camping, dengan jahil ia mengambil daun kering yang kotor kemudian mendekati Boy yang sedang berjongkok.
"Nih rasain!" Ujar Riko sambil membalur daun kotor pada kepala dan wajah Boy.
Mendapat serangan mendadak dari Riko membuat Boy sontak berdiri sambil berteriak pada Riko.
"Argh... Riko!! Lo apa-apa an sih?, Badan gue kotor jadi nya!!" Teriak Boy.
"Maka nya kalo di suruh bersih-bersih tuh nurut, bukan nya males-malesan. Kaya anak mami aja lo" jawab Riko.
"Ya tapi kan lo bisa ngomong baik-baik ama gue!" Tekan Boy yang merasa geram.
__ADS_1
"Kalian berdua kalo mau ribut mending pulang aja, gak usah ikut camping!" Ucap salah satu teman nya yang merasa kesal karena mereka tak kunjung membantu membersihkan area camping.
Kedua nya langsung diam dan buru-buru ikut membersihkan area camping karena tak ingin di pulangkan sebelum waktu nya pulang.
Waktu terus berputar, jam demi jam telah di lalui dengan canda tawa bersama.
Kini sudah waktunya untuk murid-murid yang ikut camping melaksanakan kegiatan cari jejak.
Semua nya sudah di bagi menjadi beberapa kelompok.
Dengan sangat kebetulan sekali Alvina, Citra, Ara, Rifki dan sahabat nya mendapat kan kelompok yang sama atau lebih jelas nya berada dalam satu kelompok.
Kelompok yang di pimpin oleh Angga itu mendapatkan urutan ke tiga untuk masuk ke dalam hutan sekitar puncak.
Satu per satu kelompok yang memiliki urutan satu dan dua masuk ke hutan dengan instruksi dari pembina.
Kini sudah masuk waktu nya kelompok Angga untuk masuk ke dalam hutan tersebut.
"Jangan sampe salah satu dari kita ada yang pisah, karena di sini kita gak tau jalan yang bisa sampai di area camping selain jalan yang di tunjukan oleh panah-panah ini" peringat Angga sambil menunjuk panah pengarah jalan pada akhir kalimat.
Semua nya tampak mengangguk mengiyakan.
Angga berjalan paling depan, Rifki dan Ara di belakang Angga dan yang lain mengikuti dari belakang.
Saat mereka sudah melalui setengah jalan, mereka menemukan sebuah jurang yang lumayan dalam. Jalan yang akan mereka lalui menuju area camping ada di bibir jurang tersebut, jalan nya pun sangat sempit. Mungkin jika seseorang berdiri di jalan tersebut dengan merapatkan kedua kaki nya supaya bersebalahan, maka tidak akan menyisakan lahan sedikitpun.
Kelompok Angga berhenti memandangi jalan yang akan mereka lewati.
"Glek.." Semua nya tampak menelan saliva nya dengan susah payah.
"Ini jalan gimana cara lewatnya, orang sempit kek gini" gumam Boy yang di angguki oleh Riko.
"Kita jalannya berbaris aja, pelan-pelan tapi selamet" ucap Rifki memberi saran.
Angga mengangguk mengiyakan saran dari Rifki, ia kemudian berjalan terlebih dahulu.
Di belang Angga ada Rifki, Alvina, Ara, Citra, Riko dan kemudian Boy.
Di pertengahan, Ara tampak menyeringai tanpa ada orang yang mengetahui nya.
__ADS_1
Ia berjalan lebih cepat mendekati Alvina walaupun kesulitan melewati jalan super mini itu.