
"Loh loh loh, ini kenapa?" Tanya Rifki khawatir.
Ara tidak menjawab pertanyaan Rifki, yang terdengar hanya lah suara isak tangis.
"Hiks hiks hiks" Ara menyembunyikan wajahnya pada dada bidang Rifki dengan memeluk perut Rifki dengan erat.
"Hey lo kenapa?" Tanya Rifki khawatir.
Alvina yang tadinya berdiri menyaksikan drama antara Ara dan Rifki, kini memilih duduk kembali di kursi yang tadi sempat akan ia tinggal kan.
Setelah beberapa lama, Ara sudah mulai tenang kembali dan isak tangis nya pun perlahan-lahan mulai hilang.
Setelah memastikan Ara sudah tidak lagi menangis, Rifki mendorong bahu Ara untuk melihat wajah Ara yang nampak agak sembab.
"Sekarang lo jawab, lo kenapa?" Tanya Rifki untuk ke sekian kali nya.
"Ta-tadi a-ada yang ngunci-in gue di to-toilet" jawab Ara terbata-bata.
Rifki yang mendengar jawaban Ara itu seketika menghela nafas nya panjang.
"Siapa? Terus siapa yang nolongin lo?" Tanya Rifki lagi.
"Gue juga gak tau siapa yang ngunciin gue, tadi orang yang nolongin gue itu cowok, tapi gue gak tau nama nya siapa" jawab Ara menunduk.
"Ya udah lah, lo juga sekarang gak papa kan?, Lain kali kalo mau ke toilet, lo minta anter sama yang lain" peringat Rifki.
Ara hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Nih sekarang lo makan, yang lain udah pada makan, bentar lagi juga bel mau bunyi" suruh Rifki.
Sementara lima orang yang sejak tadi masih duduk di meja yang sama dengan Rifki dan juga Ara, hanya bisa menonton adegan di depan mata kepala mereka sendiri.
__ADS_1
Alvina juga menyaksikan tontonan tersebut dengan wajah tanpa ekspresi nya.
Cemburu?, Tentu saja ia merasa sedikit cemburu saat Ara memeluk Rifki dengan sangat erat. Ia juga belum pernah memeluk Rifki, dia kan kuga mau ngerasain gimana rasanya meluk pacar. Ehh..
Saat ia melihat Ara mulai memakan makanan yang telah Rifki pesan kan untuk nya, ia segera berdiri dan berjalan menuju keluar kantin.
Rifki yang sadar Alvina beranjak dari tempat duduk nya, segera menahan tangan Alvina dan bertanya.
"Mau kemana?" Tanya nya menengadah menatap Alvina yang sedang berdiri di depan nya.
"Kelas lah, bosen di sini terus. Tontonan nya juga udah selesai kan, jadi aku bisa balik ke kelas" jawab Alvina disertai dengan sindiran di akhir kalimat
Rifki sadar akan kalimat sindiran yang di lontarkan Alvina kepada nya, namun ia hanya menghembuskan nafas nya sambil memejamkan matanya.
"Entar aja ke kelas nya, kita ke kelas bareng-bareng kalo Ara udah selesai makan nya" pinta Rifki mencoba membujuk Alvina untuk tetap tinggal.
"Ogah.." Alvina memutar bola mata nya malas dan melepaskan tangan Rifki yang masih mencekal pergelangan tangan nya kemudian berjalan meninggalkan meja mereka menuju kelas nya.
"Ara.. lo gak papa kan kalo gue tinggal, lo ke kelas nya bareng mereka aja entar. Gue mau nyusul-in Alvina ke kelas" ucap Rifki pada Ara.
Ara hanya memberikan senyuman manis nya dan mengangguk mengiyakan.
Walaupun ia mengangguk dengan senyuman, namun di dalam hatinya ia merasa dongkol karena Rifki malah mengusul Alvina ke kelas.
Saat Rifki sudah pergi dari kantin, kini Angga, Boy, Citra dan Riko menatap Ara dengan tatapan mengintimidasi.
Ara yang menyadari tatapan semua orang yang berubah saat Rifki sudah pergi segera menoleh ke arah mereka sambil mengunyah bakso miliknya.
"Kenapa?" Tanya Ara.
"Gak usah sok polos deh" celetuk Boy.
__ADS_1
"Jangan sampe lo merebut pacar orang" tambah Riko.
"Apa lagi itu adalah pacar dari sahabat gue sendiri, gue gak bakal tinggal diem" Citra menambahi.
"Maksudnya?" Tanya Ara pura-pura tak mengerti.
"Kita gak perlu ngejelasin apa yang kita omongin barusan, karena kalo lo emang udah dewasa, lo bakal tau apa maksud kita" jawab Angga.
"Lo itu cantik, tapi kalo kelakuan lo kayak gini.. kecantikan lo bakal ilang. Di luar sana banyak yang ngejar-ngejar lo, lo gak harus selalu dapetin apa yang lo mau" tambah nya.
Setelah berkata panjang kali lebar kali tinggi, Angga beranjak dari duduknya sambil memasukan kedua tangannya ke dalam saku dan berjalan menuju kelas karena sebentar lagi bel berbunyi.
Yang lain pun sama, mereka memilih mengikuti Angga ke kelas, namun tidak dengan Citra. Ia masih ingin mengatakan sesuatu pada Ara.
Ara memperhatikan punggung sahabat Rifki dengan bakso yang masih ada di mulutnya.
"Arabella Devina Lorenzo. Lo emang cantik, tapi gue gak yakin kalo lo bakal bisa merebut apa yang Alvina miliki saat ini" ucap Citra tiba-tiba.
Ara yang mendengar ucapan Citra seketika menoleh ke arah Citra.
Setelah menelan bakso yang sedari tadi ada di dalam mulutnya, Ara berbicara. "Gue yakin gue bisa, karena gue tau gimana sifat Rifki. Dan gue tebak, mereka pacaran bukan karena Rifki yang nembak dia, tapi cewek gatel itu yang udah nge-hasut Rifki sampe Rifki mau jadi pacar dia. Gimana? tebakan gue bener kan?"
"Tapi sayangnya tebakan lo salah, lo tau?.. gimana perjuangan Rifki buat dapetin Alvina, bahkan dia butuh waktu lama untuk naklukin Alvina" balas Citra.
Ara hendak kembali membalas ucapan Citra, namun bel pertanda jam istirahat sudah havis telah berbunyi nyaring.
"Udah bel, gue duluan" pamit Citra.
Setelah Citra menghilang dari pandangan, Ara segera berdiri setelah minum dan berjalan ke arah kelas sambil menggerutu.
"Jadi kalian semua udah tau.. oke gak papa, yang penting Rifki gak tau. Dengan begitu gue bisa ngelanjutin rencana gue" gumam nya sambil berjalan.
__ADS_1