
"Ini dia orangnya, kita gak perlu repot-repot cari dia. Lihatlah dia datang tanpa disuruh atau pun dicari" ucap seseorang yang sedari tadi memperhatikan Alvina yang sedang melayani mereka.
"Sekarang Sa?" tanya temannya.
"Jangan dulu, kita biarin dia seneng-seneng dulu sama Rifki" jawab Rissa.
Ya, mereka adalah para mantan-mantan nya Rifki yang sedang berkumpul di cafe Asmara. Mereka semua ada 4 orang, Rissa, Claudia, Anggel, dan Tiara.
"Terus kapan?, gue udah gak sabar pengen kasih dia pelajaran karena udah ngerebut Rifki" ujar Tiara geram.
"Kita tunggu satu atau dua minggu dari hari ini, baru kita beraksi" jawab Rissa.
"Gue setuju" ucap Claudia.
"Nah bagus. Kalian gimana? setuju gak?" tanya Rissa.
"Ya udah lah setuju aja" jawab Anggel.
"Gue juga setuju deh" jawab Tiara juga.
"Ya udah kalo gitu dua minggu dari sekarang, kita ngumpul lagi di sini ya" saran Claudia.
"Gak kelamaan apa?, gimana kalo satu minggu" saran Tiara.
"Kalo satu minggu kecepetan" jawab Anggel.
"Ya udah deh, sepakat dua minggu ya?" ujar Rissa.
"Sepakat" jawab yang lain serentak.
-o0o-
Hari rabu ini merupakan hari yang di tunggu-tunggu oleh Alvina.
Pagi ini Alvina terlihat sangat bersemangat. Karena untuk pertama kalinya, ia akan berangkat sekolah dengan sang kekasih.
Hari ini adalah hari ke tiga Alvina dan Rifki menjalin sebuah hubungan.
Sejauh ini tidak ada masalah apapun, hanya ada pertengkaran-pertengkaran biasa karena Alvina yang jarang atau bahkan tidak memberi kabar.
Alvina yang sudah siap dengan seragam dan tas yang berada di punggungnya, duduk di kursi yang berada di depan rumah nya untuk menunggu Rifki yang sudah berjanji untuk menjemputnya.
Selang beberapa menit, sebuah mobil yang terbilang mewah berhenti tepat di depan rumah Alvina sambil membunyikan klakson.
Titt... Titt...
"Ayo langsung naik aja" ucap Rifki dari dalam mobil.
Alvina yang mendengar ucapan Rifki hanya mengangguk dan berjalan ke arah mobil dan masuk.
"Ya elah Na lo kira gue supir lo apa?, pindah depan sini" ujar Rifki saat melihat Alvina yang sudah duduk di bangku belakang.
__ADS_1
"Gak mau ah enakan juga di sini" tolak Alvina.
"Ya udah kalo lo gak mau pindah nih mobil gak bakal jalan" ancam Rifki.
"Kalo gak jalan kita bakal kesiangan Rifki" kesal Alvina.
"Ya makanya lo pindah ke depan" jawab Rifki.
Alvina yang mendengar itu hanya bisa menghembuskan nafas panjang dan pindah ke depan.
"Nah gitu kek dari tadi" gumam Rifki sambil melajukan mobil nya menjauhi pekarangan rumah Alvina.
Di dalam mobil tidak ada yang memulai pembicaraan, Rifki yang tengah fokus pada jalanan di depan dan Alvina yang sibuk dengan ponsel nya sendiri.
Setelah beberapa saat hanya ada keheningan, akhirnya Rifki mencoba membuka pembicaraan.
"Hari ini ada pelajaran olahraga, kan?" tanya nya.
"Iya" jawab Alvina singkat.
"Kamu bawa baju olahraga nya?" tanya Rifki lagi.
"Bawa kok di dalem tas" jawab Alvina lagi.
Rifki yang mendengar jawaban Alvina hanya menganggukkan kepalanya dan kembali fokus pada jalanan.
Tak berselang lama, mobil yang dikendarai oleh Rifki sudah sampai di parkiran sekolah.
"Gue turun duluan ya?" ujar Alvina sambil membuka pintu mobil dan turun.
"Biasanya juga sendiri" gumam Alvina.
"Ya gapapa kali, sekali-kali lewat koridor sekolah bareng pacar" balas Rifki.
"Iya deh terserah lo" pasrah Alvina.
"Yuk" ajak Rifki yang sudah berdiri di samping Alvina.
Alvina menanggapi ajakan Rifki hanya dengan sebuah anggukan dan berjalan terlebih dahulu meninggalkan Rifki yang tengah menggerutu.
Dengan gerutuan yang tidak berhenti keluar dari mulut nya, Rifki segera berlari mengejar Alvina yang sudah lumayan jauh meninggalkan nya.
"Benar-benar si Alvina, punya pacar kok gini amat ya. Orang mah kalo lagi sama pacarnya nempeell mulu. Lah dia, pacarnya malah di tinggal di parkiran" gerutunya.
Setelah sampai di samping Alvina, Rifki kembali menggerutu.
"Lo itu Na jadi pacar kok gak ada perhatian-perhatian nya ya sama gue"
"Orang bilang tungguin, malah langsung jalan, mana gak nengok-nengok ke gue lagi"
"Lo kalo mau ngoceh mulu mending jangan deket gue deh, sakit nih kuping gue denger lo ngoceh" kesal Alvina.
__ADS_1
"Iya iya sayangku, maaf" ujar Rifki.
"Dih najis pake sayang-sayang segala" sinis Alvina.
"Gini nih kalo pacaran sama cewek kulkas" gumam Rifki namun tetap didengar oleh Alvina.
"Kalo gak mau punya pacar kulkas, napa lo nembak gue?" tanya Alvina sinis.
"Ya karena gue cinta sama lo dan gue mau" jawab Rifki.
"Nah, jadi jangan protes, kan lo yang mau sama gue" ujar Alvina.
"Kalah lagi dah gue" gumam Rifki.
"WOY! ... Jang debat di koridor dong" ucap Angga mengagetkan Alvina dan Rifki.
"Si anjrit bikin kaget" kesal Rifki.
"Lagian gue heran sama kalian berdua. Katanya pacaran, tapi prinsip nya tiada hari tanpa debat" ujar Boy heran.
"Noh si Alvina duluan" tuduh Rifki.
"Dih nyalahin orang, lo aja yang jalan nya lelet" balas Alvina tak mau kalah.
"Ya lo bukan nya tungguin malah nyelonong aja" balas Rifki.
"Aduh udah deh udah, kagak bakal kelar-kelar kalo lo berdua udah pada debat" ujar Riko menengahi.
"Iya nih, lagian lo juga sih ki, lo kan cowok harus nya ngalah sama cewek bukan nya malah saling nyalahin" tambah Angga.
"Noh dengerin, lo itu harus nya NGALAH, N-G-A-L-A-H" ujar Alvina.
"Dih bosen gue ngalah mulu" jawab Rifki.
"Dih kapan ngalah nya lo?" tanya Alvina.
"Udah deh. Mending ke kelas yuk bentar lagi kayak nya bel deh" ajak Boy.
"Kuy lah ayo" jawab Angga.
Semuanya kemudian berjalan beriringan menuju ke kelas. Selama perjalanan Alvina dan Rifki masih sempat-sempatnya saling melempar tatapan permusuhan.
Namun sesampainya mereka di dalam kelas, Alvina dan Rifki tampak seperti biasanya, seperti tidak terjadi apa-apa.
Hal itu membuat ketiga sahabat Rifki merasa heran. Bahkan mereka sampai curhat pada Citra.
Citra yang mendengar curhatan dari para sahabat Rifki yang sedang terheran-heran dengan sikap pasangan yang menurut mereka tidak ada romantis-romantisnya hanya bisa tertawa terbahak-bahak.
Selang beberapa menit, terdengar suara bel yang berbunyi nyaring.
Kelas XII IPS yang mendapat pelajaran olahraga pada pelajaran pertama diminta untuk mengganti bajunya dengan baju olahraga.
__ADS_1
Setelah selesai mengganti bajunya, semua murid diminta untuk berkumpul di lapangan dan membuat barisan.
"Hari kita akan bermain basket. Cewek nya siapa disini yang jago main basket?" tanya guru olahraga yang bernama pak Andi.