
Setelah dia memberikan alamatnya, aku segera pergi ke kantor polisi dengan mengendarai mobilnya. Entah kenapa dia tidak membawa mobilnya saat dia pergi tadi. Aneh! Tapi biarlah, setidaknya ini memudahkanku untuk menjemputnya. Aku mengendarainya dengan cemas hingga tanganku sedikit bergetar memegang kemudi.
Sesampainya di kantor polisi, aku memarkirkan mobilnya di parkiran, lalu setengah berlari masuk ke kantor polisi. Aku benar-benar khawatir sesuatu yang buruk telah terjadi padanya. Aku tidak tahu kenapa aku bisa sekhawatir ini. Mengingat nada suaranya tadi saat dia meneleponku membuatku sangat khawatir. Aku menghampiri meja resepsionis dan langsung menanyakan dimana aku bisa bertemu dengan Vian.
"Waktunya dua puluh menit lagi. Setelah itu anda bisa bertemu dengannya," ucapnya membuatku bingung. Dua puluh menit lagi untuk apa? Pikirku dengan bingung. Dia melihat wajahku yang kebingungan, lalu dia menjelaskan perkataannya tanpa perlu aku bertanya lagi.
"Dia terlibat dalam perkelahian, dan mendapat hukuman lima jam kurungan penjara. Waktunya tersisa dua puluh menit lagi," jelasnya. Perkelahian? Perkelahian apa? Apakah dia baik-baik saja? Dengan siapa dia berkelahi? Pikiranku tiba-tiba melayang. Aku mengingat sosok laki-laki menyeramkan yang waktu itu memegang tanganku di taman.
Aku mengangguk pada resepsionis itu lalu melangkahkan kakiku menuju kursi tunggu. Aku menunggu, namun waktu terasa berjalan begitu lama. Bahkan seolah-olah waktu berhenti.
Setelah terasa seperti berjam-jam aku menunggu, resepsionis menghampiriku dan mengatakan bahwa aku sudah boleh membawa Vian pulang. Aku bangkit dari dudukku lalu mengikutinya untuk bertemu dengan Vian.
Aku membelalakkan mata saat melihatnya. Wajahnya penuh memar dan luka-luka. Aku bergegas menghampirinya dan tanpa sadar tanganku menyentuh wajah memarnya dengan lembut. Dia menatapku datar lalu segera menepis tanganku dari wajahnya. Hal itu membuatku menunduk malu. Aku sadar, seharusnya aku tidak perlu menyentuhnya. Tetapi aku hanya khawatir saat melihatnya seperti itu, salahkah aku?
Dia tidak mengatakan apa-apa padaku. Dia beranjak pergi. Dia berjalan ke parkiran mencari mobilnya. Aku mengikutinya dari belakang. Aku mengikutinya masuk ke mobil, lalu dia mulai menyetir. Tidak satupun dari kami memulai pembicaraan, membuatku merasa tak nyaman.
Beberapa puluh menit kemudian, kami sampai di depan rumahnya. Ia mengentikan mobilnya lalu masuk ke rumah, tanpa mengatakan apa-apa.
__ADS_1
Rasanya aku ingin berteriak padanya tapi aku tak bisa. Aku memejamkan mataku dan berdoa dalam hati, berusaha untuk menenangkan perasaanku sebisa mungkin.
Dia duduk di dipan sembari melepas jaketnya. Dia berdesis kesakitan menahan luka di sekujur tubuhnya. Dia masih tidak mengatakan apa-apa padaku, padahal aku hanya ingin tahu kenapa dia berkelahi dan dengan siapa dia berkelahi?
Aku menutup pintu dengan keras. Dia menatapku sekilas lalu kembali mengalihkan pandangannya dariku. Aku menghela nafas sembari menghampirinya. Dia menoleh ke meja makan lalu melihat makanan yang telah kumasak tadi.
"Apa itu?" Dia bertanya kebingungan.
"Makanan," jawabku singkat. Aku tidak ingin membicarakan tentang makan malam yang telah aku siapkan untuknya dan semuanya sia-sia.
"Aku menyiapkannya untukmu karena aku pikir setidaknya kita bisa makan malam bersama," jawabku. Dia menatapku seolah kebingungan. Apakah terlalu berlebihan bagi kita, walaupun sekedar bersikap baik satu sama lain? Pikirku.
"Kenapa?" Dia bertanya lagi. Sepertinya dia benar-benar dia tidak memahami perkataanku.
"Aku akan menjawabnya kalau kamu mau menceritakan padaku dengan siapa kamu berkelahi tadi?" ucapku tegas. Dia menggelengkan kepalanya. Aku mengangkat bahuku, berusaha untuk tak peduli.
"Aku tidak perlu menceritakannya padamu. Kamu pikir kamu siapa?" Ucapnya datar. Hal itu benar-benar membuatku marah kali ini.
__ADS_1
"Asal kamu tahu! Aku bekerja keras untuk membuatkanmu makan malam ini. Aku berusaha untuk sekedar berbuat baik padamu agar setidaknya aku bisa menjadi lebih dekat denganmu. Kamu bersikap seolah-olah berkepribadian ganda, hal itu terkadang membuatku merasa takut. Dan sekarang kamu berbicara seolah-olah aku bukan apa-apa melainkan hanya budak yang kamu manfaatkan untuk menjemputmu tapa kamu berikan penjelasan sama sekali!" Aku berteriak. Semuanya sudah cukup! Sudah! Entah sampai kapan aku harus merasa tidak dihargai seperti ini ...
Dia menatapku dengan mata lebar sesaat. Lalu dia berdiri menghampiriku, mencengkeram bahuku. Tidak terlalu erat, jadi aku tidak merasa sakit. Dia menatapku dalam-dalam dan mulai berbicara padaku.
"Hey! Dengar ... Dengarkan aku baik-baik, gadis menyebalkan! Aku tidak menikahimu dalam arti pernikahan yang sesungguhnya. Orang tuaku lah yang membuatku terpaksa menikahimu. Hanya itu saja! Kamu bukan siapa-siapa bagiku, paham? Camkan itu dalam kepalamu yang cantik dan mungil itu. Aku tidak perlu menceritakan padamu tentang apa yang terjadi dalam hidupku. Dan kamu tidak perlu bersusah payah melakukan hal-hal untuk membuat kita terlihat seperti pasangan yang bahagia!" ucapnya dengan tegas.
"Tidak. Aku tidak memikirkan tentang hal itu. Dengarkan aku .... Di sini bukan hanya kamu yang terluka. Bukan hanya kamu yang menjalani pernikahan tanpa keinginan sendiri. Dan, bukan hanya kamu saja yang telah mengalami banyak hal-hal buruk di masa lalu. Tapi aku, kamu lihat aku?! Aku juga mengalami masa lalu yang buruk. Aku juga tidak ingin menikahimu, aku menikahimu dengan alasan yang sama sepertimu. Aku juga terluka atas semua ini. Jadi, berhentilah bersikap seperti itu padaku ... Kita hanya perlu menjalani hidup bersama, setidaknya kita bisa bersikap baik satu sama lain, sampai saatnya kita bercerai nanti," kataku. Air mataku hampir jatuh saat aku mengatakannya, namun aku segera menghapusnya. Aku menarik nafas dalam-dalam lalu beranjak megahmpirinya.
"Sekarang lepaskan bajumu," pintaku. Dia tampak bingung, masih dengan ekspresi marah di wajahnya. Namun aku senang dia tidak melanjutkan perdebatan ini. Dia memang benar-benar keras kepala. Sama sepertiku, jadi aku memahaminya.
"Apa?!" ucapnya kaget. Aku menghela nafas lagi.
"Aku akan memeriksa luka-luka di tubuhmu dan akan mengobatinya," jawabku lalu aku menatapnya. Namun dia malah menatap kosong ke depan. Tanpa menunggu jawabannya, aku meraih tangannya untuk melihat luka dan memar yang ada.
"Tidak ... Tidak akan ada yang bisa menyembuhkan lukaku," ucapnya beberapa saat kemudian. Dia seolah-olah bicara dengan dirinya sendiri, bukan bicara denganku. Aku mengabaikan perkataannya dan mencoba melepas kaos yang dia pakai. Aku melihat luka dan memar di tubuhnya cukup parah. Aku bergegas ke kamar untuk mengambil kotak P3K dan kain basah.
Setelah itu aku kembali lalu membersihkan tubuhnya dengan kain basah. Dadanya terasa hangat dan lembut, sangat berbeda dengan penampilannya. Dia terlihat seperti manusia batu yang dingin, tapi kulitnya terasa hangat. Aku terus menyusuri luka-luka ditubuhnya untuk mengobatinya. Namun tiba-tiba aku merasa tegang karena saat aku melihat matanya, dia menatapku dalam-dalam, hingga membuat tanganku berhenti bergerak.
__ADS_1