Cinta Bersemi Di Turki

Cinta Bersemi Di Turki
Tidak Berguna


__ADS_3

Aku pulang dengan gemetar. Udara terasa sangat dingin.


Aku masuk ke dalam, aku merasakan panas dan dingin pada saat yang bersamaan. Mungkin aku mulai demam karena dari tadi berada di luar di tengah hujan hingga menggigil seperti ini.


Vian tidak ada di rumah dan aku juga tidak melihat mobilnya. Aku menghela nafas dan pergi ke kamar mandi untuk mandi dengan air hangat, karena aku tidak tahan lagi dengan rasa dingin ini.


Saat mandi, aku memikirkan suara aneh itu. Kenapa suara aneh itu tidak berbicara denganku lagi? Aku memejamkan mata dan berkonsentrasi, berharap suara aneh itu kembali muncul. Tetapi sama sekali tidak ada. Tidak satu kata pun. Aneh sekali. Apakah aku mulai menjadi normal?


Ketika aku baru saja menyisir rambutku yang masih basah, tiba-tiba Vian pulang dan langsung menyelonong masuk sempoyongan. Aku menatapnya dan mataku membelalak. Matanya merah dan wajahnya pucat. Nafasnya terengah-engah dan jalannya pincang. Dengan bersusah payah, dia mencoba untuk duduk di sofa, namun dia terjatuh dan terduduk di lantai.


"Bagaimana kamu bisa pulang seperti ini?" Aku bertanya dengan heran. Bagaimana dia bisa mengemudi jika dia bahkan tidak bisa berjalan.


"Dengan te-teman," ucapnya terbata-bata. Aku menghela nafas. Aku tidak ingin melihatnya seperti ini.


“Jika kamu menjawab panggilan dari Allah untuk sholat dan berdoa, Allah pasti akan menjawab permohonanmu dengan memberikan apa yang kamu inginkan. Tolong Vian, coba sekali saja. Aku yakin semuanya pasti akan baik-baik saja,” ucapku sambil berharap dia tidak membentak.


Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan untuk membuatnya merasa lebih baik, jadi aku pikir kalau dia berdoa akan membuatnya merasa lebih baik. Namun, dia malah menatapku aneh, seolah-olah aku ini gila.


"Kamu pikir aku tidak tahu itu? Sebelumnya ... aku selalu berdoa .. tapi tidak pernah dikabulkan," ucapnya mencebik.


Aku memutar bola mataku lalu berlutut di sampingnya. "Lihat aku, Vian. Allah tahu yang terbaik untuk hambanya. Jika Allah tidak memberimu sesuatu, itu berarti sesuatu itu bukan yang terbaik untukmu. . Mungkin, jika Allah memberimu Liza, kamu akan jadi lebih buruk dari sebelumnya. Mungkin, kamu akan mengalami lebih banyak hal dari pada yang sudah kamu alami sekarang. Kita tidak tahu itu. Mungkin memang sudah ditakdirkan seperti itu untuk kita ... bahwa kita menikah," ucapku dengan membisikkan bagian terakhir.

__ADS_1


Aku tidak tahu dari mana semua kata-kata itu berasal, entah kenapa kata-kata itu seolah keluar begitu saja dari mulutku. Tidak seharusnya Vian mendengar itu. Tapi, Vian hanya diam saja, tidak mengatakan apa-apa.


Dia terduduk diam, kepalanya menelusup di antara kedua lututnya, dan tangannya mengepal. Aku meraih tangannya, lalu memadukan jari jemari kami. Dia segera melepaskan tangannya tanpa melihatku.


"Aku sudah berjanji padanya," ucapnya tegas.


"Tapi dia tidak di sini lagi! Dia sudah meninggal! Dia tidak akan datang ke sini untuk mengatakan bahwa kamu harus melepaskan tanganmu dariku. Dia tidak akan datang ke sini untuk memberitahumu bahwa kamu melanggar semua janjimu padanya. Dia tidak ada di sini lagi, Vian!" ucapku tanpa sadar. Aku meletakkan tanganku di mulut karena terkejut. Apa yang baru saja kukatakan? Dia bisa melakukan hal yang terburuk karena perkataanku, aku yakin itu.


"Iya ... Kamu benar. Dia sudah mati .. Dia sudah meninggalkanku," ucapnya sembari berjalan ke kamarnya tanpa berkata apa-apa lagi.


***


Aku menatap hadiah yang sudah ku siapkan di tanganku. Aku merasa gugup, sangat gugup. Aku tidak tahu bagaimana reaksinya nanti saat melihat hadiah ini. Bagaimana jika dia marah? Bagaimana jika dia tidak menyukainya? Aku menggelengkan kepala. Aku tahu dia menyukai jam tangan itu, karena aku melihatnya lama sekali di toko.


Aku tidak ingin dia melakukan hal yang sama seperti apa yang keluargaku lakukan kepadaku. Tetapi aku ingin memberikan hadiah ini kepadanya, hanya untuk melihatnya tersenyum.


Aku mendengar suara pintu terbuka dan segera mendongak melihat pintu yang telah aku tunggu-tunggu dari tadi. Vian melepas jaket dan sepatunya dan berjalan ke arahku.


"Hei," katanya dan duduk di sofa, melepaskan ikatan dasinya. Dia tampak lelah dan lelah.


"Wa alaikum salam," hwabku sengaja dan dia hanya memutar bola matanya.

__ADS_1


Itu adalah sesuatu yang sering kami lakukan saat dia pulang. Dia tidak akan menyerah untuk mengatakan 'hei' dan aku tidak akan menyerah menjawab dengan 'aleykum selam'. Aku menyadari ada kotak kecil di tanganku.


"Aku punya sesuatu untukmu," kataku dan menyerahkan kotak kecil itu padanya. Dia harus membukanya untuk melihat apa itu. Dia tampak bingung dengan alis terangkat dan perlahan mengambilnya dariku.


"Untuk aku?" tanyanya kebingungan dan aku mengangguk. Dia melihat hadiah itu sekali lagi dan kemudian melihatku, lalu menatap hadiah itu dengan bingung.


"Buka," ucapku. Dia menggelengkan kepalanya sedikit tapi tetap membukanya. Dia melihat isi hadiah itu, sebuah arloji. Lalu kembali menatapku. Aku tersenyum padanya dengan penuh harap. Aku berharap dia menyukainya. Dia balas tersenyum tapi kemudian mengembalikannya padaku.


"Tidak, Vian, ini untukmu," ucapku. Namun dia malah beranjak pergi.


"Vian, berhenti," kataku sambil membawa arloji itu. Aku segera meraih lengannya, lalu memaksanya untuk memakainya. Dia tidak bergerak dan membiarkanku memakaikan jam tangan di pergelangan tangannya. Ketika aku selesai memakaikannya, dia menatapku dan berdiri.


"Kenapa kamu melakukan ini?" tanyanya.


"Apa?" tanyaku heran.


"Kenapa kamu tidak melarikan diri saja dari rumah ini? Kamu malah membelikanku hadiah aneh sementara aku tidak memberikan apa-apa selain menyakitimu," ucapnya heran. Dia maju beberapa langkah ke arahku membuatku terpaksa harus mundur, sambil menatap matanya.


"Kenapa? Kenapa Sadiya? Beri aku alasan, kenapa kau masih di si-" Aku tidak membiarkan dia menyelesaikannya.


"Karena aku tidak punya tempat tujuan kemana aku harus pergi! Aku tidak bisa kembali ke rumah orang tuaku, mereka tidak akan menerimaku. Aku tidak punya teman, tidak punya keluarga lain. Aku tidak punya tempat lain untuk pergi. Satu-satunya orang yang aku miliki saat ini hanyalah kamu!" teriakku sambil menunjuk ke arahnya.

__ADS_1


Dia melangkah lebih dekat dengan rasa bersalah di matanya tapi aku menggelengkan kepalaku. Aku tidak percaya dengannya lagi.


"Tinggalkan aku sendiri, Vian. Aku tahu kenapa aku tidak diinginkan. Aku memang tidak berguna. Aku tahu bahwa aku tidak bisa tinggal di sini selamanya. Kurasa aku harus menemukan rumah sendiri setelah pernikahan palsu ini berakhir. Kau tahu kenapa? Aku tidak ingin mengganggumu lagi. Aku akan mencari pekerjaan untuk membiayai rumahku sendiri. Jangan ganggu aku. Aku ingin berguna, setidaknya untuk diriku sendiri ... " ucapku sambil berjalan ke pintu mengambil jaketku.


__ADS_2