
Rasanya sangat menyakitkan saat kenyataan menampar wajahku, tapi lebih menyakitkan lagi saat suara aneh itu tidak berbicara denganku. Aku merasa sendirian. Aku mengabaikan teriakan Vian sambil terus melarikan diri keluar.
Aku tahu bahwa seharusnya aku kembali, tetapi aku tidak mau. Aku lebih suka menghirup udara segar ketika hal seperti ini terjadi. Aku membutuhkan sedikit waktu untuk menyendiri agar merasa tenang. Jika aku kembali ke rumah itu, semuanya akan jadi lebih buruk. Aku menggelengkan kepalaku dan kembali berlari.
Aku berlari dan berlari hingga sampai di taman. Kemudian aku duduk merenung di bangku taman itu. Kenapa? Kenapa aku? Kenapa aku sendirian? Kenapa tidak ada orang yang menyukaiku? Benarkah aku seburuk itu? Aku tidak pernah menyakiti siapapun, bahkan seekor lalat pun tidak pernah.
Apakah aku benar-benar seburuk itu? Nenekku berkata bahwa aku cantik dan dia tidak akan pernah berbohong ... Tidak, dia berbohong. Dia berbohong! Vian saja menganggapku jelek. Aku tidak berharga. Tak berguna. Jelek. Aku merutuki diriku sendiri. Aku memejamkan mata untuk mengatur napas.
Tiba-tiba, suara aneh yang sangat kurindukan itu datang. 'Kamu tidak sendirian. Lihatlah di sekelilingmu, kamu memiliki segalanya. Dan yang terpenting kamu memiliki Allah. Kamu cantik. Segala sesuatu yang diciptakan Allah itu indah. Jauhilah orang-orang yang tidak baik. Pergi dan pelajari lebih lanjut tentang agamamu dan terapkan ajarannya. Kamu tahu di mana kuncinya. Ketahuilah bahwa aku pergi ketika kamu tidak berdoa.'
Mataku terbelalak lebar dan mulutku terbuka sedikit. Doa! Aku merindukan doaku! Bagaimana aku bisa lupa untuk berdoa?! Itulah kenapa ini terjadi! Aku melupakan tentang Allah! Aku segera berdoa memohon ampunan kepada Allah.
Tanpa kusadari, tiba-tiba ada seseorang duduk di sampingku. Aku menoleh ke arahnya untuk melihat orang itu. Alex!
"Wah, wah, wah. Hai, istrinya Vian," ucapnya membuat jantungku melonjak mendengar kata-katanya. Aku segera berdiri dan mencoba untuk pergi tetapi dia menangkap lenganku. Jantungku berdegup kencang dan tubuhku seolah mati rasa.
"Eh, eh, eh .. kenapa buru-buru sekali? Seharusnya kita mengobrol dulu, bukan begitu? Kemari, dan dengar ya! Katakan pada Vian, dia harus membayar. Dia tidak bisa mepermainkanku begitu saja. Katakan padanya bahwa dia harus membayarku karena dia telah berani mepemainkanku!" ucapnya.
Aku menganggukan kepala, ketakutan. Aku menahan nafasku. Dia melepaskan tanganku, lalu aku segera berlari. Aku sangat takut sampai-sampai aku tidak bisa merasakan langkah kakiku sendiri, atau pun air mataku yang masih mengalir. Aku segera kembali ke rumah lalu mengetuk pintunya keras.
"Vian, Vian. Tolong aku! Buka pintunya!" terbaikku.
Pintu itu tiba-tiba terbuka oleh Vian. Aku segera melangkah masuk dan menutupnya kembali. Dia melangkah mundur, tak tahu harus melakukan apa setelah melihatku.
__ADS_1
"Ada apa?" tanyanya keheranan.
Aku berlari ke arahnya dan segera memeluknya. Aku menangis lebih keras lagi. Aku menangis untuk apa yang baru saja terjadi. Aku menangis untuk masa laluku. Aku menangis untuk rasa sakit yang kurasakan. Aku menangis untuk pukulan demi pukulan yang kurasakan saat itu. Aku menangis untuk nenekku. Aku menangis untuk semua wanita dan anak-anak yang bernasib sama sepertiku. Dan, yang paling utama, aku menangis karena aku merasa aman bersama Vian. Aku merasa aman ketika dia melingkarkan kedua lengannya di pinggangku, membuatku menjadi lebih dekat dengannya.
Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan kami. Tapi, kami berdiri seperti itu cukup lama. Bahkan terasa lebih erat setiap detik berlalu. Aku merasa sangat nyaman.
Perlahan aku melonggarkan pelukanku. Aku menatap wajahnya. Dia baik menatapku dengan bingung, dia menggeleng lalu meraih tanganku lagi.
"Ada apa, Sadiya?" ucapnya sambil menatapku dalam-dalam. Sorot matanya seolah memintaku untuk menceritakan segalanya.
"Semuanya ... Di-dia, dia ... " Aku tidak bisa melanjutkan kata-kataku. Aku sangat takut. Aku takut Vian akan terluka.
Vian menarik tanganku dan mendorongku untuk duduk di sofa. Kemudian, dia duduk di dekatku. Aku masih menggenggam tangannya, memainkan jari-jemarinya, mencoba menenangkan perasaanku. Air mataku masih mengalir. Vian terlihat kesal karena tak kunjung mendengar jawaban dariku.
Dia tahu sesuatu telah terjadi. Aku mengabaikan detak jantungku yang terasa aneh ketika dia memanggilku dengan sebutan 'sayang'. Aku mencoba untuk bicara.
"Vian ... aku sangat takut. Aku sangat takut dia akan melakukan sesuatu yang buruk padamu," bisikku dengan tangan di pipinya.
Dia menatapku dengan bingung. Tetapi, kemudian dia mengangguk, memberi isyarat padaku bahwa aku perlu melanjutkan kata-kataku.
"Dia .. Alex .. Aku melihatnya di taman dan dia .. dia bilang aku harus memberitahumu bahwa kamu harus membayar ... kalau tidak, bos kalian akan membunuh kalian berdua. Aku harus memberi tahumu bahwa kamu harus membayar untuk kelicikanmu karena kamu berhenti. Agar dia tidak mengatakannya pada Bos, kamu harus membayarnya," ucapku padanya.
Dia marah sekarang. Aku bisa melihatnya karena matanya menjadi gelap.
__ADS_1
"Di mana hal itu terjadi?" tanyanya, amarah sudah menguasai dirinya sepenuhnya.
"Di taman, dia-" Aku belum sempat menyelesaikan ucapanku, tapi dia sudah berdiri dan melangkahkan kakinya menuju dinding. Dia menatapnya beberapa saat, lalu dia menunju dinding itu. Pukulannya sangat keras tetapi dia terlihat seolah tidak merasakan sakit.
Aku harus menghentikannya! Tangannya bisa terluka. Aku berjalan mendekatinya dan meraih tangannya.
"Vian ... lihat aku," ucapku, dia menatapku membuat mataku terbelalak. Dia menahan begitu banyak emosi. Sakit hati, marah, sedih .. semuanya begitu jelas terlihat di matanya.
"Vian, apa yang mereka inginkan?" Aku bertanya, namun dia tidak menjawabnya.
"Apa yang mereka inginkan?" Aku bertanya lagi. Lalu dia melepaskan tanganku yang berlumuran darah dari tangannya.
"Kamu! Mereka menginginkanmu. Bos menginginkanmu!" ucapnya membuat mulutku terbuka dan mataku membelalak. Apa yang dia bicarakan? Tidak ada yang masuk akal. Mengapa seseorang menginginkan saya? Siapa bos ini?
"Kenapa kamu mengatakan itu?" Aku bertanya kepadanya. Namun, dia hanya menggelengkan kepalanya.
"Aku tahu apa arti ancamannya. Aku tahu apa yang akan dia lakukan jika aku tidak memberikan apa yang dia inginkan. Aku tahu apa yang akan dia lakukan jika aku tidak mengikutinya," ucapnya. Sangat tidak masuk akal di otakku.
"Tapi aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Tidak akan! Kemasi barang-barangmu, kita pergi sekarang," ucapnya sambil mengeluarkan ponsel dari sakunya.
"Ke mana?" tanyaku, masih shock dan masih tidak tahu apa yang terjadi.
Dia menelepon seseorang.
__ADS_1
"Turki .. ya, Hamzah, ini aku ... Ajak anak-anak itu bersama-sama dan telepon bandara untuk memberitahu mereka agar segera menyiapkan pesawat ... ya, tempat adikku tinggal ... selesaikan," ucapnya sambil berjalan ke kamar tidur. Aku bahkan tidak bisa bergerak. Turki? Kenapa? Apa yang terjadi? Sebelum aku sempat menanyakannya, Vian kembali ke ruang tamu dan menyeretku ke kamarnya.