
Aku sedang tidur nyenyak, tiba-tiba tiba aku terbangun. Aku mengerang sambil meringkuk untuk lebih dekat ke sesuatu yang benar-benar terasa hangat. Cuaca malam ini sangat dingin ...
Tiba-tiba, aku tersadar, dan mataku terbelalak. Vian ... Dia ada di depan mataku, sedang menatapku geli.
"Nyaman?" Dia bertanya sambil tertawa kecil. Aku memejamkan mata dan menjauh sedikit darinya. Kemarin malam ada badai petir. Aku sangat takut sehingga aku masuk ke kamarnya dan tidur di sampingnya tanpa dia sadari.
"Sangat nyaman," jawabku malu-malu. Dia terkekeh lalu berdiri sembari melangkahkan kakinya ke kamar mandi. Aku memutuskan untuk kembali ke kamarku.
***
"Capat siap-siap!" teriaknya, membuatku bingung. Memangnya kita akan pergi kemana?
"Vian, kita akan pergi kemana ?!" Aku berteriak padanya. Vian ada di ruang tamu, dia sedang menonton TV sambil menungguku. Dia mengatakan bahwa aku harus bersiap-siap tetapi dia tidak mau mengatakan ke mana tujuan kami. Viantra memanglah pria tampan yang aneh. Aku menggelengkan kepalaku sambil memilih pakaian yang akan kupakai.
"Diam saja, dan pakai pakaianmu. Kita tidak punya waktu seharian untuk memilih pakaian," ucapnya dan aku mengabaikannya.
Aku sedang menyisir rambutku. Aku menunggu suara aneh itu, tapi suara aneh itu tidak datang juga. Aku menutup mata agar dapat mendengar suara aneh itu, tapi tidak ada. Aku tidak mendengar apa-apa. Aku mengerang keras seperti kuda, Vian tertawa mendengarnya.
"Ada apa?" tanyanya, masih tertawa. Aku hanya mengangkat bahu dan mengabaikannya. Aku menyelesaikan menyisir rambutku sambil menatap cermin untuk yang terakhir kali. Aku berjalan ke arah Vian, dia sudah berada di dekat pintu, menungguku.
Baru saja kami keluar, aku melihat seorang pria berjalan ke arah Vian.
"Hamzah, jangan dekat-dekat. Kamu harus berada di kejauhan, oke? Jangan terlalu dekat, nanti mereka tahu kalau aku tidak sendirian, dan mereka akan mengira kita membawa banyak anggota," ucap Vian kepada pria itu. Pria berperawakan tinggi besar itu pun mengangguk. Aku memutar bola mataku malas, dan berlari untuk kembali ke rumah, aku tidak suka dia berurusan dengan geng seperti itu.
"Sadiya, tunggu!" Vian meneriakkan namaku sambil berlari mengejarku.
__ADS_1
Dia menyusulku dan dengan cepat meraih lenganku lalu menjalin jari-jari kami. Aku berhenti berlari, tapi tetap berusaha untuk berjalan menjauh darinya. Aku belum memberinya jawaban tapi aku merasa nyaman saat tanganku berada dalam genggamannya, jadi aku tidak menariknya kembali.
"Kenapa kamu menggunakan orang-orang itu sebagai pengawal?" Aku bertanya kepadanya. Itu 'gila' bukan? Mengapa dia harus menggunakan seseorang seperti budak. Setiap orang memiliki hak yang sama, bukan? Dan mengapa seseorang harus menjadi pengawal atau bodyguard?
"Itu memang tugasnya. Sekarang diam!" ucapnya sambil menarik tanganku. Aku tidak mengatakan apa-apa lagi. Aku tahu aku memang keras kepala dan dia akan membungkamku dengan paksa. Lagi pula untuk apa aku bicara padanya jika dia tidak menginginkanku.
"Sadiya?" ucapnya, tapi aku mengabaikannya dan menoleh ke sisi lain.
"Ah, ayolah? Tetap diam? Oke. Bersikaplah kekanak-kanakan seperti itu!" cebiknya.
Aku memejamkan mata sejenak untuk menjernihkan pikiranku, lalu membukanya lagi. Aku hanya mengabaikannya dan dia menghela nafas, menyerah atas sikapku.
***
Sekarang, kami sudah berada di dekat mal, masih berjalan bersama. Tiba-tiba seorang pria datang dan langsung meraih lenganku. Aku melihat siapa dia, dan mataku terbelalak. Kenapa mereka selalu bisa menemukanku? Sebelum aku bisa mengatakan sesuatu, dia lebih dulu bicara.
Vian langsung menyelanya, seperti biasa, saat aku ingin menjawab. Dia menggenggam lenganku dengan erat dan menempatkanku di sampingnya. Aku melihat Hamzah bergegas mendatangi kami.
"Apa yang kamu inginkan?!" Vian bertanya dengan geram pada Kevin. Vian terlihat sangat marah, tetapi Kevin terlihat tetap tenang.
"Pergilah jalan-jalan Viantra. Aku membutuhkan wanita itu, bukan kamu. Khanza, ayo ikut a-"
"Hamzah, ajak Sadiya bersamamu. Sekarang!" ucap Vian sambil mendorongku ke arah Hamza. Dia memerintahkan hal itu padanya seolah-olah dia adalah pemilikku? Aku tidak akan membiarkan itu terjadi.
Aku mendorong Hamzah menjauh tetapi dia meraih lenganku. Bukankah dia tahu apa hukumnya menyentuh seorang wanita yang bukan muhrimnya?
__ADS_1
"Lepaskan aku," ucapku. Lalu dia pun melepaskanku. Aku segera berbalik ke arah Vian. Vian menatapku heran dengan alis terangkat. Aku berjalan mendekati Kevin dan berdiri di depannya.
"Ada apa?" tanyaku padanya. Kevin menatap Vian dengan ekspresi mengejek. Lalu, menoleh padaku lagi.
"Kamu harus ikut aku. Ibu ingin bertemu denganmu, tolonglah ..." Dia memohon.
Otakku serasa berhenti berfungsi sesaat, aku meletakkan tanganku di kepala. Aku tidak pernah berpikir bahwa aku juga punya ibu dan ayah kandung. Aku benar-benar melupakan itu.
'Tahukah kamu bahwa Surga berada di bawah telapak kaki ibu? Dan kamu belum pernah bertemu dengan ibu kandungmu. Kamu harus sangat bersyukur. Biar bagaimanapun dia, dialah yang mengandungmu selama sembilan bulan. Setiap ibu menahan rasa sakit yang paling menyakitkan saat melahirkan seorang anak, tapi dia tidak peduli. Pergi dan temuilah ibumu. Meskipun dirimu belum bisa memaafkannya, pergilah untuk menemuinya. Karena jika kamu terlambat, mungkin saja kamu tidak akan mendapatkan kesempatan lagi,' ucap suara aneh itu. Suara aneh itu kembali! Alhamdulillah! Aku mencermati kata-kata suara aneh itu, lalu aku membuat keputusan.
"Baiklah. Aku akan ikut denganmu," ucapku dengan yakin sambil menganggukkan kepalaku. Aku butuh jawaban, sekarang juga. Aku bisa gila jika tidak mendapatkannya. Aku harus menemuinya agar aku tahu siapa aku, siapa orang tuaku, dan kenapa mereka tidak menginginkanku.
"Sadiya, apa kamu sudah gila?! Itu terlalu berbahaya!" ucap Vian tak percaya mendengar perkataanku.
"Dia Khanza, idiot!" Kevin membentak Vian. Mereka pun saling berteriak, meneriakkan kata-kata yang aku tidak ingin mendengarnya. Aku memutar bola mataku, pusing mendengar suara mereka.
"Berhenti! Aku Sadiya, OK?!" teriakku di sela-sela percekcokan mereka.
"Dan Vian, aku akan pergi bersamanya. Kamu mau ikut?" Aku bertanya pada Vian sambil menatapnya dengan penuh harap.
Aku membutuhkannya. Aku membutuhkan dia untuk berada di sana. Aku tidak bisa melakukan ini sendirian. Aku tidak bisa mencapai puncak hidupku tanpa dia. Aku membutuhkan dia di sana, sungguh.
Dia menatapku, memohon dengan sorot matanya berkata 'tidak, jangan lakukan itu' tapi aku menggelengkan kepala. Kupikir ... Kupikir mungkin dia akan peduli ... mungkin dia akan mengesampingkan musuh dan bersamaku di sana. Tapi ternyata tidak.
Aku berbalik lalu menghampiri Kevin untuk pergi bersamanya. Kevin mengangguk dan berjalan ke mobilnya, aku mengikutinya. Aku melangkahkan kakiku masuk. Aku tidak berani melihat wajah Vian, aku merasa gugup. Sangat gugup. Entah apa yang akan terjadi nanti. Aku tahu, dia tidak akan menyetujui aku bersama Kevin.
__ADS_1
“Jangan kira aku percaya kalau kamu adalah adikku. Adikku sudah mati. Kamu bukan adikku. Aku melakukan ini semua demi Kenzo," ucapnya sambil menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Aku menatapnya bingung. Mati? Kalau dia pikir begitu, kenapa dia mau mengajakku? Aku mengangkat bahu dan menggelengkan kepalanya. Aku tidak ingin memikirkannya. Aku hanya ingin menemui seorang wanita yang disebut 'ibu' itu. Biarkan aku menemukan jati diriku ...