Cinta Bersemi Di Turki

Cinta Bersemi Di Turki
Oesma Fashion


__ADS_3

Aku berdiri di depan sebuah bangunan megah, 'Oesma fashion' tertulis indah di atas gedung itu. Bangunan ini sangat besar. Orang-orang masuk dan keluar dengan pakaian-pakaian yang terlihat mewah dan mahal.


Supir itu menghampiriku lalu memberiku isyarat untuk mengikutinya. Dia orang yang aneh. Atau mungkin, dia memang tidak suka bicara dengan orang lain. Dia sama sekali tidak berbicara sejak tadi.


Kami pun masuk ke dalam gedung itu. Mataku terbelalak menatap seisi bangunan itu. Seluruh dindingnya berwarna putih. Orang-orang berjalan dan berlari kecil dengan membawa pakaian atau map di tangannya. Kami pun beranjak ke meja tamu, dan aku mendengar suara seseorang berteriak gembira.


"Sadiya! Oh, ya ampun! Kamu di sini?!" Aku mendengar suara Masara dari meja tamu. Dia berdiri dan memberiku pelukan hangat. Aku tersenyum padanya. Aku tidak tahu bagaimana harus bersikap, karena semua ini masih baru bagiku.


"Iya, aku datang ke sini untuk menemui,"


"Oh, iya. Kamu ada janji dengan Tuan Oesman. Ikuti aku," ucapnya memotong kata-kataku yang belum selesai. Aku pun mengikutinya.


"Jadi, kamu bekerja di sini?" tanyaku.


"Iya. Kamu tahu, Hamzah adalah teman baik Vian. Jadi, dia yang membantu kami berdua untuk mendapatkan pekerjaan," ucapnya. Aku tersenyum mengetahui bahwa Vian telah berbaik hati untuk membantu teman-temannya mendapatkan pekerjaan.


"Ke sini, kamu bisa masuk," ucapnya sambil membukakan pintu untukku. Aku masuk, lalu melihat ayah mertuaku sedang duduk. Namun, saat dia melihatku, dia segera berdiri sambil tersenyum padaku. Aku balas tersenyum, sedikit merasa malu.


"Masara, kamu bisa pergi sekarang. Kemari dan duduklah, Sadiya," ucapnya sambil menunjuk kursi di depannya. Aku duduk dan mengedarkan pandanganku ke sekeliling. Banyak sekali gambar-gambar desain di mana-mana.


"Bagaimana kabarmu?" Dia bertanya padaku. Aku harus jawab apa? Buruk? Sakit hati? Atau takut?


"Baik, terimakasih. Bagaimana dengan Anda?" tanyaku. Aku mencoba untuk berbicara sesopan mungkin.


"Baik juga," jawabnya.

__ADS_1


"Baiklah, mungkin kamu masih bertanya-tanya kenapa aku memintamu ke sini?" Dia bertanya padaku, aku pun mengangguk.


Dia mengambil secarik kertas, lalu menunjukannya padaku.


"Apa yang akan kamu ganti?" Dia bertanya padaku sambil menunjuk gambar di atas secarik kertas itu. Aku memperhatikan gambar itu. Seorang laki-laki dengan celana jeans dan sweater. Itu terlihat bagus, namun warnanya kurang sesuai. Kalau sweaternya lebih gelap, akan terlihat lebih pas.


"Warna hijaunya, ini seharusnya lebih gelap. Semakin kontras, itu lebih bagus," ucapku sedikit tak yakin. Vian pernah menanyakan hal ini juga padaku. Apa yang sebenarnya mereka inginkan?


"Baik ... Dan, bagaimana dengan yang ini?" Dia menunjukanku gambar yang lain. Itu terlihat sempurna. Kaos oblong putih, dengan celana merah.


"Tidak ada. Warna merah terlihat serasi dipadukan dengan putih. Itu bagus," ucapku sambil masih memperhatikan gambar itu.


"Bagus. Sekarang, kamu mendapatkan pekerjaan ini!" ucapnya dengan senang. Tunggu, apa? Aku menatapnya dan dia tersenyum.


"Oh, maaf, aku hanya terlalu bersemangat. Jadi, kami butuh desainer baru. Karena, desainer kami yang sebelumnya telah berhenti. Tadinya, aku meminta Vian untuk menggantikannya, tapi dia tidak terlalu bagus dalam menggambar. Sebenarnya dia punya kemampuan yang bagus dalam mengombinasikan pakaian dengan bahan-bahannya, tapi tidak dengan menggambar. Menggambar itu sesuatu yang berbeda, karena kamu harus membuat sesuatu yang baru dengan warna dan material yang bagus. Dia bilang kalau kamu bisa menggambar dengan sempurna, dan kamu juga telah membantunya mengerjakan pekerjaan penting yang telah kuberikan. Jadi, kami ingin kamu menjadi desainer kami. Selamat!" ucapnya sambil menjabat tanganku. Aku masih terkejut. Pekerjaan? Desainer? Aku?


"Saya minta maaf, Tuan Oesman. Tapi, saya rasa saya tidak bisa menerima pekerjaan ini. Maksud saya, saya kan tidak pernah sekolah desain atau kursus, dan-"


"Itu tidak perlu. Kami yang akan menyekolahkanmu. Jangan khawatir, semuanya akan berjalan dengan baik. Sekarang, aku akan memanggil Masara. Kalian harus membeli pakaian. Jangan salah paham, hanya saja terlihat kurang pas jika kita berjalan di sekitar sini dengan pakaian sederhana. Ini perusahaan terkenal!" ucapnya, membuatku merasa buruk seketika.


Aku menunduk melihat pakaianku. Aku hanya memakai celana oblong, dengan atasan kaos longgar yang bagian bawahnya panjang sampai lutut. Tapi .. aku menyukai ini. Aku tidak butuh baju baru.


'Pergilah. Ini akan menjadi awalan sesuatu yang baik, tapi tidak hari ini. Percayalah,' ucap suara aneh itu. Aku tersenyum mepercayai suara aneh itu. Aku pun pergi mengikuti ayah mertuaku.


Kami pergi ke bangku tempat Masara duduk. Ayah mertuaku berbicara dengannya sangat pelan, jadi aku tidak bisa mendengar apa-apa. Aku melihat Masara berbinar. Kemudian, ayah mertuaku kembali menghampiriku.

__ADS_1


"Masara akan membantumu. Belilah apa pun yang kamu mau, Oke? Kalau ada masalah, kamu bisa memanggilku," ucapnya sambil memberikanku kartu kredit. Aku menatap kartu kredit itu, tertulis namaku di sana. Bagaimana bisa?


"Terimakasih, Pak," ucapku. Dia pun mengangguk sembari berlalu. Namun, baru saja Masara akan mengatakan sesuatu, aku mendengar suaranya lagi.


"Dan, kamu bisa memanggilku ayah." Aku menoleh ke arah suara itu, dan melihat ayah Vian tersenyum padaku. Aku balas tersenyum. Lalu, aku beralih pada Masara yang sudah bersiap merentangkan tangannya untuk memelukku.


"Aku sangat bahagia!" teriaknya. Aku tahu itu, Masara. Aku tahu itu ...


...***...


"Ya, begitulah. Gadis itu hidup lagi ..." ucapku.


Aku dan Masara sedang duduk di kafe, sambil menikmati secangkir teh. Tempat ini sedikit aneh, mungkin karena aku memang belum pernah pergi ke tempat seperti ini. Menurutku, ini tempat yang bagus untuk menenangkan pikiran. Sambil melihat orang-orang yang sedang menikmati kopi panasnya.


"Apa?!" Tiba-tiba Masara merusak ketenanganku dengan berteriak. Sontak, semua orang di kafe itu menoleh ke arahnya.


"Apa?" tanya Masara lagi sambil berbisik. Dia masih tak percaya. Dia menatapku dengan mata terbelalak dan mulut menganga.


"Jadi, maksudmu, gadis yang sangat dicintai oleh Vian itu sudah mati karena kesalahannya. Tapi, tiba-tiba dia hidup lagi? Tapi, bagaimana mungkin?" tanyanya tak percaya. Dia bertanya padaku, lalu aku harus bertanya pada siapa?


"Mana aku tahu. Tapi, aku khawatir dengan Vian ... Ah, tidak. Aku tidak perlu khawatir. Mereka pasti sangat bahagia sekarang. Kalau Vian bahagia, aku juga bahagia. Tidak masalah jika-"


"Hentikan! Bagaimana bisa kamu mengira kalau mereka bahagia, secepat itu?! Apa kamu sudah gila? Aku melihat bagaimana dia menatapmu, aku yakin itu tatapan cinta. Kurasa, Vian sedang tidak baik-baik saja sekarang, kamu seharusnya berada di sana untuknya. Aku tahu itu pasti sulit, tapi kamu harus mencobanya," ucapnya.


Aku tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan. Aku meletakkan kepalaku di atas kedua telapak tanganku. Aku menghela napas dalam-dalam. Masara benar, apa pun yang terjadi aku harus selalu ada untuk Vian.

__ADS_1


__ADS_2