
"Dia memberi tahuku kenapa dia seperti itu. Hanya saja .. kita baik-baik saja sekarang. Tapi dia masih tidak percaya dengan Allah. Itu membuatku sedih, aku tidak bisa membawanya kembali ke jalan yang benar," ucapku. Tidak terasa, air mataku jatuh.
Masara tidak mengatakan apa-apa. Kurasa dia bahkan tidak mengerti apa yang terjadi padaku.
"Lalu .. orang tuamu? Bagaimana d-" Aku tidak membiarkannya menyelesaikannya.
"Oh, mereka bahkan tidak peduli. Aku senang bisa keluar dari rumah itu. Mereka memukuliku setiap hari. Semua sudah cukup, mereka sudah cukup membuatku merasa ada di titik terlemahku .. Tapi aku tidak peduli lagi," ucapku. Aku tidak tahu apakah aku harus mengatakan ini. Aku memejamkan mata.
"Mereka bukan keluargaku yang sebenarnya," tuturku. Aku membuka mata dan menatap Masara. Mataku membelalak. Dia menangis.
“Kenapa kamu menangis?” Tanyaku padanya. Dia tersenyum dan menyeka air matanya
"Aku bisa melihat di matamu betapa kamu telah terluka. Betapa buruk hal yang telah terjadi. Aku bahkan tidak punya kata-kata untuk menanggapinya. Tapi, kamu adalah wanita terkuat yang pernah kutemui," ucapnya sambil tersenyum padaku. Aku mengerutkan kening karena bingung. Kuat? Kenapa? Dia kemudian berdiri sambil meraih lenganku.
"Ayo, kita sholat dulu," ajaknya.
Kami pun mengambil wudhu, lalu sholat bersama. Setelah selesai sholat, kami kembali ke ruang tamu, lalu kembali mengobrol santai.
Tepat ketika aku hendak menanyakan apa yang ingin dia makan, bel pintu berbunyi. Aku melihat ke Masara, untuk bertanya apakah Hamzah akan datang, tapi dia menggelengkan kepalanya. Aku bergegas untuk membuka pintu. Ternyata, kembaranku yang berdiri di sana.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" Aku bertanya pada Kenzo. Dia berdiri di sana di depanku, menatapku seolah-olah dia adalah patung. Dia tidak bergerak dan tidak mengatakan apapun. Kemudian dia berbalik dan pergi.
"Kenzo!" Aku berteriak mengejarnya, mencoba mencerna kenapa dia bertingkah aneh. Dia berhenti selama beberapa detik lalu menatapku, tapi kemudian berlari lagi. Dia menghilang, saat Masara mendatangiku.
"Siapa itu?" tanya Masara.
Aku menoleh ke arahnya, masih bingung kenapa dia tiba-tiba datang dan kenapa dia tiba-tiba pergi.
"Itu saudara kembarku," jawabku. Mata Masara membelalak.
"Kamu punya saudara kembar? Keren sekali!" ucapnya tak percaya.
__ADS_1
Aku hanya mengangkat bahu, tidak ingin membicarakannya. Kami kembali berjalan ke ruang tamu dan aku tidak bisa menahan diri untuk tidak bercerita pada Masara.
"Aku baru tahu tentang dia. Tentang orang tuaku yang sebenarnya. Setelah delapan belas tahun disakiti oleh orang-orang yang kukira keluargaku, akhirnya aku menemukan keluargaku yang sebenarnya. Tapi ternyata keluargaku yang sebenarnya juga tidak menginginkanku. Mereka menjualku. Dan sekarang, setelah delapan belas tahun mereka datang ke dalam hidupku lagi, mencoba kembali menjadi bagian dari hidupku," tuturku seraya membiarkan butir-butir air mata mengalir.
Baru saja Masara hendak menjawab, tiba-tiba terdengar suara telepon berdering.
"Itu bukan suara ponselku," ucap Masara.
Aku tersadar. Aku bergegas ke tempat suara itu berasal dan melihat telepon yang diberikan Vian untukku. Aku melihat siapa yang menelepon. Yang tertera hanya nomor telepon, tanpa nama. Tanpa pikir panjang, aku segera menjawab panggilan itu.
"Halo?" ucapku lembut.
"Hei sayang, apa kabar?" jawab seseorang di seberang sana.
Saat mendengar suaranya, aku memejamkan mata dan langsung merasa lebih baik.
"Baik, bagaimana denganmu? Bagaimana semuanya?" Aku bertanya pada Vian. Aku mendengar dia menarik nafas panjang.
"Aku sudah berusaha sebaik mungkin untuk menanganinya. Bagaimana keadaan di sana? Kamu senang dengan istri Hamza?" dia bertanya padaku. Dari suaranya, aku bisa mendengar betapa lelahnya dia.
Aku ingin bercerita tentang keluargaku, tapi aku berubah pikiran. Dia sudah punya begitu banyak hal untuk ditangani dan menambahkan masalahku, rasanya tidak adil untuknya.
"Ya?" tanyanya, karena aku terdiam beberapa saat. Aku menarik nafas panjang.
"Aku hanya .. Aku hanya merindukanmu, sepertinya," ucapku lembut, berharap dia tidak akan mendengarnya. Tapi saat aku mendengar dia tertawa, aku memutar bola mataku. Dia mendengarnya.
"Tinggal beberapa hari lagi aku akan kembali. Ngomong-ngomong, apa terjadi sesuatu? Kamu terdengar sangat aneh .." ucapnya membuatku kembali memikirkan Kenzo.
"Tidak, tidak terjadi apa-apa. Hanya saja .. kurasa aku harus mengunjunginya lagi. Aku butuh jawaban dari mereka, kenapa mereka tidak menginginkanku dan harus menjualku pada orang-orang jahat itu," ucapku. Rasanya beban di tenggorokanku keluar setelah mengatakan itu.
"Pergilah, kupikir itu hal terbaik untuk dilakukan. Oh ya, jika Kevin berani melakukan sesuatu padamu, segera telepon aku. Bawalah ponselmu kemanapun kamu pergi," ucapnya membuat ku tertawa kecil.
__ADS_1
"Aku serius disini, Sadiya," ucapnya sedikit tegang.
"Dia tidak akan melakukan apa-apa, jangan khawatir. Terima kasih telah menelepon," ucapku sambil memalingkan wajahku ke arah suara Masara yang berteriak dari dapur.
"Aku akan meneleponmu lagi besok. Kamu hati-hati, ya. Sampai jumpa," ucapnya sembari memutuskan panggilan itu.
Aku merasa lebih baik setelah mendengar suaranya dan mengetahui bahwa dia baik-baik saja.
Aku bergegas ke dapur untuk menemui Masara. Ternyata dia sedang membuat teh.
"Aku ingin menemui mereka besok," ucapku dan dia langsung tahu siapa yang kubicarakan.
"Keluarga aslimu?" tanyanya.
"Iya," jawabku.
"Aku akan ikut denganmu," ucapnya tapi aku menggelengkan kepalaku. Aku ingin melakukan ini sendirian.
"Aku ingin pergi sendiri," ucapku dan dia mengangguk. Aku membantunya, tapi pikiranku ada di tempat lain. Bagaimana jika mereka benar-benar tidak menginginkanku?
***
Kali ini, aku berdiri di depan rumah itu lagi. Rumah yang telah membuatku merasakan segalanya. Dan sekarang, aku berdiri di sini, lagi mengalami hal yang sama. Aku tahu, ini sulit, tapi aku membutuhkannya. Jika aku membutuhkan jawaban, aku harus melakukan ini. Aku menarik napas dalam-dalam lalu mengetuk pintu. Beberapa saat kemudian, seorang gadis berusia sekitar dua puluh tahun membuka pintu. Dia tersenyum padaku dan aku mulai merasa gugup. Tanganku berkeringat dan aku sedikit gemetar.
"Oh, kamu pasti Khanza. Masuklah," ucapnya.
Aku melangkah masuk. Aku ingin bertanya siapa dia. Dia tidak terlihat mirip sepertiku, tapi aku ingat Kevin bilang kalau hanya dia dan Kenzo lah anak dari keluarga ini.
Aku mengikutinya masuk dan melepas sepatuku. Dia memintaku untuk mengikutinya, aku pun menurutinya. Kami pergi ke ruang tamu yang sama di mana aku melihatnya untuk pertama kalinya dan sakit kepalaku mulai datang lagi. Kecemasan mengalir melalui pembuluh darahku. Aku menyeka tanganku yang berkeringat dengan ujung bajuku.
"Siapa itu, Husna?" Aku mendengar dia bertanya.
__ADS_1
Aku merasa membeku dan tidak bisa bergerak lagi. Aku memejamkan mata, tidak bisa membukanya. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Di satu sisi, aku ingin lari dari sana, tidak melihat ke belakang dan tidak pernah kembali. Namun, di sisi lain, aku ingin menetap di sini, memeluknya lagi, merasakan pelukannya lagi.
"K.. Khanza?" ucapnya dengan suara lembut terbata.