
Aku terbangun dari tidurku. Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling, mencari di mana Vian. Aku mencoba untuk berdiri, tapi tiba-tiba kepalaku terasa sakit, membuatku kembali berbaring.
Beberapa saat kemudian aku mendengar derit pintu terbuka. Aku mengalihkan pandanganku ke pintu. Vian menghampiriku dengan marah. Seperti biasanya, aku tidak lagi terkejut melihatnya marah.
"Apa-apaan ini Sadiya!?" tanyanya dengan geram. Membuatku tersadar apa maksudnya. Dia pasti sudah tahu, waktu itu aku mengangkat telepon dari Alex, tetapi aku tidak memberitahunya.
"Ada apa?" tanyaku sembari mencoba untuk duduk. Aku berdesis menahan sakit, sekujur tubuhku masih terasa nyeri. Tapi sepertinya dia tidak peduli akan hal itu.
"Bisa-bisanya kamu mengangkat telepon darinya tanpa memberitahuku!" ucapnya dengan marah.
"Kenapa kamu tidak memberitahuku?! Kalau saja kamu memberitahuku, semua ini tidak akan terjadi! Dan kamu tidak akan duduk disini sambil kesakitan!" teriaknya. Aku menarik nafas dalam-dalam lalu menatapnya.
"Kalau saja waktu itu kamu juga cerita padaku kalau kamu berkelahi dengan geng. Pasti aku juga akan memberitahumu," jawabku. Aku sengaja berbohong, sebenarnya aku tidak memberitahunya karena aku benar-benar takut waktu itu. Dia membelalakkan matanya sesaat.
"Aku tidak berurusan dengan geng," ucapnya dengan lembut kali ini. Membuatku menjadi bingung. Kalau bukan geng lalu apa?
"Jangan menatapku seperti itu. Aku benar-benar tidak punya geng. Aku tidak menjawabnya di telepon waktu itu, dan akhir-akhir ini aku diam saja, tidak lagi menemuinya, karena itulah dia marah. Aku dan dia saling berbagi obat-obatan terlarang dan pistol, tapi dia mau mengambil semuanya." Dia memberi penjelasan.
"Sejak kapan kamu berhenti menemuinya?" tanyaku. Aku merasa curiga. Dia bilang tidak bersama dengan Alex akhir-akhir ini, tapi bukankah waktu itu dia masih berhubungan baik dengan Alex?
"Beberapa minggu yang lalu.
Dia benar-benar gila ingin memiliki semuanya. Tapi musuh-musuh malah senang, karena salah satu dari pemimpin kami diam saja," jelasnya. Ia tiba-tiba terdiam menyadari ia telah mengatakan hal yang sebenarnya. Ia segera melangkahkan kakinya hendak pergi, seperti tidak ingin aku mengetahuinya. Namun sebelum dia pergi, aku mencegahnya dengan pertanyaanku.
__ADS_1
"Baiklah, kamu tidak perlu menceritakan padaku tentang apa yang tidak ingin kamu ceritakan. Tapi, setidaknya katakan padaku, kenapa dia harus menculikku?" tanyaku. Aku berjalan ke arahnya lalu memegang lengannya, agar dia tidak pergi. Aku ingin mendengarkan penjelasannya.
"Karena kamu adalah istriku, dan dia pikir itu adalah cara terbaik untuk memerasku," ucapnya sambil menatap mataku dalam-dalam.
"Apakah menurutmu itu benar?" Aku memberanikan diri untuk bertanya. Tapi, dia segera melepaskan tanganku dari lengannya dan beranjak untuk pergi. Sebelum dia benar-benar melangkah ke luar kamarku, dia melirikku.
"Tentu saja tidak," ucapnya sembari membanting pintu dengan keras, membuatku sedikit terjingkat kaget.
***
"Salma, aku juga mau beli vas bunga kecil yang itu," ucapku. Aku dan Salma sedang berbelanja bersama. Sebenarnya dia tidak ikut berbelanja, tapi hanya menemaniku. Aku merasa kesepian sejak tadi. Vian tidak di rumah, entah kemana dia pergi.
Selain itu, aku sengaja mengajaknya jalan-jalan agar dia bisa melupakan Husam. Dia mengatakan padaku bahwa semua masalahnya sudah selesai. Orang tuanya juga sudah tahu dan setuju memutuskan hubungan pertunangannya. Dia terlihat baik-baik saja, tapi aku yakin dalam hatinya dia pasti terluka.
Aku mengedarkan pandanganku untuk melihat-lihat barang lainnya. Tiba-tiba pandanganku terhenti saat aku melihat seseorang. Orang yang sama dengan yang kujumpai di bus waktu itu. Tiba-tiba ada perasaan aneh saat melihatnya. Perasaan yang sama sekali belum pernah kurasakan. Apakah ini yang dinamakan ikatan batin? Tapi, siapa dia?
Saat aku hendak berjalan ke arahnya tanpa sadar, dia menatapku. Aku menghentikan langkahku, rasanya aku tak bisa bergerak saat mata kami saling beradu. Apakah dia merasakan hal yang sama? Tepat ketika aku hendak menanyakan siapa dia, dia pergi dengan tergesa-gesa. Dan tiba-tiba Salma datang menghampiriku.
"Ada apa?" tanyanya. Aku menggelengkan kepalaku. Setelah itu kami pulang.
***
Aku sedang membuat makan malam untukku dan Vian. Ketika aku sedang mengaduk sup, aku melihat Vian datang. Tiba-tiba diaa masuk ke dapur, lalu mengambil irisan mentimun sembari menyandarkan punggungnya di lemari es.
__ADS_1
"Kamu lapar? Aku sudah membuatkan makanan," kataku. Dia mengangguk mengiyakan. Aku segera mengambil dua piring lalu memasukkan sup kedalamnya.
"Bagaimana ... Bagaimana keadaanmu? Apakah pria itu melakukan sesuatu padamu? Apakah dia berani menyentuhmu?" tanyanya. Aku menatapnya sambil tersenyum, mencoba meyakinkannya bahwa aku baik-baik saja.
"Tidak, jangan khawatir," jawabku. Dia mengangguk lalu mengambil piring yang telah disiapkan untuknya, setelah itu dia beranjak ke meja makan di ruang tengah.
Aku membawa masakanku ke meja makan. Vian sudah makan duluan. Sebenarnya, ada banyak hal yang ingin aku tanyakan padanya. Tapi aku tidak berani menanyakannya, aku takut dia akan marah lagi. Aku hanya bisa duduk diam dan ikut menikmati sup buatanku yang diajarkan nenekku cara memasaknya.
"Kamu suka ini?" tanyaku mencoba memulai pembicaraan. Tapi, dia bersikap seolah tidak mendengar ucapanku, dia bahkan tidak menoleh padaku dan terus saja makan.
Aku menarik nafas dalam-dalam, lalu kembali ke dapur untuk mencuci piring sambil menahan tangis. Aku tahu, seharusnya aku tidak perlu bersikap berlebihan. Tapi, entah kenapa, mungkin karena aku sedang menstruasi jadi aku menjadi lebih sensitif.
Aku terus melanjutkan mencuci piring, tanpa kusadari Vian telah berdiri di belakangku, ia memutar keran air dingin.
"Apa kamu tidak bisa melihat tanganmu terbakar?" dia bertanya dengan suara lebih keras dari biasanya. Aku melihat tanganku memerah, aku baru menyadari bahwa aku mencuci piring dengan air panas.
Aku terus mencuci tapi dia tidak menjauh. Aku tidak mengerti apa yang terjadi padanya tapi dia memeluk pinggangku dari belakang. Aku membeku, tidak bisa mengatakan apapun atau melakukan apapun. Aku melihat air mengalir di tanganku, menghilangkan rasa panas yang tersisa. Tiba-tiba lututku terasa lemas dan terasa berat untuk berdiri. Aku memejamkan mata sejenak dan membukanya. Rasanya sangat aneh dan aku merasa seperti kesemutan menjalar di sekujur tubuhku. Di saat aku baru saja hendak mengatakan sesuatu, dia melepaskan pelukannya dari pinggangku, tapi masih berdiri di sampingku sambil bersandar di meja. Dia tidak melihatku.
"Sadiya?" Vian bertanya, tapi masih tidak melihatku. Suaranya terdengar gugup. Aku segera mematikan keran dan berbalik ke arahnya.
"Ya?" Aku berkata pelan.
"Besok ... Maukah kamu ikut denganku besok?" Dia bertanya. Suaranya bergetar seperti menahan tangis. Membuatku sangat ingin menghampiri dan memeluknya, namun aku menahannya. Aku ingin bertanya ke mana, tetapi kupikir-pikir lagi lebih baik tidak bertanya sekarang.
__ADS_1
"Baiklah," ucapku, sambil bertanya-tanya dalam hati, kemana dia akan membawaku besok.