Cinta Bersemi Di Turki

Cinta Bersemi Di Turki
Aku Pergi


__ADS_3

Apa yang terjadi? Vian berdiri mematung di tempatnya, terpaku di sana tidak bergerak. Dengan ponsel yang masih berada dalam genggamannya, ia terlihat begitu cemas. Beberapa saat kemudian, dia menatapku sambil membelalakkan mata.


"Dia? ... Kebakaran itu?" ucapnya dengan marah. Dia melangkah ke arahku, membuatku merasa takut saat melihat kemarahan begitu besar di matanya.


"Aku akan membunuhnya!" ucapnya berulang kali. Tak lama kemudian, dia menelepon seseorang.


"Javed, Kevin, atau Kyle lah yang telah membakar rumah itu. Bawa semua anak buah ke Turki. Kita akan membuat rencana untuk menghentikan mereka ... Lihat saja nanti, siapa yang akan membunuh siapa ..." ucapnya tegas.


"Tidak ... dia baik-baik saja," ucapnya sambil melihat ke arahku.


"Aku tidak akan pernah membiarkan mereka melakukan sesuatu seperti yang telah dia lakukan kepada Liza ... Dia tidak akan bisa melakukan apa-apa ... Selama aku masih bernyawa, aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti Sadiya, maupun keluargaku." Vian memutuskan sambungan teleponnya, lalu membanting ponselnya. Untungnya, ponselnya terbanting di kasur.


Jantungku berdetak kencang tak beraturan. Aku mengikutinya berjalan ke ruang tengah, dimana Sevda berada.


"Jangan ceritakan pada ayah ataupun ibu tentang kebakaran itu," ucapnya sambil menatap Sevda, adiknya.


Sevda meminta kami untuk duduk di meja makan dan aku pikir Vian akan menjelaskan semuanya kepadanya, tapi ternyata dia tidak melakukannya. Tak satu pun dari kami makan dan ada suasana ketegangan yang aneh.


"Lalu, apa yang akan kita lakukan?" Dia bertanya pada Vian.


"Kamu bisa tinggal di sini sebentar. Aku akan mengurus rumah baru untukmu," jawabnya dan Sevda mengangguk. Aku tiba-tiba merasa bersalah. Vian memiliki banyak masalah yang harus di tanggungnya. Aku bertanya-tanya apakah dia mampu mengatasinya.

__ADS_1


"Apa kau tahu bagaimana semuanya bisa terbakar?" Dia bertanya pelan.


Vian menatapku dan aku memberinya tatapan yang mengatakan 'katakan padanya'. Dia menggelengkan kepalanya dan menatap Sevda, untuk menghindari kontak mata denganku. Akhirnya kami mulai makan, lalu pergi dengan aktivitas masing-masing.


***


Vian baru saja pulang. Aku tidak tahu kemana dia pergi atau apa yang dia lakukan tapi dia terlihat tegang. Dia marah sepanjang waktu dan bahkan meneriaki Layla yang mengganggunya. Padahal gadis kecil itu hanya ingin bermain dengannya. Aku harus membawanya ke kamarnya untuk membuatnya tenang. Dia sangat ketakutan.


"Jangan menakut-nakuti anak kecil, Vian. Dia tidak melakukan kesalahan apa pun," aku memperingatkannya. Dia duduk di tempat tidur dan menyisir rambutnya dengan tangan. Aku berjalan ke tempat tidur dan duduk di samping Vian.


"Apakah kamu baik-baik saja?" Tanyaku sambil menatapnya. Dia berpaling ke sisi lain dan menggelengkan kepalanya. Aku menghela nafas lalu memalingkan dagunya dengan kedua tanganku untuk mengarahkan wajahnya ke arahku.


"Semuanya akan baik-baik saja, percayalah. Kamu..kamu mau kan, sholat bersama denganku?" Aku memberanikan diri untuk bertanya.


Dia hanya menatapku datar lalu memutar bola matanya malas. Bagaimana mungkin seseorang seperti dia tidak percaya adanya Tuhan? Sudah saatnya aku membuatnya paham. Aku berdiri sambil meletakkan kedua tanganku di pinggang.


"Kenapa? Kenapa kamu tidak percaya? Semua ini terjadi karena ada alasannya. Semua masalah ini, tentang bosmu, tentang kebakaran ini, semua ini tidak terjadi tanpa alasan. Bahkan Liza meninggal juga ada alasannya. Selalu ada alasan kenapa Allah memberi kita ujian. Kenapa Allah tidak memberi kita sesuatu? Itu karena hanya Allah yang tahu apa yang terbaik untuk kita. Bisa jadi, Allah mengambil sesuatu darimu, untuk memberimu sesuatu yang lebih baik. Kenapa kamu tidak percaya kepada Allah?


Tidakkah kamu .. tidakkah kamu senang denganku? Meskipun kita bukan pasangan sungguhan, bukankah setidaknya kamu sedikit bahagia? Aku ingin membantumu dengan berada di sini untukmu.


Dia sudah meninggal, ingat itu. Aku di sini sekarang, aku selalu di sisimu.

__ADS_1


Kenapa kamu tidak bertanya padaku tentang Islam? Oh ya, aku lupa! Aku yakin kamu tahu lebih banyak tentang itu dari pada aku. Bukankah kamu sudah memberitahuku bahwa kamu pernah menjadi seorang hafiz? Oh, Vian. Lihatlah ke sekitarmu, Allah memberimu begitu banyak tanda untuk menaruh kepercayaanmu kepada-Nya lagi.


Buka matamu! Dia memberimu semua rasa sakit ini agar kamu membuka mata dan menyadari bahwa Dia merindukanmu, tidak semua orang mendapatkan kesempatan itu!"


Aku bicara panjang lebar padanya, rasanya semua beban telah tertumpah dari pundakku.


Namun, dia sama sekali tidak bergerak, seolah tidak mendengar apa-apa. Dia tidak bereaksi apa-apa, seolah semua yang aku katakan hanya masuk lewat telinga kanan dan keluar lewat telinga kiri. Aku putus asa. Itulah yang aku rasakan sekarang.


"Tidak akan pernah ada yang bisa menggantikan Liza. Dulu, hari ini dan besok, yang ada di hatiku hanyalah Liza," ucapnya.


Dari semua yang baru saja kukatakan, itu balasannya? Apakah dia mencoba mengatakan bahwa aku seharusnya tidak perlu repot-repot membantunya? Dan .. untuk apa aku ada disini? Aku menganggukkan kepalaku mengerti dan segera mengambil tasku.


Aku mulai memasukkan baju-bajuku. Semuanya baju baru karena setelah rumah itu kebakaran, semua baju kami juga ikut terbakar. Eh, tunggu! Kenapa aku malah memasukkan baju-baju yang dibeli dengan uangnya. Ah, aku memang tidak punya apa-apa lagi .. Aku mengemasnya lalu melangkahkan kakiku ke luar. Aku melihat Sevda di sana dengan ekspresi marah, menatap Vian.


Aku memalingkan wajahku ke arah Vian sesaat, dia hanya melihatku datar, sama sekali tak peduli. Aku menggelengkan kepala. Dia bersungguh-sungguh atas semua ini. Aku tidak diterima di sini, pikirku dalam hati sambil terus melangkahkan kakiku ke pintu depan.


Aku mendengar Sevda meneriakkan sesuatu dalam bahasa Turki. Mungkin dia berteriak kepada Vian. Sevda bergegas berjalan ke arahku untuk menghentikanku, tetapi aku segera keluar. Aku menarik napas dalam-dalam dan pergi.


Lihatlah, Vian sama sekali tidak peduli, dia memang menginginkan aku pergi. Lalu, untuk apa aku harus menetap di sini? Ternyata semua yang dikatakannya memang benar, aku memang tidak pantas memiliki apapun. Aku tidak pantas memiliki siapapun. Aku tidak pantas untuk dicintai. Cinta dan kebahagiaan mungkin hanya sekedar mimpi yang tidak akan pernah menjadi kenyataan untukku. Semuanya hanya angan-angan belaka.


Aku pikir hari-hari bahagia itu akan terjadi sebentar lagi. Aku pikir dia perlahan akan menerimaku dan melupakan Liza. Ternyata aku salah. Salah besar! Aku sudah bermimpi terlalu tinggi ...

__ADS_1


Baiklah aku akan pergi. Kemana aku harus pergi? Aku bahkan tidak tahu ...


__ADS_2