
Vian beranjak ke kamarnya untuk beristirahat.
Aku pun masuk ke kamarku untuk melihat gamis yang kubeli tadi. Tiba-tiba aku menyadari sesuatu. Aku lupa kalau dompet Salma ada di tasku. Tadi dia memintaku untuk membawanya, lalu aku memasukkannya ke dalam tasku.
Aku bangkit dari dudukku dan beranjak ke kamar Vian. Aku tidak mengetuk pintunya, aku membukanya begitu saja. Aku melihatnya sedang berganti pakaian. Aku segera menutup mataku dengan kedua tanganku, aku tidak ingin melihatnya seperti itu.
"Uhm ... Maaf, maaf, aku tidak tahu kalau kamu sedang ganti baju. Aku lupa mengetuk pintu kamarmu, seharusnya aku meng–" belum sempat aku melanjutkan kata-kataku yang bertele-tele itu, dia sudah melontarkan pertanyaan.
"Apa yang kamu inginkan, Sadiya?" tanyanya. Aku menundukkan wajahku, melihat kakiku sendiri. Aku merasa sangat malu.
"Bolehkah aku ... Bolehkah aku meminjam ponselmu, sebentar saja?" tanyaku.
"Ya, boleh," jawabnya singkat sembari mengambil ponselnya di nakas lalu memberikannya padaku.
"Terimakasih," ucapku sembari meraih ponsel itu darinya. Tanpa sengaja, jari-jemari kami saling bersentuhan. Tiba-tiba ada perasaan aneh menjalar ke tubuhku. Perasaan apa ini? Apakah dia merasakan hal yang sama? Pikirku. Aku jadi salah tingkah, lalu aku segera keluar dari kamarnya.
Aku melangkahkan kakiku menuju ruang tengah lalu aku duduk di dipan. Baru saja aku akan menekan tombol panggil untuk memanggil Salma. Ponsel itu berdering menandakan ada panggilan masuk. Tertera nama Alex di layar ponsel itu. Hatiku tergerak untuk menerima panggilan itu. Aku segera menggeser tombol hijau di layar. Seseorang di seberang sana langsung berbicara. Aku terdiam mendengarkan.
"Hei, pengecut! Dengar ya! Kalau kau tidak memberikanku semua paket-paket dan uang itu dalam dua hari, aku akan mengambil semua yang kau punya dengan paksa. Kau tidak akan bisa menyelamatkan diri. Ingat itu!"
Suara itu! Suara itu adalah suara pria menyeramkan yang menemuiku waktu itu. Perasaanku mengatakan bahwa dia ada di sekitar sini, dan tanganku mulai gemetar sambil memegang ponsel itu. Aku memejamkan mata sesaat, meyakinkan diri sendiri bahwa dia tidak ada di sini. Dia hanya bicara melalui sambungan telepon.
__ADS_1
"Kenapa kau diam saja, pengecut?! Lihat saja nanti kalau kau tidak memberikan semuanya padaku. Aku akan mengambil semua yang kau punya. Termasuk istrimu yang cantik itu!" ucapnya. Sambungan telepon itu terputus. Aku menatap ponsel itu lebar-lebar. Apa yang baru saja terjadi? Rasa takut kembali menghantui pikiranku. Bagaimana jika dia benar-benar melakukan sesuatu yang buruk terhadap Vian? Haruskah aku memberitahunya? Tentu saja, aku harus memberitahunya!
Aku melangkahkan satu kakiku menuju kamar Vian. Namun langkahku selanjutnya terhenti. Ah, tidak. Aku tidak perlu memberitahunya. Lebih baik aku tidak memberitahunya lebih dulu. Kondisinya sedang tidak baik sekarang. Aku takut dia kembali melakukan hal bodoh seperti tadi jika aku menambah masalahnya. Ya, aku tidak akan memberitahunya sekarang.
***
Hari ini adalah hari kedua setelah pria menyeramkan itu menelepon. Tapi aku masih belum berani menceritakannya pada Vian. Dua hari terakhir ini aku menyibukkan diri membaca buku yang diberikan oleh wanita asing itu. Aku mulai berubah menjadi lebih baik setelah membaca buku itu. Aku mulai melakukan sholat tepat waktu, lima kali sehari. Dan aku sangat termotivasi, aku tidak lagi menganggap sholat seperti beban untukku. Aku merasa semua ini berkat buku yang kubaca itu. Aku kembali mengingat sepotong kalimat dari buku itu yang terasa begitu menyentuh hati.
"Shalat adalah obat bagi jiwa yang hampa, pikiran yang bimbang, dan hati yang terluka.
Kenapa hatiku tak mau berlama-lama menikmati sholat? Ibnul Qoyyim s berkata, "Seseorang yang hatinya kosong dari (mengingat) Allah dan akhirat akan diuji dengan kecintaan terhadap dunia. Perkara yang paling berat baginya adalah sholat, yang paling ia benci adalah berlama-lama di dalam sholat."
Kalau hidupmu tidak menjadikan sholat sebagai penghapus dosa, maka dosa akan menghapus salat dalam hidupmu.
Seandainya ada sebuah sungai di depan rumah, lalu mandi di sana setiap hari lima kali, bagaimana keadaan diri seseorang? Apakah ada tersisa kotoran di badannya? Tentu saja tidak. Inilah ibarat keutamaan shalat lima waktu.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Tahukah kalian, seandainya ada sebuah sungai di dekat pintu salah seorang di antara kalian, lalu ia mandi dari air sungai itu setiap hari lima kali, apakah akan tersisa kotorannya walau sedikit?” Para sahabat menjawab, “Tidak akan tersisa sedikit pun kotorannya.” Beliau berkata, “Maka begitulah perumpamaan shalat lima waktu, dengannya Allah menghapuskan dosa.”
(HR. Bukhari no. 528 dan Muslim no. 667)
__ADS_1
Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu,
“Permisalan shalat yang lima waktu itu seperti sebuah sungai yang mengalir melimpah di dekat pintu rumah salah seorang di antara kalian. Ia mandi dari air sungai itu setiap hari lima kali.” Al Hasan berkata, “Tentu tidak tersisa kotoran sedikit pun (di badannya).” (HR. Muslim no. 668).
Dua hadits di atas menerangkan tentang keutamaan shalat lima waktu di mana dari shalat tersebut bisa diraih pengampunan dosa. Namun hal itu dengan syarat, shalat tersebut dikerjakan dengan sempurna memenuhi syarat, rukun, dan aturan-aturannya. Dari shalat tersebut bisa menghapuskan dosa kecil -menurut jumhur ulama-, sedangkan dosa besar mesti dengan taubat.
Seorang sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, “Amalan apa yang paling baik di sisi Allah wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Ialah shalat tepat pada waktunya.”
Jika kaki yang kamu miliki saja tidak bisa membawamu mendatangi shalat, lalu bagaimana kamu mengharapkan kakimu itu akan membawamu ke surga?
Jangan pernah melewatkan sholat. Karena ada jutaan manusia di alam kubur yang ingin dihidupkan kembali hanya untuk bersujud kepada Allah sekali lagi."
Kata-kata itu membuatku benar-benar tersadar akan pentingnya sholat. Aku berharap, suatu saat Vian akan melakukannya juga.
***
Aku beranjak pergi ke dapur. Aku membuka kulkas, tapi tidak ada apa-apa. Aku mengambil beberapa lembar uang yang diberikan oleh Vian waktu itu. Vian sedang tidak di rumah. Aku memutuskan untuk pergi ke supermarket untuk membeli beberapa keperluan dapur.
Pintu depan sudah terbuka dari tadi. Aku melangkahkan kakiku ke luar. Aku benar-benar terkejut. Tiba-tiba ada yang memegang tanganku dari samping. Sedangkan tangan yang satunya lagi dengan cepat membekap mulutku. Aku berusaha untuk melepaskan diri dari cengkramanya. Aku melompat dan menendangkan kakiku ke segala arah. Namun semuanya sia-sia.
"Diam! Atau, aku akan membunuh orang yang kamu cintai itu!" bisiknya di telingaku. Mataku terbelalak dan rasanya aku tak bisa bernafas lagi. Alex, dia datang!
__ADS_1