Cinta Bersemi Di Turki

Cinta Bersemi Di Turki
Aku Mencintaimu, Vian


__ADS_3

Namun, sebelum Liza mengacungkan telunjuknya ke wajahku. Vian tiba-tiba berdiri menghalanginya.


"Hanya karena aku mengizinkanmu tinggal di sini, bukan berarti kamu bisa berbicara seperti itu kepada istriku," ucapnya tegas dan aku tersenyum.


Liza menatap Vian dengan mata melebar, dan dia mengangguk perlahan. Dia terlihat begitu terkejut melihat Vian seperti itu. Apa dia baru tahu kalau Vian bipolar?


Aku setengah tersenyum pada Liza, lalu menuntunnya ke ruang tamu. Kami memiliki banyak kamar di rumah ini, jadi dia bisa tidur di salah satu kamar. Aku membawanya ke kamar yang jauh dari kamar Vian. Aku mengambil beberapa piyama tamu dari lemari lalu meletakkannya di tempat tidurnya.


"Jika kamu butuh sesuatu, tanyakan saja," ucapku sembari pergi. Namun, tepat sebelum aku keluar dari pintu, dia meraih lenganku.


"Jangan. Sentuh. Aku." ucapku sambil mendorong lengannya menjauh dari tanganku.


"Aku tidak akan melepaskan dia begitu saja, kamu mengerti? Aku tidak akan pernah membiarkannya pergi dariku!" ucapnya dan aku tersenyum. Sesaat kemudian, benar-benar tertawa. Oh ya, benarkah? Ucapku dalam hati.


"Baiklah. Sekarang, dengarkan ... Aku tidak tahu dari mana kamu mendapatkan kepercayaan diri seperti itu. Aku bersikap baik padamu, karena kamu adalah tamu di sini. Tamu, untuk satu malam. Apakah kamu diusir dari tempat tinggalmu? Karena itu kamu tidak tahu harus tinggal di mana lagi, akhirnya memilih tinggal di sini? Oh, kasihan," ucapku sambil mencebik mengejeknya.


Kata-kata itu seolah keluar dari mulutku begitu saja. Bukannya aku ingin bersikap buruk padanya, namun aku hanya ingin membela harga diriku saja. Tidak semudah itu, merebut suami orang, merebut apa yang sudah kumiliki. Aku tidak selemah itu.


Aku beranjak ke kamarku. Kulihat Vian berbaring di tempat tidur dengan ponsel di tangannya.


"Aku harus bekerja besok. Kamu juga?" Aku bertanya padanya. Dia menatapku sesaat lalu melihat kembali ke ponselnya.


"Aku juga. Aku akan mengantarmu," ucapnya dan aku tersenyum.


Aku mengambil baju tidurku lalu berganti di kamar mandi dan berwudhu sebelum kembali. Setelah itu, aku mengambil mukena dan memakainya, lalu mulai sholat.

__ADS_1


Aku merasakan mata Vian menatapku selama aku masih sholat, namun aku mengabaikannya. Setelah aku selesai sholat dan hendak melepas mukenahku, Vian berbicara.


"Maaf ..." ucapnya. Aku tersentak mendengarnya. Maaf? Untuk apa? Pikirku.


"Maaf, aku membawa Liza ke sini. Tapi, dia benar-benar kebingungan. Dia tidak punya tempat lain untuk menginap," ucapnya.


"Ohh ...Tidak apa-apa, aku mengerti," ucapku sambil mengalihkan pandanganku ke arahnya. Kulihat Vian menatapku dengan mata melebar.


"Tidak perlu melihatku seperti itu. Aku tidak apa-apa, kok," ucapku dan dia hanya mengangguk.


Setelah itu, semua terdiam. Kami tidak bicara sepatah kata pun lagi. Dan, itu membuatku merasa tidak nyaman.


Aku masih duduk di tepi tempat tidur, sementara Vian masih berbaring sambil memainkan ponselnya. Aku memutuskan untuk berbaring juga di sampingnya. Aku berbaring membelakanginya.


"Besok .. Bisakah kita bicara besok?" ucapnya tiba-tiba.


"Tolonglah, ada sesuatu yang penting, yang ingin aku bicarakan denganmu," ucapnya.


"Oke," jawabku. Beberapa detik kemudian, aku merasakan sepasang lengan melingkar di pinggangku, dan kepalanya bersandar di punggungku.


"Terima kasih, karena kamu selalu ada untukku," ucapnya. Aku berbalik menghadapnya.


"Terima kasih juga, kamu sudah ada di sana bersamaku .. Maksudku, di rumah sakit .." ucapku. Dia mengangguk lalu menutup matanya.


Aku tidak tahu jam berapa sekarang. Tapi, yang kutahu, ini sudah sangat larut malam.

__ADS_1


Vian sudah tertidur pulas. Namun, aku sama sekali belum bisa memejamkan mata. Aku mempertahankan wajahnya. Dia sangat tampan. Sangat sangat tampan. Wajar saja, jika banyak wanita di luar sana yang menyukainya. Apalagi setelah menatap netra cokelat terang miliknya.


"Hari ini .. Hari ini, ketika kamu ada di sana bersamaku, aku menyadari bahwa kamu akan selalu bersamaku, apa pun yang terjadi. Terima kasih, Vian .. Ketika aku menyanyikan lagu itu, aku menyadari bahwa aku mencintaimu. Aku tidak tahu bagaimana rasanya cinta atau apapun itu, tapi sesuatu di dalam diriku berteriak bahwa aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu! Dan aku percaya itu. Aku percaya bahwa aku mencintaimu! Karena jantung berdetak lebih kencang saat kamu berda di dekatku. Karena aku selalu bahagia saat melihatmu. Karena aku juga selalu terluka saat kau terluka. Tapi saat aku melihatmu bersamanya, aku sadar itu hanya sementara. Aku tahu kamu mungkin belum bisa melupakannya."


"Aku bahkan tidak ingin memikirkan apa yang akan terjadi setelah kamu mulai memaafkan gadis itu. Gadis yang telah berbohong padamu, yang kamu kira sudah mati, tapi dia masih hidup selama ini."


"Aku sangat ingin kamu percaya kepada Allah lagi. Beriman kepada Allah lagi. Namun, aku sangat bersyukur kepada Allah setiap hari, karena Allah telah memberiku kamu. Kamu adalah hadiah terindah yang Tuhan berikan padaku. Ini mungkin terdengar bodoh karena kita tidak pernah akur sebelumnya, dan kita dipaksa menjalani pernikahan ini. Tapi sekarang, aku .. aku merasakan seperti apa rasanya berada di dekatmu. Aku merasa begitu nyaman saat bersamamu. Aku mencintaimu .." ucapku sambil menyeka air mata yang mengalir di pipiku, lalu mendekatkan kepalaku di ceruk lehernya.


Vian memelukku erat, dan aku memejamkan mata lalu terlelap.


***


Aku mendengar suara-suara di sampingku, jadi aku membuka mataku perlahan. Aku mengerang ketika sinar matahari menerpa mataku lalu aku memejamkan mataku lagi.


"Hamzah, jika kau meneleponku lagi di pagi hari aku akan mencubit ginjalmu!" Aku mendengar Vian berteriak, dia sedang bercanda di telepon. Aku tersenyum dan berbalik ke arahnya, melingkarkan lenganku di pinggangnya.


"Hamzah, sudahlah sana. Pergi habiskan waktu dengan istrimu, atau nanti dia akan berpikir bahwa kamu selingkuh denganku," ucapnya dan aku tertawa. Setelah itu dia mengakhiri panggilan dan meletakkan telapak tangannya di lenganku yang ada di pinggangnya. Aku menyandarkan kepalaku di dadanya dan dia memainkan rambutku.


"Jam berapa kamu harus berada di kantor?" tanyanya dan aku mendongak menatapnya.


"Nanti sore," jawabku. Dia tidak mengatakan apa-apa lagi dan kami berbaring seperti itu selama satu jam lagi.


Setelah aku merasa bosan berbaring di sampingnya, aku duduk lalu menyisir rambutku yang kusut dengan jari-jariku.


Aku menoleh ke arah Vian. Semuanya telah kembali, senyuman di wajahnya telah kembali. Dia menatapku, dan aku merasa wajahku memanas, lalu aku menghindari tatapannya.

__ADS_1


"Aku mau mandi dulu," ucapnya.


"Dan, bersikap baiklah padanya," ucapnya kemudian dan aku mengangguk. Aku berdiri dan berjalan ke dapur.


__ADS_2