Cinta Bersemi Di Turki

Cinta Bersemi Di Turki
Petir


__ADS_3

"Ini mungkin akan terasa sedikit menyengat," kataku saat aku membersihkan luka di dadanya dengan menggosokkan kapas yang telah kuberi alkohol. Dia tetap diam, dan ekspresinya tidak berubah saat aku menggosok dadanya dengan cairan alkohol itu. Apakah dia tidak merasa sakit? Pikirku.


Beberapa menit kemudian, aku telah selesai mengobatinya. Aku masih duduk di dekatnya. Dia masih saja diam. Aku memainkan jari-jemariku karena aku tidak tahu lagi harus berbuat apa atau harus pergi kemana. Aku tidak bisa berdiri untuk pergi meninggalkannya sendiri. Entah kenapa, aku tidak tahu. Seolah-olah hatiku mengatakan untuk tidak berdiri dan pergi darinya. Bahkan, rasanya kakiku tidak bisa digerakkan. Aku mengalihkan pandanganku ke arahnya. Aku melihat dia menatapku. Entah sejak kapan dia menatapku, mungkin karena itulah aku tidak bisa bergerak. Aku segera menunduk, ada rasa tak nyaman ditatap seperti itu olehnya.


"Kenapa kamu melakukan ini?" Dia tiba-tiba bertanya padaku. Aku kembali mengalihkan pandanganku ke arahnya. Aku melihatnya menatapku dalam-dalam. Melakukan apa? Pikirku bingung.


"Apa?" tanyaku sambil menatapnya bingung. Memangnya apa yang telah kulakukan? Pikirku, sambil kembali menundukkan wajahku.


"Mengobatiku ... Kenapa kamu begitu peduli denganku?" tanyanya. Aku mengambil nafas dalam-dalam lalu mendongak ke arahnya. Aku melihat wajahnya. Ekspresinya sangat aneh, hingga aku sendiri tak tahu apa yang dipikirkannya.


"Aku peduli karena kamu juga manusia. Sesama manusia kita harus saling tolong menolong, bukan begitu?" jawabku. Dia terlihat tidak puas dengan jawabanku. Dia mencondongkan tubuhnya ke arahku.


"Beri aku jawaban yang benar!" ucapnya tegas, dia masih menatapku lekat-lekat. Aku menatapnya sekilas lalu menggeser dudukku sedikit menjauh darinya. Aku memikirkan kata apa yang pas untuk menjawabnya.


"Karena ... Meskipun kita tidak menginginkan ini. Tapi, kita saling bertanggungjawab satu sama lain. Aku tidak bisa melihatmu pulang dengan keadaaan seperti itu. Dan, aku tidak membencimu sebesar itu ... sebesar bencimu padaku," ucapku lirih. Aku melihatnya. Dia kembali berekspresi aneh, aku tidak tahu apa maksudnya dari ekspresi itu. Aku tidak tahu, apakah dia menganggap pernyataanku ini lucu, atau dia merasakan sesuatu yang berbeda.

__ADS_1


"Kenapa begitu? Aku kan selalu jahat padamu. Kamu bisa mengambil keuntungan dengan membiarkanku terluka. Anggap saja seperti balas dendam," ucapnya. Aku bangkit dari dudukku dan beranjak pergi. Kata-katanya sangat aneh, aku tidak suka itu.


"Balas dendam? Tidak, aku tidak akan melakukannya," ucapku sambil melangkah gontai ke kamarku. Aku mengambil piyamaku dari lemari pakaian, lalu pergi ke kamar mandi. Aku merasa sangat gerah dan ingin segera mengguyur tubuhku dengan air. Setelah selesai mandi. Perutku keroncongan, aku merasa sangat lapar. Aku memutuskan untuk makan setelah mengenakan pakaian.


Setelah selesai berpakaian, aku berjalan ke ruang tengah. Dapur dan ruang tengah di rumah ini dibuat tanpa pembatas. Jadi, terlihat lebih luas. Ketika aku beranjak ke dapur, aku melihat Vian makan dengan lahap seolah-olah sudah bertahun-tahun tidak makan.


Aku hampir tertawa saat dia melihatku dan beberapa bulir makanan terjatuh dari mulutnya. Wajahnya sedikit memerah menyadari aku memperhatikannya, namun dia tetap diam dan melanjutkan makan.


Aku mengambil piring untuk kami berdua dari rak, lalu aku meletakkan masakanku di atasnya dan membawanya ke meja makan di ruang tengah. Lalu aku kembali ke dapur dan meraih lengan Vian, membawanya ke meja makan, tak peduli dia berdesis kesakitan. Dia terlihat sedikit terganggu dengan sikapku.


"Kenapa?" tanyaku sambil tersenyum geli. Namun dia hanya menggelengkan kepalanya.


Aku kembali ingin bertanya tentang perkelahiannya tadi. Tapi kupikir-pikir lagi, lebih baik aku bertanya di lain waktu saja. Kami tidak bicara apa-apa lagi setelah dia membuat lelucon tak masuk akal itu. Dan, setelah selesai makan dia beranjak ke kamarnya untuk tidur.


Setelah selesai mencuci piring, aku beranjak ke kamarku dan berbagai di ranjang. Aku mendengar suara hujan turun dengan deras di luar. Rasa takut perlahan menjalar di tubuhku. Ingatan tentang masa laluku kembali menghantui pikiranku. Aku sangat takut dengan suara petir, karena mereka, 'keluargaku' akan memukulku lebih keras dari biasanya di saat petir menggelar, karena para tetangga tidak akan bisa mendengar teriakanku yang terhalang suara petir dan gemuruh hujan.

__ADS_1


"Kamu benar-benar tidak berguna!" Ia berteriak sambil menendang perutku. Lalu Husam masuk ke kamarku membawa kayu besar. Aku memejamkan mataku, tak ingin melihat tatapan mematikan dari mata mereka. Kemudian rasa sakit mulai kurasakan menghantam di sekujur tubuhku. Hingga aku tak dapat menahannya lagi.


Jlegar!! Aku tersentak kaget mendengar suara petir itu. Aku menutup telingaku dengan kedua tanganku. Aku meringkuk di sudut ranjangku, berusaha sebisa mungkin agar tidak mendengar suara petir itu. Aku membaca doa dalam hati, berharap agar tak ada lagi petir dan hujan segera mereda.


Tubuhku mulai menggigil ketakutan. Suara petir kembali menggelegar mengagetkanku. Jantungku berdegup kencang tak beraturan. Rasa takut benar-benar merasuki pikiranku, dan aku mulai menarik-narik rambutku dengan jari jemariku.


'Tidak! Jangan! Jangan pukul aku ... Sakit! Sakit! Ampun ... ' Aku tergugu mengingat semua pukulan demi pukulan yang mendarat di tubuhku. Aku sangat takut. Aku sangat takut. Aku sangat takut. Sangat Takut. Hanya kata 'takut' yang bisa kukatakan. Lalu tanpa sadar aku berteriak memanggil Vian.


"Viaann!!!" teriakku sekeras mungkin.


Hanya beberapa detik kemudian, tiba-tiba Vian telah berada di sampingku. Dia menatapku dan terlihat tak tahu harus melakukan apa. Aku masih menangis, mengingat semua kejadian di masa laluku sambil berteriak memohon kepada mereka untuk berhenti memukulku. Aku berteriak seolah dapat merasakan rasa sakit itu lagi.


Aku masih berteriak, hingga aku tidak menyadari bahwa aku telah berada dalam pelukan Vian. Dia mengangkat tubuhku dengan kedua tangannya lalu berjalan membawaku ke kamarnya. Aku melingkarkan kedua tanganku ke bahunya dan membenamkan wajahku di dadanya. Aku masih merasa sangat takut.


Aku tidak menginginkan apa-apa lagi selain pelukannya dan rasa nyaman saat berada bersamanya. Aku ingin waktu berhenti berputar saat ini. Sehingga aku tidak perlu mengingat masa laluku kembali. Aku ingin semuanya hilang dari ingatanku. Hilang dan tidak pernah muncul kembali.

__ADS_1


Dia duduk di tepi ranjangnya dan meletakkan tubuhku dengan perlahan. Sedang aku masih tersedu dengan tangisku.


"Ssshh .... Tenanglah, semuanya akan baik-baik saja." Dia mengatakan hal itu lagi dan lagi. Sehingga membuatku merasa nyaman dalam dekapannya. Aku dapat merasakan kehangatan tubuhnya. Aku tidak ingin dia pergi.


__ADS_2