Cinta Bersemi Di Turki

Cinta Bersemi Di Turki
Pemuda Asing itu


__ADS_3

Aku sudah keluar dari rumah sakit selama kurang lebih satu minggu hingga sekarang.


Aku bertanya kepada Vian tentang apa yang terjadi pada Husam, tetapi dia mengabaikanku.


Minggu terakhir ini kami baik-baik saja. Dia tidak terlalu dekat denganku, tapi juga tidak sedingin biasanya. Dia bipolar, dan aku rasa aku terjebak dengan itu. Terkadang sikapnya sangat baik, tapi kadang-kadang dia bisa sangat mengerikan.


“Sadiya, bersiap-siaplah sekarang!” ucap Vian saat aku sedang membersihkan rumah dan menata tanaman hias di teras.


Aku mengabaikannya karena aku sedang sibuk menata beberapa tanaman hias di teras rumah. Aku sangat suka keindahan seperti ini, terasa seolah damai saat dilihat dengan mata. Meskipun tidak dengan kehidupanku. Atau, apakah suatu saat nanti itu akan terjadi? Kapan itu akan terjadi? Mungkin hanya dalam mimpi saja. Aku mengambil nafas dalam-dalam lalu melepaskannya, berharap semua beban hidupku juga terbuang bersama keluarnya nafas itu.


"Sadiya!" Dia berteriak lagi dan aku berbalik, menatap matanya.


“Ayo bersiap-siap sekarang juga. Kita mau ke mall sekarang,” ucapnya sambil menjauh.


"Kenapa kita ke mall?" tanyaku dengan heran, tidak biasanya dia mengajakku ke mall.


"Aku akan membelikanmu pakaian," jawabnya santai sembari berlalu meninggalkanku yang masih berdiri mematung.


Aku pikir, mungkin dia melihat isi lemari bajuku yang hampir kosong. Aku senang, ternyata dia masih memperhatikanku, tetapi aku merasa agak gugup. Aku tidak ingin mempermalukan diri sendiri, aku tidak ingin dia membelanjakan uangnya untukku. Tapi aku tidak tahu bagaimana untuk menolaknya.


***


"Vian, dari mana kamu mendapatkan semua uang ini?" Aku bertanya ketika dia memaksaku untuk mencoba gaun mahal. Aku bahkan tidak ingin mencobanya tetapi dia menatapku dengan tatapan yang seolah tidak memberiku pilihan lain.


"Ayahku punya bisnis sendiri. Kami mendesain pakaian pria dan menjualnya ke merek-merek di seluruh dunia. Tahun depan aku akan mengambil alih. Dan ... yah, aku memang terlahir kaya," jawabnya sedikit membanggakan diri.


Benarkah itu? Dia kaya? Tapi ... tapi kenapa dia terlibat dengan geng kalau dia sudah punya uang? Ah sudahlah! Kenapa aku harus memikirkannya?


Aku memutuskan untuk tidak bertanya karena ini bukan waktu dan tempat yang pas, jadi aku segera pergi ke ruang ganti dan mencoba gaun itu. Itu adalah gaun panjang yang menutupi seluruh tubuhku.


Sedikit sempit di bagian sisi bajunya, tetapi itu tidak terlalu sempit, tapi orang bisa melihat sedikit lekuk tubuhku.

__ADS_1


Aku melemparkan pandangan terakhir ke cermin dan berusaha membiarkan Vian melihat. Dia melihat dari ujung kepala sampai ujung kaki membuatku menjadi sedikit tidak nyaman.


"Bagaimana?" tanyaku padanya, aku sangat ingin tahu apakah dia menyukainya.


"Tidak bagus," katanya.


Aku langsung merasa tidak enak. Aku seharusnya tahu kalau aku tidak cantik jadi mana mungkin gaun ini terlihat cocok untukku.


"Tidak, bukan itu maksudku. Kamu terlihat cantik, tapi baju itu agak ketat," ucapnya kemudian.


Aku mengangguk dan segera berbalik untuk menyembunyikan wajahku yang memerah karena pujian yang dia buat.


***


Setelah berbelanja kami pergi ke restoran untuk makan siang. Kami makan bersama, tapi hanya diam-diam saja, membuatku tidak tahan lagi untuk bicara.


"Vian, aku ingin menanyakan sesuatu," ucapku tiba-tiba.


"Lanjutkan perkataanmu, mau tanya apa hah?" katanya setelah mengerutkan kening karena aku tiba-tiba mengelap dagunya.


"Sebelumnya, kamu selalu bilang 'jangan sentuh aku'. Kenapa?" Aku memberanikan diri untuk bertanya. Dia berhenti makan.


"Itu semua ... karena Li-" dia tidak melanjutkan. Sepertinya dia takut untuk mengatakannya.


Dia berdiri sembari meletakkan uang di atas meja, lalu keluar. Aku melihatnya dengan tidak percaya, lalu segera mengejarnya. Aku segera menangkap lengannya.


Saat itu sedang hujan deras tetapi aku tidak peduli dan aku senang kami meninggalkan barang-barang yang kami beli di dalam mobil.


"Vian, tunggu!" teriakku tapi dia berjalan sangat cepat.


Aku berlari lebih cepat dan akhirnya berhasil melangkah di depannya. Dia tidak mencoba lari lagi tetapi tetap tidak mau melihatku.

__ADS_1


"Maaf, aku hanya-" aku bahkan tidak bisa menyelesaikan apa yang akan kukatakan.


"Tidakkah kamu mengerti?! Sulit bagiku! Berpura-pura tidak ada yang terjadi itu sulit dan menyakitkan! Sungguh menyakitkan menyentuhmu meskipun tidak dengan cara yang romantis. Karena, aku telah berjanji, di lubuk hatiku yang paling dalam, aku telah berjanji atas nama cinta dalam hidupku bahwa aku tidak akan pernah ... tidak akan pernah menyentuh gadis lain, selain Liza," ucapnya lalu berjalan ke mobil tanpa melihatku sama sekali.


Dia bahkan tidak menungguku untuk masuk ke mobilnya, mobilnya melaju begitu saja. Air mataku sudah mengalir deras. Dia kembali membuat semuanya terasa begitu sulit bagiku. Aku ingin menjadi orang baik dan menjadikannya orang baik juga, tetapi dia tidak mengizinkanku melakukannya.


Mungkin aku memang tidak pantas walau sekedar memiliki teman. Bahkan suara aneh yang selalu berbicara kepadaku dan memberiku nasihat itu, sekarang tidak berbicara lagi denganku.


Aku duduk di tanah sambil memeluk lututku. Dasar aku yang berguna! Aku yang jelek! Aku yang menyedihkan! Setiap kata yang mereka ucapkan kepadaku kembali terlintas di ingatanku. Aku menutup telingaku karena aku bisa mendengar mereka meneriakkan kata-kata itu kepadaku. Aku memejamkan mata dan membukanya, merasa bahwa suara itu tidak akan berbicara.


Aku membuka mata, dan saat itulah aku melihat sebuah tangan mengulurkan tangan kepadaku.


Ketika aku mendongak, aku melihat seorang pemuda yang waktu itu pernah aku lihat di bus dan di mall saat aku bersama Salma. Seorang pemuda yang membuatku merasakan sesuatu yang aneh.


"Siapa .. siapa kamu?" tanyaku sambil mencoba untuk berdiri sendiri, mengabaikan uluran tangannya.


Dia tersenyum sedikit. Dia aneh dan asing. Tetapi, entah kenapa aku tidak merasa takut berhadapan dengannya, tidak seperti ketika aku berhadapan dengan orang asing biasanya.


"Namaku Kenzo," ucapnya.


Saat itu masih hujan dan kami berdiri di bawah hujan. Aku merasakan ada ketegangan di udara, berbeda dari yang pernah kurasakan sebelumnya. Hal itu membuatku bertanya-tanya apa itu. Itu adalah sebuah perasaan yang aneh. Sebuah perasaan yang tidak bisa kujelaskan, karena tidak ada satu pun kata yang tepat untuk menerangkannya.


Dia menatapku dengan mata cokelat tua dan tersenyum seolah dia tidak bisa menggerakkan wajahnya untuk berhenti tersenyum, seperti anak kecil yang baru saja menemukan mainannya yang telah lama hilang.


"Aku pernah melihatmu sebelumnya," kataku dengan sedikit gugup.


Dia tersenyum sambil mendekati telingaku.


"Jangan biarkan siapa pun menyakitimu. Kita akan bertemu lagi," ucapnya.


Dia mengelus kepalaku. Setelah itu, dia pergi. Aku menoleh ke arahnya dan melihat dia pergi menjauh.

__ADS_1


__ADS_2