
Aku melihat ke arah Kevin. Dia terlihat tegang sambil mengendarai mobilnya. Aku butuh jawaban tentang siapa aku, aku meyakinkan diriku lagi.
"Berapa usiamu?" Aku bertanya padanya. Dia menatapku kesal lalu memalingkan wajahnya dariku. Aku pikir dia tidak akan menjawab pertanyaanku, ternyata tidak.
"Dua puluh lima," jawabnya beberapa saat kemudian. Dua puluh lima? Jadi dia lebih tua. Tapi itu jelas, dia terlihat sangat tinggi dan kekar. Sama sekali tidak mirip dengan Kenzo. Mereka benar-benar berbeda.
"Lalu, berapa umurku?" Aku bertanya lagi padanya. Dia menatapku keheranan.
"Kamu bertanya padaku?" tanyanya sambil tertawa tanpa henti. Aku menatapnya sesaat, lalu segera mengalihkan pandanganku. Aku merasa sedikit kesal.
"Aku bahkan tidak tahu siapa aku, bagaimana aku bisa tahu itu?" tanyaku pelan. Dia menarik napas dalam setelah berhenti tertawa, lalu menatapku.
"Kenzo berumur delapan belas tahun sekarang. Dua bulan lagi, umurnya akan bertambah menjadi sembilan belas tahun," ucapnya sambil mengalihkan pandangannya dariku.
Umurku sekarang delapan belas tahun juga. Itu berarti orang tua angkatku tidak mengubah usiaku.
Tapi aku yakin orang yang ada di sampingku ini, orang yang telah menodongkan pistolnya ke kepalaku itu pasti bukan saudaraku! Tapi dia adalah kakaknya Kenzo, itu berarti dia kakakku juga. Ah, tidak-tidak.
Tapi, aku tidak tahu! Dia kakakku? Iya, tentu saja! Tidak! Tidak!
"Berhenti!" Aku berteriak dan Kevin segera menghentikan mobil lalu menatapku untuk melihat ada apa. Aku terengah-engah dan memejamkan mata.
"Ada apa?" Kevin bertanya dengan nada berbeda. Sepertinya dia terdengar peduli. Ah, tidak! Mana mungkin dia peduli.
"Aku berteriak pada suara-suara di kepalaku untuk berhenti, bukan padamu ..." ucapku dengan sedikit merasa malu. Dia tidak mengatakan apa-apa dan mulai mengemudi lagi.
Aku mencoba untuk mengatur napas. Aku memikirkan tentang 'ibu'ku. Dia terlihat seperti apa? Apakah dia akan memelukku? Lalu, kenapa dia tidak menginginkanku dan malah memberikanku pada orang lain?
__ADS_1
Ya ampun, apa yang aku pikirkan? Ibu? Pelukan? Tidak! Mereka bukan keluargaku! Dan, seorang ibu tidak akan pernah membuang anaknya.
"Berapa banyak saudara yang kamu miliki?" tanyaku ingin tahu. Jika mereka memang keluargaku, aku harus tahu semuanya.
"Hanya aku dan Kenzo," ucapnya sambil mengeraskan kata 'hanya'. Itu benar-benar membuatku kesal. Aku tahu dia tidak menginginkanku, tetapi setidaknya dia bisa menghargaiku.
"Jangan khawatir. Aku juga tidak percaya ini semua!" ucapku.
Beberapa saat kemudian, dia memarkirkan mobilnya di depan sebuah rumah. Aku menatap rumah itu. Rumah itu terlihat sangat nyaman untuk dihuni.
Entah siapa yang tinggal di sana dan merawat rumah itu hingga terlihat seindah itu. Apakah itu rumah mereka?
Aku tidak tahu siapa yang tinggal di sana, dan apakah itu rumah mereka, tapi rasanya .. berbeda. Rasanya aku bisa merasakan kehangatan menyelimutiku, meski aku tidak pernah masuk ke dalam.
Kevin menarik tanganku ke sebuah ruangan dan sebelum dia membuka pintu yang lain, aku menarik napas dalam-dalam. Saat itulah pintu terbuka dan aku melihatnya .. Dia. Dia menatapku dengan mata lebar. Kami berdua membeku. Dia ...
Aku takut bahwa apa yang kupikirkan itu memang benar. Aku akan kembali hancur ketika mereka mengatakan bahwa mereka telah dengan sengaja meninggalkanku, mereka tidak menginginkanku. Mereka juga akan memukulimu, sama seperti keluarga angkatku. Aku tidak menginginkan ini.
Aku memejamkan mata dan mencoba berkonsentrasi pada pernapasanku. Saat aku membuka mataku, aku melihatnya masih menatapku. Mata keriput itu seolah menganggarkan begitu banyak cerita. Rasa sakit, sedih, dan yang paling aneh ... kebahagiaan.
Tiba-tiba aku tersadar dari pikiranku. Aku menggelengkan kepalaku dan dengan cepat berbalik. Aku harus keluar dari sini. Aku tidak bisa melakukan ini. Aku belum siap. Aku mulai melangkahkan kakiku untuk pergi ...
"Khanza ..." panggilnya dengan lembut.
Suara itu, begitu jernih dan indah mengalun di telingaku seperti melodi. Aku merasa hangat saat mendengarnya. Tiba-tiba hatiku terasa sakit dan air mataku mengalir dari kelopak mataku. Rasanya nyata. Rasanya suara itu seolah akan membuatku bahagia setiap hari. Suara itu seolah begitu dekat denganku, seolah aku pernah mendengarnya sejak aku belum lahir.
Aku tidak bisa menahan perasaan ini lagi. Aku segera membalikkan tubuhku menghadapnya. Aku melihat air mata juga mengalir di wajahnya.
__ADS_1
Aku membuka mulut untuk mengatakan sesuatu. Tapi aku tidak bisa, aku tercekat Rasanya seolah ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokanku. Seolah aku tidak bisa bernapas lagi. Dia ...
Aku tidak butuh tes atau apapun untuk membuktikan bahwa dia ... dia adalah ibuku. Aku merasakan sebuah remasan lembut yang hangat di tanganku, membuat sebuah perasaan aneh menjalar ke sekujur tubuhku. Aku tidak bisa mengalihkan pandanganku dari wanita di depanku ini. Wanita ini... adalah ibuku. Dia melangkahkan kakinya selangkah ke depan.
Aku tidak tahan lagi. Aku menghambur ke arahnya dan segera memeluknya. Ia balas memelukku. Aku merasa sangat aman dan nyaman. Aku memeluknya lebih erat, takut perasaan ini akan memudar. Aku takut kalau ini semua hanya mimpi.
Aku menghirup aroma tubuhnya, seolah aroma yang datang dari surga.
Dia memelukku erat-erat dan aku bisa mendengar isak tangisnya. Itu membuat hatiku terenyuh dan aku mulai menangis juga. Kami duduk diam di tanah .. masih berpelukan. Dia mulai membelai rambutku.
"Khanza .. Oh, Khanza," dia mengulang namaku berulang kali. Aku memejamkan mata, menikmati momen itu. Aku tidak bisa menahannya, meskipun aku tidak ingin mempercayainya, aku tidak pernah bisa menyangkal perasaan ini.
Aku belum pernah merasa sebahagia ini, aku belum pernah merasakan cinta sebesar ini.
Aku menarik diri setelah beberapa saat untuk melihat wajahnya. Matanya merah karena menangis, sama seperti mataku saat aku menangis. Pipinya agak merah, sama sepertiku.
Aku melihat air mata jatuh di wajahnya dan sebelum jatuh, aku mengusapnya. Aku berharap aku bisa menghilangkan semua rasa sakit itu. Semua hal yang telah terjadi. Bertahun-tahun yang terbuang percuma. Sekarang setelah aku berada dalam pelukannya, aku bisa merasakan sesuatu yang telah lama hilang dari hidupku.
Aku tidak bisa mengalihkan pandangan darinya, tetapi aku mencoba. Aku melihat sekeliling dan melihat Kevin duduk di lantai, dengan lutut di tekuk di depan dada dan kepala di antara lututnya.
Lalu aku melihatnya ... Vian. Dia tersenyum padaku dan aku balas tersenyum. Dia ada di sini .. dia tidak meninggalkanku untuk menangani ini sendirian.
Dia ada di sana, untukku. Aku kemudian berdiri, melihat sekeliling untuk terakhir kalinya, tidak menatap mata wanita itu, sebelum berbalik dan berjalan pergi. Aku tidak bisa tinggal di sana lagi. Ini terlalu berlebihan. Aku tidak bisa melakukan ini. Aku sudah mencoba untuk tetap kuat begitu lama tetapi aku tidak bisa lagi. Ketika aku keluar rumah, kehangatan yang menyelimuti seluruh tubuhku hilang. Aku merasa kedinginan, seperti mereka mengeluarkan jiwaku. Kakiku mulai gemetar dan aku melambaikan tanganku di udara untuk menemukan sesuatu untuk dipegang. Tidak ada, tidak ada apa-apa. Aku memejamkan mata dan membiarkanku jatuh, tetapi seseorang dengan sigap menggapai lenganku.
Vian. Dia mengangkat tubuhku dengan kedua tangannya, dan aku ingin melingkarkan lenganku di lehernya, tapi aku tidak bisa. Aku terlalu lemah. Dia membantuku masuk ke mobil dan memakaikan sabuk pengaman. Dia bergegas ke kursi pengemudi tetapi tidak menyalakan mobil. Aku membuka mataku dan menatapnya.
Dia meletakkan dagunya di atas tangannya yang sedang memegang setir, sambil membuang muka seolah sedang berpikir dalam-dalam.
__ADS_1
Kurasa dia merasakan tatapanku karena setelah beberapa saat dia menatapku dan tersenyum. Aku mencoba membalas senyumannya, tetapi seolah otot-otot di tubuhku berhenti bekerja hingga aku tidak bisa apa-apa. Dia membungkuk dan mencium keningku lalu menyalakan mobil. Aku mengabaikan perasaan aneh yang kudapat dari ciumannya dan berpura-pura tidak merasakan hal aneh itu.