
Aku tahu itu hanya lelucon, tapi membuatku kembali berpikir. Cinta? Bahkan aku tidak tahu bagaimana rasanya cinta.
Aku menggelengkan kepalaku sembari bergegas masuk, lalu duduk di samping Vian. Dia memegang beberapa kartu di tangannya, sedang bermain bersama Hamzah.
"Seharusnya kita bermain dengan berkelompok. Aku dan Sadiya, melawan kamu dan Vian," ucap Masara sambil duduk di depanku.
"Tapi, aku tidak tahu bagaimana cara memainkan permainan ini," ucapku pelan, aku tidak ingin mempermalukan diri sendiri. Mereka semua tahu cara memainkannya, tapi aku sendiri tidak.
"Ini mudah ..." ucap Vian sambil mengajariku cara memainkannya. Beberapa saat kemudian, aku mengerti. Kami pun bermain bersama.
Beberapa saat kemudian, Vian dan Hamza melihat satu sama lain dengan sangat serius, lalu terkikik sepanjang waktu. Masara mulai marah-marah, membuatku semakin pusing karena tidak begitu mengerti permainan itu.
"Kalau kalian curang, aku akan memenggal kepala kalian dan memberikannya pada Sadiya," ucap Masara. Aku memutar kedua bola mataku. Tawa Hamzah meledak, padahal itu sama sekali tidak lucu bagiku.
"Apa kamu benar-benar berpikir kalau kamu makan kepada tampanku ini, kamu akan sakit? Tapi, tidak masalah, masih banyak gadis-gadis di luar sana yang suka kepala tampanku yang-"
Aku mulai merasa tak nyaman, aku pun berdiri dan melangkahkan kakiku ke dapur sebelum Vian menyelesaikan ocehannya tentang kepala tampannya.
Aku masih saja mendengar suara tawanya, itu semakin membuatku terganggu. Lagi pula, kenapa mereka membuat lelucon menyeramkan seperti itu?
Aku akan memenggal kepala kalian semua lalu memberinya kepada Hamzah. Ada apa denganku, kenapa berkata seperti Masara? Aku segera menggelengkan kepalaku, mencoba menghilangkan semua pikiran memalukan itu dari kepalaku, lalu aku merebus air untuk membuat teh lagi.
Beberapa saat kemudian, aku kembali dengan membawa teh. Aku melihat Masara dan Hamzah menoleh padaku, wajah mereka sangat serius, tanpa tawa seperti sebelumnya.
__ADS_1
"Itu tidak lucu," ucapku malas. Masara mengangkat alisnya sambil menatapku. Aku membuang muka sambil menghela nafas.
"Aku tidak peduli dengan mereka!" Aku mendengar suara dari sebelah kananku. Aku menoleh dan melihat Vian sedang menatapku. Itu kedengarannya benar, tapi aku tidak tahu apa yang dia maksud. Aku tersenyum tipis sambil berusaha menghentikan kepalaku yang bergeleng-geleng.
"Ya ampun, kalian lucu sekali," ucap Masara. Aku tidak menoleh sedikitpun. Aku memutar bola mataku malas sambil mengambil kartu-kartuku.
"Siapa selanjutnya?"
***
"Apa kamu masih marah?" Aku mendengar suara di belakangku, lalu sepasang lengan melingkar di pinggangku. Aku sedang mencuci piring.
Masara dan Hamzah sudah pergi. Aku tersadar dari lamunanku, namun aku tetap terdiam. Bukannya apa, tapi aku tidak tahu harus berkata apa. Vian membenamkan kepalanya di leherku, membuatku kesulitan mencuci piring.
Dia melihatku kesulitan, namun tetap tidak memindahkan kepalanya. Aku menghela nafas kesal. Aku mengeringkan tanganku dengan serbet lalu berbalik menghadapnya. Dia menatapku dengan tatapan aneh. Aku tidak mengerti arti dari tatapannya, itu membuatku merasa tidak nyaman.
"Hey ..." bisiknya sambil meraih daguku, memaksaku untuk menatapnya.
"Kamu punya hak untuk marah. Aku tidak peduli tentang semua. Apa yang terjadi di sini, sekarang, ini nyata. Dan itulah alasannya," ucapnya.
"Lalu, hubungan kita ini disebut apa, Vian? Kita harus bicara tentang apapun yang telah kita jalani di antara kita," ucapku.
Vian menatapku beberapa saat. Dia mengedipkan sebelah matanya, lalu ekspresi wajahnya berubah. Setelah itu dia pergi ke ruang tengah tanpa mengatakan apapun. Aku menghela nafas.
__ADS_1
Selalu saja seperti ini. Aku tahu, dia begitu mencintai Liza. Seolah-olah Liza telah mengurungnya dalam suatu ruangan, tanpa pintu, hingga tidak ada satu orang pun dapat merebut Vian darinya.
Awalnya, aku tidak pernah memiliki perasaan buruk terhadap gadis itu, namun sekarang aku memulainya. Aku tidak tahu kenapa. Aku tidak ingin melihat Vian tersakiti seperti itu. Aku tidak ingin diberi harapan yang hanya akan membawaku pada kenyataan-kenyataan buruk.
Aku belum berani pergi ke ruang tengah menemuinya, padahal sudah satu jam berlalu. Aku membersihkan seluruh dapur. Bahkan aku mencuci piring dua kali hanya untuk menghabiskan waktu. Aku takut, aku takut memikirkan apa yang akan dia katakan nanti.
Aku menarik nafas dalam-dalam sebelum melangkahkan kakiku ke ruang tengah. Aku harap dia sudah pergi dari sana, tetapi tidak, dia masih duduk di sana sambil menggambar sesuatu di kertas dengan dahi berkerut.
Aku menghampirinya lalu duduk di sampingnya. Dia sedang menggambar seseorang, tapi gambarnya tidak bagus. Aku mengambil kertas dan pensil itu dari tangannya. Aku memperbaikinya, lalu menambahkan beberapa detail pada pakaiannya. Aku merasakan Vian sedang memperhatikanku, tapi aku tidak melihatnya.
Setelah selesai, aku memberikannya kembali kepadanya dan dia melihatnya. Beberapa detik kemudian, dia tersenyum.
"Ini dia!" ucapnya membuatku menatapnya dengan bingung. Dia terlihat sangat bahagia. Aku bingung, kenapa dia sebahagia itu hanya dengan selembar kertas.
"Apa?" Aku bertanya padanya dan dia menatapku.
"Kamu tahu, keluargaku adalah pemilik merek terkenal ini dan ayahku ingin aku menyelesaikan pekerjaan ini. Kami menggambar, mendesain, dan menjual pakaian ke merek-merek kecil. Aku akan mengambil alih bisnis ini dalam sebulan dan ayah memberiku pekerjaan ini untuk diselesaikan, untuk melihat apakah saya bisa melakukannya. Tapi kamu, kamu Sadiya, kamu yang akan bekerja denganku!" ucapnya. Aku benar-benar bingung apa yang dia maksud. Kerja? Aku? Merek? Saat itulah, aku menyadari bahwa aku tidak tahu apa-apa tentang dia. Dia melihat ekspresi bingungku, dia pun memutar bola matanya malas.
"Kami mendesain pakaian pria dan menjualnya dengan harga tinggi. Lihat ini .." ucapnya sambil mengambil kertas dari sisi lain. Itu gambar pria dengan pakaian yang terlihat jelas. Itu terlihat cukup bagus. Jeans itu berwarna coklat dengan sweater biru. Kelihatanya cukup normal, tetapi ada yang berbeda.
"Aku suka ini, tapi sepertinya ada yang kurang. Aku rasa ini belum selesai," ucapnya sambil menatapku untuk memberinya ide. Aku melihat kertas itu sebentar dan mengangguk.
"Sweater itu. Perlu pola," ucapku sembari mengambil kertas itu dan membuat beberapa pola persegi lalu memberikannya pada Vian. Dia melihatnya dan matanya membelalak.
__ADS_1
"Ya! Ini yang dibutuhkan. Aku tidak tahu kalau kamu bisa menggambar dengan baik. Sadiya, kamu akan mendapatkan pekerjaan bagus itu," ucapnya sambil menatap kertas dengan berbinar. Aku tidak merasa nyaman. Rasanya aneh saat dipuji. Tapi aku senang kalau aku bisa membantunya.
Kami bicara sedikit lebih jauh. Dia bercerita tentang bisnis dan hal-hal lain, tapi aku benar-benar tidak mengerti apa-apa jadi dia berhenti menjelaskannya.