Cinta Bersemi Di Turki

Cinta Bersemi Di Turki
Bersama Salma


__ADS_3

"Sadiya, coba lihat yang ini. Ini bagus sekali. Kamu harus membelinya." Salma menunjukkan sebuah tunik panjang berwarna marun padaku. Aku melihatnya lalu tersenyum. Gamis itu memang sangat indah.


"Ah, tidak. Itu lebih cocok denganmu. Lagi pula untuk apa aku membeli baju yang tidak akan pernah kupakai?" kataku sambil berlalu melihat baju-baju lainnya. Hari ini aku pergi berbelanja bersama Salma, setelah kemarin aku meneleponnya. Aku pikir, Vian akan marah padaku. Tapi ternyata dia baik.


"Bolehkah aku pergi ke mall bersama Salma besok?" tanyaku dengan sedikit gugup waktu itu. Sebenarnya aku takut dia tidak akan mengizinkanku, atau dia akan marah. Tapi aku beruntung, ternyata dia tidak sekejam ayah dan kakakku.


"Tentu saja boleh. Tidak masalah," ucapnya waktu itu, membuatku tersenyum lepas.


"Apakah kamu membutuhkan uang?" tanyanya ketika aku masih menyisir rambutku. Aku sibuk menyisir rambutku sambil melihat wajahku di cermin, membayangkan aku memakai jilbab baru.


"Sadiya," panggilnya membuyarkan lamunanku. Aku tersentak dan segera menoleh ke arahnya.


"Apakah kamu membutuhkan uang?" Dia mengulangi perkataanya.


"Oh, tidak, tidak perlu. Aku punya uang sendiri, kok," jawabku tak ingin merepotkannya.


"Ambilah ini," ucapnya sambil meletakkan sejumlah uang di telapak tanganku.


***


"Sadiya, yang ini pasti cocok denganmu! Kamu beli yang ini saja," ucapnya padaku dengan sebuah gamis panjang berwarna merah jambu dengan rok lebar seperti gaun, menggantung di tangannya. Aku menggelengkan kepala. Untuk apa aku membeli baju sebagus itu, pikirku.


"Yah ... Coba pakai saja dulu, aku ingin melihatmu memakai baju ini. Coba di sana," ucapnya sambil menunjuk ruang ganti. Ia merengek memintaku memakainya, seperti anak kecil. Aku menghela nafas dan terpaksa menuruti permintaannya.

__ADS_1


Aku mengambil baju itu dari tangannya, lalu pergi ke ruang ganti tanpa berkata apa-apa. Aku segera memakai baju itu tanpa melihat cermin, karena memang aku tidak berniat untuk membelinya. Setelah itu aku keluar. Salma menatapku dari ujung kepala hingga ujung kaki. Matanya berbinar dan mulutnya terbuka sambil melihatku. Apakah seburuk itu penampilanku? Pikirku.


"Aku tahu ini terlihat jelek jika aku yang memakainya," ucapku merasa tidak percaya diri. Aku memang tidak cocok memakai pakaian yang bagus, dan karena itulah aku tidak punya banyak pakaian.


"Kamu tidak mengaca? Kamu terlihat sangat cantik memakai itu!" ucapnya. Aku menyunggingkan senyum sedikit, aku tahu dia bohong agar membuatku senang.


***


Beberapa saat kemudian, aku dan Salma pergi ke sebuah restoran kecil untuk makan siang. Aku melihat tas kecil di tanganku. Kenapa aku harus membeli baju itu? Kenapa aku menghamburkan-hamburkan uang untuk membeli baju yang tidak akan kupakai? Semua ini karena Salma terus memaksaku untuk membelinya. Dia akan marah jika aku tidak menurutinya. Bahkan dia tidak mau keluar dari mall sebelum aku membelinya. Ah, sudahlah lupakan saja.


Aku dan Salma memesan makanan, setelah itu kami mengobrol banyak hal, juga tentang Husam dan Vian. Salma bercerita padaku kalau dia sudah mencoba bicara dengan Husam, dia hanya ingin tahu apakah Husam menyesali perbuatannya.


"Lalu, bagaimana reaksinya?" tanyaku.


"Aku sangat tidak menyangka, laki-laki yang kukenal sangat baik ternyata sejahat itu," Dia bergumam sambil memainkan ujung sendoknya. Aku melihat Salma, aku tahu bagaimana perasaannya. Dia sangat mencintai kakakku, Husam. Pasti sulit untuk melupakannya. Tapi dia adalah wanita yang kuat. Wanita terkuat yang pernah kukenal.


"Kamu juga kenapa tidak pernah cerita padaku tentangnya? Dia suka memukulimu, dia memaksamu menikah, kenapa kamu tidak pernah cerita?" tanyanya kemudian.


"Aku pikir itu tidak penting. Lagi pula, aku sekarang baik-baik saja. Aku justru bisa merasa lebih bebas sekarang," jawabku.


"Ngomong-ngomong, bagaimana hubunganmu dengan Vian? Apakah kamu yakin akan bertahan dengannya?" tanyanya dengan serius. Tentu saja tidak, pikirku.


"Mungkin, aku dan dia akan segera bercerai. Tapi untuk sekarang kami belum membicarakannya," jawabku. Dia mengalihkan pandangannya ke arahku lalu memutar bola matanya.

__ADS_1


"Kamu harus segera membicarakannya dengannya. Aku tidak ingin melihatmu terluka," ucapnya. Aku tersenyum melihatnya. Mendengar kata-katanya, aku sedikit merasa berharga. Setidaknya, masih ada seorang yang peduli denganku.


***


"Sampai jumpa, Salma. Assalamualaikum," ucapku setelah keluar dari mobilnya.


"Dah ... Waalaikumsalam," ucapnya sembari melaju dengan mobilnya.


Aku memutar gagang pintu lalu masuk ke rumah. Aku melangkahkan kakiku ke ruang tengah, tapi tidak melihat Vian ada di sana. Aku melihat ke sekeliling, pintu menuju balkon terbuka.


Aku bergegas ke balkon lalu melihat Vian duduk di lantai dengan sebatang rokok tersumpal diantara dua jari tangannya. Kemudian aku melihat sebotol minuman keras di lantai. Aku bergegas menghampirinya dan mengambil botol minuman keras itu. Dia terlihat sadar, tapi tidak melihat ke arahku. Aku segera membuang botol minuman keras itu ke kotak sampah. Setelah itu aku kembali menghampirinya, aku duduk di sebelahnya.


"Kenapa kamu seperti ini, Vian?" tanyaku sembari menghela nafas. Aku mengambil puntung rokok yang ada di tangannya, lalu membuangnya. Apa yang sedang dia pikirkan? Kenapa dia sampai jadi tak karuan seperti itu? Aku melihat ada air mata menetes dari matanya. Aku mengusap air matanya. Dia memejamkan mata dan menarik nafas dalam-dalam.


"Aku sangat merindukannya ... Oh tidak, aku telah menghancurkan semuanya!" kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulutnya. Aku menggenggam punggung tangannya, mencoba membuatnya merasa lebih baik. Dia melihatnya sekilas, lalu menepis tanganku dengan kasar, membuatku menghela nafas.


"Vian ... Yang sudah berlalu biarlah berlalu. Kita tidak akan bisa mengubahnya lagi. Satu-satunya yang harus kita lakukan hanyalah mengingat kenangan yang indah. Jadi, lupakan semuanya ..." ucapku perlahan.


Aku tidak mengerti apa yang telah dia alami. Jadi, aku tidak tahu harus berkata apa lagi. Aku memang bukan pembicara yang baik, karena aku memang jarang berbicara dengan orang lain. Bahkan kakakku tidak mengizinkanku untuk memiliki teman. Dia akan memastikan tidak ada yang mendekatiku, bagaimana pun caranya.


"Hatiku terasa sangat sakit saat memikirkannya ... Dia meninggal karena aku. Karena kesalahan yang diperbuat, dia meninggal ..." ucapnya sambil menyambunyikan wajahnya di antara kedua lututnya. Aku tidak tahu harus berkata apa. Siapa yang meninggal? Liza? Atau seseorang yang lain? Ribuan pertanyaan menyelimuti otakku.


"Aku bahkan belum sempat mengatakan bahwa aku mencintainya ..." ucapnya perlahan. Aku tidak tahu lagi harus berkata apa, tapi aku benar-benar merasa bersalah. Dia terlihat sangat lemah, seolah telah kehilangan jati dirinya. Perkataannya tidak masuk akal, tapi aku tidak bisa memaksanya untuk menjelaskannya lebih jauh. Aku tidak ingin membuatnya marah lagi.

__ADS_1


__ADS_2