
Aku tidak bisa melihat apa-apa, tetapi aku yakin ada sesuatu yang tidak beres. Aku berbalik lalu mengguncang tubuh Vian agar dia bangun.
"Vian! Vian, bangun! Kebakaran! Vian!!" Aku berteriak membangunkannya. Dia terlonjak kaget, berdiri dan melihat sekeliling.
Ketika dia menyadari apa yang sedang terjadi, dia menarik tanganku dan bergegas membawaku keluar ruangan. Aku melihat ada cahaya berkilat yang keluar dari dapur. Aku mengalihkan pandanganku ke arah kilatan cahaya itu. Ternyata apinya semakin membesar. Aku panik dan menggenggam tangannya lebih erat.
"Bangunkan Sevda. Aku akan membawa Layla," ucapnya dengan sedikit panik.
Aku mengangguk dan dia menatapku dalam-dalam. Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas tetapi matanya menyimpan begitu banyak kecemasan. Rasanya seolah kami saling menatap selama berjam-jam tetapi itu hanya beberapa detik.
"Sadiya, berhati-hatilah. Bawa mereka dan keluar dari rumah. Apa pun yang terjadi, keluarlah dari rumah," dia memperingatkan.
Aku segera berlari menuju kamar Sevda, untuk membangunkannya.
***
Aku benar-benar tidak ingat bagaimana aku bisa keluar dari kebakaran itu. Ada banyak orang di mana-mana dan kemudian aku melihat beberapa ambulans datang. Aku mengalihkan pandanganku ke samping. Sevda pingsan.
Semua orang berteriak. Orang-orang berlarian tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku jatuh berlutut. Bahkan aku tidak menyadari bahwa aku sedang menangis. Seluruh tubuhku gemetar dan kepalaku terasa pusing. Aku memejamkan mata dan berharap ini semua hanya mimpi.
'Jangan khawatir, ini bukan waktu untuk berakhir. Setiap orang punya waktunya masing-masing kapan mereka akan mati. Jangan takut,' Suara aneh itu berbicara, tapi itu tidak bisa menenangkanku sama sekali.
Aku membutuhkan sesuatu yang lain untuk menenangkan diri. Aku membutuhkan orang lain untuk menenangkan diri. Aku membutuhkan Vian. Dan saat itulah aku sadar kembali.
"Vian!" Aku berteriak dan mencoba lari kembali ke dalam. Dia membutuhkanku.
Dia membutuhkanku. Dia tidak boleh terkepung api sendirian di sana. Dia membutuhkan bantuan.
Ketika aku hendak melangkah masuk ke dalam, beberapa petugas pemadam kebakaran menghentikanku. Aku mencoba melawan mereka tetapi aku tidak bisa. Mereka terlalu kuat.
"Lepaskan aku! Aku harus masuk, dia masih di sana!" Aku berteriak tetapi mereka tidak mendengarkan. Tidakkah mereka tahu bahwa satu-satunya hal yang kumiliki ada di sana?!
__ADS_1
"Kamu tidak perlu membantunya. Kami akan melakukan yang terbaik," ucapnya. Kemudian mereka mengatakan beberapa hal lagi tetapi aku tidak mendengarkan.
Satu-satunya hal yang terlintas dalam pikiranku adalah Vian pasti sedang kesulitan di sana. Bagaimana jika .. bagaimana jika dia sedang sekarat? Tidak, itu tidak akan terjadi. Dia berjanji padaku. Dia berjanji tidak akan terjadi apa-apa.
'Kamu memang bodoh, tentu saja dia tidak mungkin baik-baik saja di sana!' sebuah suara aneh berkata di dalam hatiku. Aku tidak bisa menerima ini. Aku membutuhkannya. Tiba-tiba aku di seret ke belakang oleh orang-orang yang menahanku. Aku tidak bisa protes lagi.
"Cepat pergi semua! Rumah ini akan meledak!" Aku mendengar seseorang berteriak dan saat itulah aku merasa kehilangan Vian. Aku tidak bisa berbuat apa-apa selain menangis. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Dia akan meninggalkanku.
"Itu mereka! Siapkan ambulansnya, cepat!" Aku mendengar suara seseorang berteriak dan aku mendongak.
Itu dia! Vian, berpakaian gosong, dengan Layla terangkat dengan kedua tangannya. Dia terlihat sangat lemah. Dia memberikan Layla kepada orang lain, lalu tubuhnya ambruk seketika ke tanah. Dia terbatuk-batuk dan tidak bisa bernapas. Aku ingin berlari ke arahnya, untuk memeluknya dan tidak pernah melepaskannya, tetapi tubuhku terasa sangat lemas, seolah aku tak bisa menggerakkannya.
Dia sekarang berbaring di sana mencoba bernapas tetapi aku masih tidak bisa melakukan apa-apa. Rasanya aku seolah membeku. Orang-orang di sekitarnya mencoba untuk menyadarkannya, membuatku berpikir yang tidak-tidak. Bagaimana jika dia tidak bisa bernapas lagi? Bagaimana jika-
Untunglah, sebelum aku sempat melanjutkan pikiran burukku, Vian telah sadarkan diri. Dia terbatuk lagi dan membuka matanya perlahan. Dia mencoba untuk duduk dan terlihat kesulitan. Aku segera berlari ke arahnya.
Aku menghambur ke arahnya dan terjatuh tepat di depannya. Aku melingkarkan lenganku di lehernya dan membenamkan wajahku di dadanya.
Aku meletakkan jari-jemariku di sela-sela rambutnya dan membelainya. Aku menarik diri untuk melihat wajahnya apakah dia baik-baik saja. Entah apa yang membuatku begitu berani. Aku mendaratkan begitu banyak kecupan di wajahnya. Entah apa yang merasukiku, aku tidak peduli. Hanya satu hal yang ada dalam pikiranku ... Dia hampir saja kehilangan nyawanya, dan aku tidak memiliki apapun selain dirinya.
Vian memejamkan matanya. Kemudian aku merangkulnya lagi.
"Aku sangat takut ... sangat takut .. kalau kamu tidak akan berhasil," ucapku sambil menangis. Aku mengucapkan syukur Alhamdulillah berulang kali. Dia tidak tahu betapa bahagianya aku karena dia baik-baik saja.
"Sssh .." dia berbisik, tidak tahu harus berkata apa lagi.
"Jangan tinggalkan aku .. tolong jangan tinggalkan aku Vian," bisikku di lehernya, cukup keras untuk didengarnya.
Dia hanya mempererat pelukanya padaku dan kami tetap seperti itu selama berjam-jam.
***
__ADS_1
Hari ini adalah hari setelah seminggu sejak rumah Sevda terbakar.
Sekarang kami tinggal di rumah Vian yang ada di Istanbul. Ini bukan rumah yang besar, hanya ada dua kamar di dalamnya, tapi itu tidak apa-apa. Sama sekali bukan masalah bagiku.
Kami masih kaget dan sedikit trauma atas kejadian itu. Layla mengalami mimpi buruk setiap malam, sehingga Vian harus selalu berada di sisinya untuk menghiburnya sepanjang malam. Dia tidak bisa tidur.
"Sadiya, bisakah kamu membawakan makanan ini untuk Vian dan membangunkannya? Dia belum makan apa-apa" ucap Sevda sambil menyodorkanku piring berisi makanan. Aku mengangguk mengiyakan.
Sekarang sudah sore dan Vian telah tertidur kelelahan karena dia tidak bisa tidur di malam hari demi memenangkan Layla. Aku meletakkan makanan itu di meja sebelah tempat tidur, lalu aku duduk di sampingnya.
"Vian, bangun," ucapku sambil mengguncang tubuhnya, dan dia perlahan berbalik ke arahku. Dia menatapku sesaat lalu memejamkan matanya lagi.
"Vian, kamu harus makan," ucapku. Dia membuka matanya lagi. Kemudian dia meraih tanganku dan menjalin jari-jari kami. Mataku membelalak, karena Vian tidak pernah melakukan hal seperti itu sebelumnya.
“Tidak lapar ..." ucapnya masih mengantuk. Dia tampak begitu damai, aku hanya tersenyum pada diriku sendiri.
"Ayo bangun. Kalau tidak ... " ucapku mulai menggodanya. Dia sedikit tersenyum, masih dengan mata tertutup.
"Kalau tidak, apa yang akan kamu lakukan, hah?" tanyanya. Aku berpikir sejenak tetapi tidak menjawab. Dia membuka satu mata lalu memejamkannya lagi.
"Tentu saja. Aku akan tidur lebih lama lagi. Sana pergi," ucapnya.
"Kamu kalah," bisikku sambil membungkuk lalu mencium pipinya. Entah kenapa aku tidak bisa menahan diriku melihat wajahnya yang terlihat imut saat sedang tidur.
"Apa-apaan ini, Sadiya!" ucapnya sambil menyeka pipinya.
Aku memberinya 'ciuman nenek'. Aku menyebutnya itu karena nenekku selalu menciumku sembarangan dan berlendir, haha.
"Sudah kubilang. Sekarang cepat makan makanan ini atau aku akan memberimu sesuatu yang lain," ucapku.
Dia memutar bola matanya malas sembari bangkit dari tidurnya. Baru saja dia membuka mulutnya untuk bicara, tiba-tiba ponselnya berdering.
__ADS_1
Dia menatap ponselnya sambil mengangkat salah satu alisnya, kemudian dia menatapku. Aku mengangkat daguku mengisyaratkan untuk bertanya ada apa. Dia mengabaikanku dan langsung menjawab panggilan itu.