Cinta Bersemi Di Turki

Cinta Bersemi Di Turki
Kiz Kulesi


__ADS_3

"Sadiya, cepat! Ini kelima kalinya aku berteriak memanggilmu!" Vian berteriak saat aku masih memilih baju apa yang akan kupakai. Cuaca di Turki saat ini sangat panas tetapi aku tidak ingin memakai pakaian yang terbuka. Aku memang tidak pernah memakai pakaian terbuka saat keluar.


Hari ini adalah seminggu kemudian setelah kejadian aku mengalami serangan panik. Dan Vian sekarang mulai bertindak suka memerintahku lagi. Bahkan dia mulai marah-marah, tapi untungnya tidak ada hal buruk terjadi.


"Diamlah Vian! Ini semua gara-gara kamu. Kalau kamu memberitahuku lebih awal pasti aku tidak akan kebingungan seperti ini!" Aku balas berteriak. Serius, dia baru saja memberitahuku kalau kami akan pergi ke suatu tempat.


"Apa yang harus aku pakai?" Aku bertanya pada Vian. Aku tidak tahu atasan dan bawahan mana yang cocok dipakai bersamaan.


Tiba-tiba Vian datang dan memilihkan pakaian yang akan kupakai. Wah, dia benar-benar paham tentang pakaian.


"Ini dan ... ini," dia mengambil gaun abu-abu dengan rok menjuntai ke lantai dan cardigan biru muda, lalu memberikannya padaku. Kemudian dia mengambil pashmina ungu dengan bunga di atasnya dan melingkarkannya di kepalaku. Dia berdiri sangat dekat denganku dan sepasang matanya beradu dengan mataku. Aku melihat mata cokelat terangnya yang berkilau. Bagaimana mungkin seseorang memiliki mata seindah itu. Aku segera mengalihkan pandanganku, dan segera bergegas mengingat rambutku.


***


"Ayo," kata Vian sembari meraih lenganku.


Dia berjalan ke perahu. Kami hanya melihat-lihat dan itu luar biasa. Orang-orangnya sangat sangat ramah. Mereka berbicara dengan kita meskipun mereka tidak mengenal kita.


Aku segera membuang gagang permen kapasku, lalu berjalan ke arah Vian. Tadi, kami berjalan dan melihat seorang pria yang membuat permen kapas. Kemudian, aku meminta Vian untuk membelikanku satu. Eh, dia malah berkata bahwa pria sejati tidak akan pernah makan 'sampah' itu, tapi dia tetap membelikanku satu. Meskipun itu bertentangan dengan egonya, tapi dia masih memakannya sedikit demi aku.


"Apa?" tanyaku. Apakah dia .. apakah dia ingin kami naik perahu itu? Aku belum pernah naik perahu sebelumnya.


"Ayo, pegang saja tanganku," ucapnya sambil menginjak perahu. Aku melakukan hal yang sama dan dia membantuku untuk naik. Kami berjalan ke tepi dan aku terkikik seperti anak kecil. Rasanya sangat aneh. Perahunya sedikit bergoyang-goyang membuatku harus terus memegangi lengan Vian agar tidak jatuh.

__ADS_1


"Kenapa kamu cekikikan?" Dia bertanya padaku dengan kesal.


"Aku belum pernah naik perahu sebelumnya. Lihatlah lautnya ... sangat indah," ucapku dan Vian hanya memutar bola matanya malas.


Kami mendengar suara deru mesin lalu perahu mulai bergerak melaju. Cengkeramanku di lengannya menjadi semakin erat. Seorang pria di belakang memberi tahu kami bahwa hari masih cerah tetapi kami dapat melihat matahari terbenam jika kami mau menunggu lima belas menit lagi. Begitu kata Vian, aku tidak mengerti bahasa Turki, jadi aku bertanya padanya apa artinya.


"Lihat, kamu lihat bangunan itu?" Dia bertanya. Vian berdiri di belakangku dengan satu tangan di pinggangku dan dengan tangan lainnya dia menunjuk ke sebuah bangunan.


Itu adalah bangunan di atas laut. Aku menganggukkan kepalaku. Bangunan itu terlihat sangat indah. Ada cahaya yang keluar dari bangunan itu dan itu tampak seperti sebuah mahakarya bangunan bersejarah. Maksudku, aku yakin bangunan itu pasti dibuat di masa lalu dan membangun sesuatu seperti itu di masa lalu ketika tidak ada mesin dan peralatan tentu saja akan sulit.


"Aku tidak tahu ceritanya dengan baik, tapi aku tahu sedikit. Dulu ada seorang raja dan dia memiliki seorang putri. Putrinya sangat cantik .. dia tidak ingin putrinya menikahi seseorang dan kemudian ada seekor ular Untuk melindunginya dari semua orang dan ular dia membangun gedung ini, karena dia pikir orang-orang jahat dan ular itu tidak akan datang ke sini," ceritanya.


Aku menganggukkan kepalaku, memahami alasan ayahnya. Seorang ayah yang peduli pada putrinya. Aku merasakan kepedihan di hati karena cemburu saat memikirkan diriku sendiri, karena aku tidak pernah punya ayah sebaik itu.


"Kiz kulesi" jawabnya.


Aku masih berdiri memandang wajah tampannya beberapa saat. Kemudian aku mengalihkan pandanganku ke arah bangunan itu lagi.


"Apa artinya?" tanyaku.


"Tugu wanita," jawabnya.


"Menurutku itu sangat indah. Aku akan sangat bahagia jika ayahku melakukan hal seperti itu padaku. Aku akan sangat bahagia jika memiliki ayah yang sangat pedul padaku. Ayah yang mencintaiku sampai mati .. tapi tidak-" Aku tidak bisa melanjutkan kata-kataku. Seolah-olah ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokanku yang menahanku untuk bicara.

__ADS_1


Vian meraih tanganku dan kami berjalan ke tepi perahu. Kami bisa melihat matahari terbenam. Aku melihat ke sekelilingku dan tersenyum. Pemandangan yang sangat indah. Airnya sangat jernih dan angin berhembus sepoi-sepoi. Aku memejamkan mata dan membiarkan angin semilir menerpa wajahku. Aku kemudian mengalihkan pandanganku ke arah Vian. Vian menatapku dengan aneh.


"Kenapa?" tanyaku sambil tersenyum. Namun dia hanya menggelengkan kepalanya. Kemudian dia pergi ke seorang pria yang menjual beberapa jenis roti. Itu terlihat seperti donat. Tak lama kemudian, Vian kembali menemuiku dengan dua roti di tangannya dan memberi satu untukku.


"Apa ini?" Aku bertanya padanya.


“Ini roti tapi lebih enak dari roti manapun yang pernah kita makan. Namanya simit,” ucapnya.


"Ohh," ucapku sambil mengangguk. Aku berbalik memandang ke laut sambil menggigitnya. Rasanya sangat lezat seperti yang dia katakan. Aku mencuilnya sedikit lalu melemparkannya ke arah burung. Mereka terbang bersama, banyak sekali, membuatku terkikik sepanjang waktu.


Vian menatapku aneh. Mungkin dia tidak pernah melihatku tertawa seceria ini sebelumnya. Namun, beberapa saat kemudian dia ikut melempar simit itu ke arah burung, tapi dia tidak mengatakan apa pun.


Beberapa saat kemudian, aku melihat matahari terbenam dan aku memandang laut, menikmati warnanya yang indah. Rasanya seperti angin dan keindahan alam akan membawaku pergi untuk melupakan semua masa lalu yang buruk itu.


'Jika jutaan orang berkumpul, mereka bahkan tidak dapat menciptakan satu lalat pun, jadi bagaimana semua ini bisa tercipta begitu saja, tanpa makna? Pasti ada penciptanya,' aku kembali mendengar suara aneh itu dan aku tersenyum.


"Masya Allah," seruku.


Tiba-tiba aku merasa ada lengan melingkari pinggangku. Rasa gugup menyebar ke seluruh tubuhku saat merasakannya, dan aku tersenyum.


“Terima kasih Vian, untuk semuanya dan untuk hari ini,” ucapku lembut.


Vian sedikit bergumam. Dia meletakkan wajahnya di leherku jadi aku tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang dia katakan. Namun aku merasa sangat nyaman.

__ADS_1


__ADS_2