
Sekarang, kami sudah kembali ke rumah, di tanah kelahiranku. Selama perjalanan di pesawat maupun di rumah aku tidak berbicara dengan Vian. Dia mencoba untuk berbicara denganku, tapi aku mengabaikannya.
Aku memang bodoh, aku tahu itu. Tapi aku hanya takut. Aku takut untuk mendengar kebenaran bahwa dia tahu semua masalah itu, tapi menyembunyikannya dariku.
Aku tidak bisa percaya semua itu. Jika mereka memang bukan keluarga kandungku, pasti nenekku akan memberitahuku. Aku yakin itu. Untuk menjawab rasa penasaranku, aku harus menemui mereka. Aku akan bertanya kepada mereka tentang siapa aku sebenarnya.
***
Aku membuka pintu rumah untuk keluar. Aku harus pergi ke rumah orang tuaku sekarang juga. Namun ketika aku baru saja melangkahkan kakiku ke luar dan berbalik untuk menutup pintu, Vian telah berdiri di depan mataku.
"Kamu tidak perlu ikut," ucapku padanya.
Untuk apa dia ikut? Dia sengaja menyembunyikan hal sebesar ini dariku, sekarang malah mau ikut bersamaku. Untuk apa?
"Aku mau ikut," ucapnya. Dia merengek?
Untung saja aku sedang malas untuk berdebat dengannya, jadi aku membiarkan dia ikut. Akhirnya dia yang mengantarku dengan mobilnya ke rumah orang tuaku.
***
Kami telah berdiri di depan rumah orang tuaku. Rasa takut kembali menjalar di sekujur tubuhku. Di sinilah tempat di mana mereka merenggut masa kecilku, merenggut kebahagiaanku. Kebahagiaan yang bahkan tidak pernah aku rasakan.
Meskipun aku sedang marah dengan Vian, tapi aku merasa aman saat memasuki rumah itu bersamanya. Karena aku tahu dia akan melindungiku, dia tidak akan membiarkan hal-hal buruk itu terjadi lagi padaku.
Saat kami berdua melangkahkan kaki menuju pintu masuk, tubuhku mulai gemetar. Keringat dingin mulai menetes dari pelipisku. Semua ingatan itu kembali merasuki pikiranku. Tidak, aku tidak ingin mengingatnya lagi. Aku berusaha sekuat mungkin untuk menyingkirkan ingatan itu, namun aku tidak berhasil.
"Dasar tidak berguna!" teriaknya sambil meninju perutku. Mereka selalu meninju perutku. Meskipun aku sudah terbiasa dengan tinjuan itu, tapi rasanya tetap selalu menyakitkan.
__ADS_1
"Tolong hentikan! Jangan sakiti dia! Pukul saja aku, lakukan segalanya padaku! Tapi jangan dia, tolong, aku mohon!" Nenekku berteriak.
"Tidak!" Aku berteriak. Aku tidak sanggup melihatnya melalui semua ini hanya demi melindungiku. Aku benar-benar tidak tahu kenapa mereka melakukan semua ini.
Ayahku mengalihkan pandangannya pada nenekku dan membiarkan aku jatuh. Aku terjatuh di lantai. Aku merasakan sakit di sekujur tubuhku. Aku berusaha membuka mataku. Aku melihat mereka memukuli nenekku. Aku menjerit. Aku mencoba untuk berdiri tapi tak bisa, aku terlalu lemah tak berdaya. Tulang belulangku terasa remuk dan tak bisa digerakkan.
Ya Allah, apakah Engkau melihat ini semua ... Kenapa Engkau tidak membantu kami?
Aku membuka mata saat merasakan sesuatu yang lembut menyentuh tanganku, membuatku segera tersadar bahwa itu hanyalah sebuah kenangan buruk dan tidak akan pernah terjadi lagi. Aku meyakinkan diri sendiri. Aku melihat tanganku. Vian memegang tanganku dan menjalin jari-jemari kami.
Aku menatap matanya dan dia menatapku dengan rasa bersalah tersirat di wajahnya. Aku menarik napas dalam-dalam lalu menekan bel pintu. Ibuku membuka pintu.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya ibuku dengan heran.
Kami berdua tidak menjawab dan langsung melangkah masuk, membuat ibukku terpaksa bergeser ke samping untuk memberi kami jalan.
Ibu dan ayahku menatapku dengan kaget. Aku memejamkan mataku. Aku seharusnya tidak melakukan ini. Aku tidak bisa ...
'Iya, kamu pasti bisa. Tarik napas dalam-dalam. Kamu berhak untuk tahu siapa jati dirimu. Kamu merasa lebih baik sekarang. Tapi bersiaplah sebentar lagi waktu yang sangat buruk akan datang kepadamu. Jangan takut, Allah akan selalu ada di sisimu. Aku akan membantumu,' ucap suara aneh itu. Suara aneh itu seolah selalu memiliki kesempatan dalam kesempitan. Selalu memberi solusi saat aku membutuhkan.
Aku membuka mataku dan mengumpulkan keberanianku. Vian mengusap telapak tanganku dengan lembut. Sentuhanya seolah menyalurkan kekuatan padaku, dan membuatku percaya bahwa aku bisa.
"Siapa aku?!" Aku bertanya lantang kepada mereka. Cara yang bagus untuk memulai, bukan? Tidak. Mereka melihat saya seperti saya gila.
"Apa yang kamu katakan, putriku?" Ucap ibuku dengan manis. Semua itu palsu! Dia bersikap manis di depan Vian, hanya agar bisa mendapatkan uang darinya. Tapi sayang sekali yang dilakukannya itu sia-sia, dia tidak akan mendapatkan apapun, tidak walau hanya satu sen pun.
"Jangan panggil aku dengan sebutan itu lagi. Siapa Khanza?!" tanyaku dengan lantang.
__ADS_1
Ayah dan ibuku terbelalak lalu saling melihat satu sama lain. Itu berarti mereka tahu segalanya tentang Khanza. Tiba-tiba ayahku tertawa. Aku tahu itu bukan tawa sungguhan. Tawa untuk menutupi kegugupannya. Sayangnya aku tidak tertipu.
"Kamu ini lucu sekali! Apa yang sedang kamu bicarakan?" ucap ayahku masih berpura-pura tidak tahu.
"Katakan padaku. Siapa itu Khanza? Siapa Kenzo dan siapa Kevin? Siapa?" tanyaku membuat mereka tiba-tiba berhenti tertawa lalu kembali melihat satu sama lain.
"Siapa mereka?" Aku menggertak mengulangi pertanyaanku karena mereka hanya diam saja. Mereka masih saling melihat satu sama lain. Apa lagi yang harus mereka diskusikan?
"Siapa yang akan memberitahuku?!" tanyaku geram. Aku sudah tak sabar untuk mendengar penjelasan mereka.
"Katakan saja padanya," ucap Vian. Perkataanya justru membuatku kecewa karena dia tahu masalah ini tapi tidak memberitahuku.
"Lihat, -" ucap ayahku. Aku tahu dia akan mengoceh dan berbohong lagi. Karena itu aku segera menyelanya.
"Tidak! Kalian yang harus lihat! Selama bertahun-tahun ini. Selama bertahun-tahun, aku pikir kalian adalah keluargaku. Tapi sekarang, setelah kupikir-pikir lagi, aku menyadari betapa bodohnya aku. Keluarga seharusnya menjadi orang terbaik yang kupunya. Keluarga tidak akan pernah berbohong pada anaknya sendiri, keluarga akan membimbing anaknya ketika dia salah. Keluarga seharusnya menyayangi anak mereka. Selama ini kalian menganggapku sebagai samsak.
Selama bertahun-tahun. Selama bertahun-tahun kupikir kau adalah keluargaku. Tapi sekarang kupikir-pikir, aku menyadari betapa bodohnya aku. Keluarga seharusnya menjadi orang terbaik yang pernah kau miliki. Mereka tidak seharusnya untuk berbohong dan membimbingmu bahkan ketika kamu salah. Keluarga seharusnya menunjukkan cinta. Selama ini, kalian menganggapku sebagai samsak.
Tidak ada yang pernah bertanya padaku 'hei, apakah kamu masih hidup?' Tidak ada dari kalian yang peduli dengan luka-lukaku. Bahkan kalian tidak pernah memberiku makanan.
Aku tidak tahu kenapa aku mengatakan ini pada kalian. Namun, jika aku tidak menikah dengan Vian, mungkin kalian akan memperlakukanku lebih buruk sekarang. Mungkin aku tidak akan selamat. Itu tujuan kalian, kan? Membuat hidupku sengsara, mencoba mengambil semuanya dariku.
Namun kalian menikahkanku dengannya dan sekarang itu menjadi bumerang untuk kalian sendiri. Satu-satunya hal yang ini aku ucapkan adalah terimakasih atas pernikahan palsu ini.
Jika kalian tidak menikahkanku dengannya, mungkin sekarang tubuhku akan babak belur penuh bercak ungu dan kuning, penuh memar dan nanah. Dialah yang menyelamatkanku.
Jadi sekarang, sebelum aku melompat ke tenggorokan kalian, beri tahu aku, siapa aku sebenarnya?!" ucapku dengan mata membelalak.
__ADS_1