
Hari ini aku sedang memasak kue bersama Sevda dan kurasa aku belum pernah bersenang-senang seperti ini sebelumnya. Kami memanggang kue, tapi Vian terus saja mencuri dari adonan kue itu. Dia benar-benar membuatku marah. Jadi, tak lama kemudian aku menamparnya dengan spatula yang ada adonannya di atasnya. Akhirnya dia merajuk dan keluar sambil cemberut, lalu bermain dengan Layla.
Tiba-tiba, bel pintu berbunyi. Siapa itu?
"Sadiya, bisakah kamu membuka pintunya?" Sevda bertanya padaku sambil memasukkan kue yang sudah dicetak ke dalam oven.
"Tentu saja," ucapku sembari berjalan ke pintu. Ketika aku membukanya, aku melihat seorang pria. Aku tersenyum padanya tapi dia tidak membalasnya.
"Kamu siapa?" Pria itu bertanya padaku. Aku bahkan tidak bisa menjawab pertanyanya.
"Serkan!" Aku mendengar suara Vian dari belakangku. Mereka saling memandang dengan ekspresi serius dan aku dapat melihat bahwa mereka tidak menyukai satu sama lain.
"Apa yang kamu lakukan di sini? Cih!" tanya Vian sambil meludah. Matanya terlihat dipenuhi amarah. Aku memegang lengan Vian untuk menenangkannya. Dia menatapku sejenak sebelum menarik napas dalam-dalam. Aku melihat Sevda mendatangi kami.
"Siapa it- Oh, Serkan," ucap Sevda sambil mengangguk menyambutnya.
"Kenapa dia bisa ada di sini? Bagaimana dia bisa tahu tempatmu?" Vian berbisik pada Sevda, namun sorot kemarahan masih terpancar dari matanya.
"Kak, sudah hentikan. Dia berhak melihat Layla," ucap Sevda. Itu membuat Vian semakin marah.
"Aku tidak peduli! Pengacara mengatakan bahwa dia tidak boleh mendekatimu dan yang paling utama tidak boleh ke rumahmu! Kenapa kamu malah membiarkannya datang ke sini begitu saja?!" Vian menyerocos marah. Tapi, Sevda tidak membiarkannya bicara lebih banyak lagi.
"Kami sudah membuat kesepakatan. Kami memang sudah bercerai tapi Layla tetap anaknya. Dia bisa menemuinya kapan pun dia mau. Jangan campuri urusanku, Ok?" ucap Sevda tegas.
Vian kemudian meneriakkan kata-kata dalam bahasa Turki, yang aku sendiri tidak tahu artinya. Layla mulai berjalan ke arah kami tetapi Vian mendorongku ke arahnya sebelum dia bisa melihat ayahnya.
__ADS_1
"Bawa dia ke kamarnya," perintahnya dan aku segera meraih tangan Layla, membawanya ke kamarnya.
"Apa yang sedang terjadi?" Dia bertanya dalam bahasa Indonesia. Aku hanya bisa menggelengkan kepala.
"Mana gambarmu? Kamu kan sudah janji akan memperlihatkan gambaranmu yang bagus. Mana? Bibi Sadiya mau lihat ... " ucapku padanya dengan penuh semangat.
Wajahnya berubah menjadi berbinar-binar, dan dia dengan cepat pergi ke kamarnya untuk membuka laci dan mengeluarkan buku gambar besar. Dia menunjukkan kepadaku semua gambarnya. Aku tersenyum padanya.
Beberapa menit kemudian, Vian masuk dan langsung memeluk Layla selama beberapa saat, lalu dia menatapku. Dia menggerakkan kepalanya, memberi tanda bahwa aku harus keluar dan aku melakukannya.
Beberapa saat kemudian aku melihat dia mengikuti di belakangku.
"Apakah semuanya baik-baik saja?" Aku membalikkan badanku untuk bertanya pada Vian. Dia mengangguk, lalu menatap mataku.
"Dia sudah pergi, tapi tetaplah berhati-hati," ucapnya lalu kembali berjalan menuju ruang tamu. Aku mengikutinya, aku melihat Sevda sedang duduk di sofa dengan kedua tangannya menopang wajahnya. Vian langsung menuju kamar tapi aku berdiri di depan Sevda.
"Maksudku ... Um, aku tidak tahu harus berkata apa, tapi kamu bisa cerita denganku kalau kamu mau," ucapku. Aku tidak pernah tahu bagaimana cara menghibur orang karena aku belum pernah melihat itu dalam hidupku, tetapi aku benar-benar ingin memastikan bahwa dia baik-baik saja. Dia menepuk sofa di sebelahnya mengisyaratkan padaku agar aku duduk, aku mengikutinya.
"Serkan dan aku bercerai karena dia hanya menginginkan uang dariku setelah menikah. Orang tuaku kaya dan mungkin itulah satu-satunya alasan kenapa dia mau menikahiku, hanya untuk itu. Tapi aku yakin dia tetap bisa menjadi ayah yang baik, itu sebabnya dia masih kuizinkan untuk bertemu Layla. Layla juga sangat menyayangi ayahnya. Dia memiliki hak untuk bertemu dengannya, tidak masalah dengan apa yang telah aku alami," ucapnya sambil tertunduk.
"Sedangkan Vian ... Vian sangat tidak suka jika aku membiarkannya kembali ke sini. Dia marah karena aku membiarkan Layla melihat ayahnya, karena dia sangat membenci Serkan. Aku hanya ... aku hanya bisa berharap dia bisa sedikit lebih mengerti dan tidak mengatakan semua itu. Dia tidak tahu betapa sakitnya itu," dia bercerita sambil membiarkan air matanya mengalir. Dia kemudian tertawa sambil menghapus air matanya.
"Maaf, sebenarnya ini hanya pertengkaran kecil tapi semuanya berkumpul dan menjadi terlalu berlebihan,” ucapnya sambil berdiri.
“Tidurlah, ini sudah larut malam,” ucapnya sembari berjalan ke dapur.
__ADS_1
Aku berjalan ke kamar. Aku melihat Vian terbaring di tempat tidur dengan telepon di tangannya. Dia tidak menatapku dan aku duduk di sebelahnya.
"Minta maaf pada adikmu!" cerocosku. Dia menatapku sambil memutar bola matanya malas, lalu dia kembali sibuk memainkan ponselnya lagi.
"Vian ... " ucapku, mencoba menarik perhatiannya. Dia bahkan tidak mau melihatku saat aku menyebut namanya.
"Sadiya sudahlah. Lupakan masalah itu atau aku akan mengatakan hal-hal yang tidak ingin kamu dengar," ucapnya kasar. Aku tahu kalau dia masih marah. Aku memutuskan untuk tidak memulai perdebatan dengannya. Aku terdiam dan berbaring di sampingnya.
"Apa yang akan kita lakukan? Sevda harus tahu, kita tidak bisa berlama-lama tinggal di sini," ucapku pelan setelah beberapa saat. Aku sedang memikirkan alasan bagaimana kami datang ke sini dan bagaimana kami akan keluar dari sini. Dia membuang muka sejenak lalu berbalik ke arahku.
"Aku tidak tahu. Aku benar-benar tidak tahu. Satu-satunya hal yang aku tahu adalah, aku akan melakukan apa saja untuk menghentikan mereka melakukan sesuatu," ucapnya sembari berbalik lagi membelakangiku lalu melihat ponselnya.
Aku tersenyum tipis, aku percaya padanya. Aku beranjak ke kamar mandi untuk mengganti pakaianku dengan piyama. Setelah selesai, aku keluar dari kamar mandi. Aku berbaring di bawah selimut tetapi membelakanginya dan bergerak ke tepi, jauh darinya.
Dia mematikan lampunya dan aku merasakan dia bergeser sedikit ketengah. Aku merasa tegang. Aku tahu dia sedang tertekan kali ini. Aku bisa mendengar detak jantungnya yang berdegup cepat. Ekspresi wajahnya sangat aneh, entah apa yang dia rasakan.
Aku tidak tahu apa yang merasuki diriku hingga membuatku berani berbalik menatapnya. Aku menggeser tubuhku agar lebih dekat dengannya. Aku melingkarkan lenganku di pinggangnya dan membenamkan wajahku di bahunya. Aku mencoba memberinya rasa nyaman, kuharap dia akan merasa lebih baik.
Dia tidak bereaksi apa-apa. Dia tidak bergerak dan tidak mendorongku pergi. Aku memejamkan mata, merasa lega seperti telah menyelesaikan suatu masalah.
Aku rasa dia sedikit menikmatinya. Biasanya aku selalu berharap banyak darinya, tapi dia tidak memberi apa-apa selain kekerasan. Namun, ketika dia ada di saat-saat terlemahnya, seperti sekarang ini, dia akan menyambutnya dengan tangan terbuka.
Saat itulah aku merasakan dia mengusap tanganku dengan jari-jemarinya, meskipun hanya sebentar. Aku tersenyum sambil memejamkan mata, menghirup aroma tubuhnya.
***
__ADS_1
Aku tidak bisa bernapas. Rasanya seolah ada sesuatu mencengkeram leherku erat-erat. Aku membuka mataku dan semuanya gelap. Tentu saja gelap, ini malam. Aku terbatuk beberapa kali dan terbangun. Tiba-tiba aku mencium bau menyengat. Bau apa ini? Seperti gosong! Tiba-tiba aku melihat api mulai menyebar.