
Aku merasakan air mata mengalir di wajahku, tapi mataku masih tertutup. Aku tidak bisa melihat, aku tidak ingin melihat kenyataan ini.
Tiba-tiba, aku merasakan dua tangan memelukku dan membuatku mulai menangis. Aku membalas pelukan itu, merasakan kehangatannya. Aku tidak ingin melepaskannya. Aku belum pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya.
Di satu sisi, hatiku terasa sakit menghadapi kenyataan bahwa keluarga kandungku juga tidak menginginkanku. Tapi di sisi lain, aku merasa sangat bahagia bisa merasakan pelukan hangat seorang ibu.
Beberapa saat kemudian, aku bisa membuka mataku. Aku menatap matanya yang berkaca-kaca. Dia .. Aku tidak percaya betapa aku terlihat seperti dia .. Betapa aku terlihat seperti Kenzo.
Dia menarik lenganku dan kami duduk di sofa. Ingin sekali aku bicara, namun rasanya ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokanku dan menahannya hingga aku tidak bisa bernapas. Aku tidak bisa mengatakan apa-apa, meskipun aku ingin menanyakan segalanya.
"Bicaralah padaku, tanyakan sesuatu," ucapnyanya dan aku menatapnya dengan bingung. Aku melihat Kevin melintas masuk tetapi aku tidak memperhatikannya.
"Tanyakan," ucapnya. Aku meraih keberanianku, aku mengambil nafas dalam-dalam, lalu berdiri sambil menghela nafas. Sudah waktunya mendapatkan jawaban.
"Anda dari mana saja? Di mana Anda saat mereka memukuli saya seperti orang memukul karung tinju? Di mana Anda saat saya berlumuran darah dan memar? Di mana Anda saat saya menerima pukulan nenek saya hanya karena saya tidak tahan melihatnya terluka? Siapa saya? Apakah saya tidak berharga? Apakah saya jelek? Hingga saya harus dibuang? Apakah saya benar-benar tidak layak untuk mengetahui siapa saya sebenarnya?" Aku menarik nafas sebentar, lalu melanjutkan lagi.
"Bertahun-tahun, Anda tidak tahu apa yang terjadi pada saya! Apa yang saya alami! Saya tidak bisa pergi ke sekolah, padahal itu salah satu impian saya. Saya ingin menjadi dokter, karena dokter selalu sangat baik ketika saya mengunjunginya hanya karena saya sakit lagi karena mereka tidak memberi saya makanan! Saya ingin menjadi seseorang yang dibanggakan! Tapi alih-alih itu, mereka memaksaku menikah dengan pria itu. Pria yang lebih kacau dariku. Dan itu, semua karena kalian meninggalkan saya .. menjual saya. Saya di sini untuk mendapatkan jawaban. Saya di sini bukan untuk mengarang apa pun. Saya di sini karena rasanya sangat menyenangkan berada di sini. Tapi saya tahu itu tidak akan bertahan selamanya, karena kenyataan akan selalu menghantam wajahku, cepat atau lambat!" Teriakku.
__ADS_1
Aku mengepalkan tangan, menancapkan kuku ke kulit untuk merasakan sakitnya. Mungkin bisa membantu, mungkin membantu menghilangkan semua rasa sakit, mungkin itu akan membantu memudarkan semua kenangan. Dia tetap diam. Dia tidak mengatakan apa-apa. Mulutnya sedikit terbuka dan dia menatapku dengan mata lebar. Lalu aku melihat Kevin, berdiri menghadap dinding dengan tangan disilangkan.
"Kami tidak meninggalkanmu," ucap Kevin. Aku menatapnya, namun dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling, melihat apapun kecuali aku.
"Ketika kamu dan Kenzo lahir, Kenzo sakit parah. Jika kami tidak membayar operasinya, dia akan mati. Kamu baik-baik saja waktu itu. Jadi, kami memberikan semua perhatian kami kepadanya karena dia membutuhkannya. Suatu hari, saat kami hendak menjengukmu, dokter bilang kau ... meninggal," ucap wanita di sampingku, suaranya pecah di akhir kata. Apa? Aku tidak percaya ini.
"Saat itu, kami tidak percaya padanya, karena kau baik-baik saja. Kenzo-lah yang seharusnya meninggal, bukan kamu. Jadi kami ingin bertemu denganmu, tetapi mereka tidak mengizinkan kami," jelasnya kemudian.
Aku mengerutkan kening. Ini tidak mungkin benar ... Tidak, ini tidak mungkin benar!
"Bertahun-tahun ini, kami mengira kalau kamu sudah meninggal, tapi Kenzo tidak. Mungkin dia merasakan ikatan kembarnya. Aku tidak tahu. Tetapi saat kami memberi tahu dia apa yang sebenarnya terjadi, dia mulai mencarimu. Kami menyuruhnya untuk tidak melakukannya, kami bilang kalau kamu sudah meninggal, tapi dia tidak mempercayai kami. Dia bilang dia bisa merasakan keberadaanmu. Dia bilang dia bisa merasakan bahwa kamu masih hidup," ucapnya. Akhirnya dia menatapku. Aku melihat kilatan rasa sakit di matanya. Dia tampak begitu tersesat, sangat bingung. Sama seperti aku.
"Tidak, jika itu benar, bagaimana bisa aku tiba-tiba bersama mereka?" ucapku. Aku yakin itu tidak benar. Mereka pasti berbohong, sama seperti yang dilakukan orang lain padaku.
"Aku tidak tahu. Kenzo mengira mereka menculikmu. Saat kami tidak bersamamu, mungkin mereka datang dan berpura-pura seolah mereka adalah keluargamu, lalu membawamu," ucap Kevin. Sesaat kemudian ia kembali memandangi ibunya. Dia sekarang duduk di sofa, pandangannya menerawang ke depan seperti sedang melamun.
"Aku .. aku butuh udara segar," ucapku sembari pergi ke keluar.
__ADS_1
Aku menumpahkan air mataku begitu aku berada di luar. Aku berpegangan dinding, agar tidak limbung. Tiba-tiba aku merasakan seseorang meletakkan tangannya di pundakku dan membalikkan tubuhku, lalu memelukku.
"Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja," ucapnya.
Aku balas memeluknya dengan ragu-ragu dan kami tetap seperti itu untuk beberapa saat. Setelah beberapa saat, aku melepaskan tanganku dan menatap wajahnya. Aku melihatnya menangis juga.
"Kamu siapa?" tanyaku. Dia tersenyum padaku dan menggelengkan kepalanya.
"Aku ibu dari anaknya Kevin," jawabnya. Dia punya anak? Dia tersenyum memandang wajahku yang bingung.
"Pernikahan kami tidak berjalan dengan baik. Jadi, kami bercerai. Tapi tidak apa-apa sekarang," ucapnya dengan banyak tekanan. Dia tersenyum tapi aku bisa melihat betapa sakit hatinya tentang hal itu.
Dia meraih tanganku dan menarikku masuk. Aku tidak ingin pergi, tetapi sesuatu dalam diriku mengatakan aku harus masuk. Aku pun mengikutinya masuk ke ruang tamu, lalu aku melihat Kevin masih di sana. Husna tersenyum padaku, lalu pergi ke ruangan lain, mungkin dapur. Aku mengalihkan pandanganku ke arah Kevin, tapi dia membuang muka.
"Jangan pikir aku percaya semuanya," ucapnya sinis. Aku memutar bola mataku.
"Saya tidak peduli, Anda mau percaya atau tidak. Ketahuilah bahwa saya tidak akan pernah memaafkan Anda karena telah membakar rumah ketika ada seorang anak di dalamnya! Saya tidak peduli dengan diri saya sendiri, mungkin lebih baik jika saya terbakar sampai mati. Tapi kau tidak bisa menyentuhnya! Jangan lupa anak buahmu juga telah menculikku dan menyakiti Vian. Aku tidak akan pernah memaafkanmu," ucapku sembari pergi menyusul Husna.
__ADS_1
Husna berada di dapur. Dia sedang membuat sesuatu dengan adonan. Aku pun segera membantunya.