
"Mohon jangan tersinggung ya. Tapi aku hanya ingin tahu apa yang kalian lakukan di sini? Maksudku kenapa kalian pergi ke sini?" tanya Sevda dengan ekspresi yang tidak bisa kupahami.
Setelah memeluk Vian, mereka tidak banyak bicara. Suasana ketegangan begitu terasa sehingga siapa pun yang duduk di sini pasti akan tahu bahwa mereka sedang berpikir tentang sesuatu yang tidak biasa.
Kami sedang makan malam dan Vian duduk di sebelahku. Aku menatapnya tapi sepertinya dia tidak akan menjawab. Apa yang seharusnya aku katakan? Aku akan mengatakan yang sebenarnya padanya. Ya, aku akan memberitahunya bahwa kami lari dari seorang psikopat.
'Kadang-kadang kebenaran bisa jadi sulit atau bisa mengakhiri segalanya, tapi seiring berjalannya waktu, kamu akan melihat betapa benarnya mengatakan kebenaran. Allah mencintai umatnya yang selalu mengatakan kebenaran. Berbohong tidak akan membuatmu keluar dari masalah,' ucap suara itu.
Aku mengangguk pada diriku sendiri dan berdehem. "Kami benar-benar ..." Namun, sebelum aku sempat menyelesaikannya, Vian sudah menyela.
"Kami sedang berbulan madu," sela Vian.
Kebingungan terasa menyelimuti otakku.
Aku menatapnya dengan alis terangkat, tidak mengerti mengapa dia berbohong. Aku memandang Vian seolah sedang menatap orang gila. Tapi dia memberiku isyarat memintaku untuk berbohong juga. Aku mengangguk, mengisyaratkan padanya bahwa aku setuju untuk berpura-pura ...
"Oh benarkah? Pilihan yang bagus. Turki benar-benar indah untuk dikunjungi. Tapi kenapa kamu tidak mengabariku dulu, kak Vian? Kamu tah, kan kal-" Sevda belum sempat menyelesaikan ucapannya, tapi Vian sudah menyela. Memangnya apa yang akan dia katakan hingga Vian harus menyela?
"Itu adalah keputusan terakhir," ucap Vian sambil mengunyah makanan dengan santai, seolah tidak terjadi apa-apa.
Setelah itu, Sevda dan Vian diam. Jadi, aku berbicara dengan Layla. Dia juga tahu bahasa Indonesia, mungkin dia pernah tinggal di Indonesia sejak kecil. Jadi, setidaknya aku punya satu orang yang bisa kuajak bicara.
Layla adalah gadis kecil yang periang, dia sangat lucu. Usianya baru tujuh tahun, masih kelas satu sekolah dasar. Dia bercerita padaku tentang banyak hal, tentang hal-hal yang lucu di sekolahnya, juga tentang teman-temannya.
"Tiba-tiba dia meraih pulpenku dan berkata bahwa aku harus menciumnya untuk mendapatkannya kembali. Tapi aku tidak mau. Karena kata ibuku, itu eww." Dia bicara sambil bergidik membayangkan teman lelakinya yang konyol itu.
"Apakah bibi Sadiya mencium pamanku?" tanyanya polos. Aku merasakan pipiku memanas seolah terbakar karena mendengar pertanyaannya. Pertanyaan gadis mungil ini membuatku sangat tidak nyaman. Aku mengalihkan pandanganku ke arah Vian dan melihatnya dengan ekspresi yang sama, tetapi setelah beberapa detik dia tersenyum.
Aku tahu bahwa dia penasaran dengan jawabanku. Hal itu memberiku kepercayaan diri dan aku pun tersenyum pada Layla. Aku bisa merasakan mata Vian menatapku. Baiklah, perhatikan jawabanku ini, Vian.
"Tidak, tentu saja tidak. Kamu baru saja memberitahuku bahwa itu eww, bukan?" Aku berkata padanya, lalu mengalihkan pandanganku ke arah Vian lagi. Ia masih berusaha tersenyum, namun matanya sedikit terbelalak. Aku tahu oke, aku tahu pasti bukan 'ew' untuk menciumnya. Hentikan Sadiya, kenapa kamu mengatakan itu. Aku merutuki diriku sendiri.
__ADS_1
"Aku akan menunjukkan kamarmu," ucap Sevda setelah kami mengobrol sebentar. Dia sangat cantik. Aku tidak melihat suaminya dan aku juga tidak berani bertanya. Aku pikir mereka bercerai karena tadi, Vian sedikit marah dan mereka berdebat dalam bahasa Turki ketika dia bertanya kenapa Vian tidak meneleponnya terlebih dahulu.
Kami berjalan ke kamar dan dia mengucapkan selamat malam. Aku hanya melihat satu tempat tidur, lalu aku menoleh ke arah Vian.
“Aku akan tidur di lantai saja,” ucapku sambil membawa bantal aku pergi ke kamar mandi untuk mandi, lalu mengganti pakaianku dengan piyama.
Ketika aku keluar dari kamar mandi, aku melihat Vian terbaring di tempat tidur dengan telepon di tangannya. Dia sedikit batuk-batuk dan sedikit pucat.
Aku duduk di lantai dan mulai merapikan tempat tidur dengan selimut yang aku temukan di sudut. Vian menarik nafas dalam-dalam lalu memutar bola matanya. Dia berjalan ke arahku sembari meraih tanganku dan membawaku ke tempat tidur. Dia mendorongku ke ranjang, lalu dia berbaring di sampingku.
Dia membelakangiku, tapi aku bisa melihat dia gemetar. Aku menyentuh bahunya untuk menanyakan ada apa sambil mencondongkan wajahku agar aku bisa melihat wajahnya.
"Vian, kamu kenapa?" Aku berbisik. Badannya panas namun dia menggigil. Aku menyelimutinya, lalu memeluknya.
"Sepertinya aku sakit," ucapnya sambil terbatuk-batuk beberapa kali. Aku beranjak ke dapur untuk membuatkan teh untuknya dengan lemon dan madu.
Aku merasa tidak enak karena harus membuka semua laci, karena tidak tahu dimana letak bahan-bahannya. Tetapi aku tidak ingin merepotkan Sevda.
Setelah mencari-cari, akhirnya aku menemukan semua bahan. Aku segera membuat teh. Setelah itu, aku bergegas kembali ke kamar.
Aku meletakkan secangkir teh di meja samping tempat tidur, lalu membantu Vian untuk duduk. Dia menatapku sesaat sebelum dia melihat cangkir itu.
"Aku membuatkanmu teh, ini akan membuatmu lebih. Kurasa kamu hanya sedikit flu," ucapku sambil menyerahkan secangkir teh padanya. Dia meletakkannya teh itu di depannya, memanaskan dirinya sendiri, mungkin.
"Terima kasih," ucapnya sembari menyeruput teh itu. Dia menyipitkan matanya, serta mengerutkan alis dan hidungnya.
"Berapa banyak jus lemon di dalamnya?" tanyanya sambil menyeka mulutnya dengan bajunya.
Aku mengambil cangkir dari tangannya, lalu menjejalkannya ke mulutnya, memaksanya untuk minum. “Minumlah jika ingin sembuh," ucapku tegas.
Dia mengalihkan pandangannya ke arahku, menatapku dengan wajah marah. Tetapi, aku hanya tersenyum, karena dia memang harus meminumnya meskipun dia tidak mau.
__ADS_1
Aku meletakkan cangkir itu di meja, lalu duduk di sebelahnya. Kaki sangat berdekatan satu sama lain dan aku duduk sambil menyilangkan sebelah kakiku.
Hanya dalam hitungan detik, dia menyeruput teh di cangkir itu dan langsung habis seketika. Aku menatapnya kaget seolah-olah dia gila. Bagaimana dia bisa minum teh sepanas itu?
"Apa yang akan kita lakukan di sini?" Aku bertanya padanya, sambil memikirkan alasan kenapa kami harus kabur dari rumah sendiri. Aku pikir dia tidak akan menjawabku, tapi ternyata dia menjawab.
"Aku punya beberapa rencana," ucapnya, namun dia tidak melanjutkan kata-katanya lagi. Rencana apa menangnya?
Aku memutar dudukku ke arahnya. Namun, dia malah menghindari tatapanku. Mau tak mau, aku menangkup wajahnya lalu memutarnya ke arahku.
"Kamu harus memberitahuku. Aku juga terlibat dalam masalah ini, dan aku ingin membantu," ucapku.
Aku tahu bahwa tidak banyak yang bisa aku lakukan, tetapi aku ingin dia memberi tahuku bagaimana kami akan menyelesaikan masalah ini. Karena masalah terlalu rumit bahkan harus kabur untuk menghindarinya.
"Ini semua demi keselamatanmu. Kamu tidak usah khawatir, dan kamu tidak perlu membantu apapun," ucapnya sambil menatapku dengan ekspresi serius.
Aku menatap mata cokelat terangnya yang agak merah karena dia sedang tidak enak badan. Aku menghela nafas, menyilangkan tangan dan membuang muka. Kali ini dia juga menghela napas, lalu meraih lenganku.
"Ini untuk keselamatanmu sendiri. Dan kamu tidak boleh ikut campur dalam urusanku!" katanya, nada bicaranya yang asli kembali muncul.
Aku tidak menjawab, tidak ingin memulai perdebatan karena aku tahu dia benar. Kenapa aku berpikir dia akan memberitahuku. Aku harus tahu diri, aku harus tahu siapa aku dalam hidupnya. Aku berbaring di tempat tidur, membelakanginya.
Tiga jam kemudian aku masih belum bisa tidur, meskipun aku sangat lelah. Aku duduk, merasa sedikit tidak nyaman. Kami tidak berdebat besar, tapi itu membuatku kembali mengingat semua kejadian buruk di masa laluku itu.
Namun ternyata aku salah. Aku menghembuskan nafas yang kutahan. Kenangan dari orang tuaku kembali muncul di pikiranku.
Saat itu, mereka makan malam bersama, tapi aku hanya bisa menontonnya, aku begitu lapar hingga aku akan pingsan. Mereka tertawa, bercanda, melakukan semua hal yang hanya bisa kuimpikan.
***
Aku mendengar beberapa gerakan tetapi tidak berbalik ke arah Vian. Aku tahu dia sudah bangun, tapi aku tidak ingin melakukan kontak mata dengannya.
__ADS_1
Dia masih tidur, tapi berpindah sehingga kepalanya ada di pangkuanku. Dia tidak melihatku saat aku melihat wajahnya karena penasaran kenapa dia begitu.
Dia memegang tanganku selama beberapa detik, lalu melepaskannya lagi. Dia masih menutup matanya. Aku sangat bingung. Sungguh hal yang aneh dan aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku hanya mengabaikan pertanyaan di kepalaku dan memejamkan mata, masih dengan kepalanya di pangkuanku, mungkin dia sedang bermimpi indah.