Cinta Bersemi Di Turki

Cinta Bersemi Di Turki
Ponsel Dari Vian


__ADS_3

Aku membuka pintu dengan marah. Aku tidak ingin berurusan lagi dengan mereka, apapun masalahnya. Mereka telah menjualku, meninggalkanku, dan tidak pernah memikirkanku. Lalu sekarang, kenapa aku harus mengakui mereka sebagai keluarga? Tidak! Aku tidak pernah memiliki keluarga dan tidak akan pernah memilikinya.


"Kumohon Khanza, dengarkan aku-" Seseorang yang mengaku sebagai kembaranku itu mulai bicara, tapi aku tidak akan membiarkannya membual lebih banyak.


"Kamu yang seharusnya mendengarkan! Pertama, aku Sadiya, bukan Khanza. Kedua, aku tidak pernah menginginkanmu, tidak akan pernah!" ucapku tegas sambil menutup pintu.


Tapi ... Aku tidak bisa memungkirinya. Di saat aku bertatap muka dengannya, aku melihat wajahku ada di wajahnya. Matanya, bibirnya, hidungnya, semuanya sama. Kami memiliki wajah yang sama, dan tidak butuh seseorang yang jenius untuk membuktikan bahwa kami kembar, bahkan orang terbodoh pun akan mengatakannya. Ini adalah pertama kalinya aku menyadari bahwa dia memang saudara kembarku. Aku merasakan aliran aneh menjalar di tubuhku saat ada di dekatnya, tapi aku mengabaikannya.


Dia terus mengetuk pintu tapi aku hanya bisa duduk membelakangi pintu. Setelah beberapa saat dia menyerah dan pergi. Aku merasa lega setelah itu.


Aku melangkahkan kakiku menuju dapur. Aku harus melakukan sesuatu untuk menyibukkan diri, pikirku. Agar aku dapat melupakan semuanya.


Aku mengeluarkan semua piring dan gelas dari rak dan mulai membersihkannya. Ada debu di atasnya karena sudah lama tidak digunakan. Tiba-tiba piring yang kupegang terjatuh dan pecah berkeping-keping di lantai.


Aku terlalu banyak berpikir hingga aku tak dapat melakukan pekerjaanku dengan baik, aku menjatuhkan semua piring di tanganku. Seluruh tubuhku seolah mati rasa, bahkan aku tidak bisa berdiri dengan benar.


Aku terduduk di lantai, mengamati pecahan piring porselen di depanku. Aku mulai menitikkan air mata. Aku benar-benar tidak berharga hingga tidak ada seorangpun yang ingin memilikiku, bahkan keluarga kandungku pun tak mau. Air mata mulai mengalir deras di wajahku.


Aku tahu, mungkin aku terlalu berlebihan. Tapi aku tidak bisa menahan diri. Aku merasa sangat kesepian, aku merasa sangat buruk. Aku tidak tahu bagaimana caranya menghadapi semua ini dan menghadapi semua kemungkinan buruk yang akan terjadi nanti.


Kenapa aku tidak punya tempat untuk tinggal? Kenapa aku tidak punya seseorang untuk dimiliki? Kenapa aku begitu kesepian? Benarkah aku seburuk itu untuk dicintai? Kenapa tidak ada yang melihatku hanya untuk sekedar bertanya apakah aku baik-baik saja ...


Aku hanya membutuhkan seseorang yang bertanya 'apa kabar?' Lalu, aku akan menjawab 'buruk'. Aku hanya ingin seseorang mendengarkan keluh kesahku, membiarkanku menemukan jati diriku dan kebahagiaanku.


Tiba-tiba aku merasakan perasaan aneh menjalar di tubuhku ketika seseorang mengangkat tubuhku dengan kedua lengannya dan membawaku ke sofa. Aku memejamkan mataku. Aku tidak perlu mendongak untuk melihat siapa itu. Aroma tubuhnya dan sentuhanya sudah mengatakan siapa orang itu.


Dia menempatkanku di pangkuannya dan aku membenamkan wajahku di lehernya, aku masih menangis. Aku merasa sangat buruk karena aku menangis di depannya, tapi aku tidak bisa menahan diri.


"Ssshh ... semuanya akan baik-baik saja. Aku ada di sini," ujarnya. Aku terisak lebih keras dan menyandarkan tubuhku padanya, aku merasa lebih tenang setelah mendengar suaranya, setelah mendengar kata-katanya yang mengiburku.


"Kenapa, Vian? Kenapa aku layak untuk dimiliki siapapun ..." tanyaku padanya. Tapi kurasa itu bukan pertanyaan, tapi pernyataan bahwa memang aku tak layak dimiliki siapapun. Vian mengeratkan pelukannya padaku.

__ADS_1


"Jika kamu bukan milik siapapun ... Kamu tidak akan berada di sini ... dalam pelukanku," ucapnya.


"Kamu .. jika kamu bukan milik siapa pun, kamu tidak akan berada di sini .. dalam pelukanku" katanya.


Aku melingkarkan lenganku di lehernya dan mendorong diriku lebih dekat ke arahnya. Dia mengeratkan pelukannya dan meletakkan dagunya di atas kepalaku. Dan itu membuatku merasa nyaman. Aku merasakan sesuatu yang belum pernah aku rasakan di sini, di pelukannya.


"Aku membelikanmu sesuatu," ucap Vian setelah kami duduk seperti itu entah berapa lamanya, mungkin beberapa jam. Beberapa jam rasa aman, rasa nyaman yang berhasil membuatku merasa lebih baik setelah semua itu terjadi.


"Untukku?" Aku bertanya padanya sambil menatapnya tak percaya. Dia mengangguk sembari mengambil tas di sampingnya. Dia memberikan tas itu kepadaku dan memintaku untuk membukanya.


"Apa ini?" tanyaku saat membukanya. Dia hanya diam tak menjawab. Aku mengambil sebuah kotak dari dalamnya. Aku terbelalak saat aku melihat apa isinya.


"Kupikir kamu membutuhkannya. Maksudku, setelah semua ini terjadi. Aku seharusnya membelikanmu lebih awal," ucapnya sambil mengusap kepalanya sendiri.


Aku melihat benda pipih persegi panjang itu di tanganku. Ini adalah ponsel. Sama seperti milik Vian, tapi yang ini berwarna putih. Aku tidak pernah punya ponsel. Dulu kakakku punya, dan aku diam-diam menyentuhnya karena penasaran.


Aku menatap mata Vian sambil tersenyum. Lalu, aku mencium ujung hidungnya yang mancung. Dia memutar bola matanya dan tertawa lembut.


Dia bergumam melihat tingkahku yang kekanak-kanakan. Lalu dia mengangkatku dengan kedua tangannya, dan dengan perlahan menempatkanku kembali ke sofa. Setelah itu dia berdiri dan mengambil laptopnya. Dia duduk di sofa di depanku dan mulai sibuk dengan laptopnya.


"Apa yang sedang kamu lakukan?" tanyaku sambil melihat layar laptopnya. Saat itulah aku melihat bahwa dia sedang melihat sebuah file berjudul 'Liza'. Aku mengernyitkan kening saat dia mengklik kembali sebelum aku bisa melihatnya. Aku menatapnya, dia tampak gugup dan gelisah.


Aku segera mengambil laptop itu dari pangkuannya dan segera membuka file itu. Meskipun aku tidak punya hak dan tidak berniat untuk melakukannya, aku sangat penasaran dengan isinya. Namun, sebelum aku dapat melihat apa yang dia sembunyikan, dia mengambil kembali laptop itu dan segera mematikannya.


Aku merasa bersalah, karena mencoba mengganggu privasinya. Aku hanya ingin dia lebih mempercayaiku. Namun aku tidak punya hak untuk menginginkan itu karena dia akan terus melakukan apapun tanpa sepengetahuanku.


Dia tidak mengatakan apa-apa dan aku juga tidak berbicara. Kami masih duduk di sofa selama beberapa saat, suasana menjadi hening. Akhirnya aku memulai pembicaraan.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang Vian?" Aku bertanya padanya. Aku masih bingung tentang orang tuaku. Dia diam sebentar, lalu menjawab.


"Kevin sangat berbahaya. Aku tidak suka dia ada di dekatmu," ucapnya, membuat jantungku berdegup lebih kencang.

__ADS_1


"Dia kan kakakku. Dia tidak akan melakukan apa-apa padaku," aku meyakinkannya. Dia menatapku sebentar.


"Begitu juga Husam," ucapnya sinis, membuat mataku membelalak. Dia memang benar, tapi cara dia mengatakannya sangat menyakitkan bagiku.


"Dia bukan kakakku!" ucapku tegas, mengingatkan dia bahwa Husam bukan lagi saudaraku.


"Tapi sebelumnya kamu mengira dia kakakmu, dan lihat apa yang dia lakukan," ucapnya sambil menaikkan salah satu kakinya ke sofa lalu meletakkan sikunya di atas lutut.


"Sebenarnya kamu ada di pihak siapa?" Aku bertanya padanya sambil berdiri. Dia menatapku, kebingungan terlukis di wajahnya.


"Kurasa aku tidak perlu menjawab pertanyaan itu," jawabnya sambil berdiri juga. Dia berdiri sangat dekat denganku dan aroma tubuhnya membuatku pusing tapi aku tetap kuat.


"Kamu harus menjawabnya. Lihatlah, kamu bersikap seolah-olah kamu ada di pihakku, tetapi kemudian kamu menunjukkan kepadaku bahwa kamu tidak di pihakku," ucapku sambil menyilangkan tanganku. Dia meraih sikuku, menariknya dengan perlahan.


"Berhentilah berpikir berlebihan. Aku hanya mengatakan itu karena aku tidak ingin kamu disakiti oleh seseorang yang telah menodongkan senjata ke kepalamu itu," ucapnya dengan lembut sambil membungkukkan badannya agar dapat menatap wajahku karena aku lebih pendek darinya. Aku menatap mata cokelat terangnya, mencoba mencari kejujuran di dalamnya.


"Tapi kamu menyembunyikan hal yang seharusnya aku tahu, tentang keluargaku," ucapku. Dia melepaskan tanganku lalu membuang muka.


"Tapi tidak apa-apa. Kamu sudah banyak membantuku. Jadi, adil bagimu untuk menyembunyikannya," aku mencoba untuk bercanda agar suasananya tidak begitu tegang. Aku melihatnya menjadi sedikit tenang, dan dia kembali duduk di sofa.


"Kita perlu bicara," ucapnya. Aku pun duduk di sebelahnya. Aku tahu, dia seolah memiliki sindrom bipolar, yang terkadang kepribadiannya berubah-ubah.


"Apa yang akan kita lakukan?" ucapnya sambil menatap lurus ke depan dan terlihat sedikit tegang. Aku menatapnya dengan bingung, tidak mengerti apa yang dia maksud.


"Tentang kita," ucapnya pelan tanpa menatapku. Jantungku berdetak lebih cepat ketika dia mengatakan kata 'kita' dan aku tidak tahu kenapa.


“Kamu masih belum memberikan jawabanmu,” ucapnya kemudian. Aku mulai paham bahwa dia bicara tentang perceraian. Aku mengangguk tanda mengerti, meskipun kutahu dia tidak melihatku.


"Aku belum punya waktu untuk berpikir," jawabku. Apa dia mengira aku sudah menyiapkan jawabanku? Setelah hal-hal yang terjadi beberapa hari ini?


"Aku ingin jawaban," ucapya, membuatku memutar bola mataku. Di saat aku berpikir bahwa dia telah mengubah sikapnya, dia kembali pada sikapnya yang kasar lagi, itulah yang membuatku merasa sulit. Namun aku tak dapat memungkiri bahwa terkadang aku merasa sangat bahagia bersamanya.

__ADS_1


"Baiklah, kamu akan mendapatkan jawabannya setelah aku membuat keputusan," jawabku dengan sedikit kesal. Dia menatapku sambil mengangkat sebelah alisnya, lalu membalikkan badannya lagi.


"Cepatlah!" perintahnya, membuatku menampar kepalanya dengan main-main sebelum aku pergi ke dapur.


__ADS_2