Cinta Bersemi Di Turki

Cinta Bersemi Di Turki
Saudara Kembar


__ADS_3

"Stop! Hentikan!" Tiba-tiba seseorang datang dan berteriak. Aku seperti mengenal suara itu. Aku membuka mataku dan mengingat-ingat kapan aku mendengar suara itu. Itu adalah suara pemuda asing yang kutemui waktu itu, saat di bus, di supermarket bersama Salma, dan dia yang saat itu menghampiriku ketika aku sedang menangis. Apa yang sedang dia lakukan di sini?


"Kak Kevin! Kau pikir apa yang sedang kamu lakukan?!" Pemuda itu berteriak. Aku mencoba mengingat namanya, tapi aku lupa. Dia tampak malu saat melihatku. Dia mulai mengambil langkah ke arahku dan aku merasa takut kalau-kalau pria yang memegangku akan menembaknya karena dia mengganggu.


"Jangan ikut campur, Dik. Jika Vian tidak bermain di belakangku, tidak akan terjadi apa-apa pada gadis ini. Dia harus mendapatkan apa yang pantas dia dapatkan," ucap pria bernama Kevin itu padanya. Aku sangat bingung melihat apa yang sedang terjadi.


"Apa kau sudah gila?! Letakkan pistol itu! Dia adalah Khanza! Kau dengar aku, Kak?! Dia adalah Khanza!" ucapnya membuat Kevin menegang.


Kevin terdiam membisu. Aku tidak tahu apa maksudnya semua ini? Aku benar-benar bingung. Aku mengalihkan pandanganku ke arah Vian. Dia menatapku sesaat, lalu menundukkan wajahnya ke bawah. Kenapa dia seperti itu? Apakah dia tahu tentang masalah ini? Bisa-bisanya dia menyembunyikan hal ini dariku?


"Dia bukan Khanza. Ini bukan waktunya untuk bercanda, Kenzo!" ucap Kevin dengan yakin. Dia menarik pistolnya sedikit menjauh dari kepalaku. Aku menggerakkan kepalaku sedikit karena sakit.


Pria bernama Kenzo yang pernah kulihat sebelumnya di dalam bus itu mendekat ke arahku lalu mengambil pistol itu dari tangan Kevin. Aku takut Kevin akan marah dan menembaknya, tetapi dia tidak melakukannya.


"Apa kau tidak melihatnya ?! Dia memiliki mata yang sama, bibir yang sama, rambut yang sama! Apa kau tidak melihatnya?!" Kenzo berteriak pada Kevin. Tak lama kemudian Kevin menatapku dengan aneh. Ia mengamati wajahku. Aku benar-benar bingung, tidak tahu apa yang sedang terjadi.


"Tidak, dia tidak mirip dengan Khanza!" ucapnya dengan yakin.


"Dia adalah Khanza!" ucap Kenzo. Mereka pun melanjutkan perdebatan mereka tentang aku. Dia bilang aku Khanza? Siapa itu Khanza? Aku benar-benar tidak mengerti.


"Bisakah seseorang memberitahuku apa yang terjadi?!" Aku menyela mereka. Mereka membicarakanku seolah-olah aku tidak ada di sana. Aku mengalihkan pandanganku ke arah Vian, tapi dia membuang muka.


"Lihat aku Khanza. Aku Kenzo!" ucapnya lirih sambil menatap mataku dalam-dalam. Suaranya terdengar parau, seolah-olah dia menahan napas saat berbicara.


"Dengarkan aku. Aku harus memberitahumu sesuatu," ucapnya kemudian.

__ADS_1


Aku mengangguk padanya tak sabar agar dia melanjutkan. Pasti ada alasan kenapa dia ada di sini dan aku benar-benar ingin tahu kenapa.


"Ya, aku ... aku ... beberapa bulan yang lalu aku menemukanmu. Aku ... aku sedang mencari kembaran-" ucapnya terbata-bata. Dia berhenti dan menghela nafas sebelum kata-kata benar-benar selesai.


Kevin memutar bola matanya malas


"Dia mengira bahwa kamu adalah saudara kembarnya, dan adik perempuanku. Tapi aku tidak percaya padanya," ucap Kevin.


Tiba-tiba suasana menjadi hening. Tak satu pun bicara. Kebingungan adalah satu-satunya hal yang bergelayut di pikiranku. Mataku terbelalak mendengar perkataannya, dan jantungku mulai berdetak kencang tak beraturan. Ini tidak benar. Tidak! Mereka pasti salah orang.


"Tadinya aku juga tidak percaya kalau dia adalah saudara kembarku. Tapi, saat kami bertemu waktu itu, aku sempat mengambil sehelai rambutnya untuk melakukan tes DNA. Dan ternyata benar, dia kembaranku!" Dia berteriak.


Mereka saling berteriak, tapi aku tidak mendengarkan. Kembar? Bagaimana mungkin aku punya saudara kembar?


"Tolong, dengarkan aku. Aku ... " Dia berusaha menjelaskan, namun aku sudah terlanjur muak dengan semua ini.


"Hentikan! Aku tidak percaya padamu! Aku hanya punya satu saudara laki-laki yang hebat dan namanya Husam. Aku tidak mengenalmu, dan aku bukan saudara kembarmu! Itu tidak mungkin terjadi!" Aku berteriak pada mereka.


Aku melangkahkan kakiku ke arah Vian. Aku mendorong orang-orang yang menahannya. Lalu, aku membantu Vian untuk berdiri. Aku dan Vian harus segera keluar dari sini. Mereka semua adalah penipu, aku yakin itu. Aku tidak ingin jatuh ke dalam perangkap mereka.


"Khanza, tolong dengarkan. Kamu memang benar-benar saudara kembarku!" ucap Kenzo.


"Aku adalah Sadiya. Aku Sadiya. Aku tidak tahu apa yang kamu inginkan dariku, tapi tolong tinggalkan aku sendiri!" Aku menyelanya sambil menatapnya tajam.


Aku melangkahkan kakiku ke dalam rumah. Aku masuk lalu duduk di sofa, rasanya kakiku sudah tidak berpijak di bumi.

__ADS_1


Sebelum aku bisa berpikir dengan jernih tentang apa yang baru saja terjadi, tiba-tiba Kenzo melangkah masuk dan berjalan lurus ke arahku.


Aku melihat sekeliling untuk mencari celah agar aku bisa menghindar darinya, tapi aku tidak bisa. Dia meraih tanganku, dan tiba-tiba aku merasakan perasaan aneh menjalar dari sentuhannya.


"Tidak bisakah kamu merasakan ini? Apakah kamu tidak merasakan hal yang sama?! Perasaan aneh itu? Kamu merasakannya, kan?" tanyanya sambil memegang tanganku. Aku membelalak tak percaya. Bagaimana dia bisa tahu apa yang aku rasakan?


"Tidak! Sudahlah, pergi saja sana. Aku tidak ingin berurusan denganmu dan dengan kalian semua, apa pun itu masalahnya. Sekarang tinggalkan aku dan hentikan perseteruanmu dengan Vian," ucapku. Dia menatapku sesaat dengan raut wajah tak percaya.


"Baiklah ... Aku akan meninggalkanmu sendiri untuk saat ini. Jika itu yang kamu inginkan," ucapnya sambil menatapku untuk terakhir kali sebelum dia pergi.


Aku melihat gerombolan orang-orang itu dari jendela, mereka semua pergi. Akhirnya aku bisa merasa lega.


Aku mengalihkan pandanganku ke arah Vian. Dia menatapku dengan perasaan bersalah. Dia tahu tentang masalah itu, dia tahu semuanya, tapi dia diam saja.


"Sudahlah, besok saja kita bicara lagi. Sekarang pergilah," ucapku pada Vian.


Dia malah bergeser mendekatiku, mencoba untuk duduk di sebelahku, masih berharap aku akan bicara padanya. Tidak bisakah dia mengerti sedikit saja kalau aku sudah sangat lelah?


"Sadiya, dengarkan ak-" ucap Vian pelan, tapi aku segera menyelanya.


"Sudahlah. Aku tidak ingin bicara dengan siapapun sekarang," ucapku. Aku menarik nafas dalam-dalam dan memejamkan mata.


Dia ingin aku membatalkan perceraian. Dia bersikap seolah-olah dia setia, tapi dia bisa menyembunyikan sesuatu sebesar ini dariku?


Besok ... Besok, aku akan menghadapi mimpi burukku. Besok, aku akan menghadapi masa laluku. Mungkin, besok aku akan mendapatkan jawaban yang tidak pernah ingin kudengar. Besok, aku akan tahu kebenarannya.

__ADS_1


__ADS_2