
"Mungkin saja, gadis itu menginginkan Vian kembali. Jika itu benar, kamu harus mempertahankan Vian. Jangan menyerah sebegitu mudahnya. Sekali saja, sekali saja tunjukkan kalau kamu kuat. Kenapa kamu seperti ini? Kamu bukanlah wanita lemah yang menyedihkan, bukan? Jadi, janganlah bersikap seperti itu!" teriak Masara.
Aku menurunkan kedua tanganku yang menopang dagu. Aku menatapnya. Aku mengerti. Ya, aku mengerti. Aku bersikap lemah, benar, seperti yang dikatakan Masara. Aku bangkit dari dudukku sembari mengambil tasku lalu beranjak pergi.
Jangan ada air mata. Jangan ada air mata, jangan ada ... Aku berkata pada diriku sendiri sepanjang waktu.
Setelah berjalan beberapa meter ke depan, aku kembali merasa lemas. Aku terduduk di tanah, sementara punggungku bersandar di dinding sebuah bangunan. Beberapa saat kemudian, aku mendengar suara dari seseorang yang berdiri di depanku.
"Aku minta maaf. Tapi kamu tahu, apa yang kukatakan itu benar. Ayolah, aku akan membantumu. Kita akan menunjukkan pada semua orang, terutama Liza dan keluarga palsumu," ucapnya sambil mengulurkan tangannya.
Aku menatapnya sesaat lalu membuat keputusanku. Dia memang benar. Aku menerima uluran tangannya, dan dia membantuku untuk berdiri.
"Kita akan belanja lagi besok, ini masih belum cukup," ucapnya. Aku melirik tas itu. Itu semua sudah lebih dari cukup bagiku.
...***...
Aku mengirim pesan pada Kenzo bahwa aku akan pulang ke rumahku. Dan sekarang, aku sudah berdiri di depan rumahku, maksudku rumah Vian. Aku bimbang, harus masuk atau tidak. Tapi, aku harus melakukannya.
Aku melangkah maju, lalu mengetuk pintu. Aku sudah mengetuk berkali-kali, namun pintu itu tidak juga terbuka. Aku memutar kedua bola mataku. Tentu saja, Vian tidak akan membukanya. Aku mengeluarkan kunci rumah dari tasku lalu membukanya.
Aku melangkahkan kakiku masuk. Aku melihat Vian duduk di sofa, dengan kepalanya berpangku pada kedua telapak tangannya. Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling, dan aku terbelalak. Apa yang baru saja terjadi di sini? Kekacauan apa ini?
Vian mendongak, melirikku sekilas. Lalu dia kembali berpangku tangan. Aku beranjak menghampirinya, lalu duduk di sebelahnya.
"Hey ..." ucapku sambil mengusap pundaknya. Dia hanya mengangguk kecil.
__ADS_1
"Kamu baik-baik saja?" Aku mencoba memberanikan diri untuk bertanya. Aku harus berhati-hati, agar dia tidak marah lagi seperti sebelumnya.
"Sangat baik," jawabnya, membuat dadaku terbersit rasa sakit tiba-tiba. Dia menggunakan nada bicara itu lagi, nada bicara yang dia gunakan di saat-saat awal pernikahan kami. Aku tidak ingin, apa yang sudah kami bangun dengan susah payah, harus hancur begitu saja.
'Lakukan sesuatu,' Aku mendengar suara dari dalam diriku.
"Tidak. Aku tahu kamu sedang tidak baik-baik saja. Kamu bisa cerita apapun padaku," ucapku sambil memeluk lengannya. Dia mendorongku. Aku pun melepaskan pelukanku. Aku mengerti, aku tidak akan menyentuh lagi. Aku berdiri, lalu membersihkan seisi ruangan yang berantakan.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" Dia bertanya padaku. Jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya. Apakah dia benar-benar telah mengusirku dari rumah ini?
"Apa?" tanyaku sambil menatap matanya. Bukan, aku tahu itu bukan ekspresi wajah yang sama seperti di awal-awal pernikahan kami.
"Pergi saja pada keluarga bodohmu itu. Mereka yang telah menyebabkan ini semua," ucapnya.
Aku tahu, dia sedang bicara tentang keluarga kandungku, tentang Kevin. Aku tidak tahu apa yang merasukiku, namun aku merasa seolah mendapat kekuatan.
"Aku bukan lagi gadis lemah yang selalu kamu gunakan untuk melampiaskan amarahmu. Aku bukan lagi budakmu, dan aku tidak akan lagi menuruti semua perintahmu. Kamu tidak bisa bicara seperti itu tentang keluargaku. Ini semua adalah kesalahanmu seperti, dan kamu sangat memahami itu. Aku akan membuktikan padamu bahwa aku bisa menjadi gadis yang kuat. Kata-katamu tidak berarti apa-apa bagiku. Aku tidak lagi merasa sakit saat mendengarnya. Jadi, tarik semua kata-kata tak bergunamu itu. Aku akan mempertahankan semuanya!" teriakku.
Untuk pertama kalinya, aku melakukan sesuatu seperti ini. Tubuhku mulai gemetar, tapi aku berusaha untuk menyembunyikannya. Dia berdiri dan beranjak menghampiriku, hingga berada begitu dekat denganku. Hingga tubuh kami saling bersentuhan. Aku mengabaikan perasaan aneh yang muncul di hatiku, aku menatap dalam-dalam matanya.
"Mempertahankan apa, hah? Mempertahankan apa?" tanyanya. Jadi, dia ingin aku mengakuinya. Baiklah, akan kukatakan.
"Mempertahankanmu!" ucapku sambil mendorong tubuhnya.
"Mempertahankanmu, bodoh, bipolar, idiot! Aku akan memenangkanmu! Aku tidak tahu kenapa, tapi yang kupikirkan selalu kamu! Kamu, kamu dan kamu! Dan akan selalu kamu! Dan aku tidak akan membiarkan perempuan lain datang dan menghancurkan semua hubungan yang telah kita bangun! Aku tidak akan membiarkannya! Tidak akan pernah!" Aku berteriak.
__ADS_1
Aku sudah gila. Aku harus pergi dari sini sebelum aku menghancurkan ini semua. Aku melangkahkan kakiku ke luar, aku tidak mempedulikan wajah terkejut Vian.
Baru saja aku berdiri di depan pintu, aku melihat gadis itu berjalan mendekat. Dia melangkahkan kakinya menuju tempatku berdiri, mungkin dia ingin menemui Vian lagi. Sebelum dia sampai di rumahku, aku berjalan menghampirinya.
Dia mendekat, sedangkan aku masih berdiri di pintu. Sehingga, kalau dia ingin masuk, dia harus melewatiku. Dan itulah yang aku inginkan.
Dia berdiri tepat di depanku sambil tersenyum. Dia melangkahkan kakinya selangkah maju, mengisyaratkan padaku agar aku memberinya jalan. Namun, aku tetap diam, aku mengangkat sebelah alisku. Dia menatapku dengan tatapan penuh tanya.
"Bisakah kamu bersikap baik, dan memberiku jalan agar aku masuk?" tanyanya.
Aku masih menatapnya, aku ingin menantangnya. Entah dari mana kepercayaan diri ini muncul, namun aku menyukainya. Gadis itu memutar bola matanya malas, lalu menepuk pundakku agar aku bergeser. Namun, aku tidak bergerak sedikit pun.
"Aku tidak tahu siapa kamu dan apa maumu. Jadi, jangan mencoba mencari masalah denganku! Biarkan aku masuk!" ucapnya.
Ohh, jadi sekarang dia tidak lagi bersikap manis? Aku tetap tidak bergerak. Dia ingin menyentuhku lagi, namun kali ini aku lebih dulu mendorongnya.
"Kamu pikir kamu siapa?!" tanyanya dengan marah.
"Aku pikir aku siapa? Aku istri sahnya Vian. Menantu dari keluarga tuan Oesman," ucapku tegas.
"Oh, apa aku harus takut denganmu? Minggirlah, aku tidak akan menceritakannya pada Vian," ucapnya sambil berusaha melewatiku. Namun, aku tidak akan membiarkannya masuk.
"Kamu sangat lucu, kamu tahu itu?" ucapku sambil maju selangkah mendekatinya.
"Kamu tidak sadar, mau masuk ke rumahku, tapi tanpa seizinku? Tidak sadar, mau menemui suami orang? Sekarang, tatap mataku, aku ingin tahu. Apa kamu tidak punya harga diri?" ucapku sinis.
__ADS_1
Mata gadis itu terbelalak dan mulutnya menganga sesaat, membuatku merasa bersalah. Namun, aku benar kan? Dia harus tahu kalau Vian sudah menikah.