
Aku segera menutup pintu tanpa berkata apa-apa, sayangnya aku kalah cepat. Sebelum aku sempat menutupnya dengan rapat dan menguncinya, pria itu mendorong daun pintu itu dari luar, aku tak bisa menahannya. Tubuhku ikut terdorong bersamaan dengan terbukanya pintu itu. Dengan secepat kilat pria itu masuk lalu mengunci pintunya. Rasa takut menjalar di sekujur tubuhku dan aku bisa merasakan tubuhku gemetar ketakutan.
"Apa yang akan kamu lakukan? ... Si-siapa ka-" aku tak dapat melanjutkan perkataanku karena dia membekap mulutku dengan telapak tangannya.
Aku merasa kesulitan bernapas. Aku mencoba menarik nafas sebisa mungkin, namun tangannya begitu kuat mencengkram mulutku dan hidungku. Aku berusaha melepaskan tangannya, aku mencoba menendangnya namun dia sama sekali tidak merasakan apa-apa. Aku mulai menangis ketakutan. Aku sangat takut memikirkan apa yang akan terjadi? Apa yang akan dia lakukan padaku?
"Dengarkan aku, cantik ... Katakan pada suamimu yang sialan itu bahwa dia tidak bisa melakukan apa-apa! Dia tidak akan bisa melawanku! Katakan padanya, dia harus memberiku semua uang, ganja dan obat-obatan itu. Jika dia tidak memberikannya. Maka, aku akan mengambil apapun yang dia punya. Termasuk dirimu! Hahaha ... " bisiknya sambil menyeringai menatapku lekat-lekat, disertai gelak tawa. Aku membelalakkan mata, seolah tak percaya apa yang baru saja dikatakannya. Ada masalah apa antara Vian dengan pria menyeramkan itu? Aku masih gemetar ketakutan. Aku mencoba melepaskan tangannya dari mulutku, tapi dia terlalu kuat.
"Mengerti?!" bentaknya mengejutkanku, membuat jantungku terasa hampir copot. Aku mengangguk menuruti perkataannya. Dengan sigap dia melepaskan tangannya yang kekar dari mulutku lalu mendorongku kasar hingga aku terjatuh di lantai. Tanganku meraba dinding di sebelahku dan mencoba untuk menggeser kakiku menjauh darinya.
"Bagus! Aku akan kembali lagi," ucapnya sembari melangkah pergi lalu menutup pintu dengan keras. Aku terjingkat kaget. Aku segera bangkit dan berlari ke kamar Vian untuk bersembunyi.
Tubuhku masih gemetar ketakutan. Aku takut dia akan kembali lagi. Aku segera berlari untuk mengunci pintu dan menutup semua tirai jendela. Aku tidak berani melihat keluar, aku sangat takut melihatnya lagi di luar sana. Aku kembali ke kamar Vian dan duduk di sisi ranjang, membiarkan air mata mengalir di wajahku.
***
Aku membuka mataku dan mendapati diriku sedang berbaring di ranjang Vian. Aku memikirkan, kenapa aku bisa tertidur di sini? Dalam hati aku menggerutu menyalahkan diri sendiri kenapa tidak tidur di kamarku sendiri. Aku membuka pintu kamar Vian lalu melongokkan kepalaku ke luar, mencari Vian. Siapa tahu dia ada di rumah. Aku tahu dia juga terkadang mengerikan, tapi aku merasa ingin melihatnya ada di sini sekarang.
"Vian?" ucapku sedikit keras namun tak ada jawaban.
Aku memberanikan diri untuk berjalan ke luar, tapi tiba-tiba kepalaku terasa sakit lagi. Aku menekuk kedua lututku terduduk lemas di lantai. Aku duduk di sana cukup lama hingga sakit kepalaku benar-benar hilang.
Beberapa saat kemudian, aku merasa lebih baik. Aku beranjak ke kamar mandi. Tanpa sadar aku mengambil wudhu. Setelah itu aku memakai mukena dan memulai sholat Dhuha. Setelah selesai sholat, aku merasa sangat damai. Entah kenapa, aku tidak tahu. Paling tidak, aku bisa melupakan masalahku sejenak.
"Perbaiki hubunganmu dengan Allah. Maka, Allah akan memperbaiki hubunganmu dengan sesama manusia." Aku mengingat tulisan di buku itu. Aku tersenyum. Kurasa itu memang benar. Terkadang aku bahkan melupakan waktu sholat, aku menyadari aku memang makhluk yang lalai. Mulai sekarang aku bertekad untuk sholat tepat waktu.
Akhirnya aku merasa lebih baik. Aku tidak lagi merasa takut seperti sebelumnya. Ada Allah yang akan selalu melindungiku, aku yakin itu. Semua ini hanyalah ujian, aku meyakinkan diri sendiri.
Setelah selesai melipat mukena, aku pergi ke stasiun bus untuk naik bus ke supermarket. Vian tidak pulang ke rumah, jadi aku mencari kesibukan sendiri agar bisa melupakan semua kejadian di masa laluku yang seringkali menghantuiku.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Bus yang kutunggu sudah datang, aku segera masuk ke dalamnya. Aku berjalan di dalam bus ke bagian belakang untuk mencari kursi yang kosong.
Aku melihat seorang pemuda seusiaku, dan aku tidak bisa memalingkan mataku darinya. Aku merasa sangat dekat dengan pemuda itu. Entah kenapa. Dan siapa dia? Hatiku tergerak untuk memanggilnya.
Baru saja aku ingin menemuinya untuk bertanya padanya apakah dia mengenalku, dia sudah berjalan ke luar dari bus ini. Aku ingin mengejarnya, tapi bus ini sudah melaju. Aku sangat menyesal tidak menemuinya dari awal. Aku menggelengkan kepalaku dan kembali duduk. Aku berusaha untuk tidak memikirkannya lagi, tapi wajahnya seolah melekat di ingatanku. Aku merasa begitu dekat dengannya, seolah ada ikatan batin. Tapi, aku tidak tahu siapa dia.
***
Setelah membeli segala keperluan di supermarket, aku memutuskan untuk kembali ke rumah. Sesampainya di rumah, ketika aku baru saja akan memutar gagang pintu, aku mendengar suara seseorang di balik pintu. Aku menempelkan telingaku agar dapat mendengarnya lebih jelas.
"Katakan pada mereka, mereka tidak bisa melakukan apapun," suara yang ku dengar di balik pintu. Aku sangat yakin itu adalah suara Vian. Aku mendengarnya berbicara dengan keras. Kurasa dia sedang berbicara di telepon.
"Aku akan membunuhnya dan semua anggotanya. Percaya padaku! Ini bukan pertama kalinya aku membunuh orang ... Mereka harus melakukan tugas mereka dengan baik. Jangan sampai aku tertangkap lagi ... Polisi sudah memata-mataiku ... Aku tidak akan menyerah begitu saja. Lakukan seperti yang kuperintahkan!" Dia terdengar berteriak.
Aku benar-benar terkejut mendengar perkataannya. Aku segera memutar gagang pintu dan membukanya. Aku melihat Vian berdiri menatapku terkejut.
"Kita harus bicara," ucapnya. Aku mengangguk tak tertarik, mencoba agar terlihat kuat di depannya.
Dia menarik kursi di depannya mempersilahkanku duduk. Aku menunggunya memulai pembicaraan. Aku mengingat kejadian pagi tadi saat dia membenturkan punggungku ke tembok. Aku masih merasa sakit, dan belum bisa memaafkannya. Aku memejamkan mataku sesaat. 'Allah saja bisa memaafkan hambanya yang penuh dosa. Kenapa aku tidak bisa memaafkan orang lain? Aku tidak boleh menyimpan dendam. Tidak boleh!' Aku berkata pada diriku sendiri dalam hati. Namun tetap saja rasanya begitu sulit untuk memaafkannya. Aku tidak bisa memaafkannya!
"Kamu lihat sendiri kan, Sadiya? Kita memang tidak cocok satu sama lain. Tapi untuk sekarang, aku ingin kamu berhati-hati. Hanya dalam beberapa hari ini saja ... Jangan tanyakan aku kenapa!" ucapnya dengan mimik serius.
Aku menunggunya untuk meminta maaf atas kejadian pagi tadi. Tapi itu tidak mungkin. Aku memang bodoh!
"Kenapa kamu peduli denganku?" tanyaku dengan pertanyaan yang sama seperti yang dia lontarkan ketika aku membantu mengobati luka-luka di tubuhnya.
"Karena aku tidak mau berurusan dengan polisi lagi!" ucapnya tegas.
"Dengan siapa kamu berkelahi waktu itu? Katakan padaku, maka aku akan berhati-hati," ucapku. Dia menarik nafas dalam-dalam, aku yakin dia tidak akan menghindari pertanyaanku.
__ADS_1
"Itu hanya perkelahian dengan preman jalanan. Tidak ada yang penting!" ucapnya. Aku tahu dia pasti berbohong. Aku memutuskan untuk tidak menceritakan kejadian pagi tadi ketika pria menyeramkan itu datang menemuiku.
"Baiklah," jawabku. Dia mengangguk sembari mengayunkan langkahnya ke kamarnya.
"Dia bahkan tidak bisa meminta maaf," gerutuku sambil melihatnya melangkah pergi.
"Aku sudah mencoba untuk meminta maaf padamu tadi pagi. Tapi kamu tidak mau mendengarkannya. Mungkin saja itu pantas menjadi hukuman untukmu," ucapnya, ternyata dia mendengarku.
Aku membelalakkan mata menderanya. Aku tidak pernah melakukan suatu kesalahan. Kenapa aku harus mendapat hukuman? Aku tidak layak untuk dihukum! Aku berjalan mendekat ke arahnya hingga jarak antara aku dan dia begitu dekat.
"Apa yang kamu tahu tentangku? Pernikahan palsu ini adalah hukuman terbesar bagiku. Kamu adalah hukuman bagiku!" ucapku, membiarkan amarah menguasaiku.
Dia terdiam sesaat. Aku tidak bisa membaca ekspresi di wajahnya.
"Jika aku tidak menikahimu, mungkin hidupku akan lebih bahagia," ucapnya.
"Jika kamu menikahi seorang. Kamu pikir siapa yang akan tahan dengan sikapmu? Huh!" ucapku. Aku mengentikan perkataanku. Aku menyadari topik pembicaraan ini sudah melenceng terlalu jauh akibat perkataanku tadi.
"Sebenarnya, aku sudah jatuh cinta ... Tapi tidak denganmu!" Dia berkata seolah-olah aku tidak tahu itu.
"Ya, aku tahu itu. Lalu, apa yang telah dilakukan Liza sehingga kamu tidak menikahinya? Apakah dia selingkuh? Apakah dia meninggalkanmu karena menemukan yang lebih baik darimu?" aku mencebik mengejeknya. Aku melihat Vian mengepalkan tangannya. Ia hampir saja memukulku namun ia menahannya. Aku jadi merasa bersalah. Aku bukan siapa-siapa baginya, jadi tidak seharusnya aku mengatakan apa-apa tentangnya, apalagi tentang gadis yang bernama Liza itu.
"Lakukan saja. Lakukan apa yang kamu mau, aku tidak peduli," ucapku. Aku tahu perkataanku barusan telah menyulut emosinya.
Sesaat kemudian dia melangkahkan kakinya ke arahku. Membuatku terpaksa melangkah mundur hingga membentur dinding.
"Kalau kamu berani menyebut namanya sekali lagi, aku tidak segan-segan menutup mulutmu dengan caraku sendiri. Kamu tidak tahu apa-apa, jadi tutup mulutmu sebelum aku bertindak. Kamu benar-benar menyedihkan! Semua orang meninggalkanmu. Tidak satupun orang membutuhkanmu. Karena itu tidak perlu mencampuri urusan orang lain, dan tutup mulutmu!" ucapnya sambil menatap jijik ke wajahku. Setelah itu dia beranjak pergi ke kamarnya.
Hatiku terasa sakit mendengarkan perkataannya. Tapi dia memang benar! Aku harus pergi dari sini, ucapku pada diri sendiri. Aku mengambil tasku. Di dalamnya ada nomor Salma yang kutulis di atas kertas. Aku segera memanggil nomornya dengan interkom.
__ADS_1