
Aku bergegas ke kamar Vian. Ternyata dia sedang berbaring di ranjang dengan kedua tangannya dilipat dibelakang kepalanya, sambil melihat langit-langit.
Aku menghampirinya dan merebahkan tubuhku di sampingnya. Lengannya segera melingkari pinggangku dan aku menjalin jari-jari kami, entah kenapa aku tidak bisa menahan diri. Suasana menjadi hening. Namun aku selalu merasa nyaman saat berada di dekatnya.
"Vian... Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku benar-benar tidak tahu," ucapku pelan.
Aku sangat berharap dia akan mengatakan sesuatu, karena aku benar-benar tidak mengerti. Dia meraih daguku dan membuatku menatapnya. Aku menatap mata cokelat terangnya yang cerah.
"Lihat, dia benar-benar terlihat seperti orang yang baik. Dia terlihat tulus. Maksudku, bagaimana dia memelukmu, bagaimana dia menangis. Apakah semuanya terasa nyata?" Dia bertanya padaku dan aku mengangguk.
"Kalau begitu, luangkan waktumu. Ini bukan sesuatu yang mudah, aku mengerti. Kamu tidak bisa terbiasa dalam sehari. Perlu waktu," ucapnya kemudian. Aku mengangguk sembari memalingkan wajahku darinya. Dia benar. Aku tidak perlu melakukan apa-apa selain menunggu.
"Lihat aku... " ucapnya pelan, membuatku segera menoleh ke arahnya. Aku menatapnya lagi.
"Aku di sini baik-baik saja. Aku tahu, mungkin aku tidak akan pernah bisa menjadi pria yang ... mencintaimu. Tapi, aku tidak ingin ini berakhir. Kamu selalu ada untukku, meskipun aku selalu memintamu untuk pergi," ucapnya sambil berkaca-kaca.
"Kamu selalu membantuku. Jadi, aku ingin membantumu juga ... Mungkin, suatu hari kamu akan menemukan orang lain. Kamu akan menemukan seseorang yang bisa dengan tulus mencintaimu. Namun, sebelum waktu itu tiba, tolong tinggallah denganku. Aku akan selalu ada untukmu. Selalu," ucapnya kemudian. Mataku membelalak. Benarkah Vian mengatakan itu?
Dia tertawa kecil dan menggelengkan kepalanya melihatku membelalak.
"Ya, aku berjanji. Akan selalu ada untukmu," ucapnya sambil tersenyum.
Aku memukul dadanya dengan pelan, lalu meletakkan kepalaku di atasnya. Aku memeluknya erat sambil mendengarkan detak jantungnya.
Semua ini begitu berat untukku. Aku tidak kuat. Aku tidak bisa melakukan ini sendirian. Aku membutuhkannya...
"Vian ..." ucapku dengan lembut. Dia hanya bergumam sebagai jawaban.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan tinggal bersamamu," ucapku sebelum terlelap di sampingnya.
***
"Kamu benar-benar tidak berguna!" Teriak pria itu sambil menendang perutku. Sakit sekali dan rasanya aku akan memuntahkan darah. Aku memejamkan mataku. Aku tidak ingin melihatnya.
"Kami sengaja meninggalkanmu!" Terdengar suara orang lain. Suara Kevin! Tidak, tidak! Itu tidak mungkin benar. Kevin dan Kenzo, mereka tidak akan pernah melakukan itu.
"Tentu saja mereka akan melakukan itu! Kami akan melakukannya, karena kamu memang tidak berharga, tidak berguna!" ucap seorang wanita di sana ... Dia akan melakukan itu? Dia akan membuangku? Tidak, dia tidak akan melakukannya. Dia adalah ibuku! Ini tidak mungkin!
"Hentikan!" Aku mendengar suara itu. Suara seseorang yang selalu melindungiku.
Aku tersenyum tipis. Dia, dia adalah orang yang tidak pernah menginginkanku, tetapi selalu menyelamatkanku. Dia selalu ada untukku. Aku membuka mataku perlahan untuk melihatnya. Tapi apa yang baru saja kulihat, membuat mataku terbelalak. Mereka tidak boleh melakukannya...
Aku ingin berteriak, berteriak kepada mereka untuk berhenti. Aku ingin berteriak untuk mengatakan pada mereka bahwa mereka bisa membawaku dan menyiksaku sampai mati, tapi aku tidak akan pernah membiarkan mereka menyentuhnya. Aku ingin melindunginya, seperti dia yang selalu melindungiku.
"Tidak!" Aku berteriak sambil bangkit dari tidurku. Aku melihat sekeliling dan mendapati diriku berada di tempat tidur Vian. Mataku masih berkaca-kaca, dan nafasku tak beraturan.
Sesaat kemudian aku merasakan sepasang lengan merengkuhku dan meletakkan wajahku di dadanya. Vian ... Dia di sini, dia baik-baik saja.
"Sssh, tidak ada apa-apa," ucapnya. Aku mulai menangis dengan keras. Dia mengeratkan pelukannya.
"Mereka akan membunuhmu, Vian. Di depan mataku ..." bisikku pelan, mungkin dia tidak bisa mendengarnya. Tapi dia mendengarnya.
"Aku di sini, aku baik-baik saja.Tidak terjadi apa-apa dan tidak akan terjadi apa-apa. Sekarang, tarik napas dalam-dalam," ucapnya. Aku pun menuruti perkataannya.
Setelah beberapa saat, Vian kembali berbaring dan meletakkan kepalaku di dadanya. Ketika aku memikirkan tentang kejadian dalam mimpi buruk tadi, aku mulai menangis lagi dengan pelan. Vian menghela nafas dan menempatkan kepalaku tepat di dada kirinya. Aku tidak tahu mengapa dia melakukannya, tetapi itu sangat membantuku menjadi lebih tenang. Mendengarkan detak jantungnya membuatku merasa tenang, apalagi saat berada di sini bersamanya, di pelukannya.
__ADS_1
Aku mendengar telepon berdering, aku segera membuka mataku. Aku terduduk melihat Vian sesaat, dia masih tertidur. Dengan ragu, aku mengangkat tanganku untuk menyentuh ponsel itu. Namun, Vian tiba-tiba terbangun lalu segera menjawab panggilan itu. Dia terdiam beberapa saat sebelum dia mengerutkan kening dan duduk tegak.
“Apa?” ucapnya sambil menatap ke langit-langit.
"Iya, beberapa minggu yang lalu aku kesana ... Maksudku, kami ada di sana, aku bersama Sadiya di sana ... Apa maksud Ibu? Aku benar-benar tidak mengerti, apa masalahnya. Dia kan adikku, kenapa aku tidak boleh menemuinya? ... Kenapa? ... Baiklah, aku akan datang hari ini," ucap Vian sambil mengakhiri telepon. Dia tampak tegang setelah itu. Aku menghampirinya lalu mengusap rambutnya dengan jari-jemariku.
"Ada apa?" tanyaku pelan. Dia hanya mengangkat bahu.
"Entah kenapa, ibu selalu seperti itu," jawabnya.
Aku mengangguk, mencoba mencerna kata-katanya. Aku tidak mengerti apa yang dia maksud. Sepertinya Vian tidak mau bercerita lebih jauh, jadi lebih baik aku diam saja.
"Kamu tahu, ibu tidak ingin aku berbicara dengan Sevda. Dia tidak menerimanya saat dia menceraikan Yahya. Hanya karena mereka bertengkar, mereka pikir mereka bisa menghentikanku untuk berbicara dengannya. Dia adalah adikku. Bagaimana bisakah aku berhenti berbicara dengannya?!" ucapnya sambil mengalihkan wajahnya.
Kurasa dia lebih banyak berbicara kepada dirinya sendiri daripada kepadaku. Pikiranku tertuju pada Kevin. Dia sama sekali tidak ingin berurusan denganku.
"Dan kemudian, ibu berkata bahwa ayah ingin membicarakan sesuatu yang penting denganku. Jadi aku pergi ke sana hari ini, kamu juga mau ikut?" Dia bertanya padaku.
Aku berpikir sejenak dan mengangguk. Aku tahu, mereka masih mertuaku. Aku harus mengunjungi mereka, meskipun aku tidak mau.
***
"Sadiya, aku akan berbicara dengan ayahku. Kamu bisa santai-santai di sini," ucap Vian dan aku mengangguk.
Sekarang, kami berada di rumah orang tuanya dan ibunya tidak ada di rumah. Aku memutuskan untuk melihat-lihat sekeliling rumah. Ada sebuah ruangan yang menarik perhatianku, aku masuk lalu melihat sekeliling. Ternyata itu kamar lama Vian, kamarnya sebelum menikah denganku.
Aku berjalan lebih jauh ke dalam kamar itu dan melihat ke cermin. Dia atas meja, ada album foto-foto Vian saat masih kecil.
__ADS_1