Cinta Bersemi Di Turki

Cinta Bersemi Di Turki
Aku Sakit


__ADS_3

Ketika dia sibuk dengan pekerjaan lain, aku bosan jadi aku menghidupkan TV, lalu menontonnya. Kurasa acaranya bagus, jadi aku memutuskan untuk menontonnya.


Saat aku asyik menonton, sebuah adegan berlalu. Itu membuatku merasa takut ... aku merasakan semua masa laluku kembali. Aku bisa merasakan hal itu. Seorang ayah memukuli anaknya. Anak itu menangis, darah ada di mana-mana. Dia bahkan tidak akan bisa mengenali wajahnya lagi.


Aku tidak bisa bergerak. Mataku terpaku pada TV itu. Aku merasakan sepasang lengan melingkar di tubuhku. Entah kenapa, pikiranku seolah kembali ke saat-saat di mana keluargaku menyiksaku. Aku harus melepasnya. Mungkin, jika aku lari, dia akan menangkapku, seperti yang selalu terjadi, mereka akan selalu berhasil menangkapku lagi. Aku mencoba untuk kabur berkali-kali, tapi mereka selalu bisa menangkapku.


Aku meraih lengan itu dan melepaskannya. Tubuhku terasa panas, seperti terbakar. Rasanya panas sekali. Aku berdiri lalu melangkahkan kakiku ke satu-satunya tempat yang mungkin bisa membuatku merasa lebih baik. Aku masuk ke kamar, menutup pintu dan menguncinya. Jika aku tidak melakukannya, dia mereka akan masuk.


Aku melepas pakaian luarku, lalu masuk ke kamar mandi. Berjalan di atas air dingin, aku membutuhkannya agar aku tidak merasa terlalu panas. Aku membuka keran lalu duduk, membiarkan air dingin itu mengalir ke sekujur tubuhku. Aku mendongakkan wajahku ke atas, membiarkan air itu menetes di wajahku.


Aku memikirkan semua orang yang menyakitiku.


Aku meletakkan kepalaku di antara kedua lututku. Mungkin suara-suara teriakan yang menghantuiku itu akan berhenti. Mungkin suara mereka akan menghilang.


Aku merasakan dua lengan hangat melingkari pinggangku lalu mengangkat tubuhku ke atas. Aku membuka mata karena kaget dan menarik napas dalam-dalam. Aku tidak bisa bernapas dengan baik, jadi aku berusaha untuk menangkap setiap oksigen yang kubisa. Aku merasa diriku ditarik ke pangkuan, lalu seseorang membelai rambutku. Dan rasanya sangat nyaman.


"Ssh .. Bernapaslah .." Aku mendengar suara lembutnya. Suara yang sangat indah didengar hingga membuatku tenang. Aku mencoba berkonsentrasi pada pernapasanku. Air mata hangat membasahi wajah dinginku.


"Semuanya akan baik-baik saja. Aku di sini. Tidak ada yang bisa menyakitimu," ucapnya dan aku memejamkan mata, meletakkan kepalaku di dadanya. Aku lelah. Aku lelah dengan semua itu. Aku lelah dengan kenangan itu. Kenapa mereka tidak pergi begitu saja?


'Hei. Jangan menyerah. Jika kamu menyerah, itu artinya kamu benar-benar kalah. Allah masih disini. Kenapa kamu selalu melupakan Dia? Berdoalah dan semuanya akan baik-baik saja." Aku mendengar suara itu lagi.


Aku mengangguk sedikit mendengar suara itu. Aku merasa tubuhku diangkat. Lalu, aku merasakan sesuatu yang lembut di sekitarku, aku merasa aku sedang berbaring di tempat tidur.


Aku tidak peduli, di mana dia menemukanku. Aku tidak peduli, mungkin dia melepas pakaian basahku dan memakaikanku pakaian hangat. Aromanya ada di sekitarku. Kurasa, aku memakai sweaternya.

__ADS_1


Aku ingin membuka mataku untuk melihatnya, tapi aku tidak bisa. Mataku tidak mau terbuka. Aku masih belum bisa berpikir jernih, kepalaku terasa pusing. Aku memilih untuk diam memejamkan mata, aku pun terlelap.


"Ayah ... dia sedang sakit. Aku tidak bisa datang hari ini. Dia membutuhkanku ... Oke, bye ayah."


Aku mendengar suara di sampingku. Aku ingin membuka mataku, tapi tetap saja mataku tidak bisa terbuka. Kepalaku rasanya pusing dan tubuhku berkeringat, tapi aku merasa kedinginan.


Aku merasakan sepasang tangan menyibakkan rambut yang terurai kusut yang menutupi wajahku. Aku memaksa mataku agar terbuka.


Aku perlahan dapat membuka mataku, namun rasanya silau hingga aku menutup mataku lagi. Aku menghela nafas lemas lalu sebisa mungkin kubuka mataku.


Aku menatap dalam netra cokelat terang yang indah itu. Mata itu beradu pandang dengan mataku. Aku mendekat, menempelkan dahiku ke dahinya.


"Kamu membuatku takut .." ucapnya. Aku memejamkan mata, merasa malu.


"Kamu tidak sendiri, oke? Aku di sini. Selalu," ucapnya dan aku mengangguk, terlalu lelah untuk memikirkan jawaban. Kami tetap seperti itu selama berjam-jam. Aku merasa sedikit lebih baik, tetapi masih sedikit sakit.


"Apakah kamu merasa lebih baik?" ucapnya seraya bangkit dari duduknya. Aku mengangguk sambil mengerutkan dahi, aku tidak ingin dia pergi. Dia hanya tertawa kecil melihatku, lalu pergi.


Aku memaksakan diri untuk berdiri. Kepalaku masih sakit dan aku merasa sedikit gemetar. Aku membiarkan diriku terjatuh di tempat tidur itu lagi, aku tak sanggup bangkit. Aku menarik nafas dalam-dalam sambil menatap langit-langit, memikirkannya. Mungkin, dia sudah pergi.


"Kupikir kau sudah pergi .." bisikku, tenggorokanku masih sakit.


"Sudah kubilang aku di sini. Aku tidak akan pergi kemana-mana ketika kamu dalam keadaan seperti ini. Ini, teh untukmu, minumlah," ucapnya sambil menyodorkanku secangkir teh. Aku meneguk teh itu hingga habis tak tersisa, menyadari betapa hausnya aku.


"Aku ingin mengajakmu keluar hari ini. Kalau kamu sudah baikan, tapi. Aku tahu, mungkin kamu bosan karena hanya berdiam diri di rumah ini setiap hari," ucap Vian membuatku bingung.

__ADS_1


Aneel berkata dan aku bingung. Dia tidak terlihat berbeda. Maksudku, aku mencoba mencari tahu apakah dia telah mengambil sesuatu.


“Jadi, bagaimana? ..” tanyanya sambil menunggu jawaban.


“Oke,” ucapku sambil tersenyum sedikit. Aku pun bersiap-siap, sementara dia menunggu di ruang tamu.


***


“Sadiya! Kenapa aku selalu harus menunggu lama untukmu?!"


Aku mendengar Vian berteriak dan memutar mataku. Aku menyelesaikan kepanganku sembari pergi ke ruang tamu. Kepalaku masih sakit, tapi aku merasa cukup baik untuk keluar. Aku tahu bahwa udara sejuk akan membuatku lebih baik. Aku mulai lelah di dalam rumah.


"Aku masih seorang gadis, kau tahu?" ucapku.


Dia memutar bola matanya malas. Aku terkikik melihat wajah kesalnya. Kami pun berjalan bersama keluar, lalu menuju mobilnya dan masuk. Nikmati hari ini, ucapku pada diri sendiri.


Selama perjalanan, kami tidak saling bicara. Aku mulai merasa tak nyaman. Aku memandang wajahnya sesaat, dia sangat ... tampan.


Selama perjalanan, kami tidak saling bicara. Aku mulai merasa tak nyaman. Aku memandang wajahnya sesaat, dia sangat ... tampan. Dan dia tidak menyadarinya, membuatnya terlihat semakin tampan. Aku tersenyum dan tanganku menyentuh rambutnya. Aku memainkan rambut ikalnya. Dia tidak melihat tapi aku melihatnya sedikit tersenyum. Setelah sekitar lima belas menit Vian memarkirkan mobilnya dan aku melihat sekeliling. Aku tidak bisa melihat banyak, lalu aku menatap Vian dengan bingung.


"Tunggu saja," ucapnya gugup.


Kami keluar dari mobil dan dia mengulurkan tangannya untukku. Aku menatapnya sejenak lalu meraihnya, mengabaikan perasaan aneh yang kurasakan.


Kami berjalan dan aku berhenti saat aku melihat laut ... Wah! .. Aku tidak pernah melihat ini sebelumnya dan ini benar-benar indah.

__ADS_1


__ADS_2