
"Tidakkah kamu berpikir apa yang akan kamu lakukan?!" Vian bertanya dengan kasar. Aku tidak bisa mempercayai apa yang kudengar. Pria yang selalu kasar padaku, kali ini berdiri untuk melindungiku? Aku melihat amarah begitu besar di matanya, dia sangat menakutkan. Namun bukan rasa takut yang ada di benakku saat melihatnya kali ini.
"Kau tidak perlu ikut campur, Vian!" Husam berkata dengan tegas. Dia mencoba melepaskan lengannya dari cengkeraman Vian. Namun Vian justru mencengkeramnya lebih erat.
"Kamu dan keluargamu meninggalkan dia! Menjual dia padaku! Dan sekarang kamu berani menyentuhnya?! Kamu benar-benar makhluk yang mengerikan!" ucap Vian masih dengan tatapan penuh amarahnya.
Tidak! Itu tidak mungkin! Vian tidak mungkin melakukan itu untukku! Apakah ini hanya mimpi? Aku benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar dari mulutnya. Dia membelaku? Melindungiku? Dia tidak berpihak pada keluargaku?
Aku mengalihkan pandanganku pada Salma. Aku melihat matanya yang sembab, kekecewaan tergambar jelas di raut wajahnya. Aku menyalahkan diri sendiri. Seharusnya Salma tidak mendengar hal ini.
" ... Husam!" Salma berkata lirih sambil menahan Isak tangisnya. Dia terlihat sangat kecewa terhadap kakakku, Husam. Air mata mengalir deras di wajahnya.
"Dan bagian terburuknya adalah, kamu memukuli Sadiya seolah-olah dia adalah bola tinju! Kamu tidak pernah peduli dengannya, tidak pernah merawatnya atau melindunginya selayaknya seorang kakak. Kamu menyiksanya seolah-olah dia bukan manusia!" Vian melanjutkan perkataannya.
Salma melangkah maju. Dia sangat berbeda sekarang. Tidak seperti Salma yang kukenal, Salma yang selalu bersikap lemah lembut.
"Benarkah itu, Husam?" tanyanya seolah tak percaya. Dia sangat mencintai kakakku, aku tahu itu. Tiba-tiba aku merasa sangat bersalah. Ini semua terjadi karena aku!
"Tidak! Itu semua tidak benar ... Vian itu-" Aku tidak dapat melanjutkan perkataanku karena Vian tiba-tiba menyelaku.
"Diamlah, Sadiya!" Vian berkata dengan tegas. Apa yang dia inginkan? Dia telah membuat semuanya menjadi kacau. Aku tidak bisa melihat Salma sedih seperti itu. Dia adalah satu-satunya teman yang kupunya.
Salma melangkah maju mendekati Husam. Dia menatap matanya seolah mencari sesuatu yang tidak dapat dia temukan. Lalu dia melepas cincinnya dan melemparkannya ke arah kakakku, Husam.
Hatiku terasa sakit melihatnya. Itu tidak adil. Tidak adil untuknya.
__ADS_1
"Tidak ... " kataku lirih. Namun, Salma menarik lenganku, ingin membawaku menjauh dari mereka.
"Ayo kita tinggalkan tempat penuh kebohongan ini!" ucapnya padaku. Aku menatapnya heran, dia seolah gila. Dia terlihat sangat tenang. Namun, aku bisa melihat rasa sakit hati dan kemarahan di matanya. Aku harus memperbaiki hubungan mereka, bukan untuk kakakku Husam, tapi untuk sahabatku Salma.
"Aku tidak bisa, aku harus pulang bersama Vian. Kamu pulanglah duluan, aku akan meneleponmu nanti,” kataku pelan. Aku harus menjaga Vian. Aku takut kalau mereka memulai perkelahian. Entah kenapa, aku tidak ingin melihat Vian terluka.
"Tidak, kamu tidak perlu pulang bersama dia," ucapnya terus membujukku.
"Aku harus memastikan bahwa mereka tidak saling membunuh. Kakakku sangat marah sekarang," kataku mencoba membuatnya mengerti. Aku melihat mata kakakku yang penuh amarah.
"Husam tidak memiliki apa pun untuk ditakuti, dia hanyalah seorang pengecut!" Salma mulai mengumpat dengan setiap umpatan yang dia tahu. Dia melangkah pergi menuju mobilnya. Setelah itu aku melangkah untuk kembali menemui mereka.
Ketakutan mulai merayapi pikiranku. Aku takut memikirkan apa yang akan keluargaku lakukan terhadapku setelah ini. Aku telah membuat kekacauan besar. Aku gemetar saat kembali menghampiri mereka. Aku mendengar teriakan orang-orang di sana. Aku mendengar teriakkan orang tuaku dan mertuaku.
Baru saja aku akan memasuki halaman di sisi rumah tempat mereka berada. Tiba-tiba aku melihat Vian berjalan ke arahku. Dia sangat marah, aku bisa melihatnya dari matanya. Dia melihatku, lalu dia meraih lenganku.
Aku mengikutinya masuk ke dalam mobil. Mobil melaju beberapa saat dalam keheningan. Aku tidak berani mengucapakan sepatah kata pun. Aku melihat tangannya sesekali mencengkeram kemudi mobil. Hingga mobil kami tiba di depan rumahnya.
Dia keluar dari mobil dan aku mengikutinya. Dia kemudian duduk di tangga sebelum pintu masuk rumah dan memegangi kepalanya. Dia bertingkah aneh. Aku merasa lebih baik aku duduk di sana, di sampingnya.
Tak satu pun dari kami berbicara. Aku tidak berani memulai pembicaraan. Semuanya hening cukup lama. Beberapa saat kemudian aku mendengar suara dari mulutnya. Suara yang tidak pernah terpikir akan kudengar darinya. Kepalaku menoleh ke arahnya dan melihatnya menangis. Dia tidak menangis dengan keras. Namun tangisannya benar-benar membuatku terkejut.
Mataku terbelalak melihatnya, dan aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku tidak pernah menyangka dia bisa menangis, apalagi menangisi sesuatu yang baru saja terjadi. Menangis untukku? Ah, tidak mungkin! Aku menyingkirkan pikiran itu.
Aku berusaha untuk menenangkannya. Aku melakukan hal yang selalu dilakukan nenekku kepadaku ketika aku menangis, sebelum dia meninggal. Aku meraih kepalanya dan meletakkannya di dadaku dan melingkarkan lenganku di bahunya, membiarkannya menangis di pelukanku.
__ADS_1
Aku tidak bisa berkata apa-apa. Walaupun sekedar bertanya apa yang terjadi sehingga dia seperti itu. Dia beranjak pergi meninggalkanku. Dia duduk menyendiri, menekuk kedua kakinya di depan badan, melipat kedua tangannya di atas lutut. Lalu, menenggelamkan kepalanya diatasnya. Ia masih menangis sesenggukan.
"Mereka memukulinya setiap hari, tapi dia masih bertahan," ucapnya lirih. Aku tidak mau mengatakan apapun padanya, aku ingin melihatnya terus bicara. Jika aku mengatakan sesuatu, dia pasti berhenti. Jadi, aku memilih diam dan mendengarkan.
"Dia terlalu lemah dan tidak berdaya ... " Dia melanjutkan perkataannya. Aku hanya terduduk diam sambil berpikir, siapa yang sedang dia bicarakan?
"Seluruh tubuhnya dipenuhi memar dan bercak ungu karena dipukuli ... " lanjutnya dalam keheningan. Dia bicara seolah-olah bicara pada dirinya sendiri, bukan bicara padaku. Aku mendekatinya, lalu meletakkan tanganku di pundaknya, berharap dengan begitu aku bisa sedikit menenangkannya. Meskipun dia telah berlaku kasar padaku, dia juga manusia yang lemah sama sepertiku. Dia telah melalui banyak hal buruk hingga seperti ini. Aku akan terus berusaha menenangkannya.
Aku tahu, dia sangat butuh sesuatu yang bisa menenangkannya di saat-saat seperti ini.
"Semua ini karena aku ... " ucapnya perlahan. Perkataannya membuatku bingung. Apa yang dia maksud? Tidak mungkin dia yang memukulinya? Itu tidak mungkin! Dia terdiam beberapa saat. Padahal aku benar-benar ingin tahu siapa yang dibicarakannya. Aku ingin bertanya, tapi aku tahu dia tidak akan menjawabnya.
"Kenapa ... ?" Aku memberanikan diri untuk bertanya karena dia tak kunjung melanjutkan perkataannya.
Sayang sekali, pertanyaanku justru membuatnya tersadar. Ia mendongak lalu menatapku sesaat, setelah itu dia berdiri. Aku turut berdiri sembari memegang tangannya, mencegahnya untuk pergi. Aku sangat ingin berbicara dengannya dan mendengarkan ceritanya. Aku tahu bagaimana rasanya ketika orang-orang tidak peduli dengan perasaan kita ketika kita sedang terluka.
Namun, dia hanya menatapku datar lalu melepaskan tangannya dari genggamanku. Aku mengalah. Aku bergerak mundur, namun tiba-tiba aku terpeleset. Hampir saja aku terjatuh, tapi dia dengan sigap menangkap tubuhku. Dia menatapku. Aku melihat ada kesedihan di matanya. Dia melepaskan tangannya dari tubuhku, membuatku berdiri sendiri. Setelah itu, dia merogoh saku celananya lalu meletakkan kunci rumah di tanganku. Kemudian dia melangkah pergi entah kemana. Kurasa aku tidak perlu bertanya kemana dia akan pergi. Aku takut itu hanya akan membuatnya marah.
Aku membuka pintu rumah dengan kunci yang dia berikan. Aku melangkah masuk. Aku bergegas ke kamarku. Kamar yang disiapkan terpisah darinya, meskipun aku adalah istrinya. Tapi aku cukup tahu diri, aku menyadarinya bahwa aku memang bukan siapa-siapa baginya.
Ketika aku baru saja ingin mengambil piyama dari lemari kecilku. Tidak sengaja aku melihat sebuah buku di atas lemari. Aku mengambilnya, lalu aku melihat sebuah Al-Qur'an kecil. Al-Qur'an itu bukan milikku. Tetapi milik nenekku yang juga dia dapatkan dari orang lain. Sudah lama sekali aku tidak menyentuhnya.
Aku bergegas ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Aku memakai kembali jilbab dan rok panjangku. Kemudian aku mengambil Al-Qur'an itu, lalu membawanya ke ruang tengah. Aku duduk di dipan sambil menatap Al-Qur'an itu. Aku ingat, dulu nenekku yang mengajariku mengaji. Dia tinggal bersamaku di kamarku hingga ajal menjemputnya. Hatiku terasa teriris saat mengingatnya. Aku menarik nafas dalam-dalam lalu menggelengkan kepalaku. Aku membuka Al-Qur'an itu dan mulai membaca surat Yusuf, surat kesukaanku.
Baru saja aku membacanya sampai di pertengahan surat, aku mendengar suara pintu depan terbuka. Tapi, aku tidak mempedulikannya, aku melanjutkan bacaanku hingga aku menyadari Vian telah berada di dekatku. Aku dengan sedikit terburu-buru menyelesaikan bacaanku dan akhirnya aku mengucapkan "Aamiin" setelah selesai membacanya. Aku segera menutupnya dan menyembunyikan Al-Qur'an itu di sampingku karena aku takut dia akan mengambilnya.
__ADS_1
Dia melangkah masuk ke ruang tamu, aroma alkohol menguar tajam dari tubuhnya. Terasa menyengat saat aromanya masuk ke hidungku. Dia melangkah ke arahku, membuat rasa takut menjalar di tubuhku. Tiba-tiba dia duduk di depanku, di bawah kakiku. Bau alkohol kembali menguar dari tubuhnya, membuatku merasa jijik. Namun, aku melihat matanya memerah dan sembab. Dia menatapku dalam, sehingga membuat hatiku tak tega melihat kesedihannya.
"Bisakah kamu ... Bisakah kamu membacanya lagi?" tanyanya. Mataku berbinar mendengar pertanyaannya. Seolah aku tidak percaya dengan apa yang baru saja dia katakan. Aku benar-benar terkejut dibuatnya. Dia ingin aku membacanya lagi? Bukankah dia sendiri tidak percaya dengan adanya Tuhan dan dia tidak mengakui agamanya sendiri?