Cinta Bersemi Di Turki

Cinta Bersemi Di Turki
Pertemuan Dua Keluarga


__ADS_3

Aku melihat ayah dan ibu mertuaku datang. Aku menghampiri mereka. Pertama, aku menyalami dan mencium punggung tangan ayah mertuaku, seperti yang biasa kulakukan untuk menghormati orang tua.


Ayah mertuaku tersenyum dengan tulus saat melihatku. Aku terkejut melihatnya, namun dia tetap tersenyum. Dia mengusap kepalaku tapi tidak mengatakan apapun. Pria berdarah Turki itu sudah berusia senja, namun wajahnya masih terlihat setampan Viantra anaknya.


Aku melakukan hal yang sama pada ibu mertuaku. Tapi, dia mengulurkan tangannya dengan jijik seolah-olah aku memiliki penyakit menular yang tak boleh disentuh. Dia sama seperti ibuku. Selalu menunjukkan wajah penuh kebencian terhadapku.


***


Petang sudah hampir tiba. Sekarang, kami akan memanggang ayam. Sejak aku masih kecil, aku tidak pernah menyukai perkumpulan keluarga seperti ini. Semua anggota keluarga akan bersantai, sedangkan aku harus sibuk menyajikan makanan, membersihkan, dan mencuci piring sendirian. Padahal, aku punya banyak sepupu perempuan tetapi mereka tidak pernah membantuku sama sekali ketika mereka berkunjung ke rumahku. Sepertinya ibukulah yang menyuruh mereka untuk tidak membantuku.


Aku kembali ke dapur. Aku dan Salma mempersiapkan semuanya untuk makan malam. Juga menyiapkan bumbu untuk ayam bakar nanti. Aku dan Salma mengobrol tentang banyak hal dan aku bisa tertawa. Cukup menghiburku. Dia adalah sahabat terbaikku.


Tapi, seperti ada yang aneh. Dari tadi aku tidak melihat Vian. Kemana dia? Ah, mungkin sedang bersama kakakku. Untuk apa juga aku harus peduli?


Aku sedang mengiris bahan-bahan untuk membuat salad. Tiba-tiba ibu mertuaku masuk ke dapur. Dia memperhatikanku dengan tatapan tak suka.


“Kenapa aku harus punya menantu seperti dia, Ya Tuhan! Dia bahkan tidak tahu bagaimana caranya memegang pisau dengan benar!” celotehnya sambil mengangkat tangan ke arahku. Ada apa dengan dia, pikirku. Apakah ada cara khusus untuk memegang pisau? Huh ...


"Kenapa tidak ada orang lain yang sepandai Salma di sini? Oh iya, aku lupa, Salma. Kamu adalah tunangan Husam, ya?" dia bertanya dengan raut sedih.


Aku mendongak, menatapnya dengan heran karena tak paham maksud pembicaraannya. Apakah dia ingin menjadikan Salma sebagai istri Vian atau apa? Aku memang bukan istri yang sempurna untuk Vian, aku menyadarinya. Jika Vian dan Salma saling menyukai, aku pasti akan meminta cerai atau diceraikan. Aku sudah siap untuk itu.


Salma juga menatap ibu mertuaku dengan heran. "Tentu saja ... Kenapa bibi bertanya seperti itu?" tanyanya pada ibu mertuaku.

__ADS_1


Ibu mertuaku hanya menggelengkan kepalanya sembari melangkah kembali ke ruang tamu.


"Apa-apaan sih?" dia bertanya dengan cemberut di wajahnya. Mungkin dia merasa aneh dengan pernyataan ibu mertuaku.


"Dia mungkin menginginkan kamu untuk menjadi istri Vian. Atau lebih tepatnya, menjadi istri keduanya Vian. Ah, dia bahkan tidak bisa mengurus satu istri, bagaimana dia akan mengurusi dua istri?" gerutuku dalam hati sambil berjalan ke wastafel untuk mencuci tanganku.


Tiba-tiba langkahku terhenti setelah menyadari aku tidak sedang bicara dalam hati, aku benar-benar mengatakannya dan Salma mendengarku!


"Sadiya ... lihat aku ... " Salma seketika mengentikan pekerjaannya. Ia membalikkan tubuhku. Namun aku hanya bisa menundukkan wajahku melihat ke bawah. Aku tidak berani menatap matanya.


"Sadiya, apakah kamu tidak bahagia dengan pernikahanmu? Apakah keluargamu memaksamu untuk menikah?" dia bertanya sambil menatapku lekat-lekat. Dia bertanya padaku tentang 'bahagia'. Itu adalah sebuah kata asing yang belum pernah kurasakan.


"Aku tidak apa-apa, Salma. Aku sangat bahagia. Tidak ada yang memaksaku." Aku berusaha meyakinkannya.


"Aku akan bicara dengan Husam. Kamu tidak boleh menjalani pernikahan atas dasar pemaksaan. Memangnya di abad berapa kita hidup?!" dia berkata dengan tegas.


Perasaan takut itu mulai datang lagi. Di saat aku baru saja merasa bebas, sepertinya semua penganiayaan itu akan dimulai lagi. Aku meraih lengan Salma, mencegahnya agar tidak bicara dengan Husam. Namun dia menatapku dengan tatapan serius, dia benar-benar akan mengatakannya pada Husam.


"Tidak! Jangan, Salma! Jangan mengatakannya pada Husam. Jika kamu mengatakannya, maka ... " kata-kataku terhenti. Aku tidak tahu harus berkata apa lagi. Aku tidak bisa memberi tahunya tentang apa yang telah keluargaku lakukan terhadapku selama ini.


"Tidak, dengarkan aku, Sadiya. Aku memang tidak tahu apa-apa tentang masalahmu. Tapi aku akan mencari tahu."


Belum sempat aku menjawabnya, tiba-tiba ayahku datang ke dapur untuk menyuruh kami menyiapkan meja. Kami tidak mengatakan apa-apa lagi satu sama lain setelah itu. Aku merasa sangat gelisah.

__ADS_1


***


Setelah aku membereskan semuanya, aku pergi ke halaman depan dan duduk di ayunan. Aku menatap langit. Semuanya gelap, tidak ada bintang sama sekali. Sama seperti pikiranku sekarang. Semuanya terasa suram, tidak ada yang bisa kurasakan. Kata-kata Salma masih terngiang-ngiang di telingaku. Kebahagiaan? Apa itu? Cinta? Aku tahu, semua itu adalah hal-hal yang tidak akan pernah kurasakan rasakan.


Aku menghela nafas berat dan beranjak meninggalkan tempat itu. Baru saja aku berdiri, kakakku datang menghampiriku.


Dia terlihat sangat marah dan tatapan matanya membuatku takut. Apa yang akan dia lakukan? Aku tahu apa yang akan dia lakukan padaku!


"Sadiya!" bentaknya sambil mendekatiku. Aku mundur selangkah.


"Apa yang telah kau katakan pada Salma? Apakah kau memberitahunya apa yang kami lakukan padamu? Apakah kau memberitahunya tentang pemukulan, tentang kawin paksa?" tanyanya dengan geram.


Aku tidak mengatakan apa-apa. Aku terlalu takut untuk berbicara. Aku tahu, semuanya akan dimulai sebentar lagi. Awalnya aku berpikir suatu saat aku dapat merasakan hidup dengan damai. Ternyata aku salah, rasa sakit itu tidak akan berakhir.


"Aku bertanya padamu! Jawab aku! Apa kau tidak bisa dengar?! Apa yang telah kau katakan pada Salma tentang hidupmu yang kacau itu ?!" dia bertanya lagi.


Air mata mengalir deras di wajahku. Tidak, tidak! Jangan! Tolong! Aku merapal doa dalam hati. Aku tidak bisa mengatakan apa-apa. Rasanya seperti ada yang mengganjal di tenggorokanku. Dia mengangkat tangannya hendak memukulku. Aku memejamkan mataku erat-erat. Aku tahu apa yang akan terjadi. Bahkan aku sudah hapal dengan rasa sakit itu.


Ayo, tunggu apa lagi? Tampar aku! Tapi aneh, aku tidak merasakan apa-apa. Ini sangat aneh. Kenapa dia belum memukul atau menamparku?


"Husam, apa-apaan ini?!" Aku mendengar suara Salma.


Aku membuka mataku. Aku tidak percaya dengan apa yang ku lihat! Vian memegang lengan Husam. Ia mencegahnya untuk tidak menyakitiku. Dari wajahnya dia terlihat sangat marah. Bibirnya terkatup rapat, sedangkan matanya menatapku dengan tatapan khawatir atau takut, aku sendiri tidak dapat memahaminya.

__ADS_1


__ADS_2