
Aku tidak menanggapinya. Aku menatap matanya dalam-dalam untuk melihat apakah dia benar-benar serius. Dia menatapku dengan sorot mata memohon, membuatku tak tega untuk mengabaikannya. Aku menyentuh pipinya dengan ujung tanganku. Ia malah dengan sengaja menempelkan pipinya di tanganku, seolah seperti anak kecil yang meminta dibelai ibunya. Dia terlihat sangat tidak baik-baik saja. Dia tidak pernah seperti ini. Kemana dia pergi tadi, hingga membuatnya seperti ini?
"Tolong ... bacakan lagi ... " dia memohon padaku. Aku akan merasa sangat buruk jika aku tidak mengikuti permintaannya. Akhirnya aku mengambil kembali Al-Qur'an itu, meletakkan di pangkuanku, lalu membuka lembaran-lembarannya. Aku mulai membacanya lagi. Aku membacanya hingga berjam-jam, tapi dia tetap mendengarkanku. Dia tidak mengatakan apa-apa. Dia juga tidak terlihat garang seperti biasanya. Dia teruduk lemas dalam keheningan sambil terus mendengarkanku mengaji.
Setelah beberapa saat kemudian, aku melihatnya tertidur. Dia terduduk di lantai dan kepalanya bersandar di dipan menghadapku. Aku melihat ke jendela, ternyata sudah hampir pagi. Aku bahkan tidak menyadari bahwa ini adalah pagi berikutnya. Aku kembali melihat Vian. Aku perlahan memasukkan jari-jemariku di sela-sela rambutnya, aku membelai kepalanya. Aku tersenyum bisa merasakan rambut lembutnya di tanganku. Aku memperhatikan wajahnya, melihat ada kerutan di wajahnya, aku mengusapnya. Dia mulai bergerak. Aku membangunkannya untuk menyuruhnya pergi ke kamar jika dia ingin tidur.
"Vian ... Aneel Viantra," aku menyebut namanya, sedangkan jari jemariku masih berada di rambutnya. Ia bergerak sedikit, namun tertidur lagi.
"Vian ... ayo bangun," ucapku masih dengan suara lembut. Aku tidak ingin mengagetkannya. Aku kembali memanggil namanya sambil mengguncang bahunya agar dia terbangun. Tapi itu sama sekali tidak berhasil untuk membuatnya bangun.
"Vian ... Bangunlah!" ucapku dengan sedikit keras. Dia perlahan membuka matanya, lalu melihat ke arahku. Kemudian dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling, melihat di mana dia berada. Dia tampak keheranan mendapati dirinya berada di tempat itu. Dia memutar kepalanya untuk kembali melihatku, lalu berdesis kesaksian seolah lehernya sakit. Aku menatapnya dan dia benar-benar terlihat kesakitan. Apakah dia terluka? Pikirku khawatir.
"Apa yang aku lakukan di sini?" tanyanya sambil mengucek matanya. Ia kembali terlihat marah seperti biasanya.
"Aku tidak tahu. Kamu tiba-tiba saja datang ke sini lalu tidur di sana saat aku sedang membaca buku," ucapku sedikit berbohong sembari melangkah ke dapur. Aku tahu, dia tidak mengingatnya, dan aku tidak menginginkan dia untuk mengingatnya. Lebih baik begitu. Dia pasti akan marah jika aku mengatakan yang sebenarnya bahwa dia datang untuk mendengarkanku mengaji.
"Apakah kamu mau aku buatkan sarapan?" tanyaku sambil mengaduk teh untukku sendiri.
__ADS_1
"Tidak perlu. Aku harus pergi satu jam lagi," ucapnya sambil melihat ke arah jam dinding.
"Kemana?" Aku memberanikan diri untuk bertanya. Aku masih sedikit takut, mengingat dia sangat berbeda kemarin malam.
"Bisnis," jawabnya sembari melangkah gontai ke kamar mandi.
Aku memikirkan apa yang akan kulakukan nanti ketika dia tidak di rumah. Mungkin nanti aku akan menyiapkan makan malam untuknya. Setelah kejadian tadi malam, aku ingin mencoba untuk lebih dekat dengannya. Meskipun aku tahu, aku dan dia tidak akan pernah bisa menjadi pasangan yang sesungguhnya. Tapi setidaknya, kami harus mencoba untuk bersama. Bahkan aku dan dia tidak mungkin bisa menjadi teman untuk satu sama lain. Kami hanyalah dua orang yang setidaknya bisa hidup bersama. Yah, begitulah. Status pernikahan sama sekali bukan apa-apa, karena baginya aku memang bukan siapa-siapa. Aku hanya seonggok sampah yang dibeli oleh orang tuanya, bukan begitu? Ah, sudah! Aku tidak mau mengingatnya lagi. Aku berharap, setelah kejadian kemarin dia akan berubah. Setidaknya, bersikap sedikit lebih baik padaku.
***
Aku melangkahkan kakiku menuju lemari es. Aku membukanya, namun ternyata tidak ada makanan yang bisa langsung dimakan. Bahkan, sayuran-sayuran semuanya pun sudah hampir membusuk, daun-daunnya terlihat menghitam. Sudah tidak layak untuk dimakan.
Aku kembali ke kamarku untuk mengganti pakaian yang sudah kotor dan berkeringat. Setelah itu, aku mengambil sejumlah uang di dompet. Uang yang diberikan nenekku sebelum dia meninggal. Nenekku memberikannya padaku tanpa sepengetahuan orang tuaku. Aku segera pergi ke warung terdekat yang menjual sayuran. Lalu, aku membeli semua bahan-bahan yang dibutuhkan.
***
Aku telah kembali ke rumah, lalu aku mulai memasak. Ketika aku sedang mengiris bawang, tiba-tiba aku teringat dengan sebuah buku yang diberikan oleh seorang wanita ketika aku belanja di warung tadi.
__ADS_1
"Ambilah buku ini, siapa tahu ini bisa membantumu," ucapnya sambil menyodorkan buku itu padaku. Aku menatapnya dengan heran. Pandanganku tertuju pada buku yang disodorkannya, aku meraihnya. Belum sempat aku mendongak untuk melihat wajah wanita itu, dia sudah pergi entah kemana. Benar-benar wanita yang misterius. Bahkan, aku belum sempat mengucapkan terima kasih padanya atau pun bertanya kenapa dia memberiku buku ini. Buku ini merupakan buku bacaan yang Islami. "Temukan Jalanmu" itu judulnya. Buku yang sangat bermanfaat untuk dibaca di waktu luang. Kuharap suatu saat aku bisa bertemu dengannya lagi untuk sekedar mengucapkan terimakasih padanya.
Aku kembali melanjutkan kegiatanku memasak. Setelah selesai, aku memasukkan makanan yang telah kumasak ke dalam mangkuk, lalu meletakkannya di meja makan. Hari sudah larut malam, Vian pasti sedang berada dalam perjalanan pulang, pikirku. Aku sedikit gugup membayangkan bagaimana reaksinya nanti ketika dia mencicipi masakanku. Aku tahu, mungkin dia tidak akan menyukainya. Ah, biarlah! Setidaknya dengan cara ini aku bisa lebih dekat dengannya. Kuharap begitu. Aku melihat sekilas makanan yang telah kumasak lalu duduk di kursi, menunggunya pulang. Lagi-lagi, aku sedikit cemas memikirkan apakah dia akan menyukai masakanku?
Hampir satu jam berlalu, namun dia tidak datang juga. Tidak seperti biasanya. Aku sudah merasa sangat mengantuk. Aku duduk sambil menopang daguku dengan kedua telapak tanganku. Namun, ketika aku hampir memejamkan mata, tiba-tiba telepon berdering, membuatku tersentak kaget. Aku segera beranjak untuk mengangkat telepon itu.
"Aduh! Ssh ... " Aku berdesis kesakitan karena ujung jari kakiku tersandung kaki meja. Seharusnya aku tidak usah terburu-buru. Aku tidak sempat melihat kakiku, aku segera meraih gagang telepon dan mengangkatnya.
"Halo?" ucapku setelah mengangkat telepon itu. Lalu aku mendengar suara seseorang berbicara dengan marah dan sedikit gugup.
"Sadiya ... Kamu dengar aku? Kamu harus datang ke sini untuk menjemputku!" ucap Vian, membuatku kebingungan.
"Ada apa? Kamu di mana?" tanyaku. Perkataannya barusan membuatku takut. Aku takut kalau sesuatu yang buruk menimpanya. Aku berharap semuanya baik-baik saja.
"Di kantor polisi," jawabnya.
"Apa, kantor polisi?" Aku membelalakkan mata seolah tak percaya apa yang baru saja kudengar. Apa yang terjadi?
__ADS_1