
Aku terbangun dan melihat Vian masih berlutut di tepi ranjang di sampingku. Aku mengguncang tubuhnya agar dia bangun. Perlahan dia membuka matanya.
"Vian, tidurlah di tempat tidur," ucapku padanya.
Dia masih berlutut di lantai. Dia menatapku, matanya masih mengantuk. Dia perlahan beranjak naik ke tempat tidur. Dia tidak mengatakan apa-apa dan tertidur pulas lebih lama dari biasanya.
Aku pergi ke kamar mandi untuk menyegarkan diri. Sejujurnya, malam-malam sebelum dia datang aku sangat sulit untuk tidur nyenyak tapi kali ini aku bisa tidur nyenyak. Aku tersenyum mengingat saat aku merasa nyaman bersamanya, meski aku tahu aku harus mengakhirinya.
Setelah selesai mandi, aku menyiapkan sandwich untuk kami berdua. Setelah itu aku naik ke atas untuk membangunkan Vian.
"Vian, bangun," bisikku untuk membangunkannya. Dia bergerak sedikit sebelum membuka matanya. Dia menatapku sebelum dia melihat sekeliling, mencoba mengingat di mana dia berada.
“Segarkan dirimu, aku sudah membuatkanmu makanan,” ucapku sambil memberi ruang baginya untuk berdiri.
Dia mengangguk sembari melangkahkan kakinya ke kamar mandi. Aku mulai makan sandwich yang kubuat, karena aku tidak sabar lagi menunggunya.
Ketika aku hampir selesai makan, dia menatapku aneh. Aku memberikan sandwich kepadanya dan dia mengambilnya sambil duduk di sebelahku.
"Kenapa?" Dia bertanya padaku. Aku menatapnya, tidak mengerti apa yang dia maksud.
"Kenapa kamu melakukan ini? Kenapa kamu bersikap baik padaku?" Dia bertanya padaku.
Aku meletakkan kembali sandwich yang masih kugigit ke piring, tiba-tiba aku menjadi malas untuk memakannya.
"Haruskah aku marah atau apa ..?" aku bertanya sambil menatap matanya dalam-dalam. Aku masih tidak memahami apa yang dia inginkan.
"Kenapa kamu bertingkah seolah kamu peduli padaku dan bersikap manis. Padahal kenyataannya, kamu ingin menceraikanku," ucapnya.
Aku masih menatap wajahnya. Penjelasannya justru membuatku semakin bingung. Jika dia tidak suka aku berbuat baik padanya, lalu apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus mengusirnya dari sini, dari rumahnya sendiri?
"Aku ingin mengakhiri sesuatu, bukan berarti aku tidak peduli," ucapku sambil mencoba memahami maksudnya. Dia menatapku dengan ekspresi yang tidak seperti biasanya.
"Untuk apa kamu peduli padaku?" Dia dengan jelas bertanya. Netra cokelat terangnya menatap dalam manik mataku, mencoba mencari jawaban.
__ADS_1
"Karena aku berhutang padamu. Kamu membawaku keluar dari rumah itu dan tidak memaksaku kembali ke sana, meskipun itu bertentangan dengan kemauanmu. Kamu membela aku, berusaha untuk menyelamatkanku meskipun kamu tidak punya alasan untuk itu. Mungkin, kamu memang tidak suka bicara banyak denganku, tapi jauh di lubuk hatiku, aku yakin bahwa kamu adalah orang yang baik," aku menjelaskan alasannya dengan singkat. Dia menatapku selama beberapa detik lalu menunduk.
"Aku hanya .. Aku belum pernah mengalami situasi seperti ini. Aku hanya benar-benar membutuhkanmu,"
Sebelum dia menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba suara benturan keras mengejutkan kami. Suara tembakan senjata memekikkan telingaku.
Vian menatapku. Ketakutan terpancar dari wajahnya. Tiba-tiba pintu kamar terbuka dengan paksa, mereka mendobraknya.
Vian berdiri dengan cepat dan mendorongku untuk bersembunyi di belakang punggungnya.
Begitu banyak pria melangkah ke dalam dan kurasa kami tidak akan bisa keluar hidup-hidup. Vian tidak akan bisa melawan mereka sendirian. Vian menoleh ke arahku sebentar.
"Larilah kalau ada kesempatan," ucapnya sambil menerjang orang pertama yang bisa dia jangkau.
Mereka berjumlah banyak sehingga Vian tidak akan sanggup melawan mereka. Tiga orang dari mereka menangkap Vian dan membawanya keluar dari kamar.
Dua orang lagi datang ke arahku. Aku berusaha untuk menghindar, tapi mereka lebih cepat dan lebih kuat. Mereka berdua menangkapku dan menyeretku dengan paksa menuju pintu masuk rumah.
Mereka membawa kami ke halaman belakang. Mataku terbelalak melihat banyak penjaga keamanan tergeletak di lantai. Sekujur tubuhku mulai gemetar.
Mereka menghempaskan Vian ke lantai dan masih memeganginya. Kemudian mereka melemparkanku pada seorang pria yang tidak ku kenal. Pria itu meraihku dan menyeringai.
"Lepaskan aku! Kamu siapa!?" Teriakku sambil mencoba lagi untuk menendangnya, tetapi dia tidak merasakan apa-apa seolah tubuhnya terbuat dari batu.
"Aku akan membalas sedikit dendam dengan Viantra," ucapnya sambil menyeringai, mengabaikan pertanyaanku.
"Kenapa?! Apa yang telah dia lakukan padamu!?" tanyaku. Aku mencoba untuk memahami pikiran orang-orang di sekitarku, meskipun aku tahu aku tidak akan memahaminya.
"Huh, ... Boss," ucap Vian sinis sambil memelototi pria yang mencengkeramku. Dia tampak sangat lelah. Darah menetes dari sisi wajahnya dan bibirnya pecah - tunggu. Apa yang baru saja dia katakan? Boss?
"Viantra, kamu beruntung memiliki gadis cantik sepertinya, tapi sayangnya takdir tidak pernah berpihak denganmu, bukan begitu? Maksudku, dulu kamu melihatku membunuh kekasihmu, dan sekarang giliran istrimu. Sangat menyedihkan," ejek pria itu.
Vian berteriak, mencoba menjauh dari orang-orang itu tetapi dia tidak bisa. Mereka mencengkeramnya dengan kuat.
__ADS_1
"Jika kamu mencoba menyentuhnya. Aku akan membunuhmu!" teriak Vian.
"Baiklah, semoga berhasil. Satu orang melawan banyak orang, hahah. Kuingatkan sekali lagi, kamu tidak akan bisa menyelamatkan kekasihmu, meskipun kamu mengancamku dengan hal yang sama," ucapnya bengis.
Cengkeramannya padaku semakin erat hingga terasa sakit dan aku tersentak, melihat mata Vian melirik ke arah ku.
"Tolong lepaskan," bisikku. Cengkraman kuatnya membuat dadaku terasa sesak dan sulit bernapas.
Dia melepaskanku sejenak dan aku pikir semuanya sudah berakhir. Namun tiba-tiba dia melingkarkan lengannya di leherku dan menodongkan pistol ke kepalaku. Mataku terbelalak lebar dan aku merasa tubuhku mulai mati rasa.
"Singkirkan senjatamu! Masalahmu ada denganku, bukan dia!" teriak Vian.
Dia meneriakkan beberapa hal lagi tetapi aku tidak bisa mendengarnya. Mataku terpejam. Aku merasa ini adalah detik-detik terakhir kematianku.
'Jangan takut. Hanya Allah yang dapat mengambil hidupmu, jika Dia menginginkan. Pekerjaanmu belum selesai. Kamu masih memiliki tujuan. Jangan takut. Berdoalah kepada Allah. Allah memberimu hal buruk ketika kamu melupakanNya dan semua ini adalah ujian. Semuanya akan baik-baik saja,' ucap suara aneh itu.
Aku mulai merapal doa dan membaca ayat-ayat Al-Qur'an yang kuhafal. Mungkin yang dikatakan oleh suara aneh itu memang benar. Tapi siapa yang tahu kapan ajal akan datang? Mungkin ini bukan waktu terakhirku, tapi bagaimana jika ini adalah waktu terakhir untuk Vian? Pikiran itu membuatku membuka mata karena ketakutan.
Pria yang mencengkeramku dan Vian saling berteriak tetapi aku tidak mendengarkan. Aku lelah mendengarkan teriakan mereka.
"Hentikan! Tinggal tarik saja pelatuknya. Bunuh aku sini, sekarang juga." Aku menyela mereka.
Aku mencoba terdengar menantang, tapi bahkan organ tubuhku gemetar karena ketakutan. Pria itu mencengkeramku lebih erat dan mendorong pistol dengan keras ke kepalaku.
"Sadiya, hentikan!" teriak Vian.
"Biarkan saja dia pergi! Dia tidak ada hubungannya dengan masalah ini," ucap Vian kepada mereka. Aku berusaha menghiraukan suara Vian dan mencoba berkonsentrasi pada napasku.
“Ucapkan kata-kata terakhirmu gadis manis,” ucap pria yang masih mencengkeramku. Aku memejamkan mata dan melafalkan surah Yasin. Aku ingin mengumpulkan pahala di detik-detik terakhir hidupku. Aku tidak peduli keadaan di sekitarku saat ini. Aku tidak merasakan apa-apa. Aku tahu bahwa dia akan membunuhku sekarang. Semua orang di sekitarku berteriak, namun aku menghiraukan mereka semua.
“Vian .. kalau aku mati jangan sedih ...” ucapku sambil mendongak ke udara dengan mata tertutup.
Aku tahu dia tidak akan sedih, tetapi aku tidak ingin dia menyalahkan dirinya sendiri. Ini adalah waktu terakhirku.
__ADS_1