
Aku mengamati foto itu. Dia memakai sarung tangan kotak dan mata cokelat terangnya terlihat sangat manis. Aku tersenyum dan mengambil foto itu, lalu memasukkannya ke dalam saku. Aku melihat sekeliling untuk mencari foto yang lainnya, tetapi tidak ada lagi. Daripada bosan menunggu, aku memutuskan untuk pergi ke dapur, untuk membuat teh.
Lalu aku berpikir untuk membuat makan malam untuk kami semua, sepertinya aku dan Vian akan menginap di sini. Ini sudah hampir petang. Aku mulai menyiapkan makanan, di kulkas ada ayam yang belum di masak. Aku segera mengambilnya. Aku juga harus memasak nasi. Aku heran, kenapa ibu mertuaku itu belum pulang? Dan, apa yang dibicarakan Vian dan ayahnya?
Ah, daripada aku memikirkan itu, lebih baik aku melanjutkan memasak. Aku tidak tahu di mana letak bumbu-bumbunya, tapi akhirnya aku berhasil menemukannya.
Saat aku mengiris mentimun untuk salad, aku merasakan sepasang tangan melingkar di pinggangku. Aku tidak perlu berpaling untuk melihat siapa itu. Aku sudah tahu kalau itu adalah 'singa besar'ku. Dia meletakkan kepalanya di pundakku.
"Ada apa?" ucapnya malas. Aku baru saja mengambil seiris mentimun, aku segera mengarahkannya ke mulutnya. Dia segera membuka mulutnya. Aku bersumpah orang ini makan seperti beruang, itu tidak normal. Tepat sebelum memasukkan irisan mentimun ke dalam mulutnya, aku menggodanya. Aku tidak menaruhnya di mulutnya dan dia mencoba meraihnya. Aku tertawa terbahak-bahak dan dia meraihnya dengan mulutnya, lalu mencium pipiku tepat setelah itu.
"Kamu mau bilang apa?" Aku bertanya kepadanya. Dia mengerang sebelum meletakkan kepalanya di leherku.
"Umm ..." gumamannya. Aku menyukainya ketika dia menyentuhku tiba-tiba, seperti ini. Aku merasa nyaman dan ... aku tidak tahu bagaimana aku bisa mengungkapkannya dengan kata-kata.
"Aku akan memberitahumu nanti, di rumah," ucapnya sambil melepaskanku lalu beranjak pergi. Aku langsung merasa kedinginan.
***
Aku meletakkan beberapa piring di atas meja makan ketika ayah mertua datang ke ruang makan. Aku menganggukkan kepalaku padanya dan menurunkan pandanganku untuk menghormatinya. Ayah mertua mendekatiku lalu mengusap kepalaku pelan.
"Terima kasih," ucapnya. Aku menatapnya dengan bingung. Kenapa dia berterima kasih padaku?
"... Untuk apa?" tanyaku pelan, masih tidak mengerti apa yang akan dia katakan.
"Setelah kehilangan Liza, dia tersesat. Tapi kamu membantunya. Dia tampak lebih bahagia. Terima kasih," ucapnya. Mataku membelalak. Pernyataan itu bukanlah sesuatu yang aku harapkan. Kenapa aku harus kembali mengingat Liza?
"Oh tidak, aku tidak melakukan apa-apa, aku-" Belum sempat aku menyelesaikan kata-kataku, tiba-tiba Vian datang. Aku mendongak untuk melihatnya. Aku berdehem dan dia hanya duduk, tidak tahu apa yang telah terjadi. Aku kembali ke dapur untuk mengambil makanan.
"Di mana ibu?" Vian bertanya pada ayahnya. Itu adalah sesuatu yang ingin kutanyakan juga.
"Ibumu masih di rumah bibimu, Saliha," jawab ayah mertua.
"Berapa banyak saudara yang Anda miliki?" Aku bertanya pada ayah mertuaku.
__ADS_1
Vian menatapku dengan aneh. Aku tidak tahu kenapa. Apakah aku menanyakan sesuatu yang tidak pantas?
"Aku punya dua saudara laki-laki Mahmud dan Yakup, dan satu saudara perempuan Saliha. Semuanya tinggal di Turki, kecuali Saliha. Dia menikah di sini," ucapnya.
Dia terlihat sangat senang berbicara tentang keluarganya, jadi aku memutuskan untuk mengajukan lebih banyak pertanyaan.
"Jadi ayah sebenarnya dari Turki. Itu sangat keren! Maksudku, itu sangat bagus. Aku pernah ke sana sekali dan itu sangat indah," ucapku dengan gembira.
Vian menatapku dengan mata lebar. Lalu aku tersadar. Ini akan membuatnya ingat dengan Sevda, dan Vian tidak menginginkan itu. Aku terdiam, tidak melanjutkan kata-kataku.
"Ya, kau melihat putriku Sevda? Dan cucuku? Mereka baik, bukan? Sungguh menyakitkan melihat keluarga yang tinggal berjauhan. Maksudku, semua saudara laki-lakiku ada di sana dan aku hanya memiliki saudara perempuan di sini. Salah satu anakku juga ada di sana, sendirian. Tetapi semuanya terjadi karena suatu alasan. Aku percaya kepada Allah," ucapnya. Vian dan aku terbelalak mendengarnya.
Aku menoleh ke arah Vian dan dia menggelengkan kepalanya sambil berkata 'apa-apaan ini?'
Sangat aneh kalau orang tua tidak mau bicara dengan anaknya. Tapi, biar bagaimanapun juga, mereka masih merawat anak-anaknya. Aku memang tidak pernah mengalami hal seperti itu, tetapi aku dapat melihatnya sekarang. Pria ini mencintai putrinya tanpa syarat. Apapun yang terjadi.
***
"Jadi, apa yang kamu bicarakan dengan ayahmu?" Aku bertanya pada Vian ketika kami sampai di rumah.
"Aku harus pergi ke Turki," ucapnya sambil berpaling.
"Apa sebabnya?" Aku bertanya kepadanya. Maksudku, apa yang begitu penting hingga dia pergi ke Turki?
"Kamu kan tahu kalau aku akan mengambil alih bisnis keluarga, enam bulan kemudian. Tetapi sesuatu terjadi pada bisnis di sana dan ayah ingin aku menanganinya untuk melihat apakah aku benar-benar dapat melakukannya, selain itu aku juga harus menyelesaikan masalah tentang kebakaran itu." ucap Vian.
Kevin! Dia juga melakukan itu. Dia yang membakar rumah itu. Aku tidak akan pernah memaafkannya untuk itu. Aku tidak peduli dengan diriku sendiri, tapi ada seorang anak di rumah itu. Tidak ada yang bisa menyakiti anak-anak, tidak ada yang berhak untuk itu.
"Dan .. untuk berapa lama?" tanyaku pelan. Dia hanya menghela nafas.
"Dua minggu," jawabnya.
"Aku akan ikut denganmu," ucapku mantap. Dia menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Tidak, kamu harus tetap di sini. Turki negara yang sangat berbahaya jika tidak ada orang yang bersamamu. Dan aku akan keluar sepanjang hari. Aku akan bertanya pada Hamzah apakah istrinya bisa tinggal bersamamu, jadi kamu tidak akan sendirian," ucapnya.
Siapa? Bagaimana jika dia tidak menyukaiku. Aku sedikit tegang dan Vian melihatku. Dia segeramenghampiriku dan memelukku.
"Ini akan baik-baik saja, hanya dua minggu sayang," ucapnya.
Apa yang baru saja dia katakan? Sayang Aku melonggarkan lenganku untuk melihat wajahnya. Dia menatapku dalam-dalam. Itu membuatku ingin mencium hidungnya, dan itu juga yang kulakukan. Dia hanya tertawa kecil.
"Ada apa denganmu, kenapa mencium hidungku?" tanyanya. Kali ini dia yang mencium hidungku. Aku hanya terkikik dan dia memutar matanya.
"Kamu terlalu manis. Aku mencuri fotomu yang sangat imut ini ketika kamu masih kecil. Foto yang tergantung di cermin," ucapku sambil mencubit pipinya. Aku kemudian meraih pipinya dan memainkannya. Dia menghela nafas, lalu aku melepaskannya.
"Kamu benar-benar seperti anak kecil," ucapnya sambil menggelengkan kepalanya dan aku terkikik sebelum dia melepaskanku dan aku pergi mandi.
***
“Ayolah Sadiya, ini hanya untuk dua minggu,” ucapnya tapi aku tidak melepaskannya dari pelukanku. Kamu tahu, tahu berapa lama itu?!
Lenganku melingkari lehernya. "Dengar, aku tahu kalau kamu sedang melalui banyak hal sekarang dan aku minta maaf karena aku tidak bisa berada di sini denganmu. Tapi aku benar-benar harus pergi sekarang," ucapnya dan aku mengendurkan tanganku.
"Istri Hamza akan segera datang juga," ucapnya dan aku hanya menghela nafas.
Dia mengucapkan selamat tinggal sebelum dia keluar rumah. Aku merasa sangat tidak enak, jadi aku segera membuka pintu. Vian berbalik dan melihatku, dia memutar bola matanya malas. Namun dia tetap membuka lengannya untukku. Aku berlari ke arahnya dan memeluk lehernya. Dia hanya tertawa sedikit dan, aku bersumpah, itu suara terbaik yang pernah kudengar.
"Kamu benar-benar gila," ucapnya sambil tersenyum. Setelah beberapa saat dia melepaskanku dan aku membuang muka.
"Pergilah sebelum aku akan memelukmu lagi," ucapku membuat dia terkikik.
Kami mengucapkan selamat tinggal, lagi, dan dia melihatku masuk ke dalam rumah. Lalu aku melihatnya pergi dari jendela. Saat dia tidak terlihat, aku menghela nafas.
Aku berbalik dan melihat seisi rumah. Benar-benar perlu dibersihkan sebelum istri Hamza datang. Setelah aku selesai, aku pergi ke sofa dan membiarkan diri ini jatuh di atasnya.
Aku terlalu lelah dan hampir memejamkan mata ketika mendengar bel pintu. Aku bergegas untuk membuka pintu. Begitu pintu terbuka, aku melihat seorang wanita berdiri di sana, tersenyum kepadaku. Dia mengenakan abaya hitam dan dia mengenakan syal hitam di kepalanya. Dia sangat cantik.
__ADS_1
"Salam, aku Masara. Kamu Sadiya, kan? Senang bertemu denganmu," ucapnya sembari masuk dan memelukku.